salam
  inilah kerancuan islam dan minang, khudsusnya di piaman.
  tak mau disebut mahar, uang jemputan dihaluskan dengan uang hilang dan apalah.
  terus, kan tetap ada mahar.
  banyak kejadian, gagal kawinnya sepasang pengantin, karena uang jemputan tak 
terpenuhi. banyak perempuan india miskin yang sulit kawin karena keluarganya 
tak bisa 'membeli' laki-laki.
  jawi? ah, ayahku dari jawi-jawi, tapi dia bukan jawi. walau dia Sutan, namun 
tak ada 'dibeli' ibuku. ayah dan ibu kawin karena dia islam dan karena mereka 
saling cinta. walau urang piaman membikin mereka berdua terlantar dengan segala 
cimeeh dan dengan segala gunjingan.
  saya setuju pernyataan angku dutamardin umar, hanya jawi dan punya ikua yang 
bisa diperjual belikan. tentu sulit dari jawi ini diminta keislamannya secara 
manusia. (walau saya yakin, jawi itu juga islam dengan cara kejawiannya). 
hahaha.
  tapi, piaman menaik untuk dikaji dan dibuat tulisan.
  saya ke piaman, pulkam, senang. tapi paling lama tiga hari, hari keempat dan 
selanjutnya, kuping akan semakin merah. dan, balik lagi ke rantau.
  salam
  iwan

dutamardin umar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Alaikumsalam sanak Iwan.,
   
  Nan satahu ambo uang jemputan di Piaman bukanlah mahar.
  Sewaktu ijab kabul marapulai masih menyerahkan mahar.
  Uang jemputan yang biasanya dalam satuan "ameh-pound"
  Itu menjadi hak kedua penganten, sebagai modal awal
  barumahtangga.
   
  Nan mambuek kacau adonyo "uang hilang". Iko akibat
  dari banyak saingan untuk memperebutkan "jawi" saikua.
  Akhirnya ada tim lobby yang mendekati mamaks marapulai.
  Akibatnya terjadi money-politics.
   
  Maoh maulang kaji. Dulu di RN pernah pulo jadi topik soalko.
   
  Baa ajo Saaf, bantu ambo manjalehkan atau mangoreksi.
  Ajo Doto Suhaemi, pernahkah manulih soal ko?
   
  Salam dari jauaah,
   
  ajoduta/60 (17 agustus yad) 
   
  

iwan soekri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    salam
  saya setuju akan tulisan ini.
   
  saya tak setuju suara rakyat suara tuhan
  suara rakyat ya suara rakyat. suara Tuhan ya suara Tuhan.
   
  saya tak setuju : adat basandi syara, syara basandi kitabullah
  pasalya, banyak hal dalam adat tak bersandi ke syara. syara bersandi ke kitab 
Allah, itu benar.
  jadi, saya setuju, adat bersandi pada kebiasaan orang banyak pemakai adat. 
syara bersandi ke kitab Allah.
   
  apakah orang minang itu Islam? secara adat, saya sulit mengatakan minang. di 
piaman laweh, misalnya, laki-laki dijemput (dibeli), padahal seyogianya mahar 
datangnya dari laki-laki. proses jemput ini mirip orang india yang membeli 
laki-laki.
   
  salam
  iwan

dutamardin umar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  

 







Image by FlamingText.com
       
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke