Masalahnya saya juga belum bisa apa-apa selain sumbang ide.
Saat  ini saya lihat, seniman2 kita terasyik masyuk dengan karya-karya
idealis yang segmented (misalnya tarian khusus, modifikasi musik
minang).
Padahal karya populer bisa menjadi sarana kampanye kebudayaan.



--- In [EMAIL PROTECTED], chaidir latief <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Fadli yang baik
>
> Mulai dengan kecewa boleh saja Tapi dengan kecewa saja tidak memberi
solusi Orang sekarang berbuat Kalau ada IDE ajak kawan kawan Baa sampai
TERLASANA Toh orang lain jalan juga Kini kota kota kecilpun bangun
Jember baru baru ini muncul Seniman muncur dari daerah daerah kecil Kota
kota kecil di Jawa muncul dengan macam macam acara Dirantau indak
saketek nan jagoan
>
> Chaidir N Latief
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Fadli ZF [EMAIL PROTECTED]
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, August 9, 2007 1:17:04 PM
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Kemana Saja Seniman Minang?
>
>
> Sangat Kecewa! Itulah ungkapan pertama saya dalam postingan ini. Apa
pasal? Tidak lain tidak bukan karena saya amatlah kesal melihat
ketertinggalan para seniman kita dalam menjajah televisi swasta
nasional. Bolehlah saya maklum jika setiap akhir pekan dimasa yang
lampau kita disuguhi kesenian Jawa, Sunda dan Betawi dalam bentuk seni
pertunjukan semacam Ketoprak Humor, Ludruk Glamor, Srimulat, Wayang
Kulit, Wayang Orang, Wayang Golek si Cepot dan Lenong serta Topeng
Betawi. Namun melihat ekspansi sekarang oleh etnis Batak yang sekarang
punya acara 2 jam O Tano Batak di Indosiar, saya-saya benar-benar kecewa
dengan Seniman Minang yang katanya tidak mau disebut kalah kreatif.
Padahal di media-media televisi swasta itu amatlah banyak petingginya
yang orang Minang, masa minta jatah sejam seminggu saja tidak bisa.
> Saya teringat masa-masa kejayaan Serial Sitti Nurbaya dan Sengsara
Membawa Nikmat ditahun 1990-an (saat itu saya masih kelas 3 SD). Dan
sempat pula dihadirkan oleh Sinetron Malin Kundang beberapa tahun lalu.
Namun dalam hal kesenian tradisional versi elektronik kita kalah pamor
(kalau tidak akan menyebut tak dikenali).
> Kalangan skeptis diantara seniman urang awak akan berkilah, apa yang
akan kita jual. Kalau saya balik menjawabnya dengan, "menurut Anda apa
yang mereka jual?". Kata kuncinya adalah revitalisasi dan modifikasi
tanpa kehilangan arwahnya sama sekali. Itulah yang kelompok-kelompok
seniman Jawa, Sunda dan Betawi lakukan.
> Apakah para pembaca pernah mendengar lakon Lareh Simawang? Sekitar
tahun 2003 lakon ini dipopulerkan dipentas nasional oleh salah satu grup
kesenian dari Padang yang sejatinya hanya murid-murid sebuah SMK di
Padang. Anda bisa bayangkan potensialitas mereka?
> Cuma kenapa hanya sebatas itu? OK, disini saya tidak akan menyalahkan
siapa-siapa. Saat ini saya akan mengajak dan memberi solusi. Dimata saya
masyarakat Minang punya banyak bahan seni pertunjukan dengan latar
belakang kisah romantisme perantau. Cerita-cerita ini bisa dikembangkan
menjadi Opera Modern dengan tetap mengambil ruh Randai, Indang, Saluang
dan Gamad.
> Saya membayangkan bentuknya sebagai opera/drama/ketoprak dengan lakon
berpakaian sehari-hari Minang era 1920-an, berbahasa Indonesia halus
(Melayu Tinggi), bergurau dengan tingkat intelektualitas tinggi dan
berkisah tentang romantisme yang dibumbui konflik  keluarga dan
perantauan. Dalam setiap pertunjukan diselipkan lagu-lagu Minang
kontemporer yang dinyanyikan langsung oleh pelakon atau secara lyp sing.
> Contoh :
> Adegan 1 : (Setting Tahun 1960-an)
> Seorang gadis meratap di pelabuhan mengenang kekasihnya yang masih
belum mengirimkan kabar. Setelah kira-kira 2 menit monolog, gadis ini
menyanyikan lagu Uda Zainuddin yang pernah dipopulerkan Betharia Sonata
tahun 1980-an. Cerita berlanjut dengan mengisahkan perjuangan sang
kekasih yang ternyata hidup melarat dirantau. Dalam salah satu adegan
pelakon pria ini menyanyikan lagu Alah Kabaa ko Mai yang pernah
dipopulerkan Elly Kasim.
> Adegan 2 :
> Gadis yang ditinggal pergi ternyata diinginkan oleh seorang pemuda
dikampung yang dengan segala cara berusaha memutuskan tali kesetiaan
sang gadis dengan kekasihnya di rantau. Pada stage ini bagus juga
diselipkan lagu Gasiang Tangkurak.
> Secara Keseluruhan dialog dalam Bahasa Indonesia dan Nyanyian tetap
dalam Bahaso Minang.
> Mengingat saya sendiri bukan seniman, saya hanya bisa mengkhayal suatu
hari nanti pada akhir pekan saya dapat menyaksikan adegan-adegan diatas
dilayar televisi swasta walaupun hanya satu jam. Operanya secara live
mungkin bisa dipentaskan di Gedung Kesenian Djakarta (tempat gumarang
manggung dahulu) atau di Taman Ismail Marzuki.
>
> Salam dan Selamat Berkarya.
> Jangan Pernah Berhenti Bermimpi!
> [Fadli ZF ]
>
> Pesan Sponsor
> Telah terkumpul hampir 150 lirik lagu di
http://laguminanglamo.wordpress.com
<http://laguminanglamo.wordpress.com>
> Siapa menyusul menyumbangkan lirik untuk project bersama ini?

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke