Ondeh Z... Mambaco Dendeng Kayu Aro ... Sempat lo ambo jadi melankolis, seandainya aku punya sayap...
Untuang tadanga azan magrib...,kok ndak, bisa abih aia liua ambo, ha ha riri Z Chaniago wrote: > http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=34385§ion=96 > BONDAN WINARNO > Penulis adalah seorang pengelana yang telah > mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi > makanan-makanan khas, dan masih akan terus > melakukan pengembaraannya. (E-mail: > [EMAIL PROTECTED]) Baca Profil > [X] close > Bondan Winarno > Bondan di SD Padang Pasir > Minggu lalu, saya sempat berkunjung ke sekolah > saya di masa kecil. Pada saat terakhir saya > tinggalkan di tahun 1958, namanya masih Sekolah > Rakyat Padang Pasir. Sekarang sudah berubah nama > menjadi SDN 05 Padang Pasir. Letaknya di Jalan > Padang Pasir, Padang, Sumatra Barat. > Ketika itu, kami tinggal di Jalan Ir. Sukarno, > tepat berseberangan dengan rumah Gubernur. > Peristiwa PRRI dan sentimen anti-Sukarno membuat > nama jalan itu berubah menjadi Jalan Panglima > Sudirman. Dari rumah, saya berjalan kaki > menembus > padang rumbia sekitar sepuluh menit, dan sudah > tiba di sekolah itu. Sekarang sudah banyak rumah > dan ada sebuah mesjid besar di lintasan itu. > Kebetulan sekali Ibu Kepala Sekolah melihat > kedatangan saya, dan malah mengundang saya masuk > ke dalam. Hari itu sedang berlangsung > acara wisuda > kenaikan kelas yang meriah. Alangkah bahagianya > saya berada di tengah-tengah murid sekolah yang > pernah menjadi alma mater saya 50 tahun yang > lalu. > Saya tidak melewatkan kesempatan untuk singgah > di > penjual sate di depan sekolah. Setengah abad > yang > silam, satu ketupat dan dua sate dengan kuah > melimpah harganya hanya 25 sen. Sekarang dua > ribu > rupiah. Sebuah kenyataan inflasi yang luar biasa > bila diingat bahwa di antara lima abad itu > pernah > terjadi pengguntingan nilai uang dari seribu > rupiah menjadi satu rupiah. Bayangkan, delapan > ribu kali lipat! > Semua sate padang yang dijual di Padang adalah > gagrak Pariaman, sebuah kota di Utara > Padang. Kuah > sate Pariaman berwarna oranye kemerahan karena > mengandung banyak cabe. Sate padang di Jakarta > kebanyakan gagrak Padangpanjang yang berkuah > kuning. Beda yang lain: sate gagrak Pariaman > ditaburi kripik sanjay balado (dari singkong > atau > ubi kayu), sedangkan gagrak Padangpanjang > disajikan dengan krupuk jangek (krupuk kulit) > lebar yang sekaligus berfungsi untuk menyendok > kuah yang melimpah dan gurih itu. > Perbedaan sate Pariaman dan > Padangpanjang ini juga > sekaligus menunjukkan adanya keragaman masakan > di > Ranah Minangkabau ini. Masakan Payakumbuh punya > ciri tersendiri, begitu pula Kapau, Batusangkar, > dan lain-lain. > Tentu Anda pernah mendengar nasi kapau. Kapau > adalah sebuah desa di dekat Bukittinggi yang > juga > punya masakan khas, antara lain rendang (isinya > daging sapi dan kentang bulat kecil), dendeng > balado, dan gulai itiak lado mudo (bebek cabe > muda). Ada dua rumah makan di Bukittinggi - > yaitu > RM Simpang Raya dan RM Selamat, keduanya di > depan > Jam Gadang - yang menyediakan rendang khas ini. > Sayangnya, dalam kunjungan terakhir ke Simpang > Raya, sedang tidak musim kentang kecil, sehingga > diganti dengan singkong yang dipotong dadu dan > digoreng. Tentulah tidak seenak versi aslinya. > Uni Lis di Pasar Ateh Bukittinggi juga punya > rendang ayam yang dicampur dengan kacang merah. > Uni Lis - bersaing ketat dengan Uni Cah yang > pernah dikunjungi SBY - adalah lepau nasi kapau > paling juara. Khususnya untuk gulai tambusu > (usus > sapi diisi kocokan telur dan santan), dan > dendeng > balado. Sayur cubadak (nangka muda) gagrak Kapau > juga dilengkapi dengan kol, kacangpanjang, dan > rebung. Dendeng balado Uni Lis tidak > hanya memakai > cabe merah, tetapi juga dengan cabe hijau dan > kacang panjang. > Soal gulai itiak lado mudo, yang paling terkenal > adalah di RM Ngarai, Jl. Ngarai Binuang, > Bukittinggi. Lokasinya persis di sisi > dasar Ngarai > Sianok, sehingga tamu juga sekaligus dapat > berwisata ke sini. Lado mudo adalah cabe muda, > yaitu cabe keriting yang belum menjadi merah dan > masih berwarna hijau. Ada lagi RM Sambalado - di > antara Padangpanjang dan Bukittinggi - ada > sajian > ayam lado mudo dengan cabe yang lebih muda, > sehingga warna hijaunya pun lebih cantik. > Ayamnya > seperti ayam pop yang gurih dan lembut, dengan > cabe muda yang juga lembut. Rancak bana! > Naluri pemasaran di RM Ngarai ini juga perlu > diacungi jempol. Tersedia bebek cabe hijau yang > sudah beku di freezer bila Anda ingin membawa > oleh-oleh pulang ke tempat jauh. > Bondan winarno > Pangek Pisang > Dalam artikel terdahulu saya pernah menulis > tentang sentuhan khas di dapur ibu-ibu di Nagari > Kinari, sebuah desa nan rancak di dekat Solok. > Di > nagari ini, masakan asam padeh (asam pedas) ikan > ambu-ambu (tongkol) selalu mempunyai hint > seperti > kuah ikan sarden dalam kaleng. Sangat istimewa! > Saya juga jatuh cinta pada pangek pisang yang > dimakan dengan ketan pulen. Luar biasa! (Baca: > Pulang Basamo Angku Bondan ) > Di Kinari, sisa-sisa bagian ayam yang tidak > dipakai untuk memasak - seperti ceker, leher, > ati-ampla - dimasak dengan batang daun keladi > menjadi gulai kemumu yang dijamin akan membuat > Anda termimpi-mimpi untuk balik lagi ke sana. > Di antara Kayu Aro - kawasan penghasil teh > terkenal - dengan Solok, ada sebuah lepau nasi > Hajah Emi yang juga sudah saya tandai sebagai > sasaran wisata kuliner yang tidak boleh > dilewatkan. Sajian juara dari lepau ini adalah > dendeng baracik. Menurut Hajah Emi, sajian ini > tidak ada di lepau lain, karena merupakan resep > warisan dari neneknya. > Saya nyelonong ke dapur untuk melihat bagaimana > dendeng baracik itu dibuat. Ternyata, dendengnya > dibuat dari potongan tebal daging bagian > dada sapi > (disebut gajebo di Minang, sandung lamur > di Jawa). > Dagingnya sudah layu dalam bumbu, tetapi belum > kering, dipotong-potong dengan ketebalan sekitar > dua milimeter, besarnya sekitar lima kali lima > sentimeter. Anda harus berada di dapur untuk > menikmati sensasi aroma dendeng yang dibakar > dengan minyak kelapa. Pasti terbit air liur > Anda! > Sementara dendengnya digoreng, Hajah Emi > merajang > lado mudo (cabe muda) yang masih berwarna hijau, > bawang merah, dan tomat. Dendeng yang sudah > digoreng kering itu diletakkan di > piring, ditaburi > semua rajangan, lalu dikucuri dengan > perasan jeruk > nipis. Langsung dimakan dengan nasi hangat. Onde > mande, lamaknyo! > Bondan winarno > Dendeng Baracik > Selain dendeng balado dan dendeng baracik, tentu > Anda juga mengenal sajian khas yang disebut > dendeng batokok. Sajian ini dimulai dengan > daging > sapi goreng yang mirip empal. Lalu dipukul-pukul > dengan palu sehingga pecah, tipis, dan melebar, > kemudian disiram dengan sambal cabe merah > berminyak. > Istilah sambal di Ranah Minang berarti > lauk-pauk. > "Minta sambalnya lagi!" Maka yang datang adalah > beberapa pinggan lauk-pauk. Sambal dalam > pengertian umum disebut lado di Padang. Di pasar > selalu dapat kita lihat penjual lado giling > (cabe > yang sudah digiling halus) menggunung di atas > baskom besar. Orang yang tidak terbiasa akan > bersin-bersin bila masuk pasar karena aroma cabe > giling yang terumbar. Cabe giling dengan sedikit > cuka merupakan sambal yang paling pas untuk > makan > soto. > Di RM Lubuk Idai - ada beberapa cabang > tersebar di > berbagai tempat di antara Pariaman, Padang, dan > Bukittinggi - ada juga hidangan yang disebut > ayam > batokok. Tetapi, penampilannya sangat beda dari > dendeng batokok. Di sini potongan-potongan ayam > mentah dipukul-pukul dengan palu, lalu diungkep > dengan bumbu. Teknik ini - sekalipun tidak > menggunakan palu - mirip cara membuat > bebek betutu > di Bali, yaitu agar bumbu-bumbu merasuk ke dalam > daging. > Ayam yang sudah diungkep dengan bumbu dan > dikukus > ini kemudian dipanggang. Hasilnya adalah mirip > ayam panggang santan yang biasa kita jumpai > dalam > sajian Minang, tetapi lebih gelap warnanya dan > lebih gurih rasanya. > Sampai di sini dulu, ya? Saya beri > kesempatan Anda > untuk mengeringkan liur sebentar. He he he ... > -- > Z Chaniago - Palai Rinuak - Kaganti sawah jo ladang > ____________________________________________________________________________________ Luggage? GPS? Comic books? Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2. ========================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
