para rekan Observasi Upi benar sekali Kalau senimannyo imdak kurang Mahasiswa juga banyak punya bakat Yang kirang itu adalah SPONSOR Kalau indak ado PITIH dan indak ado dermawan yang jadi SPONSOR memang GELAP
Itulah makonyo manuruik ambo paralunyo DANA ABADI nan hanyo 2000 rupiah tiok bulan atau 125.000 satahun Kalau kalau eh kak berhasil meyakinkan dan menjaring 1 juta se keluargaq Minang ( suami istri dan 3 anak ) akan takumpua 1,2 Trilyun tiok tahun Kan 2000 rupiah labiah ketek dari sejali parkir di Jakarta kalau ka Mall kama sajo Badebat atau cuek dicarikan alternatif jalan kalua.Sampai kini alun ado kemajuan nan berarti Ambo sangat khawatir MATI pulo sumangaik nan mudo mudo nan menggerakkan Dami tu nanti Konsepnya cukup baik Serahkan ka Bank Nagari jadi ulayat baru basamo Sia se basamo samo urang Sungaipua kek urang milis ko kek dll takumpua 50 juta atas namo kelompok apo sajo simpan di Bank Nagari Sertifikatnyo dismpan oleh Dana Abadi Perkembangan keuangan liek di internet.Dana A hanyo mamanag BUNGO ya untuk bea siswa ya untuk kesedian dll Panka nyo ado di Bank Nagari Apo sajo kalau kito punyo pitih dapak dilakukan Jalankanlah utak nan namonyo URANG MINANG, beli pabrik semen lagi, bangun pabrik apo sajo imversasi mennimgkatkan lapangan kerja dll Itu soal SEALANJUTNYO Nan jadi masalah tadikan SPONSOR KESENIAN sponsor BEA SISWA banyak lai nan lain nan paralu PITIH Baa menggunggah para dunsanak kito Kini kan banyak iurang Minang ptihnyo sakambuik kabingungan bongo deposito makin ketek dan indak dijamin lai Rasonyo bagi mereka itu 2000 ciek juwa sebaulan inmdak akan keberatan Tarimo kasih . Chaidir N Latief ----- Original Message ---- From: Upi Sundari <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, August 10, 2007 6:47:18 AM Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kemana Saja Seniman Minang? Yth, rekan-rekan milis, Membaca keluhan add Fadli, uni Upi jadi tertarik. Terutama pertanyaannya, "Kemana saja seniman Minang? ". Izinkanlah uni menjawabnya. Seniman Minang ada dimana-mana. Karyanya ada juga karena mereka tetap berlatih di sanggar-sanggar kecil milik mereka. Bahwa mereka tak pernah tampil, itu yang jadi masalahnya. Bukan karena mereka tak mau tampil, tapi justru kesempatan untuk tampil yang tak pernah mereka dapatkan. Apa masalahnya?.... 1. Seniman tari, untuk menciptakan satu tarian dan melatih satu tarian membutuhkan waktu berbulan-bulan. Akibatnya butuh dana latihan (untuk makan minum ketika penat berlatih, sewa tempat latihan, sedikit ongkos untuk naik bus pulang pergi ). Dari siapa dana itu bisa mereka dapatkan?....Mana ada orang mau mensponsorinya?... Sebagai contoh Sanggar Tari Zamri, saking inginnya mementaskan MINANGKABAU EXTRAVAGANZA dengan judul MINANGKABAU BAKABA, Dia koreografer dan anak-anak didiknya latihan 3 bulan, menghahiskan dana hampir 50 juta untuk biaya 40 penari, pemusik, penyanyi dll. Uangnya tak ada, maka dia gadaikan pelaminannya, dia jual talempong yang dia miliki. Tak satupun sponsor dia dapatkan. Memang pertunjukan sukses di TIM tanggal 31 Juli kemarin, tapi usai pertunjukan, usai tepuk tangan dia harus menghadapi uang gedung yang belum lunas....uang honor penari yang belum dibayar....gadaian yang harus ditebus...posisi dia sekarang seperti orang linglung.... Adakah diantara kita yang kasian kepada nasib seniman????....Tak ada. Sementara seorang penari untuk dapat honor Rp. 300.000,- dia harus berlatih hampir satu atau dua bulan, yang biayanya dapat dipastikan lebih dari 300 ribu. Sementara seorang penyanyi dia dibayar Rp. 5.000.000,- dia tak perlu latihan berbulan-bulan. Ironiskan???? Kita di Jakarta punya ratusan seniman, ada penari, pemusik, penyanyi, tradisional dan modern. Ada organisasi LKAM Lembaga Kesenian Alam Minangkabau, tapi kembali bukan kami tak pandai berorganisasi, bukan kami tidak kreatif tapi kami tak punya sponsor, tak punta "orang kuat" dan dukungan pemda pun tak ada. Bagaimana mungkin kami tampil di televisi, semua pakai duuuuiiiit. Wass Uni Upi chaidir latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Fadli yang baik Mulai dengan kecewa boleh saja Tapi dengan kecewa saja tidak memberi solusi Orang sekarang berbuat Kalau ada IDE ajak kawan kawan Baa sampai TERLASANA Toh orang lain jalan juga Kini kota kota kecilpun bangun Jember baru baru ini muncul Seniman muncur dari daerah daerah kecil Kota kota kecil di Jawa muncul dengan macam macam acara Dirantau indak saketek nan jagoan Chaidir N Latief ----- Original Message ---- From: Fadli ZF <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, August 9, 2007 1:17:04 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Kemana Saja Seniman Minang? Sangat Kecewa! Itulah ungkapan pertama saya dalam postingan ini. Apa pasal? Tidak lain tidak bukan karena saya amatlah kesal melihat ketertinggalan para seniman kita dalam menjajah televisi swasta nasional. Bolehlah saya maklum jika setiap akhir pekan dimasa yang lampau kita disuguhi kesenian Jawa, Sunda dan Betawi dalam bentuk seni pertunjukan semacam Ketoprak Humor, Ludruk Glamor, Srimulat, Wayang Kulit, Wayang Orang, Wayang Golek si Cepot dan Lenong serta Topeng Betawi. Namun melihat ekspansi sekarang oleh etnis Batak yang sekarang punya acara 2 jam O Tano Batak di Indosiar, saya-saya benar-benar kecewa dengan Seniman Minang yang katanya tidak mau disebut kalah kreatif. Padahal di media-media televisi swasta itu amatlah banyak petingginya yang orang Minang, masa minta jatah sejam seminggu saja tidak bisa. Saya teringat masa-masa kejayaan Serial Sitti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat ditahun 1990-an (saat itu saya masih kelas 3 SD). Dan sempat pula dihadirkan oleh Sinetron Malin Kundang beberapa tahun lalu. Namun dalam hal kesenian tradisional versi elektronik kita kalah pamor (kalau tidak akan menyebut tak dikenali). Kalangan skeptis diantara seniman urang awak akan berkilah, apa yang akan kita jual. Kalau saya balik menjawabnya dengan, "menurut Anda apa yang mereka jual?". Kata kuncinya adalah revitalisasi dan modifikasi tanpa kehilangan arwahnya sama sekali. Itulah yang kelompok-kelompok seniman Jawa, Sunda dan Betawi lakukan. Apakah para pembaca pernah mendengar lakon Lareh Simawang? Sekitar tahun 2003 lakon ini dipopulerkan dipentas nasional oleh salah satu grup kesenian dari Padang yang sejatinya hanya murid-murid sebuah SMK di Padang. Anda bisa bayangkan potensialitas mereka? Cuma kenapa hanya sebatas itu? OK, disini saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Saat ini saya akan mengajak dan memberi solusi. Dimata saya masyarakat Minang punya banyak bahan seni pertunjukan dengan latar belakang kisah romantisme perantau. Cerita-cerita ini bisa dikembangkan menjadi Opera Modern dengan tetap mengambil ruh Randai, Indang, Saluang dan Gamad. Saya membayangkan bentuknya sebagai opera/drama/ketoprak dengan lakon berpakaian sehari-hari Minang era 1920-an, berbahasa Indonesia halus (Melayu Tinggi), bergurau dengan tingkat intelektualitas tinggi dan berkisah tentang romantisme yang dibumbui konflik keluarga dan perantauan.. Dalam setiap pertunjukan diselipkan lagu-lagu Minang kontemporer yang dinyanyikan langsung oleh pelakon atau secara lyp sing. Contoh : Adegan 1 : (Setting Tahun 1960-an) Seorang gadis meratap di pelabuhan mengenang kekasihnya yang masih belum mengirimkan kabar. Setelah kira-kira 2 menit monolog, gadis ini menyanyikan lagu Uda Zainuddin yang pernah dipopulerkan Betharia Sonata tahun 1980-an. Cerita berlanjut dengan mengisahkan perjuangan sang kekasih yang ternyata hidup melarat dirantau. Dalam salah satu adegan pelakon pria ini menyanyikan lagu Alah Kabaa ko Mai yang pernah dipopulerkan Elly Kasim. Adegan 2 : Gadis yang ditinggal pergi ternyata diinginkan oleh seorang pemuda dikampung yang dengan segala cara berusaha memutuskan tali kesetiaan sang gadis dengan kekasihnya di rantau. Pada stage ini bagus juga diselipkan lagu Gasiang Tangkurak.. Secara Keseluruhan dialog dalam Bahasa Indonesia dan Nyanyian tetap dalam Bahaso Minang. Mengingat saya sendiri bukan seniman, saya hanya bisa mengkhayal suatu hari nanti pada akhir pekan saya dapat menyaksikan adegan-adegan diatas dilayar televisi swasta walaupun hanya satu jam. Operanya secara live mungkin bisa dipentaskan di Gedung Kesenian Djakarta (tempat gumarang manggung dahulu) atau di Taman Ismail Marzuki. Salam dan Selamat Berkarya. Jangan Pernah Berhenti Bermimpi! [Fadli ZF ] Pesan Sponsor Telah terkumpul hampir 150 lirik lagu di http://laguminanglamo.wordpress.com Siapa menyusul menyumbangkan lirik untuk project bersama ini? Luggage? GPS? Comic books? Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search. Luggage? GPS? Comic books? Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search ____________________________________________________________________________________ Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel and lay it on us. http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
