Tidurnya Orang Berpuasa itu Ibadah ?

Oleh Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A.



Ada tiga kejadian menarik yang berkaitan dengan Hadis yang akan kita bahas
ini. Pertama pada bulan Ramadhan, tahun 1968, di sebuah pesantren di pesisir
utara Jawa Tengah, seorang santri selalu tidur pa­da siang hari
Ramadhan. Padahal para santri lainnya ramai-ramai mengikuti pengajian kitab
kuning yang khusus diadakan pada setiap bulan Ramadhan. Istilah
pesantrennya, Ngaji Pasaran.

"Kang, bangun Kang, ngaji,? begitu kata seorang temannya mem­bangunkan.
"Biarkan saja, tidurnya orang yang berpuasa itu 'kan iba­dah,? begitu
kata kawan santri yang lain seolah membela santri yang sedang tidur itu. Dan
tampaknya, ungkapan kawan yang membela itu bukan sekadar ungkapan biasa,
karena di kalangan para santri itu populer sebuah Hadis yang menyebutkan
seperti itu.



Diskusi di London

Lain lagi dengan kejadian yang kedua ini yaitu yang terjadi pada musim panas
tahun 1978 di London Inggris. Seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di
salah satu negara di Timur Tengah berlibur musim panas di kota super modern
yang penuh dengan kebun-kebun raya itu. Ia menjadi tamu seorang Home Staff
KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di London.

Karena waktu itu bulan Ramadhan, maka pada pagi hari maha­siswa tadi
tidur di rumah. Sedangkan tuan rumah pergi ke KBRI. Agak siang, mahasiswa
tadi bangun dan selanjutnya bersama kawannya yang juga mahasiswa di Timur
Tengah keluar, berjalan-jalan melihat Kota London. Menjelang sore, ketika
tuan rumah belum pulang dari KBRI, mahasiswa tadi sudah pulang ke rumah,
kemudian sambil menunggu sore ia tidur lagi.

Ketika tuan rumah pulang petang hari dan dilihatnya mahasiswa tadi tidur
seharian, ia berkata, "Kalau puasa hanya tidur saja, anak kecil juga bisa.?
Mendengar sindiran itu mahasiswa tadi berkomentar, "Orang berpuasa itu
tidurnya saja dinilai ibadah. Begitu kata sebuah Hadis.?

"Ah, mana mungkin begitu,? kata tuan rumah, "Orang tidur kok beribadah. Ini
berarti tidurnya saja sudah mendapatkan pahala, padahal orang beribadah itu
mendapat pahala karena ia menghadapi tantangan dan godaan. Lantas, orang
yang tidur itu apa tantangan dan godaannya?? katanya memberikan alasan.

"Tetapi banyak yang mengatakan ungkapan itu sebuah Hadis,? jawab mahasiswa
tadi. "Lha ini, Sampeyan ini 'kan mahasiswa dan belajar agama Islam di Timun
Tengah. Seharusnya sampeyan meneliti Hadis itu. Apa benar itu sebuah Hadis??
kata tuan rumah tadi mengharapkan kepada tamunya.

Itulah dua kejadian yang sangat berjauhan baik dari segi waktu maupun
tempat. Namun demikian, kedua kejadian itu mempunyai topik yang sama, yaitu
Hadis tidurnya orang berpuasa itu merupakan ibadah.



Narasumber di Televisi

Kejadian ketiga baru saja pada bulan Ramadhan 1423 H yang lalu. Di sebuah
stasiun televisi, seorang yang berpangkat Kiai Haji dan namanya tidak
dikenal di kalangan masyarakat umum, menjadi nara­sumber untuk acara
yang disiarkan pada siang hari. Sementara sebagai pembawa acara ditampilkan
seorang artis sinetron yang namanya juga tidak begitu kondang.

Kata pembawa acara, "Pak Kiai,? begitu ia menyapa narasumber. "Sebenarnya
apa keutamaan bulan Ramadhan itu?? Pak Kiai yang saat itu mengenakan peci
putih dan lehernya dililit surban menjawab dengan penuh percaya diri bahwa
keutamaan bulan Ramadhan itu ada lima macam. Kemudian ia mengatakan, "Dalam
sebuah Hadis, Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa tidurnya orang yang
berpuasa itu merupakan ibadah, diamnya saja sama dengan membaca tasbih.
Pahala amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.?
Itulah keutamaan bulan Ramadhan,? kata narasumber tadi tanpa sedikit pun
ragu-ragu bahwa Hadis yang dia sampaikan itu adalah Hadis yang bermasalah.
Sementara sang artis yang menjadi pembawa acara sekaligus pewawancara tadi
manggut-manggut saja.



Tidak Populer

Hadis yang disebut-sebut di tiga tempat di atas itu layaknya merupakan Hadis
populer karena banyak orang mengetahuinya. Namun ternyata Hadis tersebut
tidak tercantum dalam kitab-kitab Hadis populer. Hadis itu diriwayatkan oleh
*Imam al-Baihaqi* dalam kitabnya Syu'ab al-Iman, kemudian dinukil oleh Imam
al-Suyuti dalam kitabnya al-Jami al-Shaghir?

Teks lengkap Hadis tersebut adalah sebagai berikut:

"*Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya
dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.*?



Hadis Palsu

Menurut Imam al-Suyuti, kualitas Hadis ini adalah dha'if (lemah). Bagi orang
yang kurang mengetahui ilmu Hadis, pernyataan Imam al-­Suyuti ini dapat
menimbulkan salah paham, sebab Hadis dha'if itu secara umum masih dapat
dipertimbangkan untuk diamalkan. Sedangkan Hadis palsu (maudhu), semi palsu
(matruk), dan atau munkar tidak dapat dijadikan dalil untuk beramal sama
sekali, hatta sekedar untuk mendorong amal-amal kebajikan (fadhail
al-a'mal).

Kesalahpahaman itu akan segera hilang manakala diketahui bahwa Hadis palsu
dan sejenisnya itu merupakan bagian dari Hadis dha'if. Karenanya, suatu
saat, Hadis palsu juga dapat disebut Hadis dha'if. Walau bagaimanapun Imam
aI-Suyuti akhirnya menuai kritik juga dari para ulama atas pernyataannya
itu, karena beliau dianggap tasahul (mempermudah) dalam menetapkan kualitas
Hadis. Salah satunya adalah dari Imam Muhammad Abd al-Ra'uf al-Minawi dalam
kitabnya Faidh al-Qadir yang merupakan kitab syarah (penjelasan) atas kitab
al-­Jami al-Shaghir.

Al-Minawi menyatakan bahwa pernyataan aI-Suyuti itu memberikan kesan bahwa
Imam al-Baihaqi menilai Hadis tersebut dha'if, padahal masalahnya tidak
demikian. Imam al-Baihaqi telah memberikan komentar atas Hadis di atas,
tetapi komentar Imam al-Baihaqi itu tidak dinukil oleh imam al-Suyuti. Imam
al-Baihaqi ketika menyebutkan Hadis tersebut, beliau memberikan komentar
atas beberapa rawi yang terdapat dalam sanadnya.

Menurut Imam al-Baihaqi, di dalam sanad Hadis itu terdapat nama­-nama
seperti Ma'ruf bin Hisan, seorang rawi yang dha'if, dan Sulaiman bin Amr
al-Nakha'i, seorang rawi yang lebih dha'if daripada Ma'ruf. Bahkan menurut
kritikus Hadis al-Iraqi, Sulaiman adalah seorang pendusta. Demikian Imam
al-Baihaqi seperti dituturkan oleh al-Minawi.

Al-Minawi sendiri kemudian menyebutkan beberapa nama rawi yang terdapat
dalam sanad Hadis di atas, yaitu Abd al-Malik bin Umair, seorang yang
dinilai sangat dha'if. Namun rawi yang paling parah kedha'ifannya adalah
Sulaiman bin Amr al-Nakha'i tadi, yang dinilai oleh para ulama kritikus
Hadis sebagai seorang pendusta dan pemalsu Hadis.

Perhatikan penuturan para ulama berikut ini. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal,
Sulaiman bin Amr al-Nakha'i adalah pemalsu Hadis. Yahya bin Ma'in
menyatakan, "Sulaiman bin Amr dikenal sebagal pemalsu Hadis.? Bahkan dalam
kesempatan lain, Yahya bin Ma'in mengatakan, "Sulaiman bin Amr adalah
manusia paling dusta di dunia ini.? Imam al­Bukhari mengatakan,
"Sulaiman bin Amr adalah matruk (Hadisnya semi palsu lantaran ia pendusta).
Sementara Yazid bin Harun mengatakan, "Siapa pun tidak halal meriwayatkan
Hadis dari Sulaiman bin Amr.?

Imam Ibnu Adiy menuturkan, "Para ulama sepakat bahwa Sulai­man bin Amr
adalah seorang pemalsu Hadis.? Ibnu Hibban mengata­kan, "Sulaiman bin
Amr al-Nakha'i adalah orang Baghdad, yang secara lahiriyah, dia adalah orang
yang shalih, tetapi ia memalsu Hadis. Sementara Imam al-Hakim tidak
meragukan lagi bahwa Sulaiman bin Amr adalah pemalsu Hadis.

Keterangan-keterangan ulama ini cukuplah sudah untuk menetapkan bahwa Hadis
di atas itu palsu.



Beraktivitas Malam Hari

Tampaknya Hadis di atas itu telah berdampak buruk bagi perilaku sebagian
masyarakat Islam, khususnya di Indonesia. Banyak orang berpuasa tetapi tidak
mau bekerja pada siang hari. Mereka banyak tidur-tidur saja. Alasannya, itu
tadi, mereka menyebut-nyebut Hadis bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu
adalah ibadah.

Memang benar, orang yang berpuasa itu meskipun tidur, ia tetap akan
mendapatkan pahala. Tetapi pahala itu diperolehnya lantaran puasanya itu,
bukan lantaran tidurnya. Memang, tidur pada siang hari itu akan mendapatkan
pahala, apabila hal itu dilakukan agar yang bersangkutan dapat melakukan
ibadah dan aktivitas pada malam hari. Tetapi hal ini tidak ada kaitannya
dengan ibadah puasa.
*

Dan setelah diketahui bahwa Hadis itu palsu, maka mudah-mudahan ia tidak
akan beredar dan disebut-sebut lagi di masyarakat, khususnya oleh para da'i
dan muballigh.* Dan ini pada gilirannya mereka yang berpuasa tetap
beraktivitas seperti biasa, tidak berlomba­-lomba tidur pada siang
hari.***





(sumber: Hadis-hadis Bermasalah, oleh Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A.,
Penerbit Pustaka Firdaus, 2003. Ali Mustafa Yaqub adalah pakar ilmu hadis,
pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Ciputat, Jakarta dan Guru
Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta. Semoga beliau dan
penerbit tidak berkeberatan tulisannya saya posting di Internet).

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke