Keajaiban sebuah nama
Namaku sesungguhnya Nooraya Zakaria. Aku tak pernah tahu pasti
bagaimana Ibu bisa memberiku nama indah ini. Mungkin sebelum berpisah, Ayah dan
Ibu pernah membicarakan hal ini. Tapi belakangan yang kutahu, Nooraya adalah
nama adik perempuan Ayah yang paling disayanginya.
Tapi, tanpa perasaan Nenek dan Tante Jean mengubah namaku menjadi
Patty Edgar. Mungkin mereka malu diketahui orang bahwa ayahku bukan orang kulit
putih dan berusaha menghapus asal-usulku. Akhirnya sejak kecil teman-teman
selalu memanggilku Patty.
Usia 18, ketika aku berniat membuat surat izin mengemudi kuubah
namaku kembali menjadi Nooraya Zakaria karena itulah namaku sesungguhnya yang
tercantum di akte kelahiranku. "Nooraya...Namamu indah sekali," puji salah
seorang pegawai ketika aku mengurus SIM-ku. Ironisnya ia tetap memanggilku
'Patty' seperti teman-teman sekolahku memanggilku. Tapi, sejak itu teman-teman
tidak lagi memanggilku dengan nama Patty Edgar, bukan juga Nooraya Zakaria
melainkan Patty Zakaria. Hanya beberapa teman Indonesiaku di Melbourne yang
mengetahui namaku Nooraya Zakaria, padahal berkat nama inilah aku berhasil
menemukan keluargaku.
Ketika bekerja di Cina, pernah kubaca sebuah majalah yang menulis
artikel tentang Molly Bondan. Ia seorang wartawan Australia yang menikah dengan
pria Indonesia bernama Muhammad Bondan pada tahun 1940. Tahun 1947, mereka
kemudian menetap di Jakarta. Dari situ, aku langsung teringat bahwa wanita ini
adalah salah satu teman Ibuku yang juga ikut mendukung perjuangan orang
Indonesia menentang penjajahan atas Belanda. "Mungkin dari dia aku bisa mencari
tahu tentang Ayah," pikirku dengan hasrat menggebu. Selama hidupnya, Ibu memang
belum pernah mengetahui perihal keluarga Ayah.
Molly ternyata berbaik hati mempertemukanku dengan dua pria tua
yang pernah dibuang ke Digul, mereka pernah mengenal ayahku. Sayangnya yang
mereka ketahui tentang Ayah sedikit sekali. Aku sudah berusaha keras untuk bisa
mengerti apa yang mereka katakan sebab mereka tak bisa berbahasa Inggris.
Mereka hanya bisa bercerita bahwa ayahku seorang pemancing yang ulung, dan
pandai menari tarian tradisional. Hanya itu saja. ketika kutanya, "Dimana
tempat tinggal Ayah, berapa jumlah saudaranya, apakah mereka masih ada?"
Ternyata mereka hanya menggeleng kepala. Badanku terasa lemah lunglai, aku
kecewa sekali. Bisakah kutemukan keluargaku?
Yang berhasil kudapat hanya satu informasi bahwa Ayah berasal
dari Minangkabau. Tadinya aku nekad untuk hendak pergi kesana. Tapi ada yang
mengingatkanku bahwa itu sulit sekali. Dengan informasi minim dan aku tak bisa
berbahasa Indonesia rasanya mustahil. Aku hanya akan mencari-cari kesulitan
saja, kata mereka.
"Apa yang mereka katakan mungkin ada benarnya. Ayah meninggal
tahun 1948, itu sudah 38 tahun yang lalu. Jika Ayah mempunyai saudara kandung,
mereka pasti sudah tiada. Jika keluarganya masih ada, mereka juga pasti tak
ingat lagi tentang ayahku, apalagi perihal keberadaanku, mereka pasti tak
pernah mengetahuinya," pikirku dengan putus asa. Lalu aku pun kembali ke
Australia dengan perasaan lunglai.
Akhirnya aku pasrah. Kuterima kenyataan bahwa aku hidup sebatang
kara di duia ini. Selain putraku dan Tante Jean, tak ada sanak keluarga lain
yang kumiliki. Sejak itu aku tak pernah lagi berminat mencari keluargaku yang
lain apalgi bisa menjumpai makam Ayah.
Tabir pun Terkuak
Kira-kira bulan Oktober 1994, aku diundang seseorang untuk
bertemu Zainudin, orang Indonesia asal Minangkabau yang telah lama menetap di
Melbourne dan menikah dengan wanita Australia. Serasa seperti mimpi aku
diberitahu bahwa aku mempunyai sepupu di Jakarta. Lebih kaget lagi ketika
dikatakan bahwa sepupuku Noerhamidar sejak tahun 1954 berusaha mencari-cariku.
Benarkah semua ini?
Akhir Februari 1995 (sekitar seminggu sebelum Hari Raya Idul
Fitri) aku menerima telepon dari Jakarta. Aku tersentak! "Bisa bicara dengan
Nooraya?" tanya suara itu. Mendengar pertanyaan itu jantungku tiba-tiba
berdetak keras. "Ia tahu nama asliku?!" tanyaku dalam hati, sebab hanya
beberapa teman di Melbourne yang tahu tentang nama ini. "Mungkinkah ia
keluargaku?" Tapi spontan kujawab, "Saya Nooraya". Langsung suara diseberang
terdengar begitu gembira. "Saya Julius, saudara sepupumu, Nooraya." Mendengar
itu aku merasa seperti sedang bermimpi. "benarkah keluargaku?" Aku merasa belum
yakin. Julius kemudian bercerita, ternyata ia tahu banyak tentang ayahku. Air
mata langsung menetes deras dipipi. Aku begitu terharu, tak sanggup
berkata-kata lagi. Kini tabir pun mulai terkuak.
Ketika berbicara dengan Julius pun aku masih terbata-bata. Dari
Julius aku tahu bahwa kini aku tidak sendirian lagi di dunia ini, masih ada
sekitar 200 keluargaku lagi di Indonesia. Julius juga mengundangku datang ke
Indonesia bertepatan dengan pernikahan salah satu keponakan kami tanggal 25
Maret tahun ini di Jakarta.
"Kamu bagian dari keluarga kami, kamu harus datang di upacara
pernikahan itu nanti. Semua keluargamu menunggu untuk berjumpa denganmu," kata
Julius. Tentu saja langsung kujawab, "Ya!", walaupun hal ini tidak mudah
bagiku. Aku tidak bisa meninggalkan kuliahku begitu saja, lagipula aku bukanlah
orang kaya. Karena melanjutkan kuliah aku tidak bisa lagi bekerja. Kuliahku
kali ini pun berkat beasiswa dari pemerintah, dan jumlah yang kuterima pun
tidak besar. Tapi keinginan untuk bertemu keluargaku begitu besar. Kemudian
kutemui seorang pembimbing kuliahku dengan terus terang kuceritakan semua yang
terjadi pada diriku. "Kamu harus pergi. Menemukan keluargamu jauh lebih penting
untuk hidupmu," katanya mendukungku.
Akhirnya aku mendapat izin meninggalkan kuliah selama tiga
minggu. Dari seseorang, aku pun berhasil mendapatkan pinjaman untuk biaya
perjalananku ke Jakarta. Philip putraku tidak bisa ikut serta, ia sedang
menjalani tahun pertama kuliahnya di Canbera University, dimana ia mendapatkan
beasiswa dari pemerintah karena termasuk murid terpandai se Australia. Ia
memang pandai, sepandai kakeknya.
Setelah kutahu tentang keluargaku dari Julius, kucari
barang-barang peninggalan Ibu. "Mungkin aku bisa mencari jejak-jejak Ayah dari
sit, "harapku. Ternyata benar, aku berhasil menemukan sebuah kotak milik Ibu
yang disembunyikan di garasi.
Didalam kotak itu kutemukan foto Ayahdan Ibu, foto aku ditimang
Ibu ketika masih bayi. Kutemukan pula enam helai surat Ayah yang dikirim untuk
Ibu sejak Ayah harus meninggalkan Australia. Selain itu, kutemukan pula
catatan-catatan kecil yang dibuat Ayah dan sepotong pakaian Ayah yang warnanya
telah memudar karena sudah tua. Aku terharu, sungguh besar cinta Ibukepada
Ayah. Semua benda peninggalan Ayah dengan rapih disimpannya seklai pun Ibu
sempat meikah lagi.
Di dalam suratnya, Ayah merasa gembira bisa kembali ke Indonesia
setelah terkungkung sejak tahun 1926. Ayah juga bercerita tentang perjalanannya
kembali ke Indonesia, tentang penjajah Belanda dan tentang pergerakan
kemerdekaan. Surat-suratnya penuh dengan informasi politik.
Di salah satu suratnya ayah menulis bahwa ia meminta Ibu untuk
tetap di Australia untuk melahirkanku. Jika keadaan di Indonesia sudah membaik,
Ibu bisa menjumpai Ayah dan datang ke Indonesia. Setelah membaca surat-surat
Ayah, aku tahu betapa Ayah sangat mencintai Ibu. Setiap hari Ayah selalu
teringat akan Ibu dan menginginkan bisa ada disisinya. Hatiku sedih, mengapa
selama ini aku tak pernah tahu tentang hal ini. Andai semua ini kutemukan sejak
dulu, mungkin sudah lama bisa kutemukan keluargaku. Mungkin Ibu juga masih
sempat bertemu dengan keluarga Ayah sebelum ia dan juga adik-adik Ayah menutup
mata. AKu sangat menyesal kenapa semua ini terlambat. Yang beruntung hanyalah
aku, Ibu tak pernah merasakan kebahagiaan ini. Kasihan Ibu..., jika sepanjang
hidupnya bahagia bukanlah masalah, tapi Ibu tak pernah bahagia sampai ia tiada.
Tanggal 21 Maret 1995 yang lalu impian itu pun menjadi nyata.
Saat-saat paling membahagiakan dan mengharukan terjadi, aku bisa berjumpa
dengan keluargaku. Ternyata semua keluargaku tahu tentang ayahku dan sangat
menghormatinya walau mereka tak pernah bertemu dengannya. Aku bangga dengan
Ayah... Aku bangga menjadi anak Minang. Setelah kuselesaikan kuliahku kali ini
aku berniat tinggal di Jakarta. Aku juga berniat membuat penelitian sejarah
ayahku dan ingin menulisnya menjadi sebuah buku kenangan yang indah.
(seperti yang di ceritakan oleh Nooraya Zakaria dan dimasukkan kedalam "Kisah
Sejati" Majalah Femina" tahun 1995)
Zakaria (ayah dari Nooraya Zakaria) adalah putra Muara Labuh Solok Selatan.
Ia adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Sampai saat ini masih ada satu
orag adik perempuannya yang masih hidup.
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---