Assalamu'alaikum,

dari individu ke jamaah, pertanyaan besar bagi si minang. bisakah? selama ini 
selalu saja terpatri si minang tak dapat bekerja sama.

apa akibatnya jika suatu kaum tidak bersatu padu dan kehilangan pengikatnya?
 
sebagai pembanding, berikut tulisan Buya Hamka.

AGAMA BISA HAPUS SAJA

Sebuah hadits dari Sahabat Rasulullah SAW, Huzaifah bin Al Yaman berkata dia, 
berkata Rasulullah SAW:

"Akan hapus Islam sebagaimana hapusnya ragi kain, sehingga tidak diketahui 
orang lagi apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah haji, apa itu 
shadaqah-zakat. Maka terbanglah kitab Allah pada suatu malam, sehingga tidak 
meninggalkan di muka bumi agak satu ayat pun. Dan tinggallah sekelompok 
manusia, orang-orang tua dan lemah, mereka berkata: Kami telah mendapati 
nenek moyang kami dengan kalimat ini, "La ilaha illal Lah". Dan mereka itupun 
tidak mengerti lagi apa itu shalat dan tidak berpuasa dan tidak mengerjakan 
haji serta tidak bershadaqah" (Hadits ini dirawikan oleh Ibn Majah).

Maksud dan arti yang terkandung di dalam hadits ini tidaklah terlalu "tinggi". 
Isinya ialah bahwa agama Islam itu pada suatu masyarakat bisa saja hilang, 
laksana kain kehilangan ragi, tak ada warnanya lagi, telah lusuh dan tua.

1.400 tahun yang lalu, ketika Rasulullah SAW masih hidup, beliau telah 
memperingatkan ini kepada kita, yaitu bahwa agama bisa saja habis tinggal 
kerangka. Segala corak yang menentukan kepribadian agama itu bisa hilang 
kikis, jilat hapus, hingga yang tinggal hanya barang lapuk.

Dan sejarah Islam selama 14 abad telah membuktikan apa yang telah dibayangkan 
Rasulullah SAW dan disampaikan oleh sahabat Huzaifah ini. Satu negeri yang 
tujuh abad lamanya menjadi negeri Islam, berdiri pemerintahan dan kerajaan 
Islam, berdiri masjid-masjid megah dan kebudayaan yang tinggi, sekarang habis 
licin tandas. Itulah Spanyol yang di dalam sejarah Islam disebut Andalus.

Kalau kita melawat ke negeri itu di zaman kini, yang kita dapati hanya sisa 
bekas, yaitu bekas masjid yang telah dijadikan gereja. Menara tempat azan 
yang telah dijadikan tempat menggantungkan lonceng. Kita kagum melihat begitu 
tinggi mutu seni dan budaya yang pernah ditinggalkan oleh umat Islam ketika 
mereka memakmurkan negeri itu.

Dan kita hanya bertemu nama orang-orang besar Andalus-Islam dalam kitab-kitab 
yang mereka karang dan mereka tinggalkan, seperti Ibnu Hazem dalam fiqh, Ibnu 
Arabi dalam tasauf, Al Qurthubi dalam tafsir. Dan jika kita datang ke sana 
sekarang, tidak ada seorang pun yang akan kenal nama-nama itu. Sebab penduduk 
telah berganti dari Islam kepada Katholik.

Dan ahli sejarah mengatakan bahwasanya kejatuhan kaum muslimin di negeri itu 
bukanlah datangnya tiba-tiba. Bahkan satu abad sebelum mereka diusir habis 
dari negeri itu, ahli-ahli fikir telah memberi ingat bahwa mereka dalam 
bahaya. Sebab yang mereka pentingkan bukan lagi Islam itu sendiri, melainkan 
kemuliaan dan kemenangan untuk diri sendiri.

Dari satu kerajaan besar Bani Omayyah, mereka terpecah menjadi raja-raja kecil 
(Mulukut Thawa-if), sehingga setiap kota mempunyai raja sendiri dengan gelar 
kebesaran sendiri pula, sehingga mudah saja orang mengadu domba dan kemudian 
menghancurkan semua.

Di Spanyol atau Andalusi itu sekarang habis semua, La ilaha illal Lah itupun 
habis, yang tinggal hanyalah lukisan atau kaligrafi ayat Qur'an, di dinding 
istana Al Hambra, yang penghuni kota Granada sendiri tidak ada yang pandai 
membaca kalimat, Laa Ghaliba illal Lah (Tidak ada yang menang, melainkan 
Allah).

Ya, yang menang hanya Allah. Kaum muslimin sendiripun jika telah meninggalkan 
Allah, pasti kalah juga.


Sumber: Hamka, Dari Hati Ke Hati, Pustaka Panjimas, Jakarta 2002, hal. 28-29.

wassalam,
erwin z

On Saturday 09 June 2007 05:43, Arnoldison wrote:
> *Beramal Islami Di Dalam dan Melalui Jamaah*
>
> Oleh: Ust.Anis Matta
>
> (Diambil dari buku "Dari Gerakan ke Negara")
>
>
>  *Walaupun Satu Keluarga Kami Tak Saling Mengenal Himpunlah Daun-daun yang
> Berhamburan lni Hidupkan Lagi Ajaran Saling Mencintai Ajari Lagi Kami
> Berkhidmat Seperti Dulu*
>
>
> Itulah beberapa bait dari sajak doa Iqbal. Mungkin batinnya menjerit pada
> kesaksiannya atas zamannya; umat ini seperti daun--daun yang berhamburan.
> Seperti daun-daun yang gugur diterpa angin, tak ada lagi kekuatan yang
> dapat menghimpunnya kembali, menatanya seperti ketika ia masih menggayut
> pada pohonnya.
>


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke