Ass WW
Ambo maikuti Rantau Net, Cukuik rami urunan pandapek manganai laki laki
dibali. Ambo ikuik pulo ciek, sato sakaki. Sebetulnya sistim BAJAPUIK dulu-
dulunya adolah rancak, dengan maksud memberi bekal kepada kedua mempelai untuk
melajukan bahtera rumah tangganya.
Dulu sistim bajapuik biasanya dengan uang mas dan pada waktu acara manjalang
(ngunduh mantu) pihak mempelai laki-laki mengembalikan japutan itu dan
ditambahkan sampai berlipat ganda. Jadi kedua belah pihak keluarga mempelai
memberi bekal kepada mereka berdua. Makin besar japutannya, maka makin besar
pula tambahan dari pihak mempelai laki-laki dan makin besar pulalah bekal
mereka berdua di belakang hari..
Nanti kalau mereka kekurangan modal dagang, maka bekal tadi
dapat digadaikan untuk menambah buat sementara (bagi yang punya usaha
dagang). Bagi yang jadi pegawai, kalau kekurangan uang pada akhir bulan, maka
bekal ini dapat digadaikan untuk sementara. Begitu pula kalau ada
keperluan-keperluan mendadak yang tidak terduga.
Bekal ini dapat digunakan untuk membantu mereka dalam mengatasi kesulitan
yang dihadapi mereka berdua. Makanya japutan selalu berupa uang mas yang mudah
diuangkan seketika.
Tetapi belakangan, japutan ini diganti oleh oknum dengan uang hilang. Uang
hilang inilah yang tidak baik. Kemudian keluarlah kata-kata orang banyak, bahwa
laki-laki dibeli, dan seterusnya berkembang seperti apa yang kita dengar
sekarang yang dinegatifkan oleh orang banyak dan positif sistem bajapuik ini
dihilangkan.
Menurut saya, ini tidak adil dengan menghilangkan tujuan baik dari sistem
yang telah dibuat oleh ninik-ninik kita dahulu. Saya sendiri tidak setuju
dengan sistem uang hilang ini yang banyak efek negatifnya. Dengan kata lain
bahwa sistem bajapuik ini telah dipelintirkan oleh oknum.
Demikian urunan pendapat dari saya dan salah janggalnya mohon maaf.
Wass WW.
Razali Nazir
veby doank <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ass...
Saya jg mau nanya, berarti uang jemputan itu diminta oleh mamakkan???
tp kenyataannya yg saya liat dan saya alami kok uang jemputan diminta oleh
calon itu sendiri????....mknya jujur saya ga ngerti kayaknya laki2 pariaman
menetapkan tarif
akan diri mereka sendiri, klo dokter ciek oto japuiknyo, notaris 50 juta,
klrg sidi 100 gram emas....sbnrnya crt uang jemputan itu secara lengkapnya gmn
ya????
Sblmnya saya mnt maaf klo ada salah kata, sy mnt kejelasannya...n saya jg mnt
maaf bukan tidak mau berbahasa minang tp mangetiknyo n berbhsnyo saya bingung...
Wsslm,
Veby
Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum ww
Mungkin baiknya dipahami juga sedikit knp adat bajapuik ini dulu muncul.
Kalau gak salah, konon nih, krn jaman dulu kito hiduiknyo di kampuang susah...
Sampai kini pun masih susah, makonyo pd marantau... Sehingga bagi yg punya anak
lelaki, disarankan utk merantau dan berjuang hidup sampai sukses dan bao PITIH
pulang... Kok indak jaan pulang...:D
Ttp utk ongkos pai marantau inipun, terpaksalah keluarga menjual harato
pusako, menggadai tanah ulayat, pinjam kiri kanan, dlsbgnya. Ketika si anak
akhirnya sukses dan akan babini, masak keluarga indak dapek apo2...? "kami alah
merana menunggu anak kami agar maju dan berhasil... Kini ka diambiak baitu sajo
dan pindah karumah bininyo...". Bagi keluarga wanita yg mampu saat itu, indak
paduli do, agiah sajo kabau sikua, atau agiah sawah, dllsjnya... "Yg penting
anaknyo dapek diawak utk ka mantu...". Akhirnya ini berkembang terus...
Tapi utk jaman skrg, dasar ini sudah tidak tepat lagi. Krn yg manggadangkan
dan membiayai anaknyo, terutamo nan alah dilua Sumbar, bukan keluarga besar
dari suku lagi. Bukan Mamak nyo. Tetapi orang tuanya masing-masing. Di Sumbar
pun kebanyakan juga sudah seperti ini....
Nah, manuruik ambo nan indak mangarati banyak ttg adat istiadat, mungkin isu
ini bisa membantu membukakan LOGIKA urang piaman supayo jaan lah mambarekan
calon mempelai wanita lagi kalau ka baralek...
Sekian, semoga berkenan. Kalau ado nan indak tapek dan sasuai, mohon maaf.
Wassalam,
Nofrins
dutamardin umar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Alaikumsalam nakan Reza dan sanak kasado alahe.
Pemberontakan soal adaik Piaman ko memang alah berlansung
taruih. Waktu bupati zaman Orba, Anas Malik, kalau indak salah
pernah mengeluarkan perda mengatur soal japuik manjapuik ko.
Ambo sendiri nan nikah jo gadih Toboh, lahia di Siantar, basuo
dan nikah di Jakarta, samo sekali indak memakai adaik tu.
Kebetulan kedua pihak kami sepakaik pulo. Ambo mambayia
mahar sebuah Alqur'an. Hanyo itu.
Rasonyo secara perlahan dan pasti, telah tajadi banyak
perobahan. Kadangkala kalaupun dilakukan hanya sekedar
formalitas simbolik sajo.
Baa komentar sanak di lapau "piaman-laweh"?
Wassalam
ajoduta
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and
always stay connected to friends
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---