Hallo bundo Nismah..... saya sangat setuju membahas tentang BUndo Kandong dalam suatu Lokakrya khusu Bundo Kanduong. Sangat menarik pembicaraan tentang Bundo Kanduong ini... dan kelihatannya banyak masalah tentang bundo kanduong dan pemberdayaan perempuan yang kita hadapi.... padahal perempuan > lebih banyak dari laki-laki... bayangkan kalau dikatakan di UI dari 10 CL, 8 adalah perempuan, begitu juga di Universitas Trisakti dari 18 yang CL, 12adalah perempuan, rata2 setiap wisuda 80% adalh perempun yang CL. Waaahh... coba bayangkan kalau bundo kanduong dn perempuan hampir selalu "diperdayakan" bukan diberdayakan ??..Kita akan selalu dalam keterpurukan... krisis..
Wass
Zoer'aini Djamal
From: Hayatun Nismah Rumzy <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [email protected]
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Perempuan Minang
Date: Wed, 13 Jun 2007 21:41:02 -0700 (PDT)
Assalamu Alaikum W. W.Nanda Datuk Endang dan sidang RN nan bunda hormati,Kasus bunda pribadi berbeda dengan perempuan Minang yang tinggal di Minang karena bunda meninggalkan kampung halaman semenjak umur 12 tahun. Bunda berkiprah dirantau, berkarir tanpa dikungkung oleh adat. Bunda merasa benar-benar bersyukur dapat menggunakan segala kemampuan bunda dan kebolehan bunda ditempat kerja dan dimasyarakat. Bunda mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Bunda berjuang untuk mendapatkan persamaan hak (bukan emansipasi ini ada bedanya). Jadilah bunda ini perantau yang yang pulang dari rantau yang 2 kali setahun. Bunda tak punya mamak (adik atau kakak laki-laki dari mak bunda) jadi jadi laki-laki yang ada ditipak bunda itu umurnya dibawah bunda semua.Dikampuang diwaktu mupakaik diadakan, para perempuan didapur hanya untuk menyiapkan makanan. Setelah para alim ulama, niniak mamak dan cadiak pandai tu ka "manyungkah" (ini kata kasar sekali yang tak pernah ada sekarang lagi) mereka menanyakan apo alah siap nan dibalakang? Mako sibuklah para perempuan itu untuk menghidang.Didalam buku "Adat Minangkabau Pola dan tujuan hidup orang Minang ado nan disabuik 4 jinih unsurnya terdiri dari niniak mamak, cadiak pandai, alim ulama, dan bundo kanduang baru disertakan didalam KAN ada unsur bundo kanduang. Tetapi kalau KAN rapat maka para bundo kanduang tidak hadir menjadi desision maker.Baiak dirumah gadang atau di balai adat tidak ado perempuan Minang nan duduak tagak samo randah dan duduak samo tinggi samo alim ulama, cadiak pandai, dan niniak mamak tadi.Nanda Hanifah kita bukan membicarakan kasus tapi peranan bundo kanduang secara keseluruhan. Sekarang ditiap nagari, kecamatan, kabupaten dan propinsi ada bundo kanduangnya. Peranan sekarang yang hanya menjadi penghias nagari, manjunjuang jamba harus lebih ditingkatkan menjadi para decision maker.Bunda mempunyai beberapa buku tt Adat Minang dan bunda tak menemukan distu bukupun pemberdayaan perempuan Minang hanya lebih banyak wanita Minang tsb. diperdayakan kaum laki-laki Minang.Buku ADAT MINAGKABAU Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang karangan Amir M. S. bagus sekali untuk referensi kita orang Minang. Jadi sebelum kita berdebat dan berdiskusi diharapkan kita semua mempunyai buku2 yang dibawah ini:
- Islam dan Adat Minangkabau karangan buya Hamka.
- Masih ada Harapan karangan DR. Saafroedin Bahar. (Buku No. 1 dan No. 2 hampir sama isinya yaitu mengatakan kekurangan adat Minang secara keseluruhan).
- Alam Takambang Jadi Guru A. A. Navis
- Minangkabau yang Gelisah Rangkuman dari Mupakai Bandung oleh bp. Chaidir N, Latief
- Dari Pemberontakan ke Inetgrasi oleh Audrey Kahin
- Tambo Alam Minagkabau H. Datoek Toeah
Jadi ambo ingin manambah koleksi ambo jo buku karangan Amir MS iko dimano bisa ambo dapekkan.Pertemuan (kopi darat) yang lah tajadi kapatangko iyo sabana manuntaskan sagalo permasalahan yang lah awakbicarakan diforum RN.Sayang sakali angku Azmi indak basuo dan kalau basuo mungkin duo garis sejajar tu indak sejajar lai tapi akan batamu disatu titiak persamaan.Juga sayang Dt Endang tak bisa hadir karena pertemuan tersebut telah merumuskan beberapa hal yang menjadi silang selisih.WassalamHayatun Nismah Rumzy (68+)Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Pepatah itu bukan hiasan Bunda, senantiasa diacu dalam perjalanan hidup ini oleh anak nagari. Apakah Bunda tidak pernah diundang untuk berunding dalam berbagaipersoalan? Saya tidak akan pernah memutuskan suatu persoalan bila belum ada keikhlasan dari kaum ibu. Bilamana perlu kapan waktu Bunda pulang, ikut dalam barisan arak-arakan, manjunjuang botieh atau bungo sirieh, dan merasakan betapa kaum ibu itu sumarak dalam nagari dan sangat diagungkan dalam budaya kita. Untuk merasakan harus dilakukan, jangan hanya dipandang saja.
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
Try it now! Live Search: Better results, fast
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
