Wa'alaikum salam, nampaknya sistem adat minang didisain lebih untuk mempertahankan yang ada, sehingga terasa kaku. lain halnya jika didisain dengan tujuan untuk mengembangkan yang ada, karena mau tidak mau harus lebih fleksibel.
masalah survivenya sebuah sistem/patron tentunya waktu yang akan menjawab. tapi, yang kita pahami bersama, sesuatu yang tidak dapat beradaptasi, siap-siap untuk tersingkir atau bahkan tertelan zaman. contohnya, seperti yang dikatakan pak Saaf, dengan tersingkirnya si minang di senen atau mungkin tempat-tempat strategis lainnya di ibu kota. jakarta adalah tempat terbaik untuk mengukur (benchmark) dan menguji keunggulan suatu sistem/patron. konon, katanya, seseorang yang telah berhasil menaklukkan berbagai belahan dunia, belum tentu berhasil menaklukkan jakarta. mohon maaf sebelumnya, just my humble opinion wassalam erwin z bukanorangjakarte On Thursday 07 June 2007 16:44, Z Chaniago wrote: > Assalamu'alaikum WW > > Setuju..... > > Sekadar pengalaman.... di ambo yo pangulu itu masih 'gadang'.....tetapi > memberi pencerahan ke pangulu bukanlah suatu nan haram....., dan biasonyo > face-to-face - one by one.... disinan biasonyo baru 'terbuka'..... dan > nyaris selalu kalua mamangan " bana nan indak buliah di sabuik " ... > > kalau nan terbuka... biasonyo ka pangulu sendiri...., kalau bukan awak > siapo lai.... :-)) > > tetapi mungkin lah jadi konsekwensi barangkali..... kalau lah jadi > pangulu...harus mamaliharo adat sacaro kaku...... > > Wassalam > > Z Chaniago - Palai Rinuak > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi keanggitaan dan Webmail Mailing List, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda sebagai Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
