boes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    
syukurlah kalau akhirnya petinggi malaysia ini menyadari
bahwa hal tsb menyakiti hati orang indonesia.
   
  Saya sangat menghargai petinggi kita yang berhasil membuat petinggi malaysia 
menyadari ini.
   
  Hanya saja, apakah ini cukup? Manakah yang lebih penting untuk dihapus: 
Penggunaan KATA  Indon atau PERSEPSI dari kata Indon tersebut? 
  Atau, bahkan, mana yang lebih penting dibandingkan dengan PERLAKUAN terhadap 
orang Indonesia?
   
  Ga usah jauh2, bulan ini saja sekian (LAGI) WNI dipulangkan dari Malaysia. 
Beritanya standar, ini bukan yang pertama. Memang ada kemajuan di pihak kita, 
misalnya "KBRI berhasil menagih kompensasi kepada majikan sekitar Rp1,2 
miliar", dan juga sekarang kita sudah punya database tentang WNI yang siap 
dideportasi, petinggi kita mengunjungi penjara, kita punya tempat penampungan 
dsb (padahal, sebelum dihukum penjara, atau masuk penampungan dan di deportasi, 
kan dia masuk dulu ke Malaysia, apa kita ga punya database?).
   
  Minggu lalu juga katanya Arab Saudi juga mau memulangkan 40,000 WNI. Lalu, 
petinggi kita dimana?
   
  Seorang Gubernur DKI diundang, tapi kemudian diperlakukan secara tidak pantas 
di Australia.
   
  Nah, pennghilangan kata yang menyakitkan memang penting, tapi mana yang lebih 
penting dibanding dengan perlakuan?

  Riri
   
   
   
       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke