Republika Online Jumat, 27 Juni 2003 Melongok Konsep Pendidikan Engku Mohammad Sjafei Pendidikan Itu Tak Melawan Sunahtullah
Pendidikan itu tak sekedar mendidik menjadi pintar. Bahwa soal pendidikan adalah suatu hal yang jauh dari mudah, ringkas dan sederhana, itu sudah pasti. Pendiri Ruang Pendidik Institut Nasional Sjafei (INS) Kayutanam Engku Mohammad Sjafei menemukan konsep pendidikan dari membaca dan memahami semua sifat ciptaan Tuhan, termasuk hewan dan tetumbuhan. ''Menginsyafi dan memahami benar-benar petunjuk dan falsafah yang dikehendaki Tuhan menjadi dasar tujuan pendidikan itu,'' katanya. Menurut Sjafei, tak mudahnya rumus konsep pendidikan itu menjadi ajeg karena segala pemikiran yang ada berorientasi pada kebutuhan manusia itu sendiri, bukan dari eksplorasi garis sunahtullah atas tiap-tiap ciptaannya. ''Taraf inilah yang belum dapat dicapai, baik di Barat ataupun Timur,'' kata tokoh pendidikan yang wafat pada 1967 ini. Buktinya, sampai sekarang dalam abad ke-20, di waktu ilmu telah meningkat dengan cepat ke sekalian arah, soal pendidikan masih dipikirkan masih dipikirkan terus-menerus, diperbincangkan, diadakan percobaan-percobaan yang terkadang memakan biaya sangat besar untuk mencapai bentuk pendidikan yang memuaskan meskipun belum sempurna. Negara yang telah jauh maju di bidang pendidikan, masih terus berusaha mengadakan perubahan dan perbaikan dalam sistem pendidikan di negaranya. Konsep pendidikan akan tertanam tepat, papar Sjafei, jika landasannya disandarkan pada pemahaman tentang apa yang dikehendaki Tuhan dengan menciptakan umat di dunia yang diperlengkapi dengan berbagai alat lahir dan batin serta dikelilingi oleh berbagai macam ciptaan Tuhan dekat dan jauh. Pengertian yang dijadikan dasar-dasar pendidikan Sjafei adalah menginsyafi benar-benar akan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh agama, menginsyafi benar-benar akan filsafah yang terdapat dalam berbagai-bagai ciptaan Tuhan yang mengelilingi umat jauh dan dekat. Cara kerja atau pendidik turut pula disorot Sjafei sebagai faktor yang sangat penting. ''Karena itu bisa mengubah sifat-sifat hasil pendidikan. Dengan tidak diinsyafi benar makna penciptaan Tuhan itu bisa menghasilkan hal yang lain,'' katanya. Dari hasil tafakurnya, antara lain Sjafei mengambil nilai bahwa sifat kerja adalah ciptaan Tuhan. ''Jadi, tiap-tiap yang menentang dalil ini akan hancur. Tiap-tiap yang melaksanakan dalil ini akan berbahagia,'' katanya. Dalam sejarah ringkas dasar-dasar ruang pendidikan INS Kayutanam yang ditulisnya sendiri, Sjafei mengelak, kalau hadirnya INS ini karena menjiplak perguruan-perguruan di Barat. Ini dikarenakan ia sempat mengenyam pendidikan di Belanda. ''Hal itu tak seluruhnya benar. Yang menjadi pemimpin utama dalam hal ini terutama sekali adanya pengakuan adanya Tuhan. Dengan mengakui adanya Tuhan, sudah jelas kita mengakui akan ciptaan Tuhan,'' paparnya. Sjafei tak menyangkal jika kemauannya mendirikan INS Kayutanam tak terhindarkan dari diskusi yang diikutinya dalam Perhimpunan Indonesia Merdeka di saat belajar di Belanda dengan Mohammad Hatta, Dr Soekiman, Mr Soebardjo dan lainnya. Sejarah juga mencatat, konsep pendidikan Sjafei yang implementasinya meliputi otak, raga dan kalbu ini sempat diputuskan menjadi karakter sekolah nasional. Namun, Ki Hajar Dewantara yang memimpin Taman Siswa kala itu memutuskan adanya 'pembagian tugas' antara dirinya dan Sjafei. ''Saya tujukan pendidikan Taman Siswa pada reddings arbeid, artinya saya berdaya upaya menarik sebanyak mungkin pemuda-pemuda ke pihak kita, yaitu kaum nasionalis. Inilah tujuan utama pihak kaum Taman Siswa membesarkan jumlah kaum nasionalis kita. Disamping pekerjaan ini saudara Sjafei lakukanlah zendings-arbeid, artinya carilah satu bentuk pendidikan yang selaras dengan keadaan kita,'' katanya. Salah seorang alumni INS Kayutanam Tengku Boerhanoeddin memaparkan, Sjafei bekerja dengan diam-diam dan ikhlas. ''Sebab itu hanya sedikit dari bangsa Indonesia yang mengenal almarhum semasa hidupnya,'' katanya. Dengan penuh doa dan pengabdian pada Tuhan, almarhum bangun tengah malam dan shalat. Lalu menulis kadang-kadang sampai subuh. Pada tanggal 31 Oktober 1968 selesailah naskah itu yang diberi nama Dasar-Dasar Pendidikan. rad http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=129967&kat_id=105&kat_id1=151 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
