Assalamualaikum w.w, Ananda Riri,
Naah baru kini Ananda Riri mengeluarkan "kuku"-nya.
Itu bagus. Saya ajak Ananda untuk mengaplikasikan
pengetahuan dan pengalaman Ananda dalam
'organizational behavior' itu untuk merumuskan
dinamika karakter urang awak, dengan mengambil suatu
kurun sebagai 'pangkalannya'. [Sambil lalu, saya juga
pernah kuliah 'organizational behavior ini di WWS,
Princeton University, NJ th 1973/74 dulu].
Tentang teori dan atau pendekatan apa yang akan
dipakai untuk menyusun deskripsi singkat karakter suku
bangsa tersebut, silakan dipilih, asal konsisten saja.
Setelah selesai dengan deskripsi karakter urang awak,
saya rasa`Ananda dapat mendorong orang lain untuk
merumuskan karakter dasar dan dinamika dari karakter
suku-suku bangsa Indonesia lainnya. Dalam tahun 2000
dahulu, menurut catatan Sensus Penduduk BPS ada 1.072
etnik di Indonesia ini. Jadi tak akan kekurangan bahan
untuk diteliti dan ditulis.
Adalah jelas,seperti saya tulis sebelum ini, proses
'nation- and state-buliding' dari bangsa yang
bermasyarakat majemuk ini memerlukan suatu rujukan
tentang karakter masing-masing suku bangsa itu, walau
tentu harus dipakai dengan hati-hati, karena dalam
etnik yang sama pasti ada tipe pribadi yang
berbeda-beda.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
--- Riri - Mairizal Chaidir <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> "Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> >>> Assalamualaikum w.w. para dunsanak sa palanta,
>
> Waalaikumsalam wr.wb, pak Saaf dan Dunsanak
> sadonyo.
>
> ... [deleted]
>
> >>> Masalah ini jelas penting, karena mengenal
> watak suatu suku bangsa akan memudahkan kita untuk
mendapatkan gambaran secara kolektif mengenai suku
> >>> bangsa tersebut. Kalau saya tidak salah,
> sosiolog Max Weber akan menyebut hal ini >>> sebagai
> 'ideal type'.
>
> Pak, saya juga menganggap ini sangat penting. Itulah
> sebabnya mengapa dari awal saya mengatakan "ini
> tidak bisa disederhanakan begitu saja";
>
> Setidaknya, ada tiga alasan saya:
>
> Pertama, ideal type yang berakar dari ke khas an
> historis ini merupakan satu dari tiga "konstruksi"
> yang membentuk ideal type. Jadi bukan satu2nya; Bisa
> diperdebatkan juga, mana yang lebih kuat, ideal type
> pertama ini (berdasarkan historis); type kedua
> (realitas sosial, seperti birokrasi dan feodalism);
> atau malah type ketiga (behaviour yang telah
> direkonstruksi secara rasional - seperti yang dianut
> ekonomis).
>
> (Kelihatannya Hajima Nakamura menggunakan type
> pertama ini - melihat ke empat etnis (india, cina,
> tibet, dan jepang) dari kesamaan khusus yang
> berkaitan dengan pengaruh Budha). Saya belum baca
> secara lengkap disertasi Prof Dr Suwarsih, tapi
> kalau melihat abstraknya mungkin pendekatannya sama.
> Demikian juga dengan beberapa buku tentang berbagai
> etnis di Indonesia - waktu itu saya lihat ada
> sekitar 10 judul di perpustakaan CSIS - saya rasa
> juga sama).
>
> Kedua, ideal type yang mengacu ke fenomena
> historis ini mungkin berlaku untuk suatu periode
> tertentu, tetapi belum tentu selalu berlaku -
> artinya bisa berubah.
>
> Secara terbatas saya melihat adanya perubahan
> fenomena ini. Waktu mengambil mata kuliah
> Organizational Behavior, saya dapat tugas
> menjelaskan pengaruh eastern culture terhadap
> organisasinya. Dari sederetan kasus, saya melihat
> betapa kuatnya pengaruh arti angka 9 bagi etnis
> Cina. Ini dipercaya sebagai angka keberuntungan,
> antara lain karena ini adalah angka tertinggi.
> Wakatu itu saya lihat di Indonesia contoh itu juga
> ada, rokok DJI SAM SOE atau 234, yang diproduksi
> oleh SAMPOERNA di pabrik yang beberapa unsur
> pentingnya berkaitan dengan angka 9. Kebetulan saya
> dapat nila A untuk project kecil ini, ha ha.
>
> Tapi kemudian saya 'mendengar', angka 9 bukan lagi
> angka terbaik, tetapi trendnya di "kaum muda"
> sekarang adalah angka 8. Angka 8 dianggap lebih
> kuat, dua lingkaran tanpa ujung; kalau direbahkan
> seperti simbol matematika "tak terhingga". Mungkin
> ini yang dianut Lippo group untuk logonya? Sebagai
> catatan adalah satu dari sangat sedikit bank yang
> tenang2 saja diwaktu krisis moneter tahun 97 dst
>
> Ketiga. Ada kecenderungan, orang lebih cepat
> "hafal" dengan stereotype yang negatif; yang
> -celakanya- tidak jelas, apakah ini berdasarkan
> penelitian yang valid atau tidak. Etnis tertentu
> dipandang pelit, ada yang culas, bengkok, ada yang
> kasar, dsb dsb.
>
> Akibatnya, jika sesesorang harus bernegosisasi
> dengan etnis tersebut, "terpaksa" dilatarbelakangi
> dengan: bagaimana agar lawan negosisasi ini tidak
> bisa culas, tidak bisa pelit, dst dst.
>
>
> >>> Menurut penglihatan saya, ulasan mengenai
> karakter suatu bangsa merupakan kristalisasi
[=pemurnian] dan resultante [=akibat] dari keseluruhan
interaksi antara sistem nilai serta sistem kelembagaan
suku bangsa yang bersangkutan yang membentuk watak
perseorangan warganya. Bagaimanapun, manusia adalah
makhluk sosial, yang menerima sebagian dari watak
pribadinya dari ligkungan di sekitarnya.
>
> Saya sepakat, pak. Beberapa text books human
> behavior menggambarkan kuatnya pengaruh lingkungan
> ke karakter seseorang, dan kemudian karakter "sekian
> seseorang" berpengaruh ke karakter kelompok, dan
> seterusnya, bolak balik begitu
>
> >>> Dalam hubungan ini mungkin sekali ada beda
> karakter antara apa yang dapat disebut >>> sebagai
> warga MinangRanah yang hidup dalam kerangka ABSSBK
> ... [deleted] dengan >>> warga MinangRantau, ...
>
> Mungkin'ideal type' jenis pertama memang begitu,
> Pak. Kalau dalam literatur disebutkan: which refer
> to phenomena that appear only in specific historical
> periods and in particular cultural areas
>
>
> >>> Bagaimanapun, kita memerlukan ulasan seperti
> itu, untuk mengenal ciri khas berbagai >>> suku
> bangsa kita, serta untuk menyesuaikan pendekatan
> kita dalam berkomunikasi.
>
> Iya Pak, saya sangat sepakat, tetapi dengan
> catatan, harus dipergunakan secara hati-hati, dan
> tidak "disederhanakan".
>
> Sebagai tambahan cerita, waktu mencari2 bahan
> tentang first kind of ideal types ini, seorang
> kenalan yang pernah tinggal di Indonesia mengatakan,
> salah satu contoh bagus ada di film Indonesia. Dia
> pinjamkan videonya ke saya. Ternyata itu film dari
> jaman "sebelum saya". Sampai sekarang saya masih
> ingat judulnya, Senyum Pagi di Bulan Desember.
> Pemeran utamanya Soekarno M Noor. Film ini bercerita
> tentang seorang hakim (dan hakim - dalam film itu
> mewakili pandangan pandangan masyarakat) sangat
> yakin kalau "seorang bapak perampok, anaknya pasti
> berjiwa rampok juga". Suatu saat bayinya pak hakim
> diculik, kemudian dididik oleh perampok, setelah
> dewasa "dipertemukan" dengan orang tua aslinya.
>
> Wassalam,
>
> Riri
>
>
____________________________________________________________________________________You
snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
in the all-new Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_html.html
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---