TANGAN TUHAN DI DETIK DETIK MENENTUKAN
Oleh : Dr.H.K.Suheimi
Telepon berdering di pagi itu mengejutkan. "Pak, ada telepon dari Dr. Asep
Gunawan dari Bandung, ada berita penting". Gagang telepon itu rasa mau jatuh
sewaktu saya mendengar Dr. Asep Gunawan memberi tahu bahwa dia dokter yang
bertugas di IGD (Instalasi Gawat Darurat), berkata begini, "Apakah Dr. Suheimi
punya anak yang namanya Irdhan?". "Memang kenapa?" kata saya tersentak. "Jangan
terkejut Pak", katanya dari balik telepon. "Irdhan pagi ini dapat kecelakaan
dan sedang kami tangani". "Bagaimana keadaan anak saya?". "Sabar Pak, anak
bapak sudah kami tangani, dia sekarang dalam keadaan koma, dia mengalami
perdarahan intrakranial". Sebagaimana layaknya seorang dokter memberi
penjelasan.
Hati orang tua mana yang tak tersentak dapat berita buruk itu. Irdhan yang
klatanya hari ini ke Bandung untuk menerima ijazah, dia lulus dan ditempatkan
di KOSTRAD tiba-tiba mengalami kecelakaan?.
Dari baik telepon Dr. Asep Gunawan bicara dengan jelas sekali : "Kami mohon
izin Bapak untuk melakukan operasi, disamping perdarahan otak kakinya cedera,
fraktur terbuka patah tiga". Dengan jantung rasakan copot tentu saya izinkan
untuk operasi, saya minta tolong pada Dr.Asep Gunawan. "tolonglah anak saya,
lakukanlah operasi secepatnya, segala resiko saya tanggung". Dengan tenang Dr.
Asep Gunawan menanyakan apakah saya punya famili di Bandung yang bisa dihubungi
segera untuk bisa menandatangani perjanjian operasi. Lalu saya jawab, "suara
saya lewat telepon inilah jaminannya, pokoknya tolonglah anak saya segera". "Ya
kami akan tolong anak Bapak secepat mungkin, tapi karena keadaan anak Bapak
demikian gawat Bapak tentu tahu akibatnya". "Saya ini dokter, mengerti semuanya
dan segala resikonya, tolonglah segera Pak Asep", pinta saya. "Baiklah Pak
Suheimi, untuk operasi ini alatnya kebetulan hanya ada di Apotik Kimia Farma
Jakarta. Team kita sudah memesan alat itu, tapi
jawaban petugas apotik alat dan obatnya bisa segera dikirim asal
administrasinya diselesaikan lebih dulu. Untuk itu silakan Bapak telepon apotik
Kimia Farma dengan nomor telepon dan Hpnya sbb. Tanyakan disana ada Dr.
Hidayat".
Langsung saya telepon HP yang diberikannya. Dari balik telepon ada jawaban :
"Oh ya benar saya Dr. Hidayat, memang tadi ada permintaan ke apotik kami atas
nama Dr. Asep Gunawan meminta segera alat dan obat yang diperlukan. Semua itu
telah ada ditangan saya, tapi petugas keuangan meminta diselesaikan urusannya.
Bagaimana menurut Pak Suheimi? Atau adakah famili Bapak di Jakarta?". "Ada anak
saya Ihsan dan ini nomor Hpnya..." kata saya sambil memberikan nomor HP Ihsan.
Ihsan pun saya beri tahu tentang kecelakaan adiknya Irdhan. "Ya Pa" kata Ihsan
dari balik Hpnya. "Ihsan juga baru dapat berita dari Dr. asep Gunawan di
Bandung, tapi uang Ihsan ada Rp.7.500.000,-. Segera Ihsan transfer lewat ATM".
Sementara itu Dr. Hidayat saya telepon lagi. "Tolonglah Dr. Hidayat
sesegeranya bawa alat dan obat itu , saya segera ke jakarta dan membawa uang
yang diminta. Tapi jika apotik ini punya rekening bank, saya bisa transfer".
Lantas Dr. Hidayat bertanya, "lewat bank mana Pak Suheimi bisa mengirim dengan
cepat?". Saya katakan lewat Bank Danamon. "Baiklah" kata Dr. Hidayat. "Bapak
bisa kirimkan ke Bank Danamon cabang Prapatan Jakarta atas nama Ari Gunawan
No..."
Agak lega perasaan saya karena bisa membeli alat dan obat, tentu anak saya
bisa segera dioperasi. Kemudian Dr. Hidayat menyebut harga alat dan obat itu
Rp.21.750.000,-. "Ndak apa-apa" kata saya. "Dalam 10 menit saya akan sampai di
Bank Danamon". Saya HP lagi Ihsan, rupanya dia sedang di ruang ATM, dia sedang
mentransfer uang Rp.7.500.000,-, akan menekan OK. Hpnya berdering dapat telepon
dari saya. "Biarlah papa saja yang mentransfer semuanya Rp.21.750.000,-. Uang
Ihsan bisa digunakan untuk yang lain. Sekarang secepatnya Ihsan pergi ke
Bnadung, lihat adikmu". Ihsan ndak jadi menekan OK, tapi ditekannya CANCEL,
batal uang tak jadi dikirim.
Bertubi-tubi telepon datang, istri saya stress bukan manusia\in. semua
baju-baju dikemasi, semua sanak famili di telepon. Tiket segera di beli, kami
akan berangkat ke Bandung. Telepon datang lagi, "Maaf ini Dr.Suheimi?. "Tidak",
kata istri saya, "Ini istrinya". "Buk, saya AKBP Sutrisno, saya polisi yang
menangani kasus kecelakaan anak ibu, Irdhan, tapi saya mau bicara dengan Dr.
Suheimi". "Katakanlah pada saya, saya ibunya Irdhan, saya juga dokter", kata
istri saya terisak. "Bisa ibu sabar dan tenang? Agar saya bisa menjelaskan
peristiwanya". "Katakanlah", kata istri saya, "Apakah anak kami masih hidup?".
"Anak ibu masih hidup, tapi keadaannya gawat dan sudah saya antar ke RS Hasan
Sadikin, sedangkan temannya mati di tempat. Yang menabrak anak ibu sudah
ditangan saya, dia seorang Cina. Jadi ibu tolong hubungi Dr. Asep gunawan di
Bandung".
Istri saya menggigil dan bertambah stress atas penjelasan pak polisi dan
segera menyuruh saya ke Bank.
Oh betapa ringannya badan ini, betapa hampanya hidup ini, betapa pahitnya
cobaan ini. Anak yang hari ini menerima ijazah, hari ini akan dilantik lalu
dapat kecelakaan?. Memang sejak pagi saya sudah HP Irdhan, tapi Hpnya tak
hidup. Mungkin ketika saya menghubunginya, mungkin ketika itu tabrakan terjadi.
Terbayang wajahnya, terbayang semua kenangan bersamanya, sekilas etrbayang
saat-saat dia lahir ke Bumi ini. Terbayang ketika dia ikut Paskibraka,
terbayang ketika potretnya sedang mengembangkan bendera pusaka diabadikan dalam
uang Rp.50.000,-. Terbayang ketika dia lulus latihan Candradimuka di lembah
Tidar. Terbayang ketika dengan gagahnya dia berpakaian komando. Terbayang
ketika dia ditempa di hutan belantara, menangkap dan memakan ular. Terbayang
ketika dia dengan senjata lengkap harus menyeberang berenang dari Cilacap ke
Pulau Nusa Kambangan, sambil menarik temannya yang hampir tenggelam lemas
kehabisan tenaga. Satu demi satu wajahnya terukir dan melintas lagi. Bayangan
itu pudar ketika di jalan itu saya di klakson mobil karena saya hampir
menabrak sebuah kijang yang tiba-tiba berbelok.
Di belakang stir air mata saya berlinang, menetes membasahi pipi tak
terasakan. Saya hapus air yang membikin kabur penglihatan itu, saya tabahkan
hati ini.
Kenapa harus dia, kenapa anak yang telah ditempa dan dogodok sedemikian rupa
harus pergi karena kecelakaan? Kenapa harus dia, kenapa ya Allah?.
Pahit getir telah ditempuhnya, kenapa harus berakhir seperti ini? Ya Allah,
izinkan aku bertemu dengan anakku walau hanya sekejap. Jangan ambil nyawanya.
Anak saya yang terkasih. Ya Allah, tolong selamatkan jiwa anak saya. Saya
ayahnya, izinkan aku menciumnya dalam keadaan hidup. Saya bayangkan dia yang
sedang dalam keadaan koma. "Anakku, kenapa ayah tak bisa berbuat apa-apa disaat
engkau membutuhkan bantuanku. Aku akan datang, aku akan terbang, tunggu ayahmu
nak" kata saya sambil menghapus air mata yang meleleh.
Dengan tulus saya berdo'a dan meminta, dan akhirnya semua urusan diserahkan
pada Illahi.
Ketika saya sampai di pekarangan Bank Danamon untuk mentransfer uang 23,5
juta.. Sebelum turun dari mobil, saya ingin tahu bagaimana keadaan Irdhan,
apakah dia masih bisa ditolong atau kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya
minta informasi ke Bandung menanyakan telepon RS Hasan Sadikin dan IGD.
Begitu petugas IGD saya tanya, "Saya Dr. Suheimi dari Padang kepingin tahu
bagaimana keadaaan anak saya Irdhan yang dapat kecelakaan pagi tadi". Lalu
petugas IGD menjawab, "Apakah bapak disuruh transfer uang?". Rupanya uang ini
memang diperlukan, kata saya dalam hati. Bergegas saya jawab, "belum Pak, tapi
saya sekarang di pekarangan Bank Danamon dan segera akan saya transfer". "kalau
belum jangan kirim dulu pak. Bapak sabar, mungkin ini suatu penipuan, sebentar
akan saya lihat nama-nama pasien yang ada di IGD". Betapa terperangahnya saya
ketika dari gagang telepon itu saya dengar dengan jelas petugas itu berkata,
"Tidak pak, tidak ada yang namanya irdhan, ini hanya suatu tipuan dan telah
banyak orang yang kena tipu semacam ini".
Tidak lama kemudian, telepon saya berdering lagi. "Dr. Suheimi, ini dari Dr.
Hidayat, saya sudah berada di lapangan udara, obat-obat dan alat-alat sudah
ditangan saya. Tapi apakah uang sudah bapak transfer?". Saya jawab, "Sudah",
untuk menggodanya. "Belum ada Pak, belum ada buktinya, apakah anak bapak mau
segera ditolong?". Lalu saya hardik dia, "bajingan kamu". Mendengar kata
bajingan itu telepon diputus dan sejak itu dia tidak pernah menelepon lagi.
Saya langsung sujud syukur, jadi anakku Irdhan tak mengalami apa-apa. Pada
hari ini sebetulnya dia sedang dilantik, ada wejangan dari Jenderal dan ada
pembagian ijazah sehingga sejak pagi HPnya dimatikan.
Ketika siang saya dapat telepon dari Irdhan dengan ceria dia berkata baru
dapat ijazah dan penempatan di KOSTRAD. Kebetulan hanya dia seorang yang
berasal dari Sumatera Barat. "Esok Irdhan mau pulang", katanya sambil tertawa
ceria. Saya senyum, terbesit keinginan di hati saya menceritakan peristiwa yang
menimpa kami itu. Tapi biarlah, besok dia akan datang. Besok dia kan kucium,
akan saya pagut dan akan saya curahkan segenap kasih sayang saya padanya. Akan
saya ceritakan semuanya padanya. Akan saya kadukan padanya bahwa saya hampir
saja tertipu.
Saya sadar dan saya bersyukur, di detik-detik penting tangan Tuhan menolong.
Siapakah yang menggerakkan semua itu. Kenapa pada detik yang menentukan di saat
Ihsan mau menekan tombol OK, lalu datang telepon saya untuk membatalkan? Kenapa
disaat saya akan transfer di Bank Danamon, lalu Tuhan itu seakan berbisik.
tanya dulu ke RS Hasan Sadikin.
Saya tidak mengerti, saya tidak habis mengerti. Tangan-tangan Tuhan selalu
diberikannya pada hambanya yang memohon dan berdo'a. Menjadikan saya lebih
dekat dan lebih dekat lagi dengan Khalik yang mengatur semesta alam ini. Hanya
karena pertolongan Allahlah drama satu babak ini berakhir dengan Happy Ending.
Untuk semua itu ingin saya petikkan sebuah firman suci -Nya dalam Al-Qur'an :
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon
pertolongan. (QS. 1:5)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman
bersamanya : "Bilakah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya
pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2:214)
Katakanlah, "Hai Hamba-hamba-KU yang melanggar batas hingga merugikan diri
sendiri ! Janganlah berputus adas atas rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni
segala dosa, karena Ia Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Q.S. 39Surat Az Zumar (Rombongan) Ayat 53
Siti Hajar adalah istir Nabi Ibrahim as. Saat itu, ia berjalan bolak-balik
berkali-kali di tengah gurun yang tandus mencari air bagi anaknya. Shafa, arti
harfiahnya adalah "kesucian dan ketegaran". Siti Hajar ketika itu berlari
bolak-ballik dari Shafa ke Marwah untuk mencari air. Ia tidak hanya berlari
satu kali lalu berhenti ketika ia tak menemukan air yang diperlukannya. Ia
kembali lagi, dan berupaya lagi. Ketika ia gagal, maka ia beruaha lagi untuk
mencari air yang sangat dibutuhkannya itu. Ketika gagal lagi, ia masih terus
berusaha mencari sambil berlari-lari. Dalam hatinya yang suci dan teguh, ia
hanya ingin menyelematkan anaknya, karena Alah SWT. Ia terus berupaya tanpa
kenal putus asa. Meskpun sekiankali berusaha dan belum juga memperoleh air itu,
ia masih terus berupaya dengan hati yang tegar tanpa kenal lelah. Setelah
sekian kali berupaya, berulah ia menemukan mata air yang dibutuhkannya itu,
atas pertolongan Allah Yang Maha Memberi.
Ini melambangkan suatu presistensi (ketetapan hati), atau upaya tiada kenal
lelah dan tiada kenal henti. Teladan dari sikap Siti Hajar, kemudian diabadikan
oleh Allah SWT untuk mengajarkan manusia tentang pentingnya suatu sikap
"Istiqomah, atau upaya yang tiada kenal henti. Dorongan suara hati dari Al
Muhaimin atau Yang Maha Memelihara dan melindungi anaknya, serta dorongan dari
sauara hati al Matiin atau Yang Maha Menggenggam Kekuatan telah meneguhkan
hatinya untuk kuat menghadapi berbagai rintangan. Inilah teladan yang harus
diambil dari orang-orang yang melakukan Sa'I, dari Shafa ke Marwah, sebuah
contoh konsistensi dan persistensi dalam rangka menjalankan misi Tuhan sebagai
rahmatan lil'alamin.
Tak ada orang sukses tanpa mengalami kegagalan dan perjuangan. Ciri orang
gagal selalu berhenti pada saat ia mengalami hambatan dan kesulitan, sedangkan
orang sukses tidak berhenti pada saat ia belum berhasil. Bagi orang yang
sukses, kegagalan adalah sebuah keberhasilan yan gtertunda. Thomas Alpha Edison
mengalami kegagalan 10.000 kali sebelum ia berhasil membuat bola lampu pijar.
Dan Rasulullah pun mengalami serta melalui berbagai masalah yang sangat berat
sebelum Islam mendunia. Kegagalan harus diterima sebgai sebuah upay
apembelajaran yang membuat anda menemukan sebuah pemikiran, penyempurnaan,
metode dan tujuan yang lebih jelas. Kegagalan dapat diumpamakan sebagai sebuah
batu intan yang belum digosok, semakin sering gagal maka makin sering digosok
dan akan makin bersinar pula batu intan tersebut. Anda tidak perlu kecewa
karena anda bisa belajar karenya.
Kegagalan akan menghapus kebiasaan yang buruk. Kegagalan, akan menghancarukan
kesombongan, sehingga menciptakan sikap yang rendah hati, dan akan meningkatkan
kecerdasan emosi anda melalui sikap terbuka dan persistent. Kegagalan,
ujian/cobaan akan menghasilkan mental yang membaja. Kita butuh kegagalan, untuk
menyempurnakan sikap dan mental kita. Anda harus membedakan antara kegagalan
proses, danb kegagalans suara hati. Kegagalan proses hanya dikarenakan ilmu
pengetahuan kita yang terbatas, akbiat kesalahan-kesalahan teknis yang kita
buat. Namun kegegalan suara hati, adalah sesuatu hal yang paling membahayakan
dan sangat mematikan. Karena dorongan suara hati telah tertutup, akibatnya
tidak ada lagi energi pendorong yang akan membuat diri kita bangkit kembali.
Orang yang beriman dan memiliki ketangguhan pribadi, tidak akan mengalami hal
itu. Ia sudah memiliki kepercayaan diri yang sangat kuat, karena didorong oleh
kekuatan iman yang tangguh. Ia sangat menyadari akan
kebesaran Allah SWT, sehingga baginya, kegagalan hanyalah proses yang haru
diperbaiki saja. Ia memiliki kekuatan dahsyat yang tercipta melalui ucapan
takbir "Allahu Akbar". Inilah yang disebut "Meta Kecakapan" di dalam haji,
yaitu suatu kekuatan yang dilandasi prinsip yang tangguh.
Nilai ridha Allah dalam kegiatan sa'I, justru ketika sedang berjalan dan
berlari, atau ketika berusaha. Semua uapaya dicatata oleh Allah SWT sebagai
ibadah kepda-Nya. Kewajiban manusia adalah berusaha tiada henti, tanpa kenal
putus asa. Allah yang akan memberikan air zam-zam, sebgai simbol berkah rezeki
dan keselamatan.
AQ, atau Adversity Quotient adalah kecerdasan yang memiliki seseorang dalam
mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup. Dengan AQ, seseorang bagai
diukur kemampuannya dalam mengatasi setiap persoalan hidup untuk tidak berputus
asa. Ini adalah penemu karya Pau : G. Stoltz, Ph. D. david Mc Cleland, mengenai
kebutuhan berprestasi, yakni The Need for achievement atau populer disebut
dengan N-Ach. Bahkan stoltz llau memproklamasikan bahwa IQ dan EQ tidak lagi
memadai untuk meraih sukses. Karena itu, passti ada faktor lain berupa
motivasi, dorongan dari dalam, serta sikap njang menyerah. Faktor itu kemudian
disebut Adversity Quotient (Paul G. Stoltz, Ph. D., Adversity Quotient, PT.
Grasindo, Jakarta 2000).
Stoltz membagi tiga tipe manusia, pertama, Quitters (mereka yang berhenti).
Orang-orang jenis ini berhenti di tengah proses pendakian, gampang putus asa,
menyerah. Kedua, Campers (pekemah). Tidak mencapai puncak, sudah puas dengan
yang telah dicapai. Ucapan mereka, "segini sajalah, sudah cukup. Ngapain
capek-capek". Orang-orang ini lebih baik dibanding quitters, sekurang-kurangnya
bisa melihat dan merasakan tanganga. Banyak orang masuk tipe ini, pendakian
yang tidak selesai itu sudah mereka anggap sebagai kesusksesan kahir. Namun
sebenarnya tidak demikian, sebab masih banyak potensi mereka yang belum
teraktualisasi hingga menjadi sia-sia. Ketiga, Climbers (pendaki). Mereka yang
selalu optimistik, melihat peluang-peluang, melihat celah, melihat senoktah
harapan di balik keputusasaan, selalu bergairah untuk maju. Noktah kecil yang
oleh orang lain dianggap sepele, bagi para Climbers mampu dijadikannya sebagai
cahaya penceraha kesuksesan. Ketika ilmu psikologi diperunakannya
sebagai titik pihakan, maka Stoltz menempatkan Climbers pada piramida puncak
hirarki kebutuhan yang disebut dalam teori Maslow sebagai aktualisasi diri.
Sebaliknya mengatakan hal-hal yang sama dengan yang diucapkan orang dahulu
kala.
Q.S 23 Surat Al-Mu'minuun (orang Beriman) Ayat 81
Teori AQ milik Paul G. Stoltz, Ph.D. secara umum justru semakin membernarkan
makna sa'I dari sisi ilmiah, A yang sebenarnya diajarkan ribuan tahun yang
lalu. Siti Hajar adalah tipe climbers sejati, yang mungkin memiliki tingkat AQ
yang sangat tinggi apabila diukur saat itu. Wanita berkulit hitam yang tidak
kenal putus asa dan pantang menyerah. Inilah pesan Shafa,, Marwah dan Siti
Hajar dari Allah SWT. Pesan dari Al Matiin, Tuhan Yang Maha Menggenggam
Kekuatan. Dari Al Qowiyy, Tuhan Sang Sumber Kekuatan. Sumber kekuatan para
cilmbers.
Sekarang marilah ktia berpikir sejenak. Haggar (Siti Hajar dalam bahasa
Inggris) adalah seorang bekas budak berkulit hitam dari Ethiopia. Ia berjuang
di padang pasir yang tandus, seorang diri. Untuk menyelamatkan putranya,
Ismail. Perhatikanlah kata-kata kunci berikuti ini ; bekas budak, berkulit
hitam, seorang diri ; Padang Pasir tandus ; panas terik; berlari-lari dari
Shafa ke Marwan ; tujuh kali.
Mengapa Allah memilih dia, Siti Hajar ? yang diikuti umat manusia ketika
bersa'I.ini menjelaskan bahwa ketika kemampuan logika sudah habis (putus asa),
atau bisa dikatkan sudah kehabisan akal di tengah padang pasir. Kondisi ini
dilambangkan dengan seorang wnaita bekas budah, bekrulit hitam, di tangah
padang pasir yagn tandur. Dan seorang diri. Bagiamana mungkin seorang Climbers
gaya Stoltz (AQ) masih bisa melihat "noktah" sebagai cahaya pencerah kesuksesan
saat itu.....? Kala otak atau IQ tidak melihat harapan di tengah padang pasir.
Ketika emosi (EQ-Daniel Goleman dan Robert Cooper) sudah berputus asa di sana.
Saat AQ (Adversity Quotient-Stoltz) tidak bisa lagi meluihat peluang. Ketika
proaktifnya Stphen Covey pupus. Kala berpikri besarnya Schwartz menciut. Saat
pikiran bawah sadarnya Napoleon Hill Hancur. Dan ketika siti Jahar seorang diri
di tengah padang pasir. Apa yang diyakininya ? Apa cahaya harapan itu ? Itulah
cahaya Allah.
Cahaya pencerah hidayah, dari Al Wahhaab, Sang Pemberi. Dialah kekuatan yang
abadi, tidak hanya untuk Siti Jahar, tetapi pelajaran bagi seluruh umat
manusia. Dalam Shafa dan Marwah, air zam-zam dilambangkan sebagai wujud
kekuatan dan kekuasaan Allah. Kekuatan pantang menyerah dari Al Matiin dan Al
Qowiyy. Lambang ketidakberputusaan manusia. Dan lambang eksistensi Allah SWT.
Sungguh, Shafa dan Marwah merupakan sebagian Syi'ar Allah. Maka barangsiapa
beribadah haji ke Batullah atau ber-Umroh, tidalah salahnya di berthawaf
mengelilingi kedeanya/ dan berangsiapa atas kemauan sendiri berbuat kebaikan,
sungguh, Allah Maha Berterima kasih,
Maha Tahu.
Padang, Selasa 6 Agustus 2002
Tulisan ini dapat dilihat di Website WWW.ksuheimi.blogspot.com
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---