Iklan TV, Duh Banyaknya?

Oleh Nina M. Armando 

Saya yakin, banyak dari kita yang sering merasa kesal menonton acara 
TV bukan saja karena acaranya tidak bagus tetapi juga karena 
iklannya yang berlimpah. Sering terjadi, saat asyik-asyiknya 
menonton, keasyikan kita terganggu karena iklan muncul. Dan yang 
tambah mengesalkan, jeda iklan itu cukup panjang. 

Iklan di TV kita memang sangatlah banyak. Indonesia adalah negara 
dengan tingkat iklan TV paling padat di dunia! Artinya, di antara 
penduduk dunia, orang Indonesia adalah manusia yang paling banyak 
dijejali iklan TV! 
Data ini muncul berdasarkan riset lembaga ACNielsen yang diungkapkan 
pada diskusi mengenai TV yang diselenggarakan oleh Initiative di 
Jakarta akhir November lalu. Diskusi ini dihadiri terutama oleh 
kalangan industri (TV, biro iklan, produsen). Data tersebut 
menunjukkan bahwa rata-rata orang dewasa Indonesia menonton iklan TV 
sebanyak 852 iklan per minggu. Ibu rumah tangga dijejali iklan lebih 
banyak lagi: 

1.200 iklan per minggu! 
Jumlah itu jauh melebihi tingkat kepadatan iklan TV dunia. Data 
dunia menunjukkan rata-rata orang mengkonsumsi iklan TV 561 iklan 
per minggu. Jadi, kalau Anda seorang ibu rumah tangga, Anda menyerap 
iklan TV lebih dari dua kali lipat rata-rata penduduk dunia! 

Negara-negara lain sesudah Indonesia yang menduduki peringkat atas 
tingkat kepadatan iklan di dunia adalah Mexico, Selandia Baru, 
Australia, dan Rusia. Ini adalah negara-negara yang memang dikenal 
makin komersial dalam hal pertelevisian. 

Sementara itu, negara dengan tingkat kepadatan iklan TV paling 
rendah umumnya adalah negara-negara Eropa Barat, wilayah yang 
terkenal menerapkan kebijakan pertelevisian yang melindungi 
kepentingan publik. Televisi mereka tidak sepenuhnya komersial. 
Tingkat kepadatan iklan mereka antara 100?200 iklan per minggu. 
Negara tetangga dekat kita, Singapura, juga memiliki tingkat 
kepadatan iklan yang rendah, 160 iklan per minggu. 
** 

Peningkatan jejalan iklan TV di Indonesia bukanlah hal baru. Data 
menunjukkan bahwa sejak tiga tahun lalu misalnya, data itu pun sudah 
tinggi. Pada tahun 2001 rata-rata ibu rumah tangga menonton 1.100 
iklan TV per minggu. 
Jika mau melihat per acara TV, iklan memang terasa sekali 
mendominasi porsi acara. Marilah lihat beberapa contoh. 

Anda menonton acara grandfinal ?AFI2? di Indosiar? Acara yang 
mendapat rating tinggi ini (artinya: penontonnya berlimpah) banyak 
dikeluhkan karena iklannya sangat banyak. Tidak heran, karena 
tercatat iklannya sebanyak 25% dari keseluruhan acaranya. 

Tengok juga sinetron ?Bidadari3? di RCTI. Sinetron yang terus 
menurun rating-nya ini (artinya: makin tidak ditonton orang) ini 
pada masa jayanya diisi oleh 23 menit iklan. Padahal, durasi 
sinetron ini 1 jam (60 menit). Artinya, jika 23 menit diisi iklan, 
sinetronnya sendiri cuma ditampilkan 37 menit saja. Artinya lagi, 
porsi iklan memakan 38% waktu tayang acara. 
Acara ?Di Sini Ada Setan? bahkan lebih berlimpah lagi iklannya. 
Porsi iklannya adalah 40% dari waktu tayang! 
** 
Kalangan iklan dan produsen sendiri dikabarkan tidak terlalu gembira 
dengan kondisi ini. Padatnya iklan di TV ini menimbulkan efek 
bumerang. Betul bahwa iklan ini menghidupi stasiun TV, tetapi 
ternyata ada pola menonton orang yang menunjukkan tanda-tanda 
negatif bagi pengiklan dan produsen. 

Rating TV makin lama menunjukkan penurunan. Data 2002-2004 
menunjukkan bahwa jumlah orang menonton TV menurun untuk tiap jam 
dan tiap acara. Penurunan ini terjadi setiap hari, termasuk akhir 
pekan. Yang menarik juga, penurunan ini terutama terjadi saat 
primetime (jam tayang utama), waktu yang diasumsikan paling banyak 
orang menonton TV (antara pukul 7?9 malam). 

Ada beberapa alasan yang bisa dikemukakan. 
Pertama, saat primetime, orang mematikan pesawat TV (antara lain 
karena tidak ada acara bagus). Mereka beralih ke film-film VCD atau 
DVD. 
Kedua, karena acara-acara primetime sangat padat dijejali iklan, 
maka saat jeda iklan mereka beralih menonton acara lain. Ini 
disebabkan oleh kekesalan orang akibat membanjirnya iklan pada 
sebuah acara. Ini tidak mengherankan jika kita melihat data 
kepadatan iklan di atas. 
Tentu saja hal-hal ini membuat pengiklan bersedih. Mereka sudah 
diharuskan membayar mahal untuk menayangkan iklan mereka di TV 
(terutama untuk acara-acara yang menurut data rating-nya bagus), 
tetapi ternyata penonton makin lama makin menurun. Iklan mereka pun 
akhirnya tak ditonton orang. 
** 
Semoga data-data di atas bisa berguna bagi kita sebagai konsumen 
media. Semoga informasi tersebut dapat lebih mencerdaskan kita untuk 
bagaimana bersikap terhadap pola menonton TV kita atau terhadap 
iklan. Semoga kita makin melek media. 




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke