Bunda yang ambo hormati
   
  Harapan Bunda untuk kemajuan perempuan Minang itu sungguh mengharukan, 
tentunya sesuai dengan ukuran, baukua bajangko.
  Saya hanya menambahkan lagi, bila menjadi bagian dari masyarakat Minang itu 
kita memang selalu menjalani berbagai peran, dan selalu harus dicermati dalam 
posisi apa kita pada saat itu. Sehingga peralihan peran-peran itu sebenarnya 
telah menciptakan keseimbangan dalam hubungan masyarakat dan mengikat suatu 
bentuk hubungan silaturrahmi yang khas. Di suatu perhelatan bisa saja kita 
menjadi si pangka atau bundo kanduang, dalam perhelatan lain bisa menjadi 
sumandan. Masing-masing memiliki tugas, tanggung jawab, hak, dan kewajiban yang 
berbeda. Ukuran perempuan Minang tidak saja harus dinilai dari fungsi bundo 
kanduang, juga sebagai sumandan, ibunya anak-anak, istri dari suami, warga 
masyarakat, dst. Bagaimana penerapannya, sesuai dengan pendapat Bunda, lain 
lubuk lain ikannya lain padang lain belalangnya.
   
  Model peralihan peran-peran ini adalah khas untuk beberapa masyarakat di 
Sumatera yang diikat oleh Bukit Barisan, sering kita kenal sebagai sistem 
persemendaan. Masyarakat Batak juga demikian. Di Karo dikenal struktur 
kalimbobo, hula-hula, dan anak beru, dalam suatu perhelatan seseorang menjadi 
hula-hula dan dalam perhelatan lain menjadi anak beru. Sehingga bila seseorang 
dapat menjalani beberapa fungsi, dapat merasakan bahwa sebenarnya tugas 
kemasyarakatan itu merupakan tanggung jawab yang seimbang.
   
  Laki-laki di Minangkabau demikian pula, boleh dibilang sebenarnya mereka 
secara adat dituntut menempuh perjalanan ma'rifat. Kesadaran untuk bekerja 
telah ditanamkan sejak dini sebagai suatu bentuk kewajiban dan ibadah. Dalam 
dunia laki-laki Minang sebenarnya dulu dikenal istilah "badunie", yaitu suatu 
waktu ketika mereka melepaskan sejenak beban kehidupan ini dan mencari hiburan. 
Masa saisuak, dari cerita orang-orang dulu, terkadang mereka terhibur dengan 
adanya kesenian randai, salawek dulang, dlsb. Memang saat ini hiburan itu 
tersebut dilakukan dengan maota di lapau, mahompeh batu domino, sampai 
berinternet ria seperti sekarang ini. Malah porsi hiburannya lebih besar dari 
kewajiban dan ibadah yang seharusnya, sebagaimana Bunda khawatirkan. Namun 
secara umum, bila Bunda melakukan perjalanan lintas darat dari Bakauheni ke 
Banda Aceh pada siang hari, hanya melewati wilayah Sumatera Barat saja yang 
kiri-kanan jalannya relatif sepi.
   
  Wassalam,
  -datuk endang 


Hayatun Nismah Rumzy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:    Ananda Dt Endang dan sidang 
RN nan bunda hormati,
  Mungkin lain lubuk lain ikannya dan lain padang lain belalang karena semua 
yang ananda paparkan itu jauh sekali bedanya ditempat bunda.  Hanya ada yang 
patut kita syukuri di Minang yaitu belum ada (setahu bunda) perempuan Minang 
yang menjadi TKW.  Posisi yang bunda ceritakan ialah posisi perempuan dirumah 
gadang. Para perempuan Minang itu hanya berada dibelakang layar saja. Di Minang 
ada 2 pekerjaan yaitu: pekerjaan laki-laki dan pekerjaan perempuan 
Minang.Urusan RT dengan segala tetek bengeknya urusan orang perempuan.  Lelaki 
Minang (dikampung bunda) kerjanya duduk dilapau, maota, kaladang atau kasawah.  
Tak kan pernah sumando i Minang itu didepan mertuanya dan saudara-saudara 
istrinya akan mengganti popok anaknya dan memandikan anaknya. Itu tradisi turun 
temurun belum berobah sampai sekarang. Mungkin ini perlu didiskusikan juga 
karena bisa saja lain lubuk lain ikannya.
  Bunda hanya bermimpi adanya camat, bupati, wali kota, atau gubernur padusi di 
Minang. Kapan-kapan mungkin kita bisa ketemu ditempat ananda. Wassalam 
  Hayatun Nismah Rumzy
  

Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Bunda yang ambo hormati,
  Sebenarnya tinggi penghormatan saya terhadap Bunda yang telah memberikan 
banyak perhatian dan pengorbanan untuk masyarakat selama ini. Hanya beberapa 
pemikiran yang mengusik perhatian saya, sehingga tentunya saya coba ingatkan, 
begitu perhatian dan penghormatan saya kepada Bunda.
  Kasus Bunda sama dengan Umi saya, sebagai wanita karier, sehingga saya 
memahami juga. Sedikit kita bahas kisah Bunda itu. Saya kurang tahu posisi 
Bunda dalam perundingan / perhelatan tersebut, apakah sebagai bundo kanduang 
ataukah sebagai sumandan. Bila sebagai bundo kanduang, tidak pada tempatnya 
saat itu Bunda berada di dapur, dan itu sepenuhnya tugas para sumandan. 
Satu-dua bundo kanduang yang lain dapat menjadi pengawas ataupun penghubung dan 
sekali-kali dapat membantu.

       
---------------------------------
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware 
protection. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke