"Allow papa, dah selesai sahurnya? Papah jg kesehatannya ya, oh iya 
dd di sini shalat trs smbl bdoa spay papah di sana baik2 aj, amin! 
Love you"

Pesan singkat itu saya terima dari Ira bungsu kami dari 5 bersaudara 
atau yang di rumah biasa dipanggil Dede, yang saya terima tidak lama 
setelah saya menyelesaikan makan sahur pekan lalu di kosan saya di 
Banda Aceh. Sebagaimana ayah-ayah lainnya di dunia, pesan apa yang 
lebih membahagiakan saya di saat-saat seperti itu dari sang buah hati 
dibandingak dengan pesat tersebut?.

Tetapi pesan singkat tersebut hampir tidak pernah ada selamanya.

Sebagaimana ayah-ayah lainnya di dunia yang punya anak-anak 
perempuan, Ira, sekarang 26 tahun bersama kakaknya Meila yang lebih 
tua 2 tahun, bagi saya lebih dari separuh hidup saya. Meila dan Ira 
masih gadis-gadis kecil  ketika sering saya tinggal karena pekerjaan 
sejak saya bekerja pada sebuah Biro Konsultan Engineering besar awal 
tahun 1984. Terutama ketika saya ditugaskan di sebuah proyek air 
bersih bantuan Bank Dunia di Sulawesi Utara dan Selatan tahun 1985 -
1988.

Alhamdulillah, berkat perhatian dan kebaikan hati Dr. Alan C. Hu, 
orang China-Amerika Tim Leader kami di proyek itu, yang sering 
menugaskan saya ke Jakarta untuk berbagai kegiatan proyek, termasuk 
kegiatan proyek dalam "tanda petik" (saya masih ingat ketika saya 
minta tanda tangan Pak Chairul, Pinpro Ditjen Cipta Karya di Jakarta 
untuk proyek tersebut pada  travel order saya berkata kepada 
saya: "Bilang saja you mau setor", yang saya jawab hanya 
dengan "nyengir kuda" saja  :D), sehingga saya bisa pulang rata-rata 
setiap dua bulan sekali. Pernah ketika saya hendak kembali ke 
Makassar saya mendadahin Ira, dia balas mendadahi saya tetapi, 
alamaak, tidak mau melihat kepada saya, yang menyebabkan persaan saya 
tidak keruan selama di perjalanan. Setelah itu setiap saya hendak 
kembali ke Sulawesi, saya selalu menggunakan pesawat paling pagi 
sehingga kedua gadis kecil itu masih tertidur lelap, setelah saya 
ciumi sepuas-puasnya tentu saja.

Isteri saya Kur dalam suratnya kepada saya menulis, Ira di malam hari 
badannya sering panas, dan kalau ditanya kenapa, jawabnya "Kangen 
sama papa". Ira tumbuh seperti anak normal lainnya, hanya badannya 
kurus saja dan sering merasa lemas. Ketika Ira berumur 10 tahun, Dr 
Erlang, dokter langganan keluarga kami di Depok curiga Ira punya 
kelainan jantung dan mengirimnya ke spesialis jantung.

Benar saja, ternyata ada kebocoran pada serambi jantung Ira sehingga 
darah bersihnya tercampur dengan darah kotor dan harus segera 
dikoreksi melalui operasi. Keterangan itu membuat kami sangat kalut 
dan panik. Selain memikirkan risiko gagal, biayanya juga sangat 
besar, yaitu 10 juta rupiah, atau sekitar 5000 USD dalam kurs dollar 
ketika itu. Kami punya lahan dan pabrik batako di Sukabumi, dijual 
cepat laku 3 juta rupiah. lalu kemana tujuh juta rupiah siasanya akan 
saya cari?

Akankah saya akan kehilangan Ira saya, si buah hati sibiran tulang?

Wassalam, H. Darwin Bahar St Bandaro Kayo (64 tahun)



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke