salam
bung yudi!
tulisan bang wis masih enak dibaca.
hehehe
salam
sutan iwan soekri munaf
"Yudi \"KudaLiar\"" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> CATATAN "TERCECER" SI MALIN KUNDANG
>
> I. Nama dan Gelar
>
> Sejak abak mati karena kerja rodi sebagai seorang
> anak aku bertekat untuk menjadi anak yang berguna.
> Membela ibuku. Niat itu kusampaikan pada ibu setelah
> dia kembali dari kota Gede, dan segera ibu merobah
> namaku dari si Buyung menjadi "Gunawan". Anak yang
> berguna.
>
> Kemudian, setelah Islam masuk, tanpa setahuku ibu
> memberikan nama tambahan di depan namaku itu dengan
> "Muhammad". Dan setelah aku menaiki pelaminan,
> orang-orang memanggil gelarku "Malin", maksudnya
> mungkin orang yang soleh.
>
> Maka pergilah aku merantau. sewaktu aku pulang
> sebentar melihat ibu, aku sempat bertanya kepadanya:
> "Mak, kenapa sewaktu Belanda masuk atau Jepang
> datang namaku tidak ditambah pula dengan "Albert
> atau Yamaguci" misalnya. Ibuku menjadi marah dan dia
> menggerutu. Mamakmu sendiri bergelar Datuk Bana Tan
> Tapo, tetapi secuil pun tak pernah dia berusaha
> menegakkan kebenaran dan takutnya pada orang kalau
> diuji pendapatnya bukan main.
>
> Sekarang kau sudah dipanggil orang si Malin. Padahal
> apa yang kau kerjakan di rantau menjadi "pancacak"
> !?. O !, kalau begitu tahulah aku kini. Tampaknya
> antara nama dan gelar seperti tidak ada hubungan
> sama sekali dengan tingkah laku dan perbuatan.
>
> II. Merantau Cina
>
> Sewaktu aku akan pergi merantau, ibuku berpesan:
> "Malin, jangan lah kamu merantau Cina. Hujan emas di
> negeri orang, hujan batu di negeri awak, lebih baik
> juga negeri awak". Aku mengangguk mengiyakan.
>
> Tapi sewaktu orang-orang Cina sudah mulai membeli
> tanah pusaka kami, ibuku segera mengirim surat kilat
> khusus yang isinya: "Malin, merantaulah seperti Cina
> !. Beli tanah dimana saja. Tanah pusaka kita
> ternyata telah dikapling-kapling mereka !".
>
> Surat kilat khusus itu dibaca istriku, Puti Manih
> Talonsong (sebelum menjadi isteriku, nama kecilnya
> Cian Phao). Setelah surat itu dibacanya, dia
> tersenyum. "Jangan tanahmu, kau sendiri kan sudah ku
> kapling jauh sebelum itu"
>
> Maaf mamak Datuk !, kata aku kepada mamakku, aku
> terpaksa kawin dengan Puti Manih Talonsong itu
> karena aku dulu jadi anak semang Baba Laweh,
> bapaknya.
>
> III. Anak dipangku Kemanakan. ?
>
> Restoran "Bim Bing" suasananya enak dan
> remang-remang. Aku pelanggan restoran itu tanpa
> setahu Cian Phao, soalnya ada Puti Basusual Intan
> disana. Aku yakin dia sama asal atau sekampung
> dengan ku, tapi separo mati pula dia bertahan
> mengatakan tidak. Dalam pertengkaran itu aku pangku
> dia habis-habisan. Tiba-tiba seorang tua
> tertelungkup di depan kami, pingsan. Seteleh
> ditelentangkan, Puti Basusual Intan terperanjat
> "Ayahku !" teriaknya. Kuraba kepala yang pingsan
> itu. Ternyata dia Datuk Bana Tan Tapo mamakku.
> Rupanya dia jatuh pingsan melihat aku begitu penuh
> nafsu memangku Puti Basusual Intan.
>
> Insiden kecil ini di jadikan Head Line Surat Kabar
> "Datuk Bana Tan Tapo pingsan karena Anak dipangku
> kemanakan di Bim Bing" ?.
> Pada mulanya insiden, akhirnya menjadi petuah adat
> sampai sekarang gara-gara wartawan.
>
> IV. "Rumah Gadang bapaga Adat"
>
> Aku sudah mengirimkan sejumlah uang berkali-kali
> sebagaimana yang diminta mamakku Dt. Bana Tan Tapo
> untuk menyiapkan "rumah gadang" kaum kami. Kemudian
> ibuku mengirim surat pula supaya mengirimkan uang
> lagi untuk membuat pagar rumah gadang itu. Semuanya
> aku penuhi. Tapi sewaktu aku pulang ke kampung
> melihat rumah gadang itu, ternyata tidak ada pagar
> atau tanda akan diberi pagar. segera kutemui mamakku
> Dt. Bana Tan Tapo menanyakan kenapa pagar belum juga
> dibikin sedangkan uangnya sudah dikirim lebih.
> "Rumah gadang bapagar Adat" Malin !, bukan berpagar
> besi seperti rumah sekarang !, jawabnya tenang.
>
> Dan uang yang telah kukirimkan digunakan buat apa ?,
> kan buat bikin pagar !, kataku kesal.
> Sambil menangis merangkulku dia berbisik "Kau saja
> sanggup beristeri sampai lima, pada hal kau belum
> jadi Datuk !". Aku bingung !.
>
> "Uangmu telah kugunakan untuk kawin lagi, gengsi
> kalau penghulu seperti aku tidak punya banyak
> isteri, sepertinya aku tidak laku !".
>
> Mungkin inilah sebabnya rumah gadang di Minangkabau
> semakin berkurang, kalau kemanakan di rantau selalu
> mengirimkan uang disalah gunakan oleh mamaknya.
>
> V. "Masyarakat Ilmiah"
>
> Datuk-datuk yang selalu mengadakan rapat atau sidang
> di Balai Adat mempunyai tata cara tersendiri. Setiap
> kata harus dijelaskan arti dan maksudnya supaya
> tidak terjadi kesalah pengertian. Dan bagi yang
> memberikan jawaban, mengulang kembali penjelasan itu
> dan setelah disepakati bahwa arti dan maksudnya
> sama, baru persoalan dilanjutkan.
>
> Jika sekiranya yang dibicarakan tentang perkawinan,
> terlebih dahulu disamakan pendapat tentang "kawin"
> itu, apa yang dilakukan bila kawin, kawin cara siapa
> dan seterusnya. Setelah itu baru persoalan
> dilanjutkan "siapa yang akan kawin", bagaimana
> kawinnya, dimana dan kapan ? dan seterusnya.
>
> Kadang-kadang rapat itu hanya membicarakan tentang
> sebuah durian yang jatuh ke halaman orang lain,
> terpaksa mereka rapat sampai lima atau enam hari.
> Repot !, tapi kata Datukku itu adalah sikap ilmiah.
> Semua harus punya rujukan yang jelas. Kalau mengutip
> pendapat orang lain harus di konfirmasikan sampai
> benar-benar diakui sebagai pendapat, bukan pendapat
> kita. Aku mengangguk membenarkan.
>
> Sewaktu dia tersinggung karena aku kawin lagi
> sedangkan isterinya sebagai Datuk baru tiga, dia
> memakiku; "Anjiang kamu Malin !".
>
> Aku tenang saja, tapi ketenangan ku membuat
> kemarahannya melimpah ruah; "Hei Malin ! Hanya Datuk
> yang boleh bersiteri banyak ! Kau telah menghina
> semua Datuk yang ada di negeri ini !" "Anjing !,
> Anjiang kau !", suaranya semakin serak dan akhirnya
> menangis.
>
> Setelah reda kemarahannya lalu ku katakan, bahwa
> kita harus bersikap ilmiah. Kita ini masyarakat
> ilmiah. Segala sesuatunya harus jelas. Jika mamak
> Datuk mengatakan anjing, supaya dijelaskan anjingnya
> anjing apa, kurapan atau hitam, jantan atau betina
> dan turunan anjiang apa !?
>
> Tiba-tiba dia berdiri; "Baik !", katanya dengan
> geram. Tubuhnya bergoyang menahan kemarahannya.
> "Anjiang kamu !
> Anjing kumbang !
> Anjing milik Datuk Perpatih Nan Sabatang !
> Yang menggigit dubalang Datuk Ketumanggungan !.
>
> Tapi anjing tidak dihukum !
> Yang namanya anjing ! Tentu tidak dimakan hukum !
> Hanya anjing yang memakan hukum !
>
> Akhirnya mamakku tertawa
> terpingkel-pingkel sendiri.
>
> Wisran Hadi
>
> (Dikutip dari "Majalah Adat dan Kebudayan
> Minangkabau LIMBAGO", terbitan Desember 1986)
> Sumber :
>
--
Salam,
Yudi F
+62 819 3135 7781
http://yudifebri.multiply.com
YM ID : yudifebri
Image by FlamingText.com
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---