"Selama Umat Islam masih mempersoalkan aurat dan halal-haram, Umat Islam 
tidak akan maju-maju." Demikian antara lain tulis Lutfi Assyaukani dalam 
salah satu postingnya di milis JIL. Walaupun Lutfi bukan tokoh favorit 
saya, IMO, pendapatnya itu tidak sepenuhnya salah.

Tapi aurat itu apa sih?

Indah, sekretaris proyek infrastruktur tempat saya bekerja sebelum ini 
sesuai betul dengan sosoknya, ya penampilannya, ya kepribadiannya. Dan 
tentu saja sangat professional. Indah selalu berpantalon, sehingga 
lekuk-lekuk tubuhnya tidak terlalu terlihat. Rambutnya yang panjang dan 
hitam dibiarkannya tergerai ke belakang. Make-upnya seadanya saja. 
Sebagai seorang muslimah, Indah taat beribadah.

Apakah saya tidak mempunyai ketertarikan seksual kepada Indah? Tidak 
sukar menemukan jawabannya. Walaupun Indah seusia anak saya, Indah 
mempunyai wajah menarik dan dia bukan muhrim saya, sedangkan saya adalah 
pria normal. Namun sebagai seorang yang selalu mencoba mengamalkan 
ajaran-ajaran agama yang saya anut, saya sudah lama melatih diri saya 
untuk "menundukkan pandangan" terhadap apa yang dapat menimbulkan 
"fantasi-fantasi liar" dalam fikiran saya. Terhadap Indah saya merasa 
tidak perlu sering-sering "menundukkan pandangan" saya.
Iput, sekretaris kami di Banda Aceh memiliki kecantikan perempuan Aceh 
yang eksotik. Sebagai pemula dan tidak memiliki pendidikan formal 
kesekretariatan, pekerjaan Iput yang lulusan D-3 ekonomi itu cukup 
bagus, dan perilakunya santun. Sebagai muslimah Iput hampir selalu 
shalat tepat waktu. Sesuai dengan aturan yang berlaku di NAD, Iput tiap 
hari berjilbab. Tetapi dengan tidak mengurangi rasa hormat saya 
kepadanya, kalau Iput lewat di depan meja saya, atau kebetulan berjalan 
membelakangi saya, saya sering terpaksa "menundukkan pandangan" saya.

SWGL (So what gitu lho)?

Setiap hari Sabtu dan Minggu belakangan ini saya punya kebiasaan, shalat 
Zuhur di Masjid Baiturrahman yang bersebelahan dengan Pasar Aceh yang 
hanya berjarak lebih kurang 500 meter dari tempat kosan saya. Setelah 
itu makan siang di restoran Padang yang masakannya gulai tunjangnya 
sangat cocok dengan lidah saya yang Minang totok ini.

Nah Iput sering berbusana seperti kebanyakan anak-anak perempuan sesusia 
dia yang banyak berlalu-lalang di Pasar Aceh, berjilbab, bercelana jin 
atau katun yang ketat dan blus setengah badan dengan belahan di kiri 
kanan, sehingga hampir tidak ada ruang antara kulit dan pakaian yang 
membungkusnya. Dan Iput yang berpostur langsing itu adalah perempuan 
yang tidak saja dianugerahi Tuhan wajah yang menawan, tetapi juga 
pinggul yang penuh dan pangkal kaki yang berisi.

Sebagai seorang yang punya dua anak gadis yang sudah dewasa, saya paham 
sekali, bahwa Iput dan jutaan gadis seusia dia sangat ingin tampil modis 
dan cantik. Bedanya, kedua anak gadis saya punya banyak pilihan yang 
saya dan mama mereka perbolehkan: rok tidak boleh di atas lutut, tidak 
boleh ketat dan tidak boleh berdada rendah dan tidak berlengan, 
sedangkan Iput dan ribuan Iput lainnya di Aceh tidak. Iput dan ribuan 
Iput lainnya di Aceh, sesuai dengan kententuan "syariat" harus menutup 
seluruh badan, dari rambut sampai ke ujung kaki.

Tetapi apakah Iput dan ribuan Iput lainnya di Aceh memilih berbusana 
seperti yang saya kemukakan di atas sekedar ingin tampil cantik dan 
modis seperti jutaan anak-anak gadis lainnya di dunia, atau merupakan 
suatu protes yang diam terhadap perlakuan yang mereka rasakan tidak adil 
terhadap perempuan atas nama "syariat Islam", belum jelas benar bagi saya.

Dan aurat itu apa sih sebenarnya?

Pasar Aceh itu bersebelahan dengan Masjid Baiturahkman. Dan para ulama 
tentu bukannya tidak tahu, bahwa pakaian yang banyak dipakai perempuan 
muda yang berlalu lalang tidak jauh dari Masjid tersebut yang 
menempilkan bentuk tubuh mereka "dengan sempurna" itu tidak memenuhi 
ketentuan Islam mengenai aurat. Tetapi mereka hampir tidak berdaya 
mencegahnya, kecuali mengecam dalam khotbah-khotbah Jumat.

Dulu di awal-awal pemberlakuan SI di Aceh, sering dilakukan sweeping 
oleh polisi syariah, yang di sana disebut Wilayatul Hisbah (WH), yang 
sering main "tangguk rapat". Perempuan setengah baya yang berjualan mie, 
karena hanya mengenakan songkok, bukan kerudungpun disikat. Tetapi 
sesekali sweeping juga dilakukan oleh Polisi atau TNI, dan alaamaak, 
beberapa anggota HW tertangkap basah melakukan perbuatan tidak tepuji. 
Akhirnya WH pun kehilangan taji, dan hampir jarang nongol lagi di 
tempat-tempat umum.

For sure, saya tidak anti jilbab dan juga tidak anti syariat Islam, 
tentu saja. Isteri saya berjilbab, dan itu membuat saya bahagia.

Yang saya persoalkan adalah begitu banyaknya waktu yang dihabiskan umat 
untuk masalah aurat (baca jilbab), sehingga waktu yang tersisa untuk 
mengatasi keterbelakngan umat yang tampak sangat nyata, sangat kurang.

Yang saya persoalkan adalah monopoli tafsir. Ketika pakar Al Quran Prof 
Dr Qurais Shihab mengatakan bahwa bahwa jilbab tersebut masalah 
khilafiah, beliaupun diserang ramai-ramai.

Di Jakarta, perempuan berjilbab sama sekali bukan pemandangan langka, 
termasuk di kalangan profesional. Di proyek infrastruktur tempat saya 
bekerja dulu itu, ada dua insinyur perempuan alumni ITB, dan dua-duanya 
berjilbab. Mereka biasanya mengenakan celana panjang longggar dan baju 
longggar sampai lutut, sehingga bentuk badan mereka tidak kentara. 
Kadang-kadang mereka juga mengenakan celana jin tetapi tetap mengenakan 
baju longggar sampai lutut. Mengapa begitu genah, karena mereka memilih 
berbusana yang menutup aurat atas kesadaran sendiri, bukan karena diatur 
oleh Perda, dan bukan karena takut kena sweeping polisi syariah.

Saya jelas tidak anti syariat Islam. Menurut saya adalah aneh kalau ada 
muslim yang anti syariat Islam. Yang saya persoalkan adalah formalisme, 
pemberlakuan syariat Islam, dengan peraturan yang bersifat memaksa oleh 
Negara.

Dalam ayat Kursi yang hapal di luar kepala sebagian besar kaum muslimin 
Allah SWT dengan tegas antara lain berfirman: "....Kepunyaan-Nya apa yang 
di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah 
tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di 
belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa".

Tetapi ada saja yang merasa diri mereka sebagai "Pembela Tuhan", yang 
khawatir kalau Tuhan dikalahkan oleh rambur perempuan.

Tapi apalah awak ini.

Wassalam, Darwin
Untuk Superkoran


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke