Ass. Wr. Wb.

Dunsanak di palanta sarato rekan2 MAPPAS mungkin iko bisa jadi masukan, 
Pekan Budaya Minangkabau di Padang alah di tutuik, kalau kito baco tulisan 
kakanda Khairul Jasmi di harian singgalang (ambo copy paste di bawah). 
Nampaknyo masih paralu pembenahan2 untuak mawujudkan Sumbar sabagai tujuan 
wisata.

Sarupo nan dikawatirkan Ajo Duta, adonyo acara PB 2008, apokah Sumbar 
siap?.

Sebuah event Pekan Budaya, yang bisa jadi event pariwisata kalah jo 3 
saribu, "Pekan Budaya Judulnyo, Pasa Malam isinyo"
Barangkali paralu penataan nan labiah profesional.

Salam 
Is
www.cimbuak.net
Kampuang Nan Jauah dimato dakek dijari.



Tentang Pekan Budaya 
Oleh Khairul Jasmi
Pekan Budaya Sumbar (7 sampai 14 Juli) adalah sebuah helat Sum-bar. Banyak 
yang tidak ingin datang melihatnya, tapi banyak pula yang basumangaik . 
Masing-masing dengan alasannya. Dari pantauan, terlihat, tiap hari 
pasangan suami-istri dan anaknya datang ke arena. Mereka memasuki stand 
demi stand. Tercengang dan tak ter-cengang. Belum lagi rombongan demi 
rombongan, entah dari mana datangnya. Ada yang melihat pertunjukan, 
menghabiskan waktu di museum, ada yang sekadar cari angin. 
Seniman dan budayawan sibuk, tapi ada juga yang tak sibuk, malah tak 
datang-datang, meski hari biasa ia berada di Taman Budaya, di lokasi mana 
saat ini dilaksanakan Pekan Budaya itu. Sebagaimana jamaknya seniman, ia 
memiliki persepsi masing-masing, apalagi soal Pekan Budaya. Persepsi itu, 
adalah kesimpulan pribadi atas sebuah peristiwa. Sebuah peristiwa 
seringkali menimbulkan kesan yang berbeda pada tiap orang. Jika kemudian 
muncul perbedaan di antara seniman dalam soal Pekan Budaya, hal itu sangat 
wajar. Yang tidak wajar adalah: Semua seniman memuji habis Pekan Budaya. 
Atau, semua seniman mencaci-maki Pekan Budaya. Di manapun selalu berlaku 
kurva normal, senang, biasa-biasa saja, dan ada kelompok yang tidak 
senang. Jumlahnya tergantung, baik buruknya sebuah peristiwa. 
Karena persepsi yang berbeda itu, muncullah dinamika. Dinamika akan 
memperkaya khasanah berpikir kita. Kekayaan berpikir itulah yang 
dimunculkan teman saya Nasrul Azwar lewat tulisannya pada rubrik ini (12 
Juli) lalu. Ia menulis dengan judul, "Berladang di Punggung Budaya". Tak 
perlu lagi diulas, dari judulnya saja sudah diketahui, apa yang ia maksud. 

Penulis mengeritik beberepa aspek dari pelaksanaan Pekan Budaya. Mulai 
dari panitia yang tidak siap, campur-aduknya pedagang dengan pentas seni. 
Yang berdendang, berdendang juga, yang basa-luang terus basaluang , tapi 
yang "tigo saribu," berteriak juga sampai pada soal dokumentasi dan honor. 

Kalau dibaca dari sudut, "betapa beragam dan lucunya" kehidupan ini, maka 
Pekan Budaya menjadi sebuah arena hiburan yang menga-syikkan sekaligus 
juga lucu. 
Nasrul, alias Mak Nai, melihat kenapa Pekan Budaya tidak digilir dari kota 
ke kota, seperti dulu lagi? Ada bagusnya juga ide dia. Perlu dipikirkan 
oleh gubernur dan DPRD Sumbar serta pihak terkait, apa untung ruginya 
kalau pelaksanaannya digilir? Ketika dilaksanakan di Batusangkar dulu, 
semaraknya masih terasa sampai sekarang. Bisa jadi, itu karena di kota 
selain Padang, rakyat haus hiburan dan ingin melihat sesuatu yang baru. 
Bisa pula oleh karena sebab lain. 
Betul juga kata Nasrul, dokumentasi tentang Pekan Budaya dari dulu hingga 
yang terakhir tidak ada. Inilah kita. Jika ini sebuah kesalahan, 
seharusnya diperbaiki. Jika ini sebuah kebiasaan, harus dihilangkan. 
Dalam anggaran untuk Pekan Budaya tahun mendatang, perlu dimasuk-kan biaya 
dokumentasi untuk semua aspek. Sehingga panitia bisa bergerak lebih 
leluasa membuat dokumentasinya. 
Sekarang anggaran yang diberikan hanya sebesar Rp1,2 miliar. Menurut saya, 
uang sebanyak itu, pas-pasan. Tapi uang sebanyak itu, jelas sedikit 
jumlahnya, jika acara Pekan Budaya diserahkan ke iven organizer (IO). 
Bahwa Mak Nai, menduga, pemain-pemain seni tradisi tak terima uang honor 
dari yang Rp1,2 miliar itu, perlu direnungkan. Honor itu penting. Mak Nai 
mungkin telah mengetahuinya dari pelaku seni tradisi. Mak Nai tak usah 
pula dipergunjingkan di Taman Budaya. Ia menulis, tentu dengan 
per-tanggungjawaban penuh. Tapi, karena ini menyangkut penggunaan uang, 
sebaiknya tulisan itu, tidak sepihak, Mak Nai harus punya data akurat, 
kalau tidak bisa menjadi masalah. 
Bagi saya menarik pula, bagian lain dari tulisan Mak Nai ini, tentang 
"tigo saribu, tigo saribu". Suara itu terdengar di arena Pekan Budaya. 
Idealnya Pekan Budaya memang pesta budaya. Tidak ada orang meng-galas di 
sana. Kalau menggalas namanya pasa malam atau pekan raya. Tapi bagaimana 
pula bentuknya, kalau di Pekan Budaya tak ada orang menggalas. Sebaliknya, 
apa kata dunia, kalau orang menggalas lebih banyak dari iven lain. 
Saya melihat, Pekan Budaya telah dilaksanakan dengan usaha maksi-mal, tapi 
tergesa-gesa. Anggaran untuk itu, agar terlambat cairn-ya. 
Ke depan, agar jangan ada orang yang 'marandang kacang,' ketika awak 
sedang baralek , ada baiknya, perdebatan dilakukan sebelum acara dimulai. 
Mak Nai, teman saya itu, setahu saya, sangat menyokong tumbuh dan 
berkembangnya seni tradisi dan budaya Mi-nang. Ia abdikan dirinya 
bertahun-tahun untuk Dewan Kesenian Sumbar. Saya juga tahu, pihak yang 
dikritik Mak Nai, juga berbuat yang sama untuk seni dan budaya Minang. 
Jadi selamatlah. Ada tulisan Nasrul Azwar, ada tulisan Alwi Karmena. 
Alangkah indahnya, jika tiap seniman menulis tentang Pekan Budaya, 
mengeritik, memuji, menampilkan apa adanya, terser-ah. Menulislah yang 
banyak. *

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke