Alhamdulillah, berkat perhatian dan perjuangan Pak Jonathan Lemuel, 
Manager Divisi Teknologi Lingkungan tempat saya ditempatkan di Biro 
Konsultan tersebut,perusahaan menyumbang lima juta rupiah. Sisa dua 
juta rupiah saya dapat berupa sumbangan pribadi dari pakar teknologi 
lingkungan, Alm Prof Dr. H. Soetiman, Vice President yang membawahkan 
divisi tersebut, yang selama 14 tahun saya bekerja di sana sudah 
bagaikan orang tua saya sendiri.

Dan saat-saat mengantar Ira ke lift yang akan membawanya ke ruang 
operasi di RS Harapan Kita adalah momen yang tidak akan pernah saya 
lupakan seumur hidup saya, terutama pada saat Ira mengatakan: "Pah, 
Dede takut," ketika saya menciumnya sebelum saya keluar dari lift 
yang pintunya akan segera akan ditutup,  yang membuat arwah saya 
serasa terbang dan lantai tempat saya berpijak serasa runtuh. Apakah 
buah hati saya itu akan kembali ke zal anak tempat ia dirawat 
sebelumnya, atau....

Lalu enam jam berikutnya, saya rasakan waktu yang sangat panjang 
sekali yang saya isi dengan zikir dan doa penuh harap agar buah hati 
saya diselamat Allah SWT. Saya dan Kur malah sempat menangis berbagi 
duka dengan ibunya Rizal, yang menangis histeris, ketika mengetahui 
Rizal anak lelakinya teman sekamar Ira yang lincah dan tampan yang 
usianya 2 atau 3 tahun lebih muda dari Ira, yang dioperasi bersamaan 
dengan Ira, tetapi tidak terselamtkan nyawanya oleh para Dokter. Saya 
dengar orang tua Rizal, yang ayahnya hanya seorang karyawan "biasa" 
di sebuah BUMN besar di Aceh  butuh waktu lama mengurus surat 
menyurat agar Rizal dapat dioperasi dengan biaya perusahaan di RS 
Harapan Kita Jakarta, sehingga kondisi jantung Rizal sudah sangat 
parah.     

Bagaimana kalau Ira yang terlambat, bukan Rizal? Bagaimana kalau saya 
tidak punya atasan seperti Pak Jonathan Lemuel, Alm Prof Soetiman dan 
atasan-atasan saya lainnya di Biro Konsultan itu, sebut saja Direktur 
Umum Setiati Amin Singgih, dan tentu saja Presdir/CEO Pak Ari Mochtar 
Pedju   yang setuju saya dibantu, karena tidak ada aturan perusahaan 
tersebut mengenai hal itu?

Tidak kuasa saya menjawabnya. yang jelas hampir dipastikan, tidak 
akan ada SMS yang saya terima tidak lama setelah saya menyelesaikan 
makan sahur pekan lalu di kosan saya di Banda Aceh, yang sebagaimana 
ayah-ayah lainnya di dunia, sangat  membahagiakan saya di saat-saat 
seperti itu.

Sekarang baik Meila dan Ira sudah bekerja. walaupun gaji mereka baru 
cukup untuk mereka sendiri, malah kadang-kadang masih disubsidi oleh 
Kur, tetapi mereka selalu berusaha memanjakan saya dengan hal-hal 
kecil, tetapi sangat berarti bagi saya. 

Sebagai seorang yang beriman, saya percaya, bahwa semua itu merupakan 
rakhmat dan karunia Tuhan. Tetapi tentu saja Tuhan tidak menurunkan 
begitu saja rakhmat dan karunia-Nya dari langit, tetapi melalui 
manusia-manusia yang dalam hatinya selalu terpelihara sikap welas 
asih, dan keinginan yang kuat untuk membantu sesama yang yang 
bernasib malang atau kurang beruntung.

Tetapi kenapa orang tua Rizal tidak dirakhmati Tuhan? Tidak, Insya 
Allah Tuhan merakhmati-Nya dengan cara-Nya sendiri. Yang pasti tidak 
dirakhmati Tuhan adalah manusia-manusia kesat hati atau mati rasa, 
yang sebenarnya bisa mempercepat Rizal dikirim ke RS Harapan Kita 
untuk dioperasi, sehingga kemungkinan besar nyawa Rizal dapat 
tertolong, tetapi tidak mereka lakukan.

Dan bagi saya tidak ada keraguan, bahwa Rizal sudah berada di surga 
saat ini.

Tidakkah kita dapat dikatakan kesat hati atau mati rasa, jika kita 
sebenarnya dapat membantu, sesama yang yang bernasib malang atau 
kurang beruntung, padahal kita punya kemampuan untuk melakukannya?

Dalam ajaran Islam,sesuai dengan sabda Nabi s.a.w., malahan membantu 
sesama  itu diwajibkan dalam keadaan sempit dan lapang.

Dan ketika saya membaca laporan Kang Suryana di Apakabar sekitar 2 
tahun yang lalu bahwa Bakti Sosial milis Apakabar (BSA) ikut membantu 
biaya transportasi pasien operasi jantung seorang dari keluarga 
kurang mampu, kenangan sejak Ira saya diketahui mengidap cacad 
jantung sampai saya tahu bahwa operasi Ira berjalan dengan lancar, 
kembali terbayang dalam sanubari saya.    

Wassalam, H. Darwin Bahar St Bandaro Kayo (64)



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke