===Bagian Seri Jejak
Seorang Kampung nan Lagi Kampungan: UBGB===


Kami punya sebidang sawah di pinggir batang sinamar.  Sebenarnya bukan
sawah kaum saya, itu adalah sawah kaum malayu.  Cuma sudah sekian lama
tapandam pada kaum kami.  Namanya sawah taruko, luasnya sekitar satu
setengah hektar.  Hanya ada 3 petak sawah, untuk hamparan seluas
itu.  Di kampung saya disebut Lupak.  Yang terluas adalah lupak
godang, luasannya sekitar satu hektar. 
Sisanya adalah lupak muko bosuik dan lupak panjang.


 


Karena berada di pinggir sungai, tekstur tanahnya sedikit berpasir.  Akibatnya, 
air tak bisa bertahan lama di
sawah.  Merembes ke dalam tanah.  Sehingga demand sawah ini akan air sangatlah
tinggi.  Air banda tak pernah cukup.  Sehingga dibutuhkan irigasi tambahan untuk
mengairi sawah.  Beruntung sawah ini
terletak di pinggir sungai. Parumahan untuk kincirnya juga cukup baik.  Air 
deras, tebing lumayan curam, bisa
dimasuki mobil pula walaupun jalan tanah.


 


Aku sering menemani kakek memperbaiki kincir.  Terutama ketika pulang kampung 
disaat musim
libur tiba.  Kalau ketika libur tiba, pekerjaan
di sekitar kincir sangatlah menyenangkan. 
Karena banyak bermain airnya. Tapi ketika kami sudah tinggal di kampung,
pekerjaan ini terasa berat dan menjemukan. 
Bermain air tak lagi indah.


 


Kincir air terdiri dari berbagai bagian. 
Cuma, tidak semuanya istilah teknisnya saya bisa ingat lagi.  Yang saya ingat 
hanyalah bosuik, amo-amo,
lantak, kabuang dan palanta kincia.  Yang
lain saya lupa.  Bosuik adalah pipa bambu
yang mengaliri air ke sawah.  Amo-amo
adalah semacam jari-jari pada kincir. 
Lantak, kabuang dan palanta saya rasa kita semua sudah tahu.  Untuk amo-amo ini 
aku punya cerita
banyak.  Setiap kincir biasanya akan
mengganti seluruh amo-amo ini setahun sekali. 
Masanya bagi kincir untuk over haul.


 


Amo-amo terbuat dari kayu, lurus berdiameter 5-7 cm.  Kayu ini bukan kayu 
biasa, haruslah kayu yang
kuat.  Dan jenis kayu amo-amo ini sudah
tidak ada lagi di tengah kampung.  Mencarinya
harus di hutan primer.  Karena biasanya
kayu di hutan primer, lurus, teksturnya kuat. 
Mungkin karena efek kompetisi memperebutkan hara dan sinar
matahari.  Tempat yang biasa kami
kunjungi mencari amo-amo ini adalah di sebuah bukit di pinggir kampung.  
Biasanya mamak-mamak, urang sumando, anak
pisang berkumpul pada suatu hari untuk mencari amo-amo.  Satu hari disisihkan 
untuk berangkat ke
bukit.  Membawa peralatan perang.  Mengambil amo-amo secukupnya.  Diturunkan ke 
bawah bukit dan ditumpuk
dipinggir jalan.  Dan nanti akan tiba
mobil menjemput.


 


Setelah itu, amo-amo akan dipotong sama panjang sesuai jari-jari kincir yang
akan dibuat.  Lalu direndam selama
seminggu di sungai.  Baru amo-amo siap di
pasang.  Amo-amo akan dipasang di sebuah
dudukan yang istilah teknisnya saya lupa. 
Dudukan ini terbuat dari sebuah potongan kayu besar, sepelukan orang
dewasa.  Dibuat bulat, tengahnya
dibolongi buat bakal sumbu kincir, 
Bagian luarnya akan dipahat berlubang petak-petak, tempat amo-amo akan
ditancapkan.  Kakekku biasanya membuat
sendiri dudukan ini.  Kalau waktu mepet,
beliau akan meminta bantuan Angku Sulan dari kampung sebelah(Nama aslinya
Ruslan).  Aku dan mamak-mamakku,
memanggil Angku Sulan ini Profesor Kincir. 
Karena beliau memang cukup mumpuni mengurusi kincir.


 


Seminggu amo-amo direndam, adalah waktu menyiapkan kabuang, palanta kincir,
basuik dan sebagainya.  Aku hanya bisa
mengerjakan pembuatan basuik.  Bambu
dipotong-potong sepanjang dua meter. 
Lalu dibolongi, dengan dilantak pakai suli.  Trus ujungnya dipapat-papat agar 
bisa masuk
ke potongan bambu lain.  Tak lupa,
buku-buku di ruas bambu dihilangkan. 
Sebagai pencegah kebocoran di sambungan, digunakanlah sabut kelapa.


 


Setelah semua selesai.  Kincir siap
ditegakkan.  Pak Sulan pun tiba dari
kampungnya.  Lalu mulai memasang amo-amo.  Kabuang. 
Rotan pengikat ujung amo-amo. 
Memasang anyaman bambu di sela amo-amo agar air bisa memutar kincir.  Ketika 
kincir mulai berputar, kabung mulai
dipasang dan air bisa masuk ke bak penampung di atas rasa cape langsung hilang.
 Tinggal kaji menurun memasang basuik dan
memastikan tak ada kebocoran sampai kesawah. 
Sawah mulai tergenang.  Buat
lumpur dan benih pun siap disemai.


 


UBGB


 


Hari ini kincir itu masih berdiri


Bersela berputar seiring musim tanam


Menunggu masa tergilas peradaban





       
____________________________________________________________________________________
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke