Merantau Cina
Oleh Damhuri Muhammad
Senja nyaris redup. Pucuk pohon kelapa tua meliuk-liuk mengikuti arah angin
yang berkesiur. Dedaunan kering berguguran di halaman rumah tua yang tampak
kusam. Tiang-tiang penyangga tak terbilang usia mulai lapuk. Atap rumbia seakan
tak mampu lagi menahan hentakan rintik musim hujan. Seperti sangkar tua yang
sudah ditinggalkan burungnya. Terbang, nun ke langit entah. Apakah gunanya
sangkar tanpa burung di dalamnya? Lambat laun bakal hancur digilas waktu.
Musnah jadi puing tak berguna.
Perempuan ringkih berselendang putih duduk menegun sambil berjuntai kaki.
Sulit membedakan putih warna selendang yang terselempang dengan putih uban-uban
di kepalanya. Guruh yang mengantar hujan senja itu tak dihiraukannya. Diam, tak
terusik dalam lamun. Hanya ia yang tersisa. Perempuan renta, pemilik rumah
usang yang tak jelas ahli warisnya. Di usia yang sudah berkepala delapan,
guratan kekuasaan masa lalu masih membekas di raut mukanya. Ia seperti ingin
hidup puluhan tahun lagi. Tak peduli pada aroma kematian yang kian menyengat.
*
Payakumbuh, 1979
"Jika hanya akan makan dan tacirik 1), pergi sajalah kau dari rumah ini!"
Dengan berat hati seorang lelaki melangkah terbata-bata. Enyah untuk arah
yang tak jelas.
"Abak! 2) Buyung ikut abak. Tunggu bak!" teriak bocah kerempeng sambil
terisak-isak.Tersedu-sedu.
"Bak, jangan pergi baaaaak!"
"Diam kau Buyung!" hardik perempuan itu dengan mulut menyeringai dan mata
membelalak,
"Buyung sayang abak. Kenapa abak pergi ndak ngajak Buyung?"
"Diam kau Buyung!"
Sudah lama lelaki itu tak beroleh kesempatan meracit 3). Panen tembakau gagal
akibat kemarau berkepanjangan. Hendak menggarap ladang, tak punya lahan.
Menjadi kuli angkut padi, panen gabah juga tak bisa diharapkan karena serangan
hama tikus. Maka, ia hanya bertanam aneka sayur mayur; bayam, peria, terung,
kacang panjang di lahan tidur milik keluarga istrinya.
"Kenapa abak ndak pernah menghisap rokok warna kuning? 4)" tanya si Buyung.
Polos
"Harganya mahal ya bak?"
"Ya, mahal. Karena, kita belum mampu membelinya. Jika kita sudah mampu
membeli, berarti sudah tidak mahal lagi, bukan?"
Sudah tiga hari abak tidak turun ke kebun. Ia bergabung dalam kerja bakti
bersama orang-orang sekeliling, membangun pentas untuk acara Qasidah dalam
memeriahkan perayaan khatam Qur'an di kampung itu. Kebun sayur tinggal menunggu
panen saja. Setelah acara khataman usai, abak dan Buyung baru akan turun ke
kebun lagi.
Celaka! bayam, peria, terung, kacang panjang yang sedianya bakal dipanen
hanya tinggal tunggul-tunggulnya saja. Serumpun pun tak bersisa. Abak langsung
tanggap, siapa lagi yang mencukur gundul kebun sayurnya kalau bukan emak si
Buyung. Istrinya sendiri. Mentang-mentang abak berkebun sayur di lahan milik
keluarganya, tak segan-segan perempuan itu membabat habis hasilnya, bahkan
tanpa memberitahu abak lebih dulu.
"Semoga Buyung tak datang ke kebun hari ini" batin abak, was-was
Betapa tidak? Sejak mulai bertanam hingga sayur-sayur itu tumbuh dan tinggal
panen, Buyung bersetia membantu abak di kebun itu. Menyiangi rumpun-rumpun
peria, terung dan kacang panjang dari ilalang-ilalang liar. Buyung memendam
keinginan sederhana, setelah kebun sayur itu membuahkan hasil. Ia ingin melihat
abaknya dapat menghisap rokok warna kuning. Buyung ingin membanggakan abak pada
teman-temannya. Meski hidup susah, abak tetap bisa beli rokok warna kuning.
Tapi apa mau dikata, hasil kebun yang hendak dipikul dan dijual ke pasar sayur
sudah ditebas emak, tinggal tunggul-tunggulnya saja.
Buyung seperti kesetanan. Ia menangis berguling-guling di atas
tunggul-tunggul kebun sayur itu.
"Abak ndak jadi beli rokok warna kuning, abak ndak jadi beli rokok warna
kuning, hu........hu........hu....."
"Emak uangnya banyak, tapi hasil kebun abak ditebasnya
juga.....hu.....hu....!"
"Sudahlah, Yung! Kita masih bisa tanam lagi" bujuk abak
"Buyung hanya ingin abak punya rokok warna kuning. hu..........hu......"
Abak tak pernah mampu membeli rokok warna kuning seperti angan-angan Buyung.
Hasil penjualan bayam, peria, terung, kacang panjang dirampas emak. Dimakannya
sendiri. Tak serupiah pun diberikan pada abak dan Buyung.
Sialnya, tiba-tiba saja abak jatuh sakit. Persendian kakinya lemas. Seperti
hilang rasa. Berdiri saja abak tak kuat. Seperti hilang tenaga. Tubuh kurusnya
terbaring menelentang di kasur lusuh. Buyung murung. Tak henti-hentinya ia
memijat kaki abak. Bersusah payah ia mencari tahu ramuan obat yang dapat
menyembuhkan sakit abak. Tapi, Buyung gagal. Ia terus menjaga abak. Duduk
berlama-lama, tidur pun selalu di samping pembaringan abak.
"Bak, sembuhlah bak! kalau abak sakit terus, Buyung sama siapa?"
"Kapan abak bisa beli rokok warna kuning kalau berdiri saja abak ndak kuat?"
"Abak sakit apa?"
"Abak ndak apa-apa Yung, jangan cemas, Nak!"
"Jika abak sudah sembuh, kita bisa ke kebun lagi, bukan?"
Sejeda mereka terdiam, karena tiba-tiba emak datang. Raut muka perempuan itu
masam. Sudah lama abak dan Buyung tidak pernah lagi menatap keteduhan di rona
mukanya. Ya, sejak abak tak meracit tembakau. Sejak abak menganggur.
"Kalau hanya akan menghabiskan beras dan menyusahkan, lebih baik mati saja,
kau!" maki emak dengan nada suara tinggi.
"Hidup makin payah, kok malah sakit. Jangan-jangan kau pura-pura sakit ya?"
Merah padam muka Buyung mendengar cercaan emak. Ia seperti hendak berontak.
Ia tak bisa menerima perlakuan emak yang sudah keterlaluan. Jangankan
mempedulikan abak yang sedang sakit parah, justru setiap hari telinga abak
disumpalnya dengan caci maki, cela dan sumpah serapah.
Sejatinya, tanpa diusir pun diam-diam abak sudah menyimpan keinginan
meninggalkan rumah itu. Meninggalkan carut marut yang terpacak dari mulut
perempuan mata duitan itu. Tapi, karena kakinya belum kuat melangkah, abak
belum beranjak dari pembaringannya. Perempuan yang disebut Buyung sebagai emak
itu benar-benar tidak tahu diuntung, begitu suaminya sudah sakit-sakitan, tak
menghasilkan uang, hendak diusirnya begitu saja. Ada uang abak disayang, tak
ada uang abak ditendang.
Tak lama berselang, abak hengkang juga. Ia tak sanggup lagi mendengar makian
yang keluar dari mulut kasar emak. Abak datang tak membawa apa-apa dan pergi
juga tanpa membawa apa-apa. Maka, terjadilah prosesi perpisahan yang sederhana.
Terbata-bata ia mengayun langkah-langkah lelah. Tak tampak sedikitpun rona
keharuan di wajah emak pada saat abak mengayunkan langkah pertama meninggalkan
rumah itu. Buyung menjerit, meronta-ronta, menghentak-hentak hendak mengikuti
abak. Mengikuti ke mana saja lelaki itu hendak pergi. Tapi abak sudah terlanjur
jauh, ia sudah menghilang tertelan gelap malam. Buyung tak mungkin lagi
mengejarnya.
"Abak ndak salah apa-apa, kenapa emak mengusirnya?"
"Emak menjual hasil kebun abak, abak tak jadi beli rokok warna kuning. Lalu
abak sakit payah, dan emak mengusirnya. Apa salah abak?"
"Emak berdosa telah mengusir abak"
"Diam kau, Buyung! Tahu apa kau soal dosa? Kalau mau pergi, carilah abakmu
itu, Ayo, tunggu apa lagi, anak setan!"
Akhirnya, Buyung pun pergi. Hengkang seperti abak yang telah lebih dulu
menghilang. Entah ke mana tujuan si Buyung. Entah ke mana tujuan abak. Tapi
yang jelas, hingga kini abak dan Buyung tak pernah pulang. Kepergian mereka
seperti merantau Cina. Sekali pergi, tak bakal kembali.
*
Setahun, dua tahun, berpuluh tahun, perempuan itu hidup bersendiri, hingga
tubuhnya mulai ringkih. Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak
rumah usang itu terselimuti sunyi. Lengang, tanpa abak, tanpa Buyung. Kini,
setelah uban-uban memutih di kepalanya, ia merasakan desau rindu yang menyesak
di dada. Rindu ingin bertemu dengan dua lelaki yang terusir. Tentu, kini Buyung
sudah dewasa. Sulit ia membayangkan seperti apa guratan kedewasaan Buyung saat
ini. Tentu, Buyung sudah punya anak-istri. Di mana Buyung kini?. Begitu pun
abak, mungkin lelaki itu masih hidup meski sudah tumbuh pula uban-uban di
kepalanya. Sudah renta. Mungkin pula abak sempat punya istri lagi dan tentu
sudah punya buyung-buyung yang lain. Di mana abak kini?
Perempuan tua berselendang putih yang sejak tadi duduk berjuntai kaki itu,
tersentak dari lamun. Perlahan-lahan ia berdiri dan melangkah masuk ke dalam
rumah usang itu. Malam kian larut dalam hening. Selarut perempuan tua itu dalam
rindu yang sudah mustahil diraih. Hujan tak kunjung reda. Terus mengguyur,
memecah lengang. Perempuan tua tak sungguh-sungguh lelap, pikirannya menerawang
bersama desau rindu yang menggebubung. Kadang terbayang isak-sedu Buyung di
samping pembaringan abak. Kadang tergambar langkah-langkah berat abak sesaat
sebelum ia beranjak hendak meninggalkan rumah itu. Abak bukan saja telah
terusir dari rumah itu, tapi juga terusir dari hati perempuan keparat itu.
Pelan-pelan, mata perempuan tua pun terpejam. Dalam tidur, ia bermimpi
melihat Buyung sedang berlari-lari kegirangan, sambil membawa sebungkus rokok
berwarna kuning yang hendak diberikannya pada abak.
Catatan kaki:
1) Buang hajat besar. makan dan tacirik artinya menganggur,
2) Sebutan untuk ayah atau bapak, asal katanya dari bahasa Arab ; Abu,
kemudian mengalami perubahan menjadi abak
3) memotong daun tembakau hingga menjadi benang-benang kecil, pekerjaan ini
menjadi profesi di beberapa daerah penghasil tembakau di Sumatera Barat,
seperti di Taram,
Situjuh (Kab.50 Kota). Dalam bahasa daerah setempat, profesi ini disebut juga
nahodo.
4) Di daerah yang dijadikan latar cerita ini, Dji Sam Soe biasa disebut pelat
kuning, karena pita yang melingkari bagian pangkal batangan rokok tersebut
berwarna kuning. Dji Sam Soe adalah rokok paling mahal bagi para pecandu di
daerah itu.
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---