Assalamu'alaikum wr.wb. Mulai awal 2008, semua pemegang merek otomotif roda 4 Jepang seperti Toyota, Daihatsu, Hino, Mitsubishi, Suzuki, dll akan memulai kebijakan baru dengan lokalisasi suku cadang dari dalam negri Indonesia. Isu yang lagi "hot" di industri suku cadang otomotif, Daihatsu yang juga anaknya Toyota akan ekpansi dengan pengembangan Pabrik terbesar kedua di dunia setelah Jepang di Indonesia. Tujuan lokalisasi ini selain karena ketatnya persaingan harga dan inovasi di dunia otomotif, juga untuk menekan harga pasar yang tiap tahun cendrung meningkat karena makin meningkatnya biaya import dari suku cadang otomotif. Efek dari lokalisasi ini, akan banyak vendor-vendor pemegang merek otomotif Jepang yang menjadi mata rantai pendukung perusahaan utama akan ekspansi/investasi dan membuka anak perusahaannya di Indonesia. Dari satu sisi isu ini cukup positif untuk mengurangi angka pengangguran, serta membuka peluang usaha bagi manusia Indonesia yang inovatif dan kreatif. Dengan membuka usaha bengkel, general trading dan industri kecil untuk mendukung industri-industri mata rantai pendukung otomotif Jepang ini. Tapi disisi lain hal yang membuat miris, Indonesia tetap jadi pasar besar merek-merek dari luar negri, dan yang lebih tragis generasi Indonesia akan tetap jadi buruh/karyawan di negara sendiri. Karena yang namanya alih teknologi yang dari dulu didengung-dengungkan tetap tidak akan pernah terjadi, malah dari generasi ke generasi yang terjadi pemandulan kreatifitas dan inovasi dengan doktrinisasi simbol dan merek. Coba sedikit kita renungkan, dalam kehidupan sehari-hari di rumah kita, berapa % kebutuhan primer dan sekunder serta tersier yang merupakan produk lokal dengan merek lokal hasil kreatifitas anak negri?? Mulai dari mandi menggunakan sabun mandi+sampo mereknya lifeboy, biore, clear, dandruft, dll semua produk dalam negri??? benar...tapi itu cuma dengan beli lisensi merek asing, malah banyak masih diimpor. Lalu pompa air mereknya sanyo, dab, shimidzu, dll...buatan dalam negri...iya tapi namanya kok masih nama asing?? Lalu peralatan masak ada yang namanya miyako, modena, sanken, hitachi, dll...buatan dalam negri seh..tapi yang bikin orang luar.. Trus Televisi...ada mereknya Sharp, Samsung, LG, Sony, dll dibikin dimana?? ada yang dibuat di Indonesia tapi yang punya tetap orang asing.. Kenapa ini bisa terjadi?? karena lemahnya nyali pengusaha lokal untuk investasi biaya riset dan resiko dalam mengembangkan inovasi dan kreatifitas para insinyur teknik, serta besarnya biaya jika yang dilakukan membangun brand image untuk produk baru. Sampai kapan tren ini akan berlangsung??? akan kah anak cucu kita nanti nasibnya malah lebih tragis dari kita sekarang ini, kalau kita hanya jadi korban iklan dari merek dan simbol asing.
wassalam Reza Sekarang Jadi Pengusaha Modal Dengkul, HP, E-mail dan Informasi Sampai kapan merek-merek lokal bisa bersaing membangun citranya dengan merek-merek asing. Sekilasi kita flas back ke belakang bagaimana Jepang membangun citra dengan sinergi sesama Jepang : *Contoh elok yang harus kito tiru untuak bersinergi...* Keiretsu Jepang Angsa Itu Mulai Beranak Elang Secara resmi zaibatsu (financial cliques) yang melahirkan keiretsu (corporate groups), memang pernah dilarang saat Jepang diduduki oleh Amerika Serikat. Namun ketika kekuatan ekonomi Jepang mulai membaik sekitar tahun 1960-an-1970-an, zaibatsu bangkit lagi. Dunia bisnis Jepang kembali membuat pengelompokan seperti yang pernah ada pada masa sebelum perang. Namun berbeda dengan zaibatsu yang lebih jelas, keiretsu bersifat agak samar-samar. Selama ini, para perencana ekonomi atau badan pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di negara-negara berkembang, sepertinya tidak pernah memeriksa berapa jumlah perusahaan yang mendukung, perusahaan besar Jepang untuk menghasilkan sebuah produk. Bila penelitian ini pernah dilakukan, tidak mustahil sejak awal mereka bisa mengetahui bahwa *alih teknologi dari Jepang tidak akan pernah terjadi*. Mereka akan sadar bahwa * pemindahan kegiatan industri Jepang ke negara-negara berkembang, tak lebih hanyalah sekadar penyewaan lokasi untuk pabrik dan tenaga buruh, terutama sehubungan dengan yendaka*. Gambaran lebih gampang bagaimana cara melihat bentuk keiretsu ini beroperasi, dapat dilihat jelas dari geliatan bisnis Jepang yang ada di industri otomotif dan elektronik, yang memiliki ratusan sampai ribuan mata rantai perusahaan. Dari situ akan terlihat bagaimana imposible-nya negara-negara berkembang melakukan alih teknologi tersebut. Gampangnya, ada satu negara berkembang ingin melakukan alih teknologi elektronika TV atau mobil, maka negara ini tak cukup hanya membawa satu perusahaan saja untuk masuk ke negaranya dan kemudian bisa terjadi alih teknologi. Tetapi harus membawa ratusan atau ribuan perusahaan yang tersubordinasi atau yang menjadi pendukung perusahaan utama tersebut. * * * PERTANYAAN besarnya, apakah mungkin pemindahan atau pembuatan semacam duplikat dari mata rantai perusahaan-perusahaan sebanyak itu. Ini baru satu persoalan saja, yakni pemindahan perusahaan saja, belum termasuk alih teknologi. Dalam kasus Toyota misalnya, sebuah studi menyebutkan bahwa lapisan atas struktur organisasi piramida Toyota, tersusun oleh 10 perusahaan subkontraktor utama. Di luar ini ada dua lagi perusahaan lain, tapi tidak berkaitan dengan kegiatan manufakturing. Total perusahaan pada lapisan atas berjumlah 12 unit. Namun jumlah tersebut masih di tambah lagi oleh dua perusahaan, yang dalam kesan umum sering dirasakan sebagai saingan Toyota di pasaran mobil, yakni Daihatsu Motors dan Hino Motors yang dikonsentrasikan pada truk. Pada lapisan menengah piramida itu terdapat pula dua grup pembuat komponen. Masing-masing adalah kyoho-kai (Toyota cooperative association), yang terdiri dari 183 perusahaan dan kemudian Eiho-kai (Toyota Prosperity Association), yang terdiri dari 65 perusahaan. Totalnya 248 perusahaan, ini baru perusahaan yang nampak dalam keiretsu Toyota. Di bawah perusahaan-perusahaan ini masih terdapat pula beberapa angkatan perusahaan dalam urutan hirarki, yang masing-masing terdiri pula dari ratusan perusahaan. Namun berapa pastinya jumlah perusahaan yang ada dalam jaringan keiretsu Toyota, barangkali hanya Toyota sendiri yang tahu. Semua ini memang hanyalah gambaran yang tidak sepenuhnya utuh, namun minimal mendekati kebenaran mengenai otomotif Toyota. Sebab di luar gambaran ini masih ada pula jaringan distribusi yang mencapai 4.750 perusahaan. Seperti yang ada dalam bayangan orang pada umumnya, sekadar untuk membuat kaca spion saja, perusahaan-perusahaan industri mobil Jepang memerlukan tiga atau empat perusahaan kecil. Perusahaan terakhir melakukan tugas untuk merakit hingga menjadi spion. Keempat perusahaan ini tak mungkin sendiri, karena satu sama lain merupakan dari rangkain sistem. Ciri semacam ini bukan khas dominasi dari Toyota, tetapi merupakan khas dari seluruh perusahaan besar di Jepang. Matsushita misalnya, memiliki rantai 160 perusahaan, yang masing-masing perusahaan memiliki lagi mata rantai kecil hingga yang paling kecil yang tidak sedikit jumlahnya. Demikian juga dengan Sony, Hitachi, dan Mitsubishi, semua mengikuti pola seperti itu. Sebuah contoh konkret tentang berlakunya aturan main tersebut adalah, soal terbakarnya pabrik rem milik Toyota di Perfektur Aichi beberapa bulan lalu. Akibat tidak mungkinnya Toyota memperoleh suplai dari luar jaringannya, maka perusahaan ini harus menghentikan produksi beberapa hari. Akibatnya Toyota menderita kerugian milyaran yen, karena harus menunggu salah satu pensuplai dari lingkungan sendiri memproduksi komponen rem yang diperlukan. * * * KEMBALI dalam hubungan antara Jepang dan mitra dagangnya selama ini, jelas terlihat bahwa pengejaran oleh angsa yang berada di belakang dalam kawanan angsa menurut flying geese model jelas tidak akan pernah terjadi. Ini belum lagi jika faktor-faktor lain ikut diperhitungkan sebagai misal, sikap perusahaan-perusahaan Jepang yang ada kalanya, jelas-jelas menghalangi negara berkembang untuk melangkah sendiri atau menyalahi garis yang ditetapkan. Kasus pengembangan teknologi Mazda tua yang berhasil dilakukan KIA dari Korsel pada pertengahan tahun 1980-an yang akhirnya menimbulkan kekecewaan KIA, karena Mazda menolak memberi restu atas teknologi tersebut. Masih dalam konteks Korsel, dalam industri semi konduktor, sering kali dikatakan koran bahwa Korsel telah mengalahkan Jepang. Tapi di luar cerita di koran-koran, ilmuwan Korsel sendiri mengeluh bahwa akibat ketergantungan pada Jepang, total hasil keuntungan dari penjualan semi konduktor tersebut ternyata lebih besar dikantungi Jepang beberapa kali lipat daripada Korsel-nya sendiri. Barangkali ketidakpuasan yang kini mulai timbul di negara-negara mitra Jepang di Asia, terutama sekali dalam hal alih teknologi, apakah tidak mungkin bahwa industri yang ada di negara berkembang tersebut adalah jaringan keiretsu Jepang. Kalau perkiraan ini salah, pertanyaan yang timbul selanjutnya, melihat dasar dan rumitnya jaringan keiretsu, serta aturan atau komitmen-komitmen yang dipegang teguh para anggota, tampaknya hampir mustahil bagi negara berkembang untuk bisa tumbuh menjadi kekuatan industri yang mandiri. Kalau hanya sekadar dilihat dari sisi menumbuhkan lapangan kerja baru, barangkali kehadiran perusahaan Jepang bisa dianggap bermanfaat. Sisi lainnya hanya sekadar untuk memperoleh wahana latihan dalam sistem industri modern, walau hanya sepotong-sepotong. Jadi sangat keliru jika hubungan bisnis yang terjalin melalui investasi Jepang di Indonesia selama ini, merupakan rumus efektif untuk memaksa Jepang melakukan alih teknologi. Setelah proses itu terjadi, kemudian negara berkembang itu sendiri menjalankan berbagai proses produksi dari awal hingga akhir. Padahal dalam sistem keiretsu, ibaratnya semua itu tak lebih hanyalah tangan perusahaan Jepang yang ada di negara berkembang, dari ribuan tangan yang mengenggam kepingan teknologi dari produk yang dihasilkannya. Proses tak terjadinya alih teknologi dalam industri otomotif nasional, sekali pun telah bermitra seperempat abad dengan Jepang, tidak perlu ditanggapi sebagai kekecewaan. Masalah itu sebenarnya sudah harus disadari sejak awal, bahwa hal itu memang tidak mungkin pernah terjadi. Kita telah kehilangan waktu sekitar seperempat abad, karena ketidakjelian lembaga terkait dalam membaca "nafas bisnis" Jepang yang sesungguhnya yang tetap berobsesi ingin menjadi saudara tua, cahaya dan pelindung bagi Asia. Bila ingin menguasai teknologi dan akhirnya menjadi mandiri, Indonesia mungkin bukan harus menjadi angsa yang adem dan terbang lembut di belakang dalam formasi huruf "V" terbalik itu. Melainkan harus berubah menjadi elang yang tangguh. Namun untuk menjadi elang yang tangguh harus ada kepastian hukum, permainan yang adil dan kompetitif, tidak membuang peluang, menjaga kewibawaan, performance yang bagus, kesungguhan, serius, dan tidak menganggap segala sesuatunya sebagai barang mainan sesaat. Tetapi harus dilihat sebagai sesuatu peluang besar untuk membawa bangsa ini menjadi mandiri, karena waktu, tenaga, dana dan kehormatan yang dipertaruhkan untuk menjadi elang itu sudah terlalu besar dikeluarkan. Kalau semua pengorbanan yang dilakukan oleh seluruh masyarakat ini tak diimbangi dengan kemampuan yang maksimal, bukan saja si induk angsa beserta rangkainnya yang menghantamnya, tetapi juga kolega angsa itu ikut menghantamnya. (Banu Astono/ Yusron Ihza) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
