Kalau alah pernah baco dihapus sajo.. Dari kompas.com
*Ekonomi Sirkulasi dan ECM * *Rhenald Kasali* Seminggu terakhir ini kita membaca berita, antrean truk pengangkut kebutuhan sehari-hari di pelabuhan Merak sudah mencapai 15 hingga 20 kilometer. Untuk mencapai kapal, masing-masing truk butuh waktu 3 sampai 4 hari karena kekurangan kapal feri. Pertanyaannya mengapa hal ini tidak diantisipasi? Tentu saja antrean panjang itu bukanlah satu-satunya berita penting belakangan ini. Ia muncul bersamaan protes luas masyarakat terhadap ketentuan tarif tol dan antrean panjang ibu-ibu yang enggan mengikuti program konversi BBM. Selain minyak tanah, rakyat juga pusing melihat penataan pasokan minyak goreng yang harganya melompat-lompat. Semua kejadian itu silih berganti dari pasokan garam, gula, beras, pupuk, semen dan lainnya. Satu diberesi, yang lain bermasalah. Pengambil kebijakan lebih tertarik dengan solusi sesaat, terutama instrumen makro. Itulah keadaan logistik kita. Asam uratnya adalah antrean panjang di pelabuhan dan datang dan perginya sembako sesuka hatinya. Sedangkan ginjalnya adalah Supply Chain Management (SCM) yang menghambat sirkulasi logistik nasional. SCM kita terkesan amburadul, kuno, banyak penyakitnya dan kinilah saat diperbaharui. *Jalan Rusak Ongkos Mahal* Pepatah lama mengatakan, "hanya ikan mati yang terbawa arus". Ia hanya bergerak ke mana arus membawanya, kepentok-pentok, hancur perlahan-lahan. Logistik nasional tentu saja bukan ikan mati karena ia bergerak mengikuti kehendak pemilik barang dan konsumennya. Tetapi, bagai ikan di sungai, ia juga dapat mati, kalau pemerintahnya membiarkan mata rantai itu tersumbat di sana-sini. Untuk menghidupkannya, pemimpin bangsa membangun sebuah tulang punggung (backbone) yang menghubungkan titik di ujung sana dengan titik di ujung lainnya. Daendles misalnya, dulu membangun jalan yang menghubungkan Anyer dengan Panarukan. Setelah itu, Jawa pun mulai tertarik dengan jalan kereta api. Jalan-jalan itu semua dibangun bukan semata untuk kepentingan angkutan manusia, melainkan untuk mendukung ekonomi sirkulasi. Dalam tradisi Indonesia modern, entah kenapa transportasi darat lebih dikembangkan untuk kepentingan perjalanan manusia ketimbang angkutan kebutuhan pokok. Jalan tol pertama yang dibangun sangat indah adalah Jagorawi, menghubungkan Jakarta dan Bogor. Di jalan ini, setiap hari, lebih banyak mobil pribadi daripada truk-truk pengangkut barang. Jalan tol Cipularang pun demikian. Jembatan timbang diadakan untuk mencegah kerusakan jalan, bukan untuk mencatat dan mengkontrol statistik perpindahan barang. Pemerintah daerah juga lebih tertarik meremajakan bandara untuk menjemput tamu dari pusat, daripada memperbaharui pelabuhan dagangnya. Selain itu, untuk angkutan truk-truk, tanpa disadari, feri-feri yang tersedia, bukanlah yang terbaik, tua-tua. Jalan penghubung antara kota di setiap pulau (Trans Sumatera, Trans Kalimantan dan Trans Sulawesi) lebih sering terlihat rusak sehingga ongkos angkut bahan pokok jadi mahal sekali. Untuk Kalimantan Barat, orang lebih baik mengambil semen di Jakarta daripada mengambil dari pabriknya di Kalimantan Selatan. Logistik itu sering pula dijarah preman dan kena pungutan liar. Jadi tidak mengeherankan kalau ongkos angkutan sembako di Indonesia tinggi sekali. Untuk mengangkut kontainer 40 feet dari Turki saja ke Jakarta ongkosnya 800 dollar AS (sekitar Rp 8 juta) tetapi untuk mengirim bahan pokok dari Jakarta ke Aceh kita perlu memecahnya ke dalam 2 peti kemas ukuran 20 feet. Masing-masing kontainer itu ongkos angkutnya saja untuk menjangkau Medan sudah Rp 7 juta. Dari Medan ke Aceh, butuh lagi Rp 7 juta. Jadi untuk ongkos angkut Jakarta ke Aceh saja dengan kontainer 20 feet sudah habis Rp 14 juta, atau Rp 28 juta untuk kontainer 40 feet. Ini berarti ongkos angkut sembako Jakarta-Aceh adalah 3,5 kali ongkos angkut barang sejenis dari Turki ke Jakarta. Ini baru ongkos angkut, belum komponen lainnya dalam supply chain. Di jalan itu, ongkos angkut bisa menjadi lebih mahal lagi karena faktor lainnya. Kalau kita ingin mengandalkan transportasi laut, ongkosnya ternyata juga sama mahalnya. Kapal-kapal angkut kita jarang ada yang baik, sehingga biaya perjalanannya menjadi sangat mahal. *Supply Chain Management* Solusi untuk semua masalah di atas adalah SCM yang modern dan adaptif. SCM modern bukanlah pekerjaan satu departemen saja (departemen perdagangan), juga bukan urusan satu Menko Perekonomian saja. SCM adalah sebuah proses yang cross-functional dan kental dengan urusan kepemimpinan. Makanya SCM nasional kita harus langsung dipimpin Presiden, yaitu Presiden yang tidak membiarkan ekonominya mati dan negerinya bubar. SCM melibatkan pekerjaan kebijakan ekonomi, mulai dari perdagangan, industri, BUMN, transportasi, PU sampai keamanan dan hukum. SCM adalah sebuah proyek terpadu yang melibatkan banyak pihak. Untuk mengerakkan sirkulasi pasar domestik diperlukan lebih dari sekedar instrumen, karena pasar digerakkan pedagang. Dalam mata rantai pasokan yang "sakit " itu, pedagang cendrung menahan dan mencari keuntungan menurut caranya sendiri. Bagaimana mengharapkan perputaran kalau tingkat keuntungan pelaku usaha nasional tergerus terus oleh biaya yang sangat besar dalam mata rantai pasokan itu. Bila sepuluh tahun lalu margin usaha dalam bidang logsitik di atas 3,5 persen, maka sekarang untuk memperoleh margin satu persen saja sangat sulit. Keputusan mengurangi ekspor tidak berarti secara otomatis pasokan yang tersedia di pasar domestic bergerak dengan sendirinya ke pasar. Semua itu memerlukan upaya-upaya lain yang lebih integrated yang memungkinkan pelaku-pelaku usaha berselancar dalam rantai ekonomi yang lebih sehat. Manajemen mata rantai pasokan yang modern tentu saja tidak hanya mencakup aspek-aspek ekonomi saja. Ia menyangkut masalah keamanan di lapangan, pilihan-pilihan pembangunan dalam infrastruktur, jaringan-jaringan telekomunikasi, pergudangan, kelembagaan, perbankan, asuransi, angkutan, teknologi dan sebagainya. Melalui SCM yang baik, harga sebuah komoditas yang sama dari sebuah pusat produksi, tidak boleh berbeda lebih dari 15 persen pada titik lainnya (end to end). Bila biaya pemasokan sudah lebih 15 persen, ekonomi negara itu sungguh tak efisien. Perbaikan SCM dalam jangka panjang sebuah keharusan dalam program perubahan di bangsa ini. Maka, jangan biarkan infrastruktur yang baru dibangun terlepas dari strategi pembaharuan SCM. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
