Bigau 
 
DAMHURI MUHAMMAD  
Semenjak usianya genap 80 tahun, orang-orang Kampung Lekung berkeyakinan, ajal 
Kurai sudah dekat. Melihat tubuh ringkihnya terkulai letai di atas dipan usang 
tanpa selimut, barangkali tak akan habis baju sehelai, ia sudah mengembuskan 
napas penghabisan. Rimba persilatan tentu berkabung sebab kehilangan pendekar 
paling licin yang pernah ada di Kampung Lekung. Mungkin sudah tiba saatnya, 
lelaki yang seluruh bagian tubuhnya tahan bacok dan tak mempan peluru itu 
mewariskan ilmu silat tua, lebih-lebih mewariskan Rantai Celeng yang telah 
tertanam selama bertahun-tahun di dalam daging paha sebelah kirinya. Sebelum 
terlambat, sebelum mayatnya dibenam ke liang lahat, sebaiknya Kurai segera 
menentukan siapa yang pantas menjawab hak waris barang keramat itu.

 
"Harganya lebih mahal dari harga diri Kurai sendiri," begitu luapan kekesalan 
seorang cukong barang antik yang datang ke Kampung Lekung tapi ditolak 
mentah-mentah oleh Kurai.

 
"Bujuk tua bangka itu, agar mau mewariskannya pada salah seorang di antara 
kalian! Itu bila kalian tidak ingin melarat seumur-umur."

 
"Jaga mulutmu, kau bisa mati berdiri sepulang dari sini. Enyahlah! Itu kalau 
kau masih ingin melihat matahari besok pagi," gertak Candung, anak muda kampung 
Lekung, penguasa lahan parkir di kota kabupaten. Ia pulang menjenguk Kurai yang 
dikabarkan mulai sakit-sakitan.

 
"Sekali lagi kau meremehkan Kurai, kujamin kau pulang dengan hidung disumpal 
kapas."

  
Kurang tepat bila benda itu dinamai rantai, karena bentuknya bulat melingkar, 
hampir menyerupai cincin. Tapi, tidak patut pula disebut cincin, sebab 
diameternya terlalu besar untuk ukuran jari tangan manusia. Disebut rantai, 
mungkin karena orang-orang membayangkan bila logam menyerupai ring itu 
dihubungkaitkan dengan logam sejenis, dalam jumlah banyak tentu akan membentuk 
seutas rantai. Menurut para tetua kampung, Kurai berhasil menggondol Rantai 
Celeng seusai menyabung nyawa dalam pertarungan melawan celeng berbulu putih 
sebesar anak kerbau jantan yang keganasannya sudah menjadi kisah turun temurun. 
Binatang yang dipercaya sebagai raja celeng itu berkali-kali menubruk rusuk 
Kurai dengan kecepatan melebihi kemampuan celeng biasa. Bila kurang awas, 
taring sepanjang satu setengah jengkal itu tentu sudah menikam ulu hati dan 
membuat usus-usus Kurai berhamburan keluar. Semua jurus tangkis dikerahkan 
Kurai, sesekali tubuhnya terloncat ke atas dahan pohon jirak saat posisinya
 terdesak, kali lain ia berayun serupa siamang, lalu dalam sekejap mata sudah 
berdiri di atas punggung celeng tua yang tengah mengamuk itu. Kurai sengaja 
membuat bermacam-macam gerak tipu, memancing agar celeng terus menyerang, 
hingga tiba saatnya kehabisan tenaga. Dan benar, begitu serudukannya mulai 
melemah, sigap tangan Kurai merenggut logam kuning gelap berbentuk bulat 
melingkar yang tersangkut di salah satu taringnya. Ia berhasil merebut Rantai 
Celeng yang konon di situlah letak kekuatan celeng itu. Ini hanya satu serpihan 
cerita perihal kehebatan Kurai tatkala merobohkan raja celeng dan membuat 
pendekar itu tersohor sampai ke pelosok-pelosok.

 
Riwayat lain menuturkan, setelah Kurai menumbangkan binatang itu, ia belum 
sepenuhnya menguasai Rantai Celeng, karena tiba-tiba ia dihadang makhluk 
berperawakan ganjil. Meski masih menyerupai manusia, tapi tinggi badan makhluk 
itu hanya sepinggang Kurai dan kedua tumitnya menghadap ke depan, sedang 
jari-jari kakinya menghadap ke belakang, berkebalikan dengan bentuk kaki 
manusia biasa. Orang-orang menamainya; Bigau, makhluk jadi-jadian, penjaga 
babi-babi liar di hutan Kampung Lekung. Suatu masa di musim berburu, tak seekor 
babi pun ditemukan, ketajaman pengendusan anjing-anjing pemburu tak mempan 
melacak jejak. Tapi kegagalan itu dianggap lazim, para pemburu akan mempercayai 
bahwa gerombolan babi tengah disembunyikan oleh Bigau. Jadi, masuk akal bila 
seusai pertarungan paling melelahkan itu, Kurai dihadang Bigau, meski tak ada 
yang tahu apa yang terjadi setelah keduanya saling bersiap, pasang kuda-kuda. 
Orang-orang tergesa mengambil langkah seribu, ketakutan melihat rupa
 buruk Bigau yang sebelumnya hanya didengar dari cerita di kedai-kedai kopi.

 
Jangan dibayangkan Kurai membedah paha kirinya dengan pisau, lalu menanam 
Rantai Celeng di dalamnya, kemudian menjahit belahan itu kembali sebagaimana 
pekerjaan dokter bedah. Tidak! Kurai melakukannya tanpa mengeluarkan darah, 
lebih kurang seperti orang menanam susuk di salah satu bagian tubuh perempuan, 
tanpa harus merasakan perih dan sakit.

 
Mereka yang ingin memiliki Rantai Celeng tak mau pusing dengan urusan nama, 
apakah benda ajaib yang bikin Kurai jadi kebal itu layak disebut cincin ataukah 
rantai? Yang pasti, telah ada kesepakatan diam-diam, bahwa barang keramat yang 
kini bersarang di tubuh pendekar itu adalah benar Rantai Celeng. Kurai tidak 
hanya masyhur sebagai satu-satunya pewaris silat tua, tak hanya tangkas 
menangkis serangan musuh, lelaki yang tahan membujang sampai gaek itu juga 
kebal senjata, dan karena itu jurus-jurus tangkisnya tidak terlalu berguna 
lagi. Untuk apa menangkis serangan lawan, tiada senjata yang mempan lukai 
tubuhnya.

 
Suatu hari di musim petai, seorang anggota tim buru sergap melepas tembakan 
saat mengejar peladang ganja yang diduga bersembunyi di hutan tempat Kurai 
biasa mencari petai rimba. Kurai yang sedang terbungkuk-bungkuk mengumpulkan 
buah petai yang baru saja dipanjatinya dikira peladang ganja yang akan mereka 
ringkus, timah panas bersarang di kuduk lelaki itu. Tapi Kurai hanya merasa 
ditimpa kencing tupai, perlahan ada sesuatu yang terasa dingin di punggungnya, 
karena geli Kurai menyentuhnya. Ternyata cairan itu bukan kencing tupai, tapi 
peluru yang sudah leleh. Polisi berpangkat sersan mayor itu terbirit-birit 
seperti dikejar hantu, meremang semua bulu di badannya setelah menyaksikan 
peluru meleleh di punggung lelaki pemetik buah petai. Saat masih terengah-engah 
ia bersumpah tak bakal menginjakkan kaki di hutan celaka itu lagi. Sejak itu, 
orang-orang Kampung Lekung bebas membuka ladang ganja, sebebas menanam jagung 
atau tembakau. Para peladang membiarkan Kurai memetik daun
 ganja sepuasnya. Ia mau menggelek hingga mabuk tiga hari tiga malam pun mereka 
tak peduli. Nyatanya, seberapa pun banyaknya lintingan ganja digasak Kurai, tak 
sekalipun ia mabuk dibuatnya. Rupanya Kurai tak hanya kebal senjata, tapi juga 
kebal dari mabuk ganja.

 
"Rantai itu mau dibawa mati?" kelakar Candung, centeng lahan parkir yang selalu 
mengaku cucu Kurai lantaran kerap mengirimkan pendekar itu minuman keras 
murahan merek T.K.W, meski Kurai tak pernah teler dibuatnya. Menenggak minuman 
keras sama dengan berkumur-kumur tiap bangun pagi bagi Kurai. Rupanya ia tak 
hanya kebal senjata dan kebal mabuk ganja, tapi juga kebal dari mabuk minuman 
beralkohol, jangan-jangan juga kebal dari mabuk buah kecubung.

 
"Siapa yang bakal mewarisinya? Sebaiknya lekas diputuskan, agar kelak tidak 
jadi sengketa." bujuk Candung lagi.  
"Aku masih menunggu!"  
"Menunggu? Menunggu mati? Tidakkah cucumu ini orang yang beruntung itu?"

  
Kurai tak bergairah menjawab pertanyaan bodoh si cucu gadungan itu. Sejak mula 
ia mencium gelagat jahat Candung. Penguasa lahan parkir yang kabarnya sedang 
terancam oleh musuh-musuh bersengat itu tidak tertarik hendak berguru ilmu 
silat tua pada Kurai. Ia ingin mentahnya saja; kebal senjata, tahan celurit, 
tak mempan pistol. Selain akan membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut, Candung 
hendak memperlebar sayap kekuasaan, bila perlu hengkang dari kota kabupaten, 
mencaplok lahan parkir di kota-kota besar. Tak perlu gamang bila Rantai Celeng 
sudah dalam genggaman.

 
Para kolektor barang antik belum sepenuhnya percaya kalau pendekar pemetik 
petai benar- benar memiliki Rantai Celeng, sebab rantai itu bukan sembarang 
peliharaan. Dalam setahun, sekurang-kurangnya tiga kali benda itu mesti 
didarahi dengan menyembelih kambing jantan di malam terang bulan. Penyembelihan 
dipersembahkan untuk Bigau, si penjaga celeng. Sekali syarat itu diabaikan, 
Rantai Celeng tiada bakal ampuh lagi, kekuatannya akan diisap Bigau. Bagaimana 
mungkin Kurai mampu melakukan tirakat penyembelihan tiga ekor kambing dalam 
setahun, sementara hidupnya hanya mengandalkan petai rimba yang kadang berbuah, 
kadang tak bersisa dimakan beruk. Kalaupun ia masih menyimpan Rantai Celeng, 
tentu keampuhannya sudah hilang, atau pendekar itu sudah menyerahkannya kembali 
pada Bigau. Tapi, dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Mereka tidak pernah tahu 
betapa berterima kasihnya para peladang ganja pada Kurai. Selagi ia masih 
hidup, tak bakal ada yang berani membakar ladang-ladang mereka.
 Itu sebabnya, secara bergilir mereka menyediakan seekor kambing jantan bila 
tiba saatnya Rantai Celeng harus didarahi. Apa pun sanggup mereka lakukan demi 
kedigdayaan Kurai, orang yang telah membuat mereka seperti kejatuhan durian 
runtuh. Jangankan kambing jantan, kerbau jantan pun mereka sanggupi, asal 
ladang-ladang ganja aman dari kejaran.

 
Kurai mulai resah, bukan karena sesak napasnya kambuh, tapi karena teringat 
perjanjian dengan Bigau selepas perkelahian mati-matian puluhan tahun silam. 
Makhluk jadi-jadian itu memang tidak mampu merebut Rantai Celeng di genggaman 
Kurai, tapi Bigau mengancam, bila Kurai nekat menggondol Rantai Celeng, 
sawah-sawah di wilayah Kampung Lekung tidak akan bisa dipanen. Bila sawah-sawah 
mulai menguning, Bigau akan menghalau gerombolan babi liar guna mengobrak-abrik 
dan membucuti setiap rumpunnya. Buah padi akan ludes sebelum sempat dituai. 
Paceklik bakal menimpa Kampung Lekung dan tidak akan berhenti selama Rantai 
Celeng masih bersarang di tubuh Kurai. Itu sebabnya, para petani tidak 
bersemangat lagi menggarap sawah, mereka membuka lahan baru dalam hutan, 
menggarap ladang-ladang terlarang.

 
"Jadi, siapa orang yang beruntung itu?" tanya Candung lagi, kali ini penuh 
harap.  
"Bigau!" balas pendekar gaek itu, dan tak lama kemudian sesak napasnya kambuh.  
Kelapa Dua, 2007 

       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke