Mengamati Tiongkok yang Mengebut Dalam Strategis (1)
Oleh:
Dahlan Iskan

Dibicarakan, Diputuskan, Dimulai, dan Langsung Jadi
REFORMASI ekonomi, terutama sistem keuangan, terus terjadi di Tiongkok.
Begitu banyak keputusan baru dibuat dan begitu cepat implementasinya. Lihat
apa yang terjadi tiga bulan terakhir ini saja: ada keputusan mulai
disamakannya pajak pendapatan antara perusahaan asing dan lokal,
dinaikkannya terus basis poin suku bunga, dikeluarkannya undang-undang
kebangkrutan yang baru, dimainkannya cadangan devisa ke arah yang lebih
produktif, dibangunnya bunker untuk menimbun minyak mentah, dibangunnya
pembangkit listrik tenaga nuklir tahap dua 10.000 MW, dibangunnya daerah
pedalaman Chongqing secara besar-besaran untuk percontohan penyelesaian
ketimpangan ekonomi, disusunnya undang-undang baru pembatasan tambang batu
bara untuk cadangan masa depan, dibangunnya jalan tol tertinggi di dunia
menuju Tibet, diresmikannya jembatan di atas laut sepanjang 38 km dari dekat
Ningbo ke dekat Shanghai...

Kalau saya teruskan, tulisan ini bisa seperti daftar kebijaksanaan baru dan
proyek baru.

Semua itu, kayaknya, begitu dibicarakan, langsung diputuskan. Lalu langsung
dimulai. Dan, sebentar lagi langsung jadi. Misalnya, keputusan membangun
industri pesawat terbang bersama Airbus di kota Tianjin. Tahun lalu
kebijaksanaan itu baru dibicarakan. Bulan lalu sudah diletakkan batu
pertamanya. Tahun depan pabrik di atas lahan 60 hektare itu sudah selesai.

Sebelum pertengahan 2009, pesawat yang dirakit di situ sudah bisa dikirim ke
pemesan. Pesanan pun sudah banyak. Minggu lalu saja masuk pesanan 68 pesawat
A320. Pemesannya Shanghai Airlines, Shenzhen Airlines, Sichuan Airlines,
Hainan Airlines, dan perusahaan penerbangan milik provinsi lain. Sepuluh
tahun ke depan pabrik itu sudah bukan merakit lagi, melainkan memproduksi
Airbus sendiri.

Kini Tiongkok mengoperasikan 270 pesawat A320. Dalam 20 tahun ke depan
kebutuhan negara itu mencapai 1.900 pesawat! Membangun pabrik pesawat begitu
besar sepertinya lebih cepat daripada membangun pabrik bata.

Demikian juga kebijakan membangun bunker untuk lumbung minyak mentah. Awal
tahun ini diputuskan membangun lumbung kedua, sekaligus di dua lokasi: di
Provinsi Shandong dan di dekat kota Dalian. Dalam waktu setahun, dua bunker
itu harus sudah jadi dan bisa menyimpan minyak mentah 28 juta ton. Bunker
pertama yang berada di Guangdong dianggap tidak cukup karena hanya mampu
menampung 5 juta ton minyak mentah.

Hal-hal strategis seperti itu memang terus dikerjakan di Tiongkok, di
tengah-tengah terus mengerjakan program-program jangka pendek dan menengah.
Ini benar-benar mengarah seperti apa yang dilakukan Amerika Serikat. Tapi,
soal pembangunan bunker itu, Tiongkok terus bersikap merendah. "Itu hanya
sama dengan nilai impor 30 hari," kata pejabat yang berwenang di situ.
"Masih jauh dari lumbung yang dimiliki Amerika yang mencapai 94 juta ton,"
katanya.

Dengan punya lumbung energi seperti itu, kalau suatu saat terjadi perang di
dekat negara penghasil minyak, setidaknya masih punya cadangan 30 hari.
Karena itu, minyak mentah di lumbung tersebut tidak akan pernah digunakan
kalau tidak dalam keadaan darurat. Untuk membuat bunker itu penuh, impor
minyak mentah akan ditingkatkan. Sebagian langsung diolah, sebagian
dimasukkan bunker. Tiongkok sendiri juga punya ladang minyak yang
produksinya mencapai 77 juta ton setahun. Sedangkan impornya tahun lalu 145
juta ton. Tiongkok juga baru saja mengumumkan penemuan cadangan minyak
terbesar di sana, 1 miliar ton di Teluk Bohai dekat Tianjin.

Tanpa punya lumbung raksasa seperti itu memang riskan untuk ukuran ekonomi
yang besarnya seperti ekonomi Tiongkok sekarang. Juga di bidang batu bara.
Dalam sidang DPR minggu ini akan disahkan undang-undang baru yang membatasi
penambangan batu bara di dalam negeri. Dalam undang-undang itu akan ada
pembatasan yang ketat untuk menambang batu bara agar masih punya cadangan di
saat kritis. Kalau keadaan masih normal, Tiongkok lebih mengutamakan impor
batu bara dulu, seperti juga lebih mengutamakan impor minyak mentah dulu.
Kebutuhan energi Tiongkok saat ini, 70 persennya memang masih dari batu
bara.

Seperti juga AS, Tiongkok terus berpikir menggunakan potensi ekonomi negara
lain untuk kemajuan ekonomi sendiri. Karena itu, belakangan ini Tiongkok
amat agresif bekerja sama membangun Afrika karena di sana banyak sumber
energi yang belum dikuasai AS, seperti di Timur Tengah. Dengan perang di
Iraq dan Afghanistan, Tiongkok memang merasa sumber energi yang ada di
sekelilingnya sudah dikuasai AS.

Keputusan yang juga cepat dilakukan dalam hal lebih mendayagunakan cadangan
devisa. Tiga bulan lalu isu itu baru dibicarakan. Minggu lalu sudah
diputuskan bagaimana tata caranya. Minggu ini DPR sudah akan memberikan
persetujuan. Padahal, ini menyangkut dana hampir Rp 200 triliun. Tiongkok
yang sampai akhir Maret lalu mempunyai cadangan devisa USD 1,2 triliun (Rp
10 ribu triliun), akhir tahun ini diperkirakan menjadi USD 1,5 triliun. Maka
diputuskan, yang USD 200 miliar (hampir Rp 200 triliun) akan ditarik dari
Amerika untuk diinvestasikan di dunia usaha. Sebab, selama ditaruh di bank
sentral AS, bunganya hanya sekitar empat persen setahun. Padahal, kalau
diinvestasikan, sebagaimana yang dilakukan Temasek Singapura di Telkomsel,
bisa dapat laba 18 persen setahun. Toh, meski diambil USD 200 miliar,
cadangan devisa itu masih akan naik lagi tiap bulan. Ini karena ekspor
Tiongkok terus surplus, ditambah lagi bunga dari cadangan devisa itu
sendiri. Tiga bulan terakhir ini saja
cadangan devisa itu naik USD 135,7 miliar.

Bagaimanakah tata cara Tiongkok menggunakan sebagian cadangan devisanya?
Meski uang itu uang-uangnya sendiri, ternyata jalan yang ditempuh cukup
berliku. Dan, memang seharusnya begitu. Pemerintah harus mengeluarkan dulu
obligasi renminbi senilai USD 200 miliar. Uang yang terkumpul dari obligasi
itulah yang dipakai untuk membeli cadangan devisanya sendiri. Obligasi
tersebut berjangka 10 tahun. Ini sekaligus untuk menjadi patokan bunga
jangka panjang di dalam negeri. Agar ada jaminan kepercayaan akan stabilitas
ekonomi jangka panjang. Rencananya, bunga obligasi itu empat persen setahun.
Ini sudah lebih tinggi satu persen daripada bunga deposito setahun.

Kalau tidak dilewatkan obligasi, bisa jadi pengambilan cadangan devisa
tersebut amat berbahaya bagi perekonomian. Angka inflasi akan melonjak
karena bertambahnya uang M1 yang beredar, yang berasal dari pencairan
cadangan devisa itu. Sekarang saja pemerintah sudah sangat waspada karena
inflasi setahun (April tahun lalu ke Mei tahun ini) meningkat menjadi 3,4
persen.

Padahal, bank sentral mematoknya hanya boleh 3 persen. Angka inflasi itu
sudah lebih tinggi dari suku bunga deposito masyarakat yang hanya 3,06
persen setahun. Bahkan, setelah dipotong pajak 20 persen, bunga riil
deposito itu tinggal 2,45 persen. Karena itu, minggu lalu pemerintah
langsung memutuskan menurunkan pajak deposito sampai 85 persen. Kalau tidak,
uang masyarakat yang ditabung di bank akan kian susut nilainya. Akibatnya,
masyarakat akan memilih sektor spekulasi seperti perumahan dan saham di
bursa.

Inflasi Tiongkok meningkat drastis (untuk ukuran Tiongkok) karena sektor
perumahan memang terus seperti biji besi yang digoreng: panas dan tidak mau
dingin-dingin. Padahal, pemerintah sangat tegas pada perusahaan realestat
yang tidak memenuhi ketentuan untuk "mendinginkan" perekonomian.

Sumber utama inflasi lainnya adalah ini: daging babi. Dalam dua bulan
terakhir, harga daging babi naik sampai 30 persen. Konsumsi daging babi
terus meningkat, sedangkan suplai tetap. Akhirnya pemerintah turun tangan
mengendalikan harga daging babi dengan cara memberikan subsidi khusus. Kalau
tidak, rakyat bisa heboh karena daging babi sudah jadi makanan wajib
masyarakat di sana. Kini harga daging babi sudah reda meski tetap lebih
tinggi sekitar 5 persen dari harga semula.

Tentu pemerintah tidak ingin dengan cairnya sebagian cadangan devisa,
inflasi menjadi tak terkendali. Dengan obligasi itulah uang yang beredar
dikurangi, karena akan ada tambahan uang beredar dari cairnya cadangan
devisa. Tapi, mengeluarkan obligasi sebesar gajah bengkak (hampir Rp 190
triliun) itu juga menghebohkan. Ini berarti uang masyarakat akan tersedot
sebanyak itu pula. Inilah yang dikhawatirkan berikutnya: uang yang beredar
berkurang drastis yang akibatnya membuat pasar lemah karena kelesuan daya
beli. Masyarakat ekonomi kini lagi menduga-duga cara apa yang dipakai
pemerintah agar obligasi gajah bengkak itu tidak membuat perdagangan macet.
Termasuk perdagangan saham yang baru saja bergairah. "Kami punya banyak
sekali alat yang bisa digunakan untuk menyetelnya," ujar menteri keuangan
seperti dikutip pers lokal Jumat lalu.

Cadangan devisa Tiongkok yang begitu besar memang sering merugikan citra
Tiongkok sebagai negara yang masih sering menerima bantuan. Misalnya, dalam
hal bantuan untuk pembangkit listrik tenaga angin. Negara donor mulai
bisik-bisik, "Kita ini harus memberi bantuan kepada negara yang cadangan
devisanya saja mencapai USD 1,2 triliun". Untuk yang begini, biasanya
Tiongkok juga tetap merendah. Cadangan devisa itu memang besar, namun
sebenarnya baru cukup untuk memenuhi kebutuhan impor bahan baku,
mesin-mesin, dan modal selama 1,5 tahun. (Cadangan devisa Indonesia, meski
hanya USD 60 miliaran, cukup untuk impor empat bulan).

Dalam hal pengamanan impor itu cadangan devisa Rusia, sebenarnya lebih baik.
Yakni, cukup untuk impor dua tahun. Ini karena impor Rusia tidak sebesar
angka impor Tiongkok. Tahun lalu nilai impor Tiongkok USD 792 miliar. Tiga
tahun lagi angka impor itu mencapai USD 1 triliun. Kalau pemerintah
Indonesia bisa mencari tahu apa saja yang dibutuhkan sebanyak itu, lalu
berusaha mengadakannya di Indonesia, alangkah besarnya peluang tersebut bagi
kita. Lima persennya saja bisa jatuh ke Indonesia, ciamiknya bukan main.
Hitung sendiri. Tai hao le! (bersambung)

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke