Assl Dunsanak kasadonyo,

Ambo maraso tatariak pulo untuak partisipasi bicara 
pariwisata, sekedar
untuak wawasan kito kito kasadonya, syukur2 ado nan 
berwenang menangani pariwisata dan budaya di Sumatra 
Barat.

Wakatu ambo masih ketek2 dulu, paranah dicaritokan urang 
tuo kito,
konon kabanyao Urang awak di zaman Balando dulu dikenal 
sebagai nan mampunyoi IQ no satu diantaro suku2 lain di 
saantero Indonesia, Disamping itu kito taupulo alam sumbar 
kito nan indah nan paralu dikelola
secara profesional supayo mandatangkan pandapatan bagi 
Sumbar.
Lain carito Sumbar memiliki adat istiadat nan lain dari 
yang lain, yang bisa
dikomersilkan untuk pariwisata. Nah mampapendek carito, 
apo muungkin
nagari kito nan alah kembali ka sistim nagari tu 
dikembangkan kembali,

1. Baa caronyao supayo Sumbar bisa kembali menjadi central 
of excellence.
     Buek mutu universitas yang berkualitas tinggi, 
sahinggo urang provinsi
     atau nagari lain datang ka Sumbar untuk kuliah 
seperti Balando atau
     Belgia dsb.( Negara ketek tp pelajar asing nyo banyak 
).

2. Barangkali pemda bisa mambuek program pariwista yang 
teriintegrasi,
     sehingga menarik para turis.
     Contoh ambo pernah beberapa kali mengadakan 
seminar/training di Htl
     matohari tabik, alamnya luar biasa, tp disana tdk ada 
acara yang
     menarik yang dibuek oleh pemda untuk manarik turis.
     Kalau sekedar hanya alam nanindah hotel nan indah 
untuk lalok sajo
     tantu kurang manarik para turis.
3. Masayarakaik kito kini lah kurang ramah (not service 
oriented ).
     Kalo kito ingin manggalakan pariwisata masyarakat hrs 
di didik sifat2
     nan service oriented ( beda jo badagang biaso ).Dulu 
ex PM mentri Lee
     Kwan yew, Singapore mancanangkan iko th 74, karano 
inyo maraso
     urang Singapore wakatuitu kasa2 dan kurang ramah, 
dilain pihak inyo
     ingin mencanangkan Singapore menjadi pusat 
perdagangan, dan pusat
     keuangan internasional.

     Ambo acok pulang ka padang dan menginap di berbagai 
hotel, rasonyo
     pegawai htl kito di Sumbar barek bana untuak 
mengucapkan salamaik
     pagi, siang malam dsb.
     Bukan awak minta di hormati, tp itu lah etik 
pariwisata.
4. Kalau bisa Anthropology kito mengembangkan kembali 
budaya minag
    dan memasyarakatkan kembali.
     Salah satu daya tarik Bali oleh para turis adalah 
budayanyo nan babeda
     dg yang lain. tp hrs bana2 diterapkan oleh masyarakat 
kito, bukan
     hanyo sekedar ilmu yang dipelajari.

Mudah2 an ado manfaatnya, kalau ado nan salah kato ambo 
mohon maaf

MusMaszdi


   










On Sat,  1 Sep 2007 03:29:33 -0500
  "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Ass Wr Wb Pak Chaidir,Sanak Nofiardi,sarato dunsanak 
>Kasadonyo,
> 
> Tarimokasih banyak Sanak Nofiardi,atas kiriman infonyo.
> Terus terang sajo,ambo sangat percaya kalau Pak Gubernur 
> Gamawan Fauzi itu punya visi dan misi Pariwisata yang 
>baik 
> untuk Sumatera Barat.
> 
> Tetapi sepertinyo beliau itu kurang mendapat dukungan 
>untuk 
> mensupport beliau untuk mewujudkan visi dan misi 
>Pariwisata 
> Sumatera Barat itu,terutama dukungan dari dalam Sumatera 
>Barat 
> sendiri, karena belum terbentuknya "Mind Set" atau 
>kesadaran 
> akan manfaatnya pariwisata itu bagi masyarakat secara 
> luas,seperti yang disitir dalam Rakor terlampir.
> 
> Contoh sederhana saja,masih banyak masyarakat Sumbar 
>yang 
> menganggap wisatawan yang datang ke Sumbar itu payi 
>malagak2 
> kepado urang kampuang nan byk yang sadang susah,pamer2 
> kekayaannya,wisatawan sok2 jadi rajo yang harus 
> diladeni,...dst..dst..
> Padahal di balik anggapan itu semua,sesungguhnya 
>wisatawan itu 
> membawa uang yang tidak sedikit untuk dibelanjakan di 
>Sumatera 
> Barat yang tentunya merupakan peluang "income" bagi 
>Sumbar 
> secara luas...yang akan menciptakan lapangan kerja yang 
>cukup 
> luas juga nantinya...
> 
> Untuk itulah sebetulnya Sumatera Barat itu sangat 
> membutuhkan "tool" atau "media Pariwisata" yang akan 
> mempercepat mengedukasi masyarakat secara luas dan untuk 
> membentuk Mind set Pariwisatanya.
> 
> Dan salah usulan saja yaitu mungkin hal itu dapat 
>dilakukan 
> melalui "Channel TV Khusus Pariwisata Sumbar".Mungkin 
>untuk 
> sementara waktu dan sebagai tahap uji coba,Channel TV 
>Khusus 
> Pariwisata Sumbar ini bisa bekerja sama dulu dengan TVRI 
>SPK 
> Padang.
> 
> Mungkin sebagai bahan perbandingan saja, betapa 
>banyaknya biaya 
> iklan yang telah dikeluarkan oleh Hotel2 melalui 
>koran2,iklan 
> Penerbangan Garuda/Lion/Mandala/Air asia di halaman 
>belakang 
> koran2,iklan melalui Sign Board2 di  Bandara dan di 
>pinggir2 
> jalan utama, dsb.
> 
> Sudah barang tentu Iklan2 tsb tentunya tidaklah 
>gratis,malah 
> bahkan memakan biaya yang sangat besar sebetulnya.
> 
> Nah disini sebetulnya ada peluang untuk mengarahkan 
>biaya2 
> iklan pelaku pariwisata,seperti Hotel & dsb,  ke 
>"Channel TV 
> Pariwisata" di Sumbar sebetulnya.
> 
> Dengan adanya "Channel TV Khusus Pariwisata Sumbar" di 
>Sumbar 
> nantinya, sedikit banyaknya akan memberikan efek edukasi 
>yang 
> luas dan cepat terhadap pembentukan mind set pariwisata 
> masyarakat Sumbar nantinya dan juga lain daripada itu 
>jangkauan 
> promosinya dari Hotel dsb,yang membayar iklan tentunya 
>juga 
> akan sangat luas sekali.
> 
> InsyaAllah nanti ambo pribadi akan mencoba menjajaki ke 
>arah 
> ini.Tetapi kalau ada diantara dunsanak yang 
>berminat,silahkan 
> maju duluan...
> 
> Sudah saatnya orang minang sekarang merobah prilaku dari 
>banyak 
> mengkritik dan berbicara...kepada banyak bekerja dan 
>mencoba. 
> 
> Seorang Professor Jepang pernah berkata"Kemajuan yang 
>dicapai 
> Jepang sekarang,bukanlah hasil dari berfikir keras 
>tetapi 
> adalah hasil dari bekerja keras.
> 
> Demikian saja,semoga urung rembug yang sedikit ini ada 
> manfaatnya.
> 
> Wassalam,
> Kurnia Chalik   
> 
> 
> Date: 1-Sep-2007 11:45:32 +0900
>From: "chaidir latief" <[EMAIL PROTECTED]>
> Reply-To: <[email protected]>
> To: <[email protected]>
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Membangun Pariwisata
> 
> RASONYO NAN LANGSUNG BERTANGGUNG JAWAB ALIAS DINAS DAN 
>KEPALA 
> DINASNYA YANG HARUS DIBENAHI LEBIH DAHULU
> 
> Ch N Latief
> 
> ----- Original Message ----
>From: Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Saturday, September 1, 2007 8:48:01 AM
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Membangun Pariwisata
> 
> Membangun Pariwisata 
> Sabtu, 01-September-2007, 08:14:24
> Telah dibaca sebanyak 1 kali
> 
> Rapat koordinasi (Rakor) Pemprov dengan Pemkab/Pemko 
>se-Sumbar 
> di Gedung Pustaka Bung Hatta, Minggu (26/8) s.d. Senin 
>(27/8) 
> lalu menghasilkan 11 rumusan untuk pengembangan 
>pariwisata. 
> Dalam Rakor tersebut Gubernur Gamawan Fauzi mengharapkan 
>agar 
> 10 daerah destinasi wisata di Kabupaten/ Kota di 
>Sumatera Barat 
> segera menyusun konsep pengembangan pariwisata 5-10 
>tahun ke 
> depan.  
> 
> Di samping itu, daerah destinasi ini mesti fokus pada 
> pengembangan satu obyek wisata saja yang bisa 
>diunggulkan dan 
> memiliki prospek masa depan. Sehingga, 5-10 tahun ke 
>depan, 
> Sumbar mampu memposisikan dirinya menjadi tiga provinsi 
>yang 
> memiliki obyek wisata berskala nasional. Rakor tersebut 
> setidaknya merupakan sebuah kesadaran dari pemerintah 
>daerah 
> bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu sektor 
>strategis 
> dalam mendongkrak kemajuan pembangunan daerah ini. Bila 
> dirunut, sebetulnya banyak hal yang mesti dibenahi dalam 
> pengembangan pariwisata Sumbar. Mulai dari membangun 
>kesadaran 
> dan pola fikir masyarakat (mindshet), infrastruktur 
>pendukung, 
> integrasi pengembangan pariwisata kabupaten/kota di 
>Sumbar, dan 
> lain sebagainya. 
> 
> Selama ini bagi pejabat di dinas terkait ada semacam 
>persepsi 
> bahwa untuk mengembangkan pariwisata, harus dimulai 
>dengan 
> promosi ke luar negeri. Maka, untuk mendukung persepsi 
>ini, 
> berlomba-lombalah mereka ke luar negeri. Hasilnya, dana 
>daerah 
> habis terkuras, sementara nilai tambah (value added) 
>bagi 
> pengembangan pariwisata daerah justru nol besar. Jumlah 
> wisatawan yang berkunung ke daerah tak kunjung naik. 
>Ketika 
> wisatawan sampai di objek wisata, tak sedikit keluhan 
>yang 
> mereka rasakan. Objek wisata yang kotor, fasilitas umum 
>tak 
> ada, bahkan hingga ke pelayanan yang mereka dapatkan 
>juga jadi 
> keluhan. Lalu, sebetulnya dimana letak persoalannya ? 
>Dari mana 
> kita harus memulai? Jawabannya adalah, dimulai dari 
>membangun 
> pola fikir (mindshet) dan persepsi yang sama tentang 
>pariwisata 
> dari semua elemen di daerah ini. Bila masih ada yang 
>menganggap 
> pariwisata identik dengan maksiat, maka sudah pasti 
>pariwisata 
> daerah ini tidak akan pernah berkembang. Pola fikir 
>pejabat 
> daerah ini termasuk Kabupaten/Kota juga harus diubah. 
> 
> Mereka harus berfikir terintegrasi. Tidak saatnya lagi 
>kita 
> berfikir parsial dan terjebak dalam semangat kedaerahan 
>dalam 
> arti sempit. Pariwisata Sumbar harus dilihat secara 
> terintegrasi dan sinergi. Bicara pariwisata, yang harus 
> ditonjolkan adalah "brand" Sumbar-nya, buka Sawahlunto, 
>bukan 
> Bukittingi, bukan Padang dan lainnya. Yang dapat kita 
>jual ke 
> luar itu adalah nama Sumbar dengan keragaman budaya dan 
> potensinya. Bilamana sudah ada persepsi yang sama 
>tentang 
> berfikir terintegrasi, barulah kemudian kita melangkah 
>ke 
> infrastruktur dan pengembangan objek wisata. Di Sumbar, 
>mesti 
> ada sebuah objek wisata yang diunggulkan dan menjadi 
>lokomotif 
> bagi industri pariwisata daerah ini. Artinya, untuk 
>tahap awal 
> Sumbar cukup memiliki satu saja objek wisata unggulan 
>dan 
> dibanggakan. Samahalnya dengan Sumatera Utara, orang 
>akan ingat 
> Danau Toba. Namun, orang tetap pergi ke Berastagi. 
> 
> Begitu pula bila ke Bali, orang akan ingat pantai Kuta, 
>tapi 
> mereka tetap pergi ke Tanah Lot, Pantai Nusa Dua dan 
>objek 
> wisata lainnya. Karena itu, bangunlah dulu satu saja 
>objek 
> wisata unggulan, arahkan anggaran secara maksimal bagi 
> pengembangan infrastruktur objek tersebut. Sudah saatnya 
> pariwisata daerah ini bangkit. Sumbar bakal tidak akan 
>maju, 
> manakala orang-orang di daerah ini hanya memikirkan 
>diri, 
> kelompok dan daerahnya. Belajarlah ke Malaysia yang 
>dengan 
> taggline "Malaysia Trully Asia", mampu menyedot 
>wisatawan. 
> Perlu digarisbahwahi, bahwa membangun pariwisata harus 
>dimulai 
> dengan membangun mindshet dan budaya, bukan promosi dan 
>proyek. 
> (***) 
> 
> 
> 
> > 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke