Tenang dulu, saya tidak sedang memprovokasi Anda, apalagi sedang berniat makar 
terhadap NKRI dan Konstitusi. Saya sebenarnya cuma sedang geli terhadap 
fenomena negeri ini sekaligus "iri" sama lembaga TNI yang bercikal bakal dari 
Tentara Keamanan Rakyat (baca: Tentara Dari Rakyat yang Merupakan Sahabat 
Rakyat) dan lembaga Polisi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Saya 
iri karena dunia loreng ini memberikan cukup banyak "sumbangan" terhadap warna 
dan image negeri ini. Setidaknya dari kepopuleran tokoh yang berasal dari dunia 
mereka pada nama jalan protokol diseluruh Indonesia. Hampir bisa ditebak, 
sebagian besar nama-nama jalan protokol terutama di luar Jawa menggunakan nama 
Jendral Besar Sudirman dan sisanya dikapling korban tragedi September 1965.
 Sebenarnya tidak ada yang salah juga dengan penamaan ini, toh sekurangnya 
mereka pernah memperjuangkan sesuatu yang dapat dikenang, paling tidak untuk 
gengsi organisasinya. Tiga dasawarsa lebih kepemimpinan sang jendral kuat di 
negeri ini, memberikan ruang yang sangat leluasa untuk proyek "militerisasi" 
nama jalan itu. Selain itu pada era sang jendral juga berlaku tradisi mengambil 
tokoh dunia loreng sebagai pemimpin daerah seperti gubernur atau 
bupati/walikota. Khusus untuk tradisi terakhir ini, masih bisa kita lihat 
lestarinya pada pilkada DKI Jakarta barusan. Dunia loreng memang ruarrrr biasa! 
Tinggal comot salah satu orangnya dengan embel-embel jendral bintang sekian, 
maka jadilah ia pemimpin instan. Cukup dengan mengganti kostum lorengnya dengan 
baju safari atau busana daerah jadilah ia pemimpin. 
 Jadi sebetulnya kita patut "gembira" juga melihat penampakan yang sangat lazim 
ini. Bangsa kita tidak akan pernah mengalami yang namanya krisis kepemimpinan. 
Bahkan jika anda-anda pembaca sekalian memilih untuk tidak sekolah dan buta 
huruf sampai tua, tidak akan terjadi apa-apa kok sama bangsa ini. Anda akan 
bisa tetap bernafas lega seperti biasa dan tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal 
yang tidak perlu. Anda butuh apa? Bupati, Walikota, Gubernur atau Presiden 
sekalipun. Tinggal comot aja kok dari dunia loreng. Pasti memuaskan. Sudah 
Terbukti dan Teruji, bak kata Mbak Mega. Gitu aja kok repot, bak kata Gus Dur. 
Dan metode ini pun terbilang Hi Tech bak kata Pak Habibie.
 Butet Kertaradjasa mungkin hanya orang gila yang bermimpi bahwa republik ini 
akan menjadi Republik Seniman dengan mengganti nama jalan Ahmad Yani dengan 
Ahmad Dhani, walau hanya semalam saja. Saya pun mungkin hanya orang gila yang 
bermimpi bahwa republik ini sebenarnya Republik Sastrawan, walaupun saya tahu 
bahwa salah satu pencetus nasionalisme Indonesia terutama dalam pengembangan 
Bahasa Indonesia adalah para sastrawan angkatan 1920-an. Lewat karya-karya 
mereka lah untuk pertama kalinya bangsa ini merasa sejajar dan sama pintar 
dengan bangsa penjajahnya. Karya-karya mereka melintasi sekat-sekat organisasi 
kedaerahan pada zamannya, bahkan melintasi zaman itu sendiri sampai pada saat 
sekarang ini.
 Saya akan lebih dianggap gila lagi jika mengklaim republik ini sebagai 
Republik Diplomat. Lho mengapa harus diplomat? Kecuali Anda semua belum tahu 
sama sekali (berterima kasih lah pada buku sejarah versi lite yang anda baca 
sejak SD) bahwa pada saat proklamasi 17 Agustus 1945 Indonesia itu belum seluas 
sekarang, maka saya dengan jumawa akan katakan bahwa Anda telah kecolongan 
(mengutip sedikit iklan mizone).
 Mungkin yang paling tenar hanya kasus kembalinya Irian Barat ke pangkuan ibu 
pertiwi tahun 1962 (ingat ini pun karena proses diplomasi). Namun diluar itu 
Anda semua perlu tahu, pada saat proklamasi, diseantero Nusantara ini yang 
sebelumnya di klaim sebagai bagian wilayah Pax Nederlandica, masih terdapat 
sekitar limapuluh daerah merdeka yang luasnya bervariasi. Misalnya Kesultanan 
Yogyakarta, Kesultanan Ternate, Kesultanan Bulungan (yang wilayahnya sebagian 
besar Kalimantan Timur sekarang), Kesultanan Pelalawan dan Siak Sri Indrapura 
di Riau, Kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan Tenggara Tengah, Kesultanan Aceh 
Darussalam yang sedang vakum kekuasaan setelah 30 tahun kalah perang, dan 
pulau-pulau kecil di lautan antar pulau-pulau Indonesia. Daerah-daerah merdeka 
ini kemudian menyusul bergabung kedalam republik ini satu persatu, dan mereka 
masing-masing punya catatan dan bukti tertulis tentang itu. Cuma saja malang 
nasib mereka, setelah bergabung mereka menjelma menjadi
 kabupaten antah berantah yang tak dikenal lagi.
 Khusus untuk lautan dalam kepulauan Indonesia kita dapatkan dengan proses 
diplomasi Deklarasi Juanda. Dengan proses diplomasi pula kita mengembalikan 
daerah-daerah yang dicaplok Belanda selama revolusi. Dan dengan diplomasi itu 
juga bangsa kita dipandang sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di forum PBB 
serta perjanjian-perjanjian internasional. Terakhir dengan diplomasi juga kita 
mendapatkan tambahan wilayah ZEE yang jaraknya 200 km dari garis pantai terluar 
kita, sehingga kapal-kapal perang angkatan laut kita bisa dengan gagah dan 
leluasa menjelajah dan mengibarkan bendera disana.
 Tentu, maksud tulisan saya bukan untuk mendiskreditkan apalagi mengecilkan 
peran militer. Keduanya saling mendukung. Diplomat memang cenderung ditelan 
sejarah dan hilang tanpa bekas. Sedangkan militer bernasib lebih baik. Namanya 
bertaburan pada jalan-jalan dan gedung di seantero negara, dan dikenang bak 
selebriti didalam buku sejarah resmi. Setiap aksinya adalah heroik dan pantas 
dibikinkan prasasti. Sebuah pertempuran kecil merebut setasiun kereta api, 
layak dianggap sebagai andil memperjuangkan keutuhan NKRI. Sebuah motorboat 
yang karam kena torpedo, pantas ditulis sebanyak tiga halaman dalam buku 
sejarah resmi. Sebuah helikopter yang jatuh karena kelalaian jurumudi, 
mengantar penumpangnya menjadi pahlawan negeri ini. Salut untuk militer. 
MERDEKA!
 (Saya dedikasikan secara khusus untuk para diplomat yang telah melunakkan hati 
Gerakan Aceh Merdeka, sehingga memungkinkan mereka untuk menghadiri upacara 
peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2007 lalu, 
serta mencegah berlanjutnya pertumpahan darah antar sesama saudara sebangsa 
diatas bumi pertiwi tercinta)



  Salam Hangat
  Fadli ZF 
  http://zulfadli.wordpress.com
    http://laguminanglamo.wordpress.com

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke