Sumbar Model Tanggap Darurat Padang | Rabu, 19 Sep 2007 PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Selasa (18/9) siang, mengakhiri kunjungan kerjanya di Bengkulu dan Sumatera Barat untuk menengok langsung korban gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter (SR) yang terjadi Rabu (12/9).
Sebelum ke Jakarta, SBY memberi pengarahan kepada Bupati se-Sumatera Barat di kediaman Bupati Kabupaten Pesisir Selatan, Asrul Ajib, Senin malam. Presiden kembali menekankan pentingnya kepala daerah tanggap saat bencana alam menimpa daerahnya. "Saya memberikan pujian kepada Sumbar. Ini contoh bagaimana memelihara kesiagaan, latihan, protapnya dijalankan. Itu bagus. Saya menganjurkan provinsi lain mengikuti Sumbar. Tolong dikembangkan lalu organisasi ditata dan dipersiapkan," ujar SBY. Untuk itu, Presiden ingin Sumbar menjadi model provinsi yang mendesain cara-cara menghadapi bencana, dan melakukan pengorganisasian, serta infrastruktur dalam arti luas termasuk institusi dan pengorganisasian. "Saya minta ada model-model posko yang jika orang masuk posko ketemu semua kronologi, data korban jiwa, material, apa yang diperlukan," kata SBY. Sebelumnya, Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi memaparkan kronologis terjadinya gempa 12-13 September 2007. Gamawan memaparkan kerugian akibat gempa, bantuan, serta kegiatan tanggap darurat yang dilakukan pemerintah daerah. Semua data yang diberikan, dihitung akurat, dan akan diverifikasi lebih lanjut untuk menghilangkan manipulasi data. Dalam tanggap darurat, Gamawan mengatakan, pemerintah langsung menginformasikan pada masyarakat mengenai keadaan terkini dari BMG. Presiden yang didampingi Ibu Ani SBY dan sejumlah menteri senang atas laporan Gubernur Sumbar yang mencatat akurat data korban, kerusakan hingga jumlah pengungsi. Menurut Presiden, akurasi data sangat mendasar sehingga harus ada verifikasi yang jelas karena dana yang digunakan adalah dana negara yang mesti dipertanggung-jawabkan satu rupiah pun. Namun Presiden mengingatkan, agar tak coba-coba "mengail di air keruh" dengan melakukan manipulasi penggunaan anggaran bencana alam. "Tak boleh yang seharusnya Rp20 miliar, menjadi Rp40 miliar yang digunakan untuk kepentingan lain," kata Presiden. Menurut Presiden, (perbuatan) itu adalah kejahatan luar biasa jika di tengah-tengah kesulitan seperti ini. "Jangan dimanipulasi. Dosanya besar," SBY menegaskan. Dalam kesempatan itu, Presiden juga memaparkan presentasi berjudul Living on the Edge. Presentasi itu diarahkan agar pemimpin negeri ini secara mental, pengetahuan, dan keterampilan dapat siap berkorban karena Indonesia adalah negara rawan gempa. Indonesia juga memiliki gunung merapi yang rawan meletus. "Semuanya harus siap," ingat Presiden. Presiden mengingatkan agar masyarakat tidak mengkaitkan gempa yang kerap terjadi di Indonesia dengan tahayul, dengan mengaitkan dirinya sebagai penyebab. M Yamin Panca Setia M. Yamin Panca Setia --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
