Assalamualaikum w.w. Ananda Dt Endang,

Terima kasih atas respons dan informasi Ananda.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

--- Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Yth Pak Saaf
>    
>   Saya senang dengan diskusi kita yang konstruktif.
>    
>   1. Saya kurang tahu tentang latar belakang ini,
> memang setelah itu perang skala dunia menjadi
> berkurang, namun masih memunculkan Perang Korea,
> perang dingin, perang teluk, dan mengabadikan perang
> di Palestina.
>    
>   2. Saya tambahkan, dalam meja perumusan konvensi
> universal memang seharusnya menanggalkan segala
> isme-isme, termasuk imperialisme.
>    
>   3. Memang harus dibedakan antara primasi hukum
> internasional dan strategi politik internasional.
>    
>   4. Kita telah sampai pada perdebatan primat sistem
> hukum.
>    
>   5. Penggalian akar budaya semata bertujuan
> menemukan kembali pandangan orang-orang dulu tentang
> sistem nilai yang telah dipilihkan sebagai warisan
> kepada anak keturunannya. Sebagai warisan biasanya
> adalah barang paling berharga yang dimiliki.
> Penyesuaian dapat dilakukan sesuai dengan kondisi
> kekinian, karenanya ada kaidah babuhua mati dan
> babuhua sintak. Namun harus diingat juga, kita
> berada pada generasi median, dan jangan sampai pula
> anak keturunan kita akan kehilangan jatidiri.
>    
>   6. Istilah bangsa Minangkabau saya temukan dari
> buku Ilmu Bumi Militer. Dan bila istilah itu menjadi
> suku bangsa atau etnik seperti pandangan van
> Vollenhoven, itu hanya masalah sudut pandang saja,
> seperti di pentas dunia kita bisa mengatakan sebagai
> bangsa Indonesia.
>    
>   7. Saya simpan sementara waktu tanggapan mengenai
> Malin Kundang ini, termasuk suatu konteks tentang
> proses pembaharuan pemahaman keIslaman di
> Minangkabau. Saya sampaikan suatu pandangan bahwa
> orang Minang itu sebenarnya bertipe eksklusif, namun
> bila wahananya dibuka maka dia bisa menjadi sangat
> inklusif. Sebuah postingan dari satu milis saya
> sampaikan berikut :
>    
>   ".....
>   Secara kebetulan kemarin saya membaca sebuah
> artikel di Kompas, dan
> saya lampirkan di bawah. Menurut saya tulisan anda
> dan tulisan di
> Kompas itu merupakan tesis-antitesis persoalan
> kebangsaan yang
> sedang kita hadapi saat ini. Ujian-ujian tentang itu
> sedang kita
> hadapi saat ini, di antaranya kebutuhan pendekatan
> baru untuk
> merangkul Aceh pasca bencana. 
> 
> Menyimak permasalahan Aceh, saya memahami bahwa kita
> berhadapan
> dengan sesuatu yang anda sebut dengan kesukuan. Saya
> belum menyelami
> permasalahan identitas itu secara mendalam, selain
> dari lingkungan
> pergaulan selama ini. Ketika Hasballah menyebutkan
> keindonesiaan-
> keislaman-keacehan-universalisme, saya menerawang
> bahwa itu semata-
> mata adalah pengembangan konteks `kekinian' dari
> inti `keacehan'
> (eksklusivisme). Sejatinya keacehan itu muncul sejak
> pertengahan
> abad 20 ketika telah muncul permasalahan dengan
> sentralisme/inklusivisme. Sebelumnya sejak Belanda
> mulai memasuki
> Aceh, doktrin yang berkembang di dalam masyarakat
> adalah memang
> keacehan hingga lenyapnya Kesultanan Aceh, namun
> berganti dengan
> keislaman ketika kaum ulama mengambil alih
> perlawanan menghadapi
> Belanda. Doktrin ini memang silih berganti mewarnai
> sistem
> kemasyarakatan. Karenanya ketika Peter Drucker
> mengantitesis bukunya
> sendiri `Megatrends 2000' dalam `Global Paradox',
> dia terhenyak
> bahwa klimaks globalisasi justru adalah mencuatnya
> kesukuan. Saya
> memahami proses ini selalu berputar seperti roda
> pedati, dan inilah
> salah satu fenomena kultur yang saya tangkap di
> dalam studi
> antropologi.
> 
> Pergaulan remaja saya dulu dengan beberapa sahabat
> Aceh, mengesankan
> saya bahwa mereka lebih bangga disebut sebagai
> `orang Aceh' daripada
> disebut sebagai `orang Islam'. Hal yang sama di
> dalam komunitas
> Minangkabau, dimana seseorang akan lebih marah bila
> dimaki dengan
> sebutan `tidak beradat' daripada `tidak beragama'.
> Di masa sekarang
> kelihatannya orang-orang sudah mulai berani
> menampilkan identitas
> aslinya, atau, mencoba mencari tahu tentang `siapa
> sebenarnya
> dirinya'. Seperti orang Betawi yang selalu
> digambarkan udik dan
> kolot, kini dengan penuh kepercayaan diri
> menampilkan identitas
> kelompoknya, dan secara perlahan merevitalisasi
> regional cultures.
> 
> Namun kultur suatu masyarakat harus melalui berbagai
> ujian untuk
> kemudian menjadi kultur yang matang dan segar. Untuk
> Aceh saya
> pernah menyebutkan kultur yang ada belum menukik,
> karena menghadapi
> proses transisi yang sangat ekstrim. Baiklah saya
> ulangi lagi,
> kejatuhan Kesultanan Aceh (adat) disambut dengan
> kepemimpinan lokal
> di bawah kaum ulama (Islam), dan kemudian masuk ke
> dalam lingkaran
> Republik Indonesia (nasionalisme), kemudian
> penegasan penguasaan
> syariat Islam (perang Tjumbok) yang berarti
> menyingkirkan
> kepemimpinan adat di Aceh, ditambah pula dengan
> status Daerah
> Istimewa. Saya pernah mempertanyakan konsep daulah
> islamiyah di Aceh
> dan nusantara pada umumnya, yang menurut saya tidak
> pernah ada dan
> tidak pernah bisa bila tidak terkait dengan konsep
> kemasyarakatan
> yang ada. Dan itupun sangat sulit mendapatkan contoh
> satu wujud
> seperti l'etat c'est moi, karena memang ada
> pembagian struktur
> kepemimpinan masyarakat sejak dulu, seperti di Aceh
> dengan `adat bak
> poteu meureuhom, hukom bak syiah kuala', di
> Minangkabau dengan `basa
> ampek balai', di Bima dengan `raja dan raja bicara'.
> Terkecuali di
> Batak saya temukan `debata na tarida, sombaon na
> binoto' (dewa yang
> dapat dilihat, roh suci yang dapat diketahui),
> ketika
> Sisingamangaraja mengatakan : agama di atas agama
> itulah agamaku.
> 
> Untuk Minangkabau, Taufik Abdullah menyebutkan
> priode 100 tahunan
> sedangkan A.A. Navis menyebutkan priode 50 tahunan,
> munculnya `pemikiran keislaman baru' di dalam
> masyarakat adat, yang
> sampai kepada konflik fisik. Saya hanya menginisiasi
> priode awal
> abad 19 (Wahabiyah hingga perang Paderi), 20
> (Muhammad Abduh dan
> Jamaluddin al Afghani, sekulerisme Turki, hingga
> munculnya Pujangga
> Baru), dan seharusnya telah ada lagi di awal abad 21
> ini. Sehingga
> ketika komunitas ini menyumbangkan Muhammad Hatta,
> Tan Malaka, dan
> lain-lain untuk menyampaikan pesan keindonesiaan
> (inklusivisme) di
> luar negeri dan Jawa, saya dengan mudah menangkap
> rasionalitasnya.
> Sebaliknya Perang Aceh (1873-1914), Perang Tjumbok
> (1945), hingga
> perlawanan separatisme pada saat ini, memang hanya
> mematri
> eksklusivisme yang fluktuatif antara kesukuan dan
> keislaman.
> 
> Saya memang tidak bisa menilai secara benar, karena
> bersifat desktop
> dan multikultur. Hal ini berlaku untuk seluruh
> penawaran pendekatan
> kultur yang telah saya sampaikan di dalam
> diskusi-diskusi
> sebelumnya. Seharusnya cendikiawan Aceh sendirilah
> yang mampu
> menilai sistem kultur yang sepatutnya mereka
> sandang, sebagaimana
> Tuhan telah berfirman : hanya dari dalam kaum itulah
> yang dapat
> mengubah nasibnya sendiri. Bahasa yang disebut
> sebagai resilience atau sebagai ketangguhan.
> Namun saya ingin fokus pada bagaimana sebuah kultur
> `inklusif-
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.
http://farechase.yahoo.com/


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke