Kelapa gading  12  Juni 2007
  Assalamualaikum w.w.
   
  Angku Arnoldison Nan Ambo hormati.
   
            Ambo sangat setuju dengan pandangan Angku Arnoldison, memang kito 
harus berhati-hati dalam menyikapi serta menaggapi apa yang berkembang dalam 
kehidupan masyarakat, dan janganlah terlalu cepat  mengambil kesimpulan bahwa 
apa yang ada dan  berkembang dalam masyarakat itu,  mangatokan bahwa itu adolah 
prodak adat Minang, mungkin itu hanya prilaku oknum sajo. Bukan mewakili  
masyarakat Minang secara keseluruhan. Seperti yang pernah ambo katokan 
sebelumnyo, kok karuah aia dimuaro alun tantu asanyo dari hulu, antah kok ado 
tabingan nan runtuah atau ado gajah nan manyubarang , mako dari itu supayo 
jaleh tantu hulunyo dimudiaki. Dikaruak sa abih saung diawai saabih raso, 
barulah disitu tau hitam putiahnyo. Sakitu sajo dari ambo tarimo kasih
  Wassalam,
   
  Azmi Dt.Bagindo

Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Banyak terjadi kesalahfahaman orang non minang terhadap orang
minang dikarenakan mendapat informasi yang salah, image orang
minang yang buruk mereka dapatkan dari cerita atau tontonan yang
sebetulnya bukan merepresentasikan adat minang sebenarnya.

Ketika orang-orang membaca novel Siti Nurbaya mengesankan bahwa
Siti Nurbaya merupakan korban adat minang, tetapi yang
sebetulnya bukanlah demikian tetapi hanyalah akibat oknum-oknum
yang berkedok/bertamengkan adat minang.

Kawin paksa bukanlah produk adat minang apapun alasannya, dalam lakon
cerita Siti Nurbaya menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang
ditimpa musibah kekurangan harta dan terlilit hutang sehingga ia
menjual anak gadisnya, cerita ini dilatar belakangi kehidupan
minang, dan melibatkan seorang pemuka adat yang menyalahgunakan
kekuasaanya.

Setiap tragedi ini bisa terjadi menimpa keluarga siapa saja,
baik orang Jawa, suku Sunda, Batak, Bugis dll., dan akhirnya
ceritanya juga bisa diubat tragis.
Sekarang ini saja banyak terjadi perkawinan antara anak seorang
pengusaha dengan pengusaha lainnya untuk memperkuat jaringan
business.

Demikian pula hal lainnya yang dicoba didramatisir sehingga
menjadi tontonan yang menarik, cerita laki-laki Pariaman yang
'dibeli' juga merupakan tema menarik untuk ditampilkan dilayar
lebar, tanpa mempedulikan kebenaran dan keabsahannya.

Saya tidak menonton sinetron ini, bagi yang menyimak tontonan
ini dan bila terkesan menyudutkan minangkabau, dan seolah-olah
memang merupakan produk adat minang maka berhak melakukan somasi
terhadap hal ini.
Tapi bila hanyalah sebuah cerita yang sekedar memakai setting
sebuah keluarga minang, dan hanya menampilkan kharakter negatif
individu keluarga tersebut, tanpa bermaksud untuk menyudutkan adat minang,
dan tidak bermaksud menyatakan inilah budaya minang, yang
demikian itu merupakan persoalan lain.


Arnoldison



Monday, June 11, 2007, 2:19:06 PM, you wrote:

du> Alaikumsalam sanak.,

du> Alah mancaliek sinetron "Jangan Panggil Aku Cina"? Tuncik sajo
du> di www. youtube.com. Ondeh banyak nan misleading disinan. si doto
du> urang Piaman "ditawarkan" 40juta oleh mandehnyo. Malah mamak
du> nyo nan mabayiakan pitih tu ka calon bini doto tu nan urang Cino.

du> Cukuik menarik sinetron tu.

du> Wassalam
du> ajoduta
du> (indak bajapuik, indak dijua)







       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke