Assalamualaikum wr.wb.
   
  Untuak pemahaman ambo tentang Minangkabau nan masih di level playgroup, tadi 
ambo lumayan binguang dek statement di artikel tu: PENELITIAN dilakukan 
berdasarkan asumsi bahwa etnis Minangkabau tidak hanya menganut sistem 
kekerabatan matrilineal, tetapi juga matriarkat. 
   
  Tadi ambo cb search, ternyata ini sudah dipertanyakan oleh mak Bandaro 
Labiah, Agustus 2004 di RN ko. (amnbo copykan di bawah)
   
  Cuma, sudah tu diskusiko manggantuang, dan ... ilang. 
   
   
  Mungkin mukasuik Sanak Isna Huriati ma re-posted artikel ko untuak awak 
diskusikan agak tuntas?
   
  Riri
   
   
  _____
  Assalamu'alaikum Wr.Wb.
 
St. Mudo ! sarato Karapatan RN
 
kok paik jan capek diluahkan, kok manih jan capek dilulua, elok dikulun-kulun* 
dulu. 
karano :
Rumah gadang bari bapintu
nak rtarang jalan ka halaman
jikok dikumpa saleba kuku
kalau dikambang saleba alam
 
kalau macaliak kapado judulno sajo dulu : Peran Bundo Kanduang Dilemahkan dalam 
Sistem 
Adat Minangkabau
 
Sistem Adat Minangkabau nama nan malaahkan tu ?
 
kapatangko ambo bacarito jo urang tuo-tuo dari SSS (Solok Saiyo Sakato), ambo 
tanyokan 
apokoh LKAAM marupokan Institusi Sitem Adat Minangkabau ? alhamdulillah, 
jawekno indak.
 
Paralu pulo ambo sampaikan, ambo raso (pandapek ambo ko a) dibaliak nan 
disampaikan tu 
ado mukasuk tertentu, indak usahlah ambo sampaikan dulu.
 
Nan paralu pulo kito paratikan adolah kalimaik "PENELITIAN dilakukan 
berdasarkan 
asumsi bahwa etnis Minangkabau tidak hanya
menganut sistem kekerabatan matrilineal, tetapi juga matriarkat yang berarti 
kekuasaan 
berada pada perempuan.

Sakian dari ambo, parintang-rintang malakik sanjo, karano alah banyak bana 
surek nan 
masuak nan alun babukak, sajak dari pagi cako mambaco, alun salasai juo li
 
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
 
Bandaro Labiah
kulun-kulun = dikunyah-kunyah / diputa-puta dalam arang dulu

   
  

"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  
Assalamualaikum w.w. Bu Isna,

Sacaro kabatulan ambo alah mambaco buku hasil riset
Dra Lusi Herlina itu, dan kabatulan pulo ambo kenal jo
baliau.

Kini baliau manjadi anggota Perwakilan Komnas HAM
Sumatera Barat dan anggota Panitia Pengarah Semiloka
Masyarakat Hukum Adat Minangkabau di FH Unand, tanggal
19-21 Juni nan ka datang.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

--- Isna Huriati wrote:

> 
> /FYI/
> 
>
http://kompas.com/kompas-cetak/0407/19/swara/1137115.htm
> Hasil Penelitian LP2M
> /Peran Bundo Kanduang Dilemahkan dalam Sistem Adat
> Minangkabau /
> 
> KEDUDUKAN sosial perempuan Minangkabau telah banyak
> dikaji dan menarik 
> perhatian berbagai kalangan. Penelitian terbaru
> dilakukan Lusi Herlina 
> dan kawan-kawan dari Lembaga Pengkajian dan
> Pemberdayaan Masyarakat 
> (LP2M) Padang tahun 2003, dan laporan penelitian
> tersebut diterbitkan 
> dalam buku Partisipasi Politik Perempuan Minang
> dalam Sistem Masyarakat 
> Matrilineal (Penerbit LP2M dan The Asia Foundation,
> November 2003, xviii 
> + 107 halaman).
> 
> PENELITIAN dilakukan berdasarkan asumsi bahwa etnis
> Minangkabau tidak 
> hanya menganut sistem kekerabatan matrilineal,
> tetapi juga matriarkat 
> yang berarti kekuasaan berada pada perempuan. Posisi
> perempuan 
> Minangkabau dinilai "superior", lebih berkuasa
> dibandingkan dengan 
> perempuan dari suku lainnya di Indonesia. Karena
> itu, isu-isu kesetaraan 
> dan keadilan jender dianggap tidak relevan
> dibicarakan di Minangkabau. 
> Tidak ada subordinasi perempuan di Sumatera Barat
> (Sumbar), yang terjadi 
> adalah subordinasi laki-laki.
> 
> Ada kalangan yang bersikap kritis terhadap pendapat
> di atas. Menurut 
> Hayati Nizar, pengamat masalah perempuan di Padang,
> masyarakat 
> Minangkabau cenderung terbuai dengan "posisi
> imajinasi" yang menempatkan 
> perempuan pada posisi yang tinggi dengan segala
> atribut yang 
> disandangkan kepada mereka.
> 
> Padahal, kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat
> Minangkabau meskipun 
> menganut sistem matrilineal, sistem kekuasaannya
> tidak matriarkal. 
> Kekuasaan formal, baik secara tradisional maupun
> modern, tetap dipegang 
> oleh laki-laki.
> 
> Dilukiskan, mamak menjadi pemimpin dalam wilayah
> rumah tangga saparuik 
> (satu perut, satu ibu). Datuak menjadi pemimpin
> dalam wilayah kaumnya 
> (satu nenek). Penghulu menjadi pemimpin suku (satu
> nenek moyang) dalam 
> sebuah wilayah genealogis. Wali nagari pemegang
> kekuasaan formal di nagari.
> 
> Menurut Lusi Herlina, hukum adat Minangkabau
> menempatkan perempuan 
> sebagai pewaris dan pemilik sah pusaka. Namun,
> hampir di semua wilayah 
> Sumbar terdapat kasus di mana mamak (saudara laki-
> laki dari pihak ibu) 
> mendominasi dan mengambil alih beberapa kewenangan
> strategis yang secara 
> ideal normatif menjadi hak perempuan.
> 
> "Hak kepemilikan pusaka yang secara sah berada di
> bawah kekuasaan 
> perempuan sering kali tidak berlaku efektif.
> Kekuasaan dan intervensi 
> mamak sangat kuat dalam pengambilan keputusan
> terhadap harta pusaka 
> tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan
> Minangkabau 
> sesungguhnya tidak memiliki kontrol terhadap sumber
> daya, seperti tanah 
> dan harta pusaka tinggi lainnya," tandasnya.
> 
> BUNDO Kanduang adalah institusi perempuan yang
> sangat penting dalam 
> budaya Minangkabau. Bundo Kanduang merupakan tokoh
> yang berasal dari 
> dunia mitos. Selain Bundo Kanduang, Minangkabau juga
> menyimpan nama-nama 
> yang sesungguhnya berasal dari mitos, yakni Mande
> Rubiah.
> 
> Bundo Kanduang digambarkan sebagai perempuan yang
> bijaksana. Masih 
> diceritakan dalam Tambo, Bundo Kanduang ditampilkan
> sebagai seorang 
> pemimpin yang sangat menentukan jalannya roda
> pemerintahan. Sebagai 
> perempuan, ia tidak hanya penyejuk dalam pertemuan,
> bukan juga 
> bunga-bunga penghias taman, ataupun pelengkap saja.
> Akan tetapi, Bundo 
> Kanduang memiliki tempat sejajar dengan elite
> lainnya dalam pemerintahan 
> Kerajaan Pagaruyuang sehingga pikirannya menentukan
> kebijakan yang 
> diambil kerajaan.
> 
> Sejarawan Taufik Abdullah, sebagaimana dikutip Lusi
> Herlina, punya 
> pandangan yang cenderung bertolak belakang tentang
> posisi Bundo 
> Kanduang. Taufik menyatakan bahwa memang Bundo
> Kanduang sebagai sumber 
> kebijakan, namun ia tidak memiliki peranan dalam
> pengambilan keputusan 
> karena ia bukanlah orang yang memegang jabatan resmi
> dalam hierarki 
> kekuasaan dalam sistem politik Minangkabau. Pada
> gilirannya, ia tetap 
> saja sebagai simbol percaturan politik karena tidak
> memiliki kekuasaan.
> 
> Meski tidak memiliki kekuasaan secara formal, Bundo
> Kanduang tetap saja 
> menjadi komponen yang harus dilibatkan dalam proses
> pengambilan keputusan.
> 
> Lusi menjelaskan, dalam perkembangan sejarah
> Minangkabau selanjutnya, 
> Bundo Kanduang kemudian dipahami sebagai tokoh
> perempuan dalam suku/kaum 
> yang menjadi pemimpin dalam Rumah Gadang. Dia adalah
> perempuan yang 
> disegani, dihormati, dan dimuliakan karena
> karismanya, kecerdasannya, 
> dan kepiawaiannya mengelola dan memimpin semua orang
> yang tinggal dalam 
> Rumah Gadang.
> 
> "Karena karisma dan kekuasaan Bundo Kanduang inilah,
> kemudian Pemerintah 
> Belanda menjadikan Bundo Kanduang sebagai institusi
> yang dipakai sebagai 
> alat penundukan perempuan. Intervensi pemerintah
> kolonial ini tidak 
> sepenuhnya berhasil. Dalam perkembangannya, Bundo
> Kanduang ketika itu 
> tetap mandiri dan otonom yang secara efektif mampu
> menjalankan fungsi 
> kontrol terhadap pemerintahan nagari," katanya.
> 
> Namun, kebijakan pemerintahan Orde Baru melalui
> pemberlakuan 
> Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1979 tentang
> Pemerintahan Desa secara 
> efektif mematikan proses-proses politik perempuan.
> 
> Seiring dengan kebijakan tersebut, Pemerintah Daerah
> Sumbar tahun 1982 
> mengeluarkan peraturan daerah tentang pembentukan
> Kerapatan Adat Nagari 
> (KAN), Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau
> (LKAAM), dan institusi 
> Bundo Kanduang.
> 
> Pelembagaan institusi Bundo Kanduang oleh pemerintah
> menjadikan 
> institusi ini kehilangan esensi keberadaannya
> sebagai lembaga 
> independen, yang selama ini mampu bersikap kritis
> terhadap 
> penyelenggaraan pemerintahan nagari. Institusi ini
> kemudian dikooptasi 
> dan menjadi alat legitimasi politik pemerintahan
> Orde Baru. Proses 
> kooptasi pemerintah ini benar-benar efektif,
> terbukti peran institusi 
> Bundo Kanduang sekarang direduksi hanya menjadi
> hiasan dalam 
> upacara-upacara adat dan negara. Bahkan, dalam
> beberapa 
> peristiwa/upacara adat, peran perempuan lebih
> marjinal.
> 
> Dari penelitian dan analisis Lusi Herlina dkk, Bundo
> Kanduang tidak 
> dapat lagi berfungsi sebagai perlindungan dan
> pemberdayaan bagi jutaan 
> kaum perempuan dan anak-anak anggota suku
> Minangkabau.
> 
> Ini disebabkan adanya pengecilan peran politik para
> Bundo Kanduang dalam 
> sistem pengambilan keputusan masyarakat adat selama
> ini. Oleh karena 
> itu, tugas Bundo Kanduang makin lama dalam sistem
> pengambilan 
=== message truncated ===




____________________________________________________________________________________
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121





       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke