3.   DUBAI - ISTAMBUL
 
Waktu untuk check in cukup mepet karena wisata kota sempat agak terhalang 
kemacetan di dekat pelabuhan laut Dubai. Meski tidak terlambat, tapi kami tidak 
sempat berhenti untuk makan siang maupun shalat. Kami segera melintasi imigrasi 
kembali dan menuju ke ruang tunggu. Di ruang tunggu ini tidak ada pula tempat 
shalat. Saya berniat untk shalat di pesawat saja nanti.
 
Jam setengah lima sore kami tinggalkan bandara Dubai dengan pesawat Emirat yang 
lain. Tujuan kami kali ini adalah Istambul. Kenapa aku tertarik melakukan 
perjalanan ini? Mengunjungi Istambul?  Waktu sekolah dulu aku menyenangi 
pelajaran sejarah dan sampai sekarang aku masih suka membaca cerita sejarah. 
Istambul adalah sebuah kota penting yang merubah peta politik dunia di abad 
pertengahan. Runtuhnya benteng kekaisaran Romawi Timur di Konstantinopel kepada 
penakluk dari keturunan Bani Seljuk di pertengahan abad ke lima belas adalah 
menjadi penyebab kenapa masyarakat Eropah, terutama Eropah Barat, berusaha 
mencari produksi negeri Timur ke pusatnya. Dengan sebab itulah Colombus 
berlayar mencari India. Magelhan, Vasco de Gama dan entah siapa lagi. Berlayar 
menuju negeri Timur untuk mencari rempah-rempah yang adalah bagian dari sembako 
di dunia Eropah. Jatuhnya kota Konstatinopel dan dirobah namanya menjadi 
Istambul (Islam-bul?) adalah penyebabnya. Sebab
 pasokan rempah-rempah yang dibawa dengan caravan melalui jalan darat (jalur 
sutera yang membentang dari kepulauan Indonesia melalui Tanah Semenanjung, 
melintasi India, melalui celah Khaibar di Afghanistan terus ke barat melalui 
Konstatinopel) sudah tidak lancar lagi. Dan sejak itulah negeri Timur 
pelan-pelan menjadi jajahan bangsa Barat, termasuk negeri kita Indonesia.
 
Aku sudah lama sangat ingin mengunjungi Istambul yang kononnya berjulukan kota 
seribu menara itu. Pernah terpikir untuk pergi bersamaan dengan melaksanakan 
umrah, tapi rasanya kurang pas mencampurkan perjalanan ibadah dengan perjalanan 
wisata. Dan akhirnya kesempatan itu datang juga. Baru kali inilah insya Allah 
akan kesampaian.
 
Penerbangan dari Dubai ke Istambul memakan waktu tiga setengah jam. Melintasi 
daerah gurun pasir Saudi Arabia. Sempat aku perhatikan di layar monitor tv di 
depan tempat dudukku, bahwa pesawat ini menghindar melintasi Iraq. Diikutinya 
garis batas di dalam negeri Saudi Arabia antara Saudi Arabia dan Iraq. Dia 
berbelok melintasi Yordania dan terbang di atas Syria sebelum memasuki daerah 
udara Turki. Aku tidak tahu apakah menghindari Iraq itu dilakukan untuk menjauh 
dari zona perang atau memang ada larangan terbang di atas negeri Iraq. Apapun 
alasannya, aku sangat sependapat bahwa terbang di atas negeri Iraq yang sedang 
diamuk peperangan melawan penjajah Amerika memang tidaklah bijaksana.
 
Waktu tiga setengah jam berlalu tidak terlalu lama, karena aku menyibukkan diri 
dengan mendengarkan murattal al Quran sambil mengamati titik-titik penjelajahan 
pesawat yang selalu terpampang di layar monitor tv.  Meski tadi malam praktis 
sangat kurang tidur aku tidak terlalu mengantuk.  Selain mendengar rekaman 
pembacaan ayat al Quran, atau menonton tv aku juga disibukkan oleh urusan makan.
 
Makanan di pesawat Emirat ini lumayan bagus dan cukup cocok dengan seleraku. 
Mungkin karena maskapai penerbangan ini menjelajah hampir ke setiap negeri di 
dunia, mengangkut penduduk segala bangsa, maka setiap kali makan selalu 
disajikan anggur (wine), untuk memuaskan para penumpang peminum khamar. Kami 
tentu tidak ikut menikmatinya. Cukuplah jus jeruk (orange juice) dan air putih 
dan teh atau kopi. Pelayanan pramugarinya, yang rata-rata orang Inggeris, 
tidaklah ramah-ramah sangat meski juga tidak kaku. Mereka umumnya benar-benar 
pekerja. Cekatan, cepat, tapi tidak terlalu banyak berbasa basi.
 
Jam tujuh sore waktu Istambul pesawat ini mendarat di bandara Kemal Attaturk. 
Cuaca musim panas yang cerah dan hari masih siang. Posisi matahari masih cukup 
tinggi di ufuk barat. Kami melalui lorong dengan ban berjalan yang cukup 
panjang menuju ke tempat pemeriksaan imigrasi. Di luar terlihat pesawat-pesawat 
Turki Air dari jenis Boeing 737, yang ukurannya lebih kecil dibandingkan 
pesawat yang baru kami tompangi. Suasana bandara tidak semeriah Dubai, agak 
mirip-mirip bandara Soekarno - Hatta. 
 
Di imigrasi terlihat antrian panjang sebelum memasuki loket-loket imigrasi. Dan 
ada banyak sekali loket-loket tersebut sehingga antrian panjang ini cukup cepat 
pergeserannya. Ada rombongan karyawan Daihatsu dari Indonesia (dari berbagai 
kota) yang juga satu pesawat dengan kami, datang berwisata ke Istambul sebagai 
hadiah dari perusahaan mereka. Hebat sekali perusahaan mereka itu. 
 
Sesudah melalui imigrasi kami menuju ke tempat mengambil bagasi. Istriku 
memberitahu bahwa dia belum shalat zuhur dan ashar karena kainnya sepertinya 
sudah tidak bersih. (Aku sudah shalat di pesawat, tadi waktu menjelajah Dubai 
kami tidak sempat berhenti shalat).  Aku suruh dia berganti pakaian ke kamar 
kecil dan sekalian berwudhu dan dia melakukannya. Aku menanyakan arah kiblat 
kepada seorang petugas di dekat pengambilan bagasi. Orang itu menunjukkannya. 
Istriku shalat di sebuah pojok di tempat itu.
 
Kami sudah mendapatkan bagasi kami masing-masing dan sekarang bergerak ke arah 
luar. Disana sudah menunggu pemandu wisata kami, seorang wanita muda berusia 
sekitar 35 tahunan. Di luar terlihat banyak sekali taksi berwarna kuning, 
datang silih berganti menjemput penumpang. Taksi itu kebanyakan mobil buatan 
Eropah (Renault, Fiat) meski ada juga mobil buatan Korea (Hyundai). Agak jarang 
terlihat mobil buatan Jepang.
 
Kami menunggu beberapa saat karena bus yang akan membawa kami rupanya agak 
terhalang untuk mendekat ke gerbang tempat penumpang keluar. Sudah hampir jam 
delapan ketika kami menaiki bus tersebut. Dan hari masih siang, masih terlihat 
matahari.  Sekarang kami akan diantarkan ke hotel tempat kami menginap, hotel 
Kent, melalui jalan yang cukup macet.
 
                                                                        
                                                                        *****

 
St. Lembang Alam
http://lembangalam.multiply.com
http://360.yahoo.com/stlembang_alam


       
____________________________________________________________________________________
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's 
Comedy with an Edge to see what's on, when. 
http://tv.yahoo.com/collections/222
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke