http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0708/15/sumbagut/3763708.htm


Gambir
Harga Turun, Petani Makin Tersingkir


Sudah 15 tahun sejak lulus SMP Joni Hartoni (30) warga Desa Solok Bio-Bio,
Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, menjadi petani gambir. Namun tak
banyak perubahan yang menghinggapi dirinya. Hingga kini kehidupannya tetap
saja miskin.

Senin (13/8) Joni bercerita, harga gambir (Uncaria gambir) sangat tergantung
pada touke. Seminggu terakhir harga bahkan melorot dari Rp 18.000 per
kilogram, menjadi Rp 15.500 per kilogram. Para petani memperkirakan harga
akan terus merosot.

"Saat harga beras Rp 500 per kilogram petani cukup bergembira dengan harga
gambir antara Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kilogram. Namun, kini harga beras
sudah mencapai Rp 6.000 per kilogram, harga gambir hanya Rp 15.500 per
kilogram," tutur ayah dua anak itu.

Dari bertani gambir, rata-rata tiap bulan Joni berpenghasilan Rp 300.000.
Untuk menghidupi seorang istri dan dua anaknya, tentu uang itu sangatlah
tidak mencukupi. Joni mencatat harga gambir tertinggi terjadi saat
Pemerintahan Habibie, yang saat itu mencapai Rp 22.000 per kilogram.
Sementara harga terendah mencapai Rp 3.000 per kilogram pada tahun 2005.

Dalam sehari Joni mendapatkan hasil gambir bersih sekitar tiga kilogram dari
40 kilogram daun gambir yang diolahnya. Ia bekerja pada Haji Yustinus
tetangganya, bersama dua orang temannya. Karena lahan dan peralatan dimiliki
Pak Haji Yustinus, ia mendapatkan upah dengan sistem bagi hasil.

Di Desa Solok Bio-Bio, 60 persen penduduknya adalah petani gambir. Mereka
mendapatkan ketrampilan itu turun temurun. "Sejak jaman Belanda kami sudah
memproduksi gambir," tutur Joni.

Nomor dua

Badan Pusat Statistik mencatat luas tanaman gambir perkebunan rakyat di
Sumatera Barat tahun 2005 mencapai 19.658 hektar. Hampir 70 persen
diantarnya seluas 11.556 hektar ada di Kabupaten Limapuluh Kota. Namun Joni
belum merasakan pemerintah secara serius membantu kehidupan petani gambir.

Sebenarnya harga gambir murni bisa mencapai Rp 40.000 per kilogram. Gambir
murni adalah gambir putih yang diambil dari inti rebusan daun gambir.
Sementara gambir yang saat ini dijual oleh Joni, adalah gambir yang diolah
seperti orang membuat cincau, daun gambir diperas hingga daunnya hancur.

Sayangnya tak ada tauke yang mau mengambil gambir murni ini ke petani.
Petani bahkan mensinyalir para touke membeli gambir kualitas dua ke petani
kemudian mengolahnya kembali untuk menghasilkan gambir kualitas satu atau
gambir murni. Gambir ini banyak digunakan untuk obat yang diekspor ke India
dan China.

Sejak tahun ini, secara halus pemerintah justru melarang petani
mengembangkan tanaman gambir. Joni bercerita, sekarang lahan gambir sudah
penuh lubang untuk ditanami tanaman keras seperti mahoni. Tanaman itu
diharapkan akan menghijaukan bukit-bukit tempat gambir ditanam sebagai
bagian reboisasi oleh Dinas Kehutanan.

Akibatnya akses petani untuk mengembangkan gambir semakin sempit. "Saya
punya lahan satu hektar di balik bukit. Sekarang ditumbuhi perdu karena lama
tidak kami rawat, tidak punya biaya. Sekarang tidak bisa lagi tanam gambir
di kawasan itu," kata Joni. Joni juga tak punya biaya untuk membuka hutan.

Berbeda dengan Kabupaten Lima Puluh Kota, justru Pemerintah Kabupaten Pakpak
Bharat (Sumut) mulai mengembangkan tanaman gambir dan kemenyan (Sytrax sp)
besar-besaran. Dua tanaman ini akan diharapkan dapat menjadi tulang punggung
perekonomian warga Pakpak Bharat.

Lingkungan

Tumbuhan gambir yang berujud perdu itu dikhawatirkan merusak hutan, dan
akhirnya merusak lingkungan. Sementara penanaman di sela pohon besar tidak
bisa dilakukan karena tanaman membutuhkan sinar matahari yang cukup.

Beberapa tahun terakhir kelompok tani Tunas Harapan yang diikuti Joni mulai
mengembangkan peternakan dan perikanan di Desa Solok Bio Bio. Pemerintah
hendak mengalihkan mereka pada budi daya ikan dan ternak.

Sebagian warga Solok Bio Bio sangat menyayangkan jika gambir tidak lestari.
Apalagi, ketidak lestariannya disebabkan manfaat ekonomi yang tidak
dinikmati petani. Padahal, jika pemerintah mau membantu petani, gambir dapat
menjadi andalan ekonomi warganya seperti yang mulai terlihat di Pakpak.
(wsi)


-- 
Z Chaniago - Palai Rinuak - Kaganti sawah jo ladang

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke