Uni jangan berkecil hati terhadap apa yang Uni telah dan sedang lakukan selama
ini. Saya rasa Uni patut bersyukur karena Uni telah memiliki niat yang tulus
dari awal untuk berjuang demi negara ini melalui program pembukuan, dan Uni
memiliki wadah yang bagus unuk menyalurkan itu. Kita harus menyadari bahwa
dengan bukulah sebenarnya salah satu cara yang tepat sehingga menghasilkan
pejuang bangsa yang kuat dan berbakti. Ada istilah yang berbuyi, warga negara
yang baik mengetahui sejarahnya. Buku merupaka cara yang kongkrit untuk setiap
generasi mengetahui sejarah, perjuangan anak bangsa pada zaman sebelum
kemerdekaan, sehingga dia tahu dengan cara apa mereka melanjutkan kemerdekaan
yang diperoleh dengan susa payah oleh pendahulunya. Tentunya tidak dengan cara
yang ditempuh oleh pejuangnya yang dahulu karena memang tidak sesuai dengan
zamannya. Saya teringat akan cerita sahabat Bapak saya. Beliau mengatakan bahwa
dulu beliau2 termotifasi akibat membaca buku yang bernafaskan
perjuangan. Karena membaca, beliau tahu bagaimana ara menyusun strategi,
bagaimana memegang senapang, saya sempat di kasih tahu bahwa salah satu buku
yang sangat digemari para pemuda pejuang dulu adalah Winetiou karya Karl May.
Uni jangan khawatir dengan perjuangan mencerdaskan anak bangsa tersebut sudah
sukses atau belum, jika indikasinya minat membaca anak Indonesia, ini tidaklah
menjadi tolak ukur yang tepat. Karena bagaimanapun juga usaha Uni untuk
mencerdaskan anak bangsa kalau tidak didukung dengan partisipasi pihak lain
yakni setiap orang tua anak, lingkungan, dan sistem pendidikan, dan sebagainya,
hal itu bukan merupan kegagalan Uni. Hal itu kegagalan bangsa ini, karena tidak
menyadari pentingnya mebaca. Perjuangan Uni ini tidak ubanya dengan perjuangan
pejuang dahulu di setiap provinsi. Jika peperangan menentang penjajah hanya
dilakukan pada beberapa provinsi dan tidak didukung oleh semua provinsi, apakah
akan terwujud kemerdekaan bangsa Indonesia yang tercinta ini.
Terimakasih Uni. Karena usaha uni walaupun tidak dikenyam oleh semua anak
bangsa, tapi setidaknya salah satu pemimpin kita nanti pernah mengecap buku
hasil perjuangan Uni untuk bangsa ini. Merdeka...!!!
dutamardin umar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kepedulian Uni Upik, kepedulian kita
semua. Patut direnungkan.
Apa yang sudah kita perbuat untuk ibu Pertiwi??
ajoduta/60 pas
Upi Sundari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Yth., Rekan-rekan milis yang uni hormati,
MERDEKA !!!
Ass wr wb.,
62 tahun sudah Indonesia merdeka. Ada pertanyaan sudahkan kita puas menikmati
hasil perjuangan para pahlawan bangsa untuk memerdekakan Indonesia dari kaum
penjajah?. Sudahkan kita semua melaksanakan "AMANAT UUD 1945? ".
Maka Uni Upi berfikir dari sejak tadi malam :
APA YANG TELAH UPI PERBUAT UNTUK NEGARA?. Karena sepertinya selama ini Uni
Upi hanya berkata " APA YANG TELAH NEGARA PERBUAT UNTUK UPI?".
Uni Upi sebagai rakyat kecil, yang kebetulan tidak ikut memanggul senapan
berperang melawan penjajah, atau kebetulan tidak ikut dengan pasukan bambu
runcing dalam membela negara Indonesia, karena kebetulan uni lahir setahun
sebelum Kemerdekaan Indonesia di proklamirkan pada 17 agustus 1945, tepatnya
bulan april 1944. Maka uni hanya menjadi "penerima kemerdekaan saja".
Sekarang umur uni sudah 63 tahun. Tetapi rasanya uni belum berbuat apa-apa
untuk mengisi kemerdekaan ini. Hal ini mungkin karena pendidikan uni yang hanya
tamat SMEA tahun 1962. Atau juga karena keterbatasan wawasan uni, sehingga uni
belum bisa berbuat banyak, selain dari berjuang untuk mencerdaskan bangsa
melalui bidang perbukuan, karena memang uni dibesarkan oleh kedua orang tua uni
di bidang penerbitan dan percetakan.
Perjuangan uni dan kawan-kawan IKAPI dalam meningkatkan minat baca masyarakat
melalui Pameran buku, telah uni lakukan sejak dari tahun 1979 sampai sekarang
tidak pernah berhenti, tetapi kembali uni bertanya " Apakah sudah berhasil
perjuangan itu? ". Karena sesungguhnyalah tolok ukur untuk minat baca
masyarakat masih belum dapat kita klaim "sukses" karena sejujurnya menurut data
statistik masih jutaan orang yang buta huruf. Apalagi kalau dikaitkan dengan
keinginan sukses MDGs 2015 dimana ada 8 bidang yang harus dituntaskan, yakni
antara lain pendidikan, kesehatan, kemitraan global dan kesejahteraan.
Sehubungan dengan itu uni ingin rekan-rekan milis kita, barangkali bisa
memberikan masujkan, apa yang sebaiknya kita kerjakan untuk membuktikan
keberadaan kita sebagai warga bangsa dalam mengisi kemerdekaan Indonesia yang
kita cintai itu.
Selamat berfikir - mungkin inilah saatnya kita masing-masing interospeksi,
untuk apa sebenarnya Allah memberikan kesempatan hidup di dunia ini, kesempatan
kepada kita untuk menjadi Khalifah Allah SWT di dunia.
Bukankah dunia adalah sebuah persinggahan kita, sementara kehidupan yang
kekal adalah di akhirat nanti, yang akan kita nikmati dari hasil pekerjaan kita
di dunia?.
Wass Wr wb -
Uni Upi Tuti Sundari ( orang Sulit Air )
Bersama ini uni sampaikan tulisan puisi yang uni buat tahun 2003
CINTAILAH AKU......IBU PERTIWIMU
Satu Nusa....Satu Bangsa....Satu Bahasa Kita
Tanah Air, Pasti Jaya, Untuk slama-lamanya....
Kini....Anak-anakku bercerai berai
Kini..Putra-putriku saling menyerang
Mayat-mayat bergelimpangan
Di Aveh..di Sambas...di Sampit...di Poso..di Irianb, di mana-mana
Rumah-rumah dibakar oleh nafsu yang membara,
Entah siapa yang menjadi musuhnya?....
Entah siapa yang menjadi lawannya?...
Mengapa?..mengapa ini harus terjadi?..
Di bumi Ibu Pertiwi....
Mana sumpahmu anak-nakku?..
Sumpah Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Kita?
Lupakah kalian...Akan makna Sumpah Pemuda?
Tegakah kalian....Merusak apa-apa yang leluhur kita perjuangkan?
Mereka yang rela mengorbankan jiwa dan raganya..
Demi kemerdekaan Indonesia
Mereka para Pahlawan Bangsa.
Sekarang setelah kita merdeka,
kenapa kalian benamkan negara kedalam kancah permusuhan?
Tidak bisakah kalian bersatu kembali?
Tidak bisakah kalian menginterospeksi diri?
Mana janji-janjimu hai Wakil Rakyat?
Janji ketika kampanye,
Janji untuk mencerdaskan bangsa,
Janji untuk mensejahterakan masyarakat,
Janji memberdayakan ekonomi rakyat?
Mana?...mana?...
Sekarang kalian hanya rebutan kekuasaan,
Kalian saling hujat menghujat,
Apakah ini makna Reformasi, yang telah menghilangkan nyawa anak-anakku
juga?..
Mereka para pahlawan Reformasi.
Apakah kita tega?..
Nyawa mereka terbuang percuma?
Nyawa yang juga nyawa anak-anakku
Nyawa saudara kalian juga,
Bukankah kalian lahir dari rtahim yang sama?
Rahimku...Rahim Ibu Pertiwimu.
Dengarlah jeritan hatiku...anakku
Bersatulah kalian...Rukunlah kalian
Karena kalian adalah bersaudara
Cintailah aku...Aku Ibu Pertiwimu.
Puisi ini uni buat sebelum Perjanjian Helsinki dibuat.
Selamat merenung.
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---