Assalamu'alaikum wr wb

tertarik jo Mentalitas Jawaa dan Sunda, ambo takana carito garah dari alm rang 
gaek laki-laki

Alkisah di zaman Bulando, katiko urang Bulando kamancari urang nan paamuah 
karajo, mako dibukalah pendaftaran untuak tanago karajo, manaruko sawah jo 
ladang.

Katiko, nantun datanglah diantarano urang Minang, urang Bugih jo Urang Jawa. 
tiok urang mabaok pakakeh untuak bakarajo, tapi sabalun panarimoan 
masiang-masiang dipareso perlengkapanno dan disuruah mancubo caliak an caro 
karajono.

Nan partamu, majulah urang Minang. maonyok an pakakeh nan di baokno barupo 
tajak nan batangkai panjang. Sasuda diliek  tajak nantun, lalu disuruahlah 
mampraktek aan karajono. Salacuik duo lacuik mancakua, cukuik ka tigo, 
barantailah sabanta, sambia mamatuik bara jarak nan dikarajoan lai .....  

Nan kaduo majulah urang bugih, indak mambaok tajak, tapi mambaok pisau nan 
sangaiklah tajam
Sabalun baliau ko maju, Bulando takajuik mancaliak bara katajaman pisau tu. 
Rambuik nan dilatak an di mato pisau, diambuih, rambuik tapotong duo  

Nan katigo, majulah urang dari jawa, baru sajo maadok ka Bulando tu, inyo alah 
maangguak hormat. Lalu di caliak an lah pakakeh nan di baokno. Tajak nan tajam 
batangkai pendek. Si Bulando manyuruah baliau untuaak manunjuak an caro 
karajono. Onde iyo bana no, ..... sanang bana hati Bulando mancaliak. Karano 
sajak mulo mancangkua iyo ampia indak baranti dan indak maengo suok kida. 
Baranti no dek taambek batu gadang se ... 


Berdasarkan panilaian Bulando, mako kalo mentalitas untuak bakarajo iyo rancak 
dipakai urang Jawa, indak banyak kecek tapi karajo salasai, sadang urang minang 
iyo lai amuah bakarajo tapi banyak patuik jo agak-agak, sadang urang bugih iyo 
paralu hati-hati, salah-salah jan kan rambuik, biko Bulando pulo nan ka di 
dabiahno 


Antah kok iyo nan bak nantun, agakno paralu awak kaji ulang di nan basamo

Moga ado hikmahno

Wassalam
A. St. Rky. Mulia (41)

----- Original Message ----
From: Khairul Yanis <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, May 27, 2007 10:05:22 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Fwd: [IYE!] Mentalitas Jawa dan Sunda

Kutipan dari milis sebelah tentang mentalitas suku tetangga kita. 

Bagaimanakah dengan suku minangkabau?

Salam, 
KY

---------- Forwarded message ----------
From: said sungkar <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 27-May-2007 12:36
Subject: [IYE!] Mentalitas Jawa dan Sunda
To: [EMAIL PROTECTED]


Oleh : Zaim Uchrowi 


''Indonesia sulit maju,'' kata seorang teman. ''Kenapa?'' tanya saya. ''Sebab, 
lebih dari 70 persen penduduknya adalah Jawa dan Sunda,'' jawabnya. Saya 
ternganga, sampai ia menjelaskan lebih lanjut.
Menurutnya, mentalitas orang Jawa dan orang Sunda bukan mentalitas orang yang 
siap maju. Hal itu terlihat dari ungkapan yang banyak dipakai orang-orang dari 
kedua suku ini. Orang-orang Jawa disebutnya sering menyebut kata ''nek'' atau 
''gek'', yang berarti ''kalau'' sebagai sebuah pengandaian tentang sesuatu yang 
mungkin terjadi di masa depan. Orang Jawa sering mengucap ''nek ngono mengko 
piye ...'', ''nek ngene mengko piye ...'' yang berarti ''kalau begitu nanti 
bagaimana...'', ''kalau begini nanti bagaimana....''
Orang-orang Jawa berpikir begitu panjang. Seluruh kemungkinan di masa depan 
telah dipikirkan dari sekarang. Pada satu sisi, hal tersebut baik. Banyak 
persoalan telah diantisipasi jauh hari menyangkut akibat yang mungkin terjadi. 
Dengan demikian, jika akibat itu benar terjadi, mereka telah siap untuk 
menghadapinya.
Namun, di sisi lain, banyaknya kemungkinan yang dipikirkan di masa depan sering 
membuat takut melangkah. Ibarat seorang tak punya rumah yang tak kunjung punya 
rumah karena takut memikirkan kemungkinannya di masa depan. Bagaimana kalau 
gentingnya bocor, bagaimana kalau ada pencuri, apalagi kalau rumah itu habis 
terbakar. Begitu banyak kemungkinan yang dipikirkan hingga orang itu tak berani 
melangkah untuk punya rumah.
Sikap itu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar orang Jawa pasrah 
pada keadaan yang dimilikinya. Mereka tidak akan berusaha keras mengejar 
sesuatu karena kalau gagal akan terasa sangat menyakitkan. Mereka tidak siap 
gagal. Akibatnya, pencapaian rata-rata orang Jawa kalah bila dibanding etnis 
lainnya. Misalnya dengan rata-rata pencapaian orang Batak, apalagi dengan 
keturunan Tionghoa. 
Orang Jawa tak mau berbuat keliru, dan sangat khawatir keliru. Itu membuat 
komunikasi orang Jawa tidak baik. Orang Jawa tidak pandai mengekspresikan 
perasaan sendiri, apalagi kalau harus mengatakan tidak. ''Bagaimana nanti kalau 
orangnya tersinggung.'' Kalimat demikian banyak diucapkan. Orang Jawa menuntut 
orang lain paham bahasa isyarat. Kalau terpaksa harus mengomentari orang lain, 
paling dengan cara menyindir. ''Jadi, bagaimana orang Jawa bisa maju?''
Sebaliknya, orang Sunda cenderung malas berpikir panjang. Istilah yang banyak 
dikatakan adalah, ''kumaha engke ...'' yang berarti ''bagaimana nanti ....'' 
Jalani dan nikmati hidup seadanya seperti air mengalir yang akan menemukan 
jalannya sendiri tanpa perlu diatur-atur. Ingin sekolah ya sekolah, ingin main 
ya main, ingin kerja ya cari kerja kalau dapat. Kalau tidak dapat ya sudah, 
''can nasib'' atau ''belum nasibnya''. 
Nanti cari lagi. Ada uang, nikmati saja sepuasnya. Uang habis tidak apa-apa. 
Usaha lagi seperlunya, atau minta bantuan saudara. Tidak berhasil tidak 
apa-apa. ''Can nasib.'' Ingin kawin, ya kawin saja biar pun pekerjaan belum 
mapan, penghasilan juga pas-pasan. Ingin kawin lagi, ya kawin lagi saja. Kan 
boleh dalam agama. Anak banyak, bermunculan saban dua tahun, tidak apa-apa. Tak 
perlu ada kesiapan buat merencanakan masa depannya. ''Kumaha Gusti wae ....'' 
Terserah Tuhan sajalah. ''Jadi, bagaimana orang Sunda bisa maju?''
Dengan mentalitas begitu, kemiskinan Jawa yang sangat besar tak kunjung 
berkurang. Sedangkan kemiskinan Sunda (serta Banten dan Betawi sebagai 
kerabatnya) terus membesar dengan kecepatan luar biasa. Anehnya, kita 
menganggap fenomena itu fenomena biasa, dan kadang malah menganggapnya sebagai 
sikap pasrah pada Allah SWT sesuai tuntunan agama. Padahal, ''pasrah pada 
nasib'' sangat berbeda dengan ''pasrah pada Allah''. 
Pasrah pada Allah SWT adalah membuat perencanaan hidup sebaik-baiknya, bekerja 
keras untuk mewujudkan perencanaan itu, serta selalu optimistis terhadap hasil 
yang akan diberikan Tuhan pada kita. Reshuffle kabinet boleh-boleh saja. Tapi, 
bila sungguh-sungguh ingin membuat bangsa ini dan bangkit sesuai semangat Hari 
Kebangkitan Nasional, rombak dulu mentalitas bangsa ini secara revolusioner. 
Untuk itu perlu revolusi mentalitas orang Jawa dan Sunda sebagai mayoritas 
penduduk bangsa ini. 
__._,_.___




       
____________________________________________________________________________________Be
 a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke