Kembali ke pesawat setelah transit yang tergopoh-gopoh di Polonia, Medan, saya tidak "ngeh" siapa perempuan berbusana muslim warna putih berdiri di dekat pintu pesawat. Setelah pesawat mau take-off baru saya sadar bahwa mereka adalah pramugari yang bertugas dari Medan ke Banda Aceh, ibu kota daerah khusus di mana syariat Islam dijadikan hukum positif. Tetapi rasa kantuk karena begadang semalaman menyiapkan keberangkatan ke Aceh, menyebabkan saya tertidur kembali meneruskan tidur saya yang terputus sejak pesawat take-off di Bandara Sukarno-Hatta karena harus turun dan melapor kepada petugas darat Adam Air di Polonia. Efektif dan efisien, adalah ciri khas LCC yang menyebabkan mereka bisa eksis dan berkembang. Pesawat penuh karena tiket murah. Kepuasan pelanggan sesuai harga. Sewaktu bertugas ke Papua ketika masih bekerja di Program PERFORM, saya beberapa kali menggunakan Merpati Nusantara, karena penerbangan langsung ke/dari Merauke via Makassar serta Surabaya, hanya dilayani Merpati. Pesawat selalu penuh, tiket tidak murah tetapi setiap tahun Merpati selalu merugi miliaran rupiah. Ini adalah penyakit BUMN, tetapi ini tentu cerita lain lagi. Saya terbangun ketika pesawat mulai melakukan approach untuk mendarat. Dari jendela terlihat Sabang dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Saya dan seorang rekan saya saya dari Jakarta yang ketemu di Bandara tidak menunggu terlalu lama menunggu jemputan dari kantor proyek kami di Banda Aceh. Dalam perjalanan ke kantor kami di kawasan Kuta Alam, saya buka mata saya lebar-lebar, apa sih perbedaan yang mencolok antara Banda Aceh yang pernah saya kunjungi selama tiga kali pada pertengahan tahun 1990-an dan Banda Aceh setelah Tsunami dan SI? Tsunami yang diikuti gempa bumi dahsyat sekitar 2,5 tahun yang lalu, meratakan lebih separuh kota dengan tanah, dan menewaskan lebih kurang 70 ribu jiwa, atau sekitar seperempat dari penduduk kota ketika itu, sementara sebagian besar yang selamat berbulan-bulan tinggal di tenda-tenda penampungan. Sekarang bekas-bekasnya hanya terlihat dari sangat banyaknya bagunan baru dibangun/direhabilitasi; perumahan, perkantoran dan pertokoan, baik yang dibangun/direhab sendiri oleh pemiliknya maupun dengan dana bantuan Pemerintah Pusat, Negara dan lembaga-lembaga donor dan internasioanal. Jalan-jalan penuh oleh berbagai jenis kendaraan yang umumnya berjalan dengan cepat. Radio Swasta Niaga, yang penyiarnya menggunakan logat Betawi banyak memutar lagu-lagu Barat, sementara dari dari kejauhan, terdengar suara Agnes Monica melengking-lengking. "Ketika waktu shalat tiba, para pengemudi kendaraan di jalanan pada menepi mencari masjid atau musholla terdekat untuk melaksanakan shalat," demikian tulis Meilany di milis Wanita Muslimah menceritakan apa yang dilihatnya dari kunjungannya---bukan ke Banda Aceh---tetapi ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat beberapa tahun yang lalu. Hal serupa belum saya lihat di Banda Aceh. Banda Aceh mungkin lebih mirip Padang, dengan perempuan berjilbab tidak sebanyak di Banda Aceh. Ya, tidak semua perempuan di Banda Aceh memakai jilbab di tempat-tempat umum, termasuk perempuan-perempuan asli Aceh, walaupun jumlahnya tidak banyak. Tidak sukar pula menemukan perempuan-perempuan muda yang mengenakan apa yang lazim disebut "jilbab gaul", di atas berjilbab di bawah pakai celana jin ketat. Dan ketika pertama kali saya makan siang di Warung Nasi Aceh dekat kantor kami, saya melihat sepasang remaja berpakaian seragam sekolah, yang perempuan pakai jilbab tentu, duduk berdekatan sambil menyantap makanan. Ketika saya tanyakan kepada Mbak Iput sekretaris kantor kami mengenai tidak sukarnya menemukan perempuan-perempuan tidak berjilbab di luar rumah, dijelaskannya bahwa dulu memang ada aturan yang ketat dan pakai razia segala dengan segala eksesnya. Salah satu di antaranya ialah, kisah nahas yang menimpa seorang seorang ibu separuh baya yang berjualan nasi goreng di malam hari dengan menggunakan gerobak kecil yang diletakkan di depan toko-toko yang berjejer, yang terjaring dan diangkut pakai mobil patroli syariah, dipermalukan dan diejek orang sepanjang jalan, seolah-olah penjahat besar. Kesalahannya? Karena alasan praktis, si Ibu tersebut tidak menutup kepalanya dengan kudung besar, tetapi dengan penutup kepala seperti topi, yang di Aceh disebut songkok. Namun sekarang menurut Mbak Iput pakai jilbab atau tidak, terserah kesadaran masing-masing saja. Sekalipun demikian, tetap saja ada hal-hal unik yang tidak mungkin terjadi di daerah lain, kecuali di Aceh, seperti hal yang diberitakan Koran Serambi Indonesia Sabtu 28/7, tentang seorang Bapak berusia 50 tahun yang datang ke Aceh dari kampung halamannya di Sumatera Barat menemui Majelis Syariah, minta dirinya dihukum rajam atau dihukum cambuk karena pernah berzina sebanyak sepuluh kali sebelum menikah. "Lebih baik mendapat hukuman berat di dunia dari pada azab Tuhan nanti di akhirat," jelas Bapak itu yang berangkat ke Aceh dengan membohongi keluarganya, dengan mengatakan akan pergi ke tempat lain, serta membawa sejumlah kitab fiqh. Ia mengemukakan timbulnya gagasan tersebut setelah melihat di Koran foto orang yang dihukum cambuk di Aceh karena ketahuan berzina. Masih menurut Serambi Indonesia, Majelis Syariah NAD menolak permintaan bapak itu karena dua hal, pertama bukan itu saja satu-satunya cara untuk bertobat, kedua, belum ada Qanun (Perda) yang mengatur hal seperti itu. Hari Jumat 27/7 adalah hari Jumat pertama saya di Aceh. Rekan saya. seorang Nyong Kawanua yang muslim dari "sono"nya, mengajak saya shalat Jumat di Masjid Bauturrakhman yang monumental itu. "Penuh nggak nih masjidnya," ujar rekan saya tersebut, karena kami berangkat dari kantor sudah mendekati waktu zuhur. "Kalau sebelumnya ada gempa, masjid biasanya penuh, kalau tidak ya tidak," jawab pengemudi kami yang orang Aceh asli itu dengan kalem. Hhhaaaahhh?
Wassalam, Darwin Banda Aceh, 31/07/07 ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2. ========================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
