Beberapa yang saya ketahui tentang Pak Sutan yang satu ini:
1.  Sangat dikagumi Romo Mangun
2.  Tidak menjalankan shalat 5 waktu
3.  Pahlawan Nasional

 ----- Original Message ----
From: benni inayatullah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, July 4, 2007 5:21:25 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Sutan Sjahrir, Nasib Getir Burung Kelana

    
Ditulis oleh Aulia A Muhammad   
Kamis, 24 Pebruari 2005

SUTAN Sjahrir adalah nama yang dicuplik ibunya dari kegemerlapan kisah Seribu 
Satu Malam di Istana Baghdad. Tapi kehidupan Sjahrir justru getir dan kelam, 
sehitam belanga. Dialah orang yang paling jenius dalam pergerakan kemerdekaan 
Indonesia. Hanya bermain di belakang gemebyar Soekarno dan memimpin pergerakan 
di Bandung, Amsterdam, dan Leiden, jiwanya menjadi matang. Dialah pengelana 
yang hidup untuk kampung halaman: pribadinya matang dalam tempaan cita-cita 
kemerdekaan.

Menghabiskan delapan tahun dalam penjara kolonial dan pembuangan, tiga kali 
menjadi Perdana Menteri di rezim Soekarno, tapi saat mati, Sjahrir justru 
berstatus tahanan politik, dari sebuah bangsa yang dengan darah dan airmata 
yang ia perjuangkan kemerdekaannya.

Dialah Don Quixote, sekaligus Kafka; sendiri, pedih, getir, tapi amat mencintai 
sesama atas nama kemanusiaan. Tak heran, pada hari
 penguburannya, 18 April 1966, jasadnya yang baru datang dari Zurich, disambut 
250 ribu massa, yang mengelu-elukannya dalam tangis, mengantar bunga dukacita 
ke Kalibata. Helikopter berputar, meraung, menabur wewangian kembang, tembakan 
salvo pun menggelegar, mengiringi jasad ringkih, pucat, tapi tersenyum, turun 
ke liang lahat.

Pemerintah menginstruksikan mengibarkan bendera setengah tiang, tiga hari, 
tanda duka, dan jasad yang kering itu pun dibaptis sebagai pahlawan nasional.

Tapi apakah arti upacara itu? Adakah kemeriahan penghormatan dan anugerah itu 
dapat mengobati luka Sjahrir, yang lebih membutuhkannya di hari-hari panjang 
yang dingin, pengap, meringkuk sakit, sendiri, sepi, di sebuah penjara, di 
Jakarta. Hidup Sjahrir mungkin sebuah biografi yang tak indah. Tapi, siapa yang 
bisa melepaskan namanya dari triumvirat Bung, pendiri negara ini? Dalam tahap 
ini, jelas, Sjahrir berarti, sangat berarti.

Dia berjuang untuk memerdekakan negeri ini dengan
 konsep yang ganjil tentang nasionalisme. Nasionalisme bagi si Bung berdarah 
Minang ini bukanlah dewa. "Nasionalisme hanya kendaraan yang kita pakai saat 
ini untuk memerdekakan diri," ucapnya.

"Sjahrir adalah burung kelana yang mendahului terbang melampaui batas-batas 
nasionalisme. Dia salah seorang tokoh terbesar dalam kebangkitan Asia," puji 
Indonesianis, Herbert Feith.

"Perjalanan hidup Sjahrir," tulis Rudolf Mrazeck dalam Sjahrir: Politik dan 
Pengasingan di Indonesia, adalah gerak universalisme dari satu tradisi sempit. 
Dia tak pernah membawa bau tradisional, primordial, atau parokial. Ia secara 
jujur mengaku, tak punya hubungan batin dengan dunia Minang."

Dalam posisi itu, Sjahrir amat berbeda dari Soekarno, Hatta, bahkan Tan Malaka. 
Sjahrir adalah anak panah, melesat dari busurnya, tak pernah kembali.

Seperti pemimpin pergerakan lainnya, Sjahrir adalah buah dari politik etis van 
Deventer. Ia lahir di Padangpanjang, Sumatra Barat, 5 Maret
 1909, dan dewasa di Medan. Di kota itulah jiwa muda Sjahrair sudah kenyang 
melihat penderitaan kaoem koeli, bukti eksploitasi kolonialisme.

Dia mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, 
dan membetahkannya bergaul dengan pustaka dunia, karya-karya Karl May, Don 
Quixote, dan ratusan novel-novel Belanda. Malamnya dia ngamen di Hotel de Boer, 
hotel khusus untuk kulit putih, kecuali musisi dan pelayan.

1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, 
sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung 
dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis 
skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah 
yang ia dirikan, Tjahja Volkuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.

Sebelum Soekarno membentuk Perserikatan Nasional Indonesia, 4 Juli 1927, 
Sjahrir telah membentuk Jong Indonesie, yang kelak menjadi Pemoeda Indonesia. 
Ini
 organisasi baru yang jauh dari warna kesukuan, dan ia menjadi pemimpin redaksi 
organisasi itu.

Kuliah hukum di Universitas Amsterdam, Sjahrir berkenalan dengan Salomon Tas, 
ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak 
dinikahi Sjahrir, meski sebentar.

Dari mereka Sjahrir mengenal Marxisme, dan melalui Hatta, dia masuk Perhimpunan 
Indonesia. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah 
milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus 
menjadi tugas utama pemimpin politik.

"Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju 
kemerdekaan," katanya.

Tulisan-tulisan Sjahrir berikutnya, terutama dalam manifestonya, Perjuangan 
Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno 
amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Sjahrir justru menulis, "Tiap 
persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. 
Usaha-usaha
 untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan 
semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan."

Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas 
solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar 
kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno 
yang menurutnya tak membawa kejernihan.

Perjoeangan Kita adalah karya terbesar Sjahrir, kata Salomon Tas, bersama 
surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. 
Manuskrif itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, "Satu-satunya usaha 
untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang 
memperngaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi 
gerakan kemerdekaan di masa depan."

Pujian yang tak berlebihan. Karena melalui Partai Sosialis Indonesia yang 
melahirkan Soejatmoko, Sutan Takdir Alisjahbana dan Chairil Anwar,
 jejak-jejak Sjahrir sampai kini masih terasa, kuat, masih menggelora. 


 
      
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware 
protection.












       
____________________________________________________________________________________
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's 
Comedy with an Edge to see what's on, when. 
http://tv.yahoo.com/collections/222
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke