Assalamualaikum Dunsanak Anggota Milis

Alhamdulillah, kita bertemu kembali..  Terima kasih, atas beberapa masukan dan 
sentilan-sentilan kecil yang disampaikan kepada saya.

Baiklah kita urai sedikit masukan yang sampai kepada saya soal Pusat Informasi 
Pariwisata di Bandung.  Sudah pernah saya sampaikan, bahwa apa pun inisiatif 
dari dunsanak-dunsanak ambi di rantau, pasti ambo mendukung.  Mungkin di tahun 
ini belum ada dukungan dalam bentuk materi dari kami pemerintah daerah.  Mohon 
maaf, kembali saya berlindung di balik anggaran yang memang sangat ketat 
penyusunan dan pengaturannya.  Tapi apa pun itu, saya memberikan apresiasi yang 
tinggi keapda para penggagas kegiatan ini di Bandung, apalagi jika program ini 
bisa berlangsung baik secara swadaya penuh dari sesama perantau belaka.  Bukan 
kah seperti itu yang kita cita-citakan untuk sebuah gerakan swadaya masyarakat. 
 Ford Foundation bisa menyekolahkan begitu banyak orang, di awal-awalnya justru 
tanpa ada bantuan dari dana pemerintah.

Dunsanak yang saya hormati, maunya saya pariwisata kita memiliki sebuah road 
map yang akan menjadi acuan kita bersama dalam mengembangkan pariwisata.  
Banyak contoh daerah yang bisa kita jadi rujukan untuk itu, baik di dalam 
ataupun di luar negeri.  Apakah kita akan mencontoh eropah, yang bebas 
sebebasnya.  Atau kah mencontoh Bali: relatif bebas dan budaya lokal telah 
bertransformasi menjadi sebuah bisnis belaka.  Mungkin ada juga model lain yang 
lebih sesuai ABS SBK kita.  Yang penting, semua kita sepakat mengenai roadmap 
tersebut.

Dunsanak yang terhormat,  saya bercita-cita pariwisata kita bukan sebagai 
jargon lama, sekadar tak mau kalah dengan wilayah lain.  Tak kalah dengan Bali, 
Malaysia atau Antalya misalnya.  Inginnya saya pariwisata kita ya adalah 
pariwisata sumbar.  Terserah kita lebih bagus atau lebih kurang indah dibanding 
daerah lain.  Yang jelas, dengan pariwisata kesejahteraan kita semua bisa 
meningkat.

Dunsanak para perantau yang budiman, maunya saya bukan hanya celaan atau 
dampratan saja yang kita berikan berkaitan dengan pelayanan di kampung kita.  
Inginnya saya, para perantau ini menjadi tenaga pemasar pariwisata sumbar.  
Para kerah putih minang di jakarta, mungkin bisa mengusulkan kepada atasannya 
agar seminar, annual meeting atau bahkan outing kantor diarahkan ke ranah ini, 
dari pada tiap tahun hanya ke situ-situ saja.  Sepuluh persen saja usulan ini 
bisa diaplikasikan, betapa banyaknya wisatawan yang bisa kita dapatkan.  Berapa 
banyak sopir bis pariwisata yang akan bisa bekerja, para pemandu yang bisa 
bercerita dan seterusnya.

Dunsanak perantau, betapa saya berharap.  Jasa tour dan travel kita tak lagi 
sebatas calo tiket belaka terutama ketika musim lebaran tiba.  Betapa saya 
ingin, lulusan management pariwisata bisa mengembangkan ilmunya di ranah 
sendiri.  Berharap mereka mampu melakukan deal-deal billing komitmen dengan 
restoran, pengelola handycraft dan seterusnya.

Dunsanak, inginnya saya pemerintah daerah bisa memberikan keringanan retribusi 
kepada para pelaku wisata.  Ya semacam tax holiday lah.  Kalau perlu pajak 
daerah untuk makanan dan minuman saya hapuskan sementara, biar harga makanan 
kita bisa terbilang murah.  Biarlah uang pajak dijadikan belanjaan saja oleh 
para wisatawan, menjadi sebuah efek berganda bagi masyarakat.  Daripada sekadar 
menjadi pemasukan PAD belaka.  Tapi itu hanya maunya saya, jujur selain pajak 
balik nama, PAD kita masih berasal dari pajak restoran ini.

Dunsanak yang terhormat, bukannya saya tak mau kita seperti Pak Alex Nurdin 
atau Syahrial Oesman.  Berani menggarap wisata wilayahnya, mengundang setiap 
konferensi yang ada.  Bahkan menyelenggarakan piala asia segala.  Saya mau 
dunsanak.  Tapi kita perlu sadar, wilayah kita tak sekaya mereka.  Mereka mampu 
begitu, setelah pendidikan dan kesehatan bisa digratiskan kepada para 
pelajarnya.  Kita berbeda dengan mereka, tak ada yang namanya royalti daerah, 
PAD kita juga jauh di bawah mereka.

Maka dari dunsanak, mungkin lebih baik kita terima saja.  Take for granted, 
bahwa usaha pemerintah daerah sudah maksimum.  Mungkin dengan dunsanak 
berswadaya bersama - tak perlu berharap pada kami dahulu- usaha dunsanak bisa 
lebih berhasil.  Keberhasilan setiap kegiatan swadaya dunsanak,  keberhasilan 
kita semua.  Toh muaranya, adalah kesejateraan dunsanak kita di ranah juga.  
Siapa tahu, justru apa yang telah dunsanak lakukan, akan menjadi model bagi 
kami para birokrat ini.  Sebagai sebuah contoh bukti keberhasilan, ketika saya 
hendak mengajukan program dan pendanaan kepada DPRD dan pusat tentunya.  Saya 
tunggu bukti itu...


Salam







      
____________________________________________________________________________________
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!   
http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke