Sangat menarik, terimakasih  karena uda sudah membuka mata kami untuk
bisa lebih berpikir objektif tanpa emosi....




--- In [EMAIL PROTECTED], Arlen Ara Guci <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamualaikum wr wb 
>   Hhmm...membaca milis yang ttg malaysia ini, sy seperti
mentertawakan diri sy sendiri. Karena saat menulis mail ini saat badan
sy sdg berada di Malaysia.
>   Membaca kisah sdr Budiman Bachtiar Harsa (37), prihal Kekerasan
pada WNI di Malaysia, pertama sy cukup prihatin dan tentunya berharap
kejadian serupa tak terulang lagi dan tak menimpa sesiapa lagi.
>   Kalau boleh sedikit sy tuangkan di sini, Malaysia memang syarat
dengan peraturan. Ya bak kata pepatah, lain pada lain belalang, lain
lubuk lain ikannya. Begitu pula kiranya antara Indonesia-Malaysia
(walau kita selalu sebut dan agungkan kita serumpun).Tapi tidak
berarti atas nama keserumpunan itu, kita beranggapan kita ada
kelonggaran atau apapun namanya bila telah menginjakkan kaki di negeri
jiran. walau apapun bentuk kunjungan,  haruslah diri dilengkapi dengan
surat dan dokumen perjalanan yang syah. Ya, paspor, visa tinggal
sementara buat yang jalan-jalan/turis, permit kerja yang sah bagi yang
 kerja/TKI. Hal ini harus kita junjung tinggi, karena ini negara orang. 
>   Nggak bisa dong, kita hanya unjuk KTP bila Polisi Malaysia lagi
bertugas dan nanyain surat2 perjalanan/visa kita. Itu mereka lakukan
tentu atas nama tugas negara dan memelihara kestabilan keamanan
malaysia. Bukan untuk menginterogasi yang bukan2, atau apalah namanya. 
>   Ya, walau kita tak terbiasa diperlakukan begini, tapi sekali lagi
ini negara orang bukan? jadi  mau tak mau, suka tak suka, patuhi
peraturan negara nya dong? 
>   Namun bila sampai terkesan kasar, apalagi ada tindakan fisik, kita
juga boleh kok melaporkan  oknum polis itu ke balai polis, kalau
memang nyata kita benar, tapi masih diperlakukan tak wajar  oleh
polisi malaysia. Toh, atasannya juga tak segan2 memberikan hukuman
setimpal kalo ada  yang melanggar aturan dalam bertugas.
>   Saya tulis ini bukan bermaksud membela pihak manapun. Hanya
sekadar melihat apa dan bagaimana hukum dan peraturan dijunjung tinggi
di Malaysia. (coba dech bedakan dengan negara kita, hmmm...)
>   Saya tak hendak mencabik baju di dada atas tulisan ini. Juga tak
hendak menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri atas kasus2 yang
menimpa WNI di negeri ringgit ini. Nyaris 1 tahun sy di sini, kalau
boleh jujur, kesalahan yang menimpa beberapa WNI  (utamanya yang
berstatus TKI) adalah ulah kita sendiri. Kebanyakan surat2 kerja tak
lengkap, permit kerja tak ada, atau datang ke malaysia ini begitu
saja/tepatnya imigran gelap, atau melakukan tindakan kriminal. (kalau
ada pembaca yang  berdomisili di Malaysia, tentu akan sangat akrab dg
tayangan program 999, di TV 3 setiap kamis malam) yang dipandu dg
sangat lugas dan cerdas oleh  Zakia Annas. Di situ akan dapat
disaksikan bagaimana polis malaysia, pejabat imigresen dan dibantu
relawan rakyat Malaysia kerap memburu para TKI yang nyata2 datang ke
Malaysia secara haram. 
>   Mencari hidup di negara sendiri aja perlu surat dan bukti diri
yang syah, apalagi di negeri orang kan? Kalau kita mau jujur lagi,
kebanyakan TKI yang datang ke Malaysia, apa mereka dibekali skill yang
memadai? Jadi, bisakah kita jujur pada diri sendiri?
>   So, siapa sebenarnya yang patut kita sadarkan? Kalaulah kita ikuti
aturan main negeri jiran ini, enak juga kok hidup di sini. sy kutip
ucapan salah satu TKI yang pernah di tayang di RTM 2, dalam iklan
layanan masyarakat Malaysia,
>   "Di Malaysia ni, boleh tahan la. Kita keje 1 hari je, bole makan
buat 1 pekan la, kalo kat indon, kita tak bole. susah sikit la."
>   Kira2 artinya begini, " di malaysia ini oke la. kita bekerja 1
hari saja, bisa makan buat 1 minggu, kalau di Indonesia, kita nggak
bisa. susah sedikit la."
>   Tiada maksud sy untuk menyalahkan pihak  manapun. Hanya sekdar
menghimbau kepada diri sy utamanya, dimana bumi di pijak, disitu
langit di junjung. Apalagi di Malaysia ini negerinya berbilang kaum.
Ada 3 etnis besar; Melayu, China, India.
>   Hanya saja kadang, kita tak terlalu kuat untuk menerima kesalahan
kita! itu yang menjadi puncanya. Kita merasa selalu benar. Kita selalu
tak salah. Wallahualam.
>   Selalu lengkapi diri dengan surat2 yg syah bila melakukan
perjalanan! Mungkin itu visa yang syah, permit bagi yang bekerja bila
di negara orang. Utamanya di Malaysia. Tak susahkan membawa
kemana-mana hanya sebentuk visa, secarik permit. Nggak berat kok!
>   Bila terjadi juga apes/kemalangan dalam bentuk apa jua, ya anggap
sajalah takdir!
>   Mengutip kata2 Kang Ebiet G Ade, "...Anugerah dan bencana, adalah
kehendak-Nya. Kita mesti tabah menjalani.."
>   Karena dengan memberikan penilaian negatif kepada sesiapa jua, sy
pikir, ini bukan solusi terbaik. Bagaimana kita akan menjadi bijak,
kalau selalu saja kita lebih cakap menilai keburukan orang lain,
ketimbang diri kita sendiri (ini imbauan khusus untuk diri saya
sendiri tentunya).
>   Oh iya, terkait tindakan fisik oleh polis malaysia kepada wasit
indonesia (sy baru dapat info dari detik.com dan denger beritanya di
berita tv 3), sy pikir, jangan dijadikan muatan untuk menimbulkan
perpecahan. (kadang orang selalu saja lebih senang memancing di air
keruh). Walau seumpama sudah jelas siapa yg salah, apakah menanam
bibit kebencian apalagi
>    berhembus angin permusuhan akan menyelesaikan masalah? Harga diri
takkan bernilai bila dilandasi dengan emosi semata.
>   Mari selalu mencoba meredam perkara dengan jiwa tenang dan hati
yang bersih. Apalagi mau bulan puasa kan? Apapun itu, my love is my
country, Indonesia. Khususnya, taratak dan tapian tampek mandi, ranah
minang tercinta
>   Mohon maaf bila ada kata-kata tak berkenan 
>   Wassalam wr wb 
>    
>   Jadi, patutkah kita melayangkan penilaian yang negatif kepada
Malaysia?   
> dutamardin umar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>     Dari milis sebelah,
>    
>   bukan bermaksud memanas2i, untuk sekedar tahu ajah...
> 
> 
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Aug 29, 2007 5:35 PM
> Subject: Kekerasan pada WNI di Malaysia (hati-hati Promosi Wisata
Malaysia!)
> 
> (dari milis Pantau):
> ==========================
> 
> Nama saya Budiman Bachtiar Harsa37 tahun,, 
> WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di
> Jakarta.
> 
> Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN
> kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
> "Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
> Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.
> BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga
> WISATAWAN.
> 
> Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
> anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke
> Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke
> negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan
> imigrasi).
> Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke
> Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
> anak-anak gembira.
> 
> Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal.
> Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata
> sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.
> Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan
> anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
> menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel.
> Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara
> malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
> Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.
> Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC
> medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin
> Tower.
> 
> Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton
> berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri.
> Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri,
> saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang
> "Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
> jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka
> memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak
> sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same
> language, saya dan istri bisa berbahasa inggris,
> negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
> passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT,
> entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya,
> sementara seorang rekannya tetap memaksa saya
> mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak
> sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
> dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya
> :"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis,
> wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
> polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:
> KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?
> 
> Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap
> tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL
> untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba
> memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel?
> "... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan
> ipar saya yg pulang duluan ke hotel.
> 
> Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi
> kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
> tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us.
> Saya kurung kalian...
> 
> Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka
> ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka
> habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis
> meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama
> saja...
> 
> Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo
> polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya
> tertulis nama: Rasheed.
> 
> Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang
> mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka
> berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis
> malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan
> orang ujung2nya merampok?
> 
> Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami
> untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman
> melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu
> mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
> dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
> mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun
> dicegah polisi berseragam.
> 
> Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk
> membuktikan identitas diri. saya langsung setuju,
> namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.
> Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko
> Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
> menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi
> preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
> if those indon run, just shoot them... katanya sambil
> menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu,
> ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
> yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu".
> Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.
> 
> Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan
> saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak
> Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
> Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang
> menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
> Business class pada Flight Malayasia Airlines.
> Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan
> bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.
> Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya
> sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan
> "membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
> malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di
> negeri sial ini).
> 
> Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin,
> berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko
> Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
> Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP
> P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.
> Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk
> tidak merekam wajah mereka.
> Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan
> sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat
> ini, tanpa berjabat tangan.
> 
> Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
> membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent
> agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan
> siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan
> dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.
> 
> Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000
> WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa
> bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir
> dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain
> mengalami hal yg sama.
> 
> Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya
> pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja
> bisa dihajar polisi Malaysia.
> Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan
> dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus
> sedih.
> 
> Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,
> WNI diperlakukan seperti Kriminal.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>        
> ---------------------------------
> Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!
> >



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke