Sdr Mudy Situmorang ysh,
  Saya memaklumi bila pengetahuan sejarah anda masih secara ensiklopedi. Perlu 
kiranya melakukan verifikasi terhadap data yang ada serta konstelasi untuk 
melihat berbagai kaitan, apalagi ini bersifat cross-countries study. Saya juga 
belum melihat argumen yang menguatkan hipotesis anda sebelumnya, selain dugaan 
demi dugaan.
  Saya tanggapi beberapa hal:
  Sistem pemerintahan Pagaruyung tidak seperti yang anda bayangkan dengan 
sistem kerajaan konvensional lainnya. Dapat anda verifikasi bila Agam, 
Limapuluh Koto, dan sebagian Tanah Datar tidak pernah mengakui kekuasaan 
Pagaruyung. Ini juga bisa dilihat dari sistem pemberian 'ameh manah', ada yang 
melakukan prosesi khusus seperti di Tanah Datar, ada yang hanya meletakkan di 
atas meja ketika raja berkunjung ke tempat itu, dan ada yang menyelipkan begitu 
saja ke tangan raja. Nilainya juga seikhlasnya. Dengan kata lain Raja 
Pagaruyung hanya merupakan simbol dalam sistem kemasyarakatan, dan tidak 
membekas sebagai sistem nilai adat dan budaya. Hal ini dapat terlihat dari 
berbagai pitatah-patiti dan barih-balabeh yang masih terwarisi hingga saat ini. 
Karena itu istilah Pagaruyung berasal dari kata 'pagar' dan 'pohon ruyung', 
yang menunjukkan dan membatasi suatu titik dari sedemikian luasnya wilayah 
Minangkabau. Dari peristiwa Kototangah 1808 anda bisa membayangkan berapa 
'kekuatan
 bersenjata' Kerajaan Pagaruyung, apalagi bila harus 'menguasai dan 
mengamankan' seluruh wilayah Minangkabau.
  Benar bila konstelasi dekolonialisasi dikaitkan dengan kondisi Eropah pada 
awal abad 19, sehingga perlu anda pelajari beberapa treaty yang disepakati pada 
masa itu. Untuk memahami 'Bandar Padang', perlu anda pelajari sejarah Aceh dan 
Malaka, sehingga mengerti istilah 'bercokol' dan 'pendudukan' pada masa itu.
  Saya melihat kesamaan proses penerimaan agama samawi di Tanah Batak dengan 
masyarakat Maluku, yaitu kedua-duanya tidak melalui proses Hindu atau Budha. 
Dalam analisis Prof R.Z. Leirissa disebutkan bila peralihan itu menjadikan 
masing-masing masyarakat penganut menjadi lebih ekstrim dalam penghayatan. 
Ketika terjadi kerusuhan sosial di Maluku beberapa tahun yang lampau, perbedaan 
ini yang dapat didamaikan berabad-abad, menjadi 'cedera' ketika dibenturkan dan 
sulit disembuhkan. Mungkin saatnya bagi Sdr Mudy untuk menerima kenyataan bila 
proses peralihan ini telah terjadi pada kurun abad 19 dalam berbagai bentuk dan 
cara, dan telah membagi Batak menjadi Utara dan Selatan.
  Wassalam,
  -datuk endang


Mudy Situmorang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          

  ----- Original Message ----
From: Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, September 30, 2007 2:36:47 AM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Petisi penolakan Imam Bonjol menjadi Pahlawan


  Sanak Aulia Hazza ysh,
  Sedikit yang saya pahami mengenai Gerakan Paderi pernah diulas di milis ini. 
Secara umum saya sampaikan Sdr Mudy Situmorang tidak mengetahui dan tidak 
memahami konteks sejarah sehingga mengambil kaitan dan kesimpulan yang keliru. 
Beberapa saya tanggapi sebagai berikut :
  
Petisi ini mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membatalkan
pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai Pahlawan Perjuangan
Kemerdekaan, dan meluruskan sejarah Kerajaan Islam Minangkabau
Pagarruyung, sejarah tanah Sumatra, dan sejarah Republik Indonesia.


      ==>
  Saya baru mendengar istilah Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, dan pada 
masa itu belum ada aturan dan kaidah pemerintahan yang bersendikan agama Islam. 
Konstruksi 'basa ampek balai' menempatkan Raja Pagaruyung sebagai payung panji 
dalam suatu 'sistem kerajaan adat'. Dan sebagai catatan pula, konstruksi itu 
terletak di Luhak Tanah Datar.
  Perang Paderi memang harus dianggap sebagai 'perang ke Sumatera', karena 
pasca dekolonisasi 1805 sasaran tembak Belanda adalah ke ranah Minangkabau. 
Beberapa 'perang kecil' lain ke wilayah Indonesia pada masa itu 'hanya' untuk 
mengkonsolidasikan kekuatan perang Belanda untuk menghadapi Minangkabau (1820). 
Bila dipelajari langkah demi langkah penguasaan Belanda di Sumatera, penguasaan 
itu bermula dari Minangkabau dan berakhir di Aceh; padahal secara geostrategi 
seharusnya Belanda memulainya dari Aceh.
     
  Mudy Situmorang:
  Tak ada maksud saya merendahkan pengetahuan Datuk Endang, tetapi semua yang 
saya tuliskan berdasarkan pemikiran yang cukup mendalam dan memiliki dasar yang 
jelas.
   
  Kerajaan Pagarruyung tahun 1800-an adalah Kerajaan Islam, terlepas dari 
definisi Datuk Endang tentang kerajaan Islam. 
   
  Konstruksi 'basa ampek balai' Datuk Endang sangat kurang tepat (saya tak 
berani mengatakan "salah"). Basa ampek balai adalah subordinat dari Rajo Tigo 
Selo: Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. 
  Rajo Adat di Buo memutuskan masalah peradatan, dikelilingi oleh para haji.
  Rajo Ibadat di Sumpur Kudus memutuskan masalah keagamaan.
  Jadi Kerajaan Minangkabau Pagarruyung merupakan pemerintahan yang mengatur 
masalah agama, dengan demikian dapat dikategorikan sebagai Kerajaan Islam. 
   
  Acuan Datuk Endang mengenai dekolonisasi 1805 tidak jelas. Perlu Datuk 
ketahui, Kerajaan Belanda dijajah Prancis 1806 - 1814.
  Langkah demi langkah yang dipelajari Datuk Endang pun kurang jelas. Karena 
Belanda (dan Inggris) sudah begitu lama bercokol di Padang (sejak 1663), 
Bengkulu (Inggris sejak 1685, diserahkan ke Belanda 1824), Palembang (1814 - 
1821). 
  Kalau ditanyakan mengapa aneksasi Mingkabau ke Hindia Belanda tahun 1821, 
dapat dengan mudah dijawab: karena Gerakan Wahabi Paderi.
   
   
  ----------------------------------------------
Tuanku Imam Bonjol berkhianat pada Kerajaan Islam Minangkabau
Pagarruyung, membantai keluarga kerajaan, memimpin invasi ke Tanah
Batak yang menewaskan lebih satu juta jiwa, menyerang Kerajaan Batak
Bakkara dan menewaskan Sisingamangaraja X, bertanggung-jawab atas
masuknya Kerajaan Belanda di tanah Sumatera Utara dan Minangkabau.


Latar Belakang:
Tuanku Imam Bonjol, alias Muhammad Shahab, alias Peto Syarif Ibnu
Pandito Bayanuddin, lahir 1722 di Kerajaan Islam Minangkabau
Pagarruyung, meninggal di Pineleng, Minahasa, 6 November 1864.
   
  ==>

  Sepanjang pengetahuan saya, Peto Syarif dilahirkan di Pasaman, wilayah yang 
pada masa itu masih disebut sebagai 'rantau'. Sehingga tidak ada padanan 
istilah 'pengkhianatan' dalam hal ini.
   
  Mudy Situmorang:
   
  Ijinkan awak menyampaikan kutipan berikut:
  "Selain mempunyai daerah kedudukan tersendiri, Raja Alam menguasai 
daerah-daerah rantau. Pada setiap daerah Raja Alam mengangkat wakil-wakilnya 
yang diberi kewenangan mewakili kekuasaan raja disebut "urang gadang" atau 
"rajo kaciak". Mereka setiap tahun mengantarkan "ameh manah" kepada raja. 
Daerah-daerah rantau tersebut terbagi dalam dua kawasan yang lebih luas;  
rantau pantai timur dan rantau pantai barat.    
Yang termasuk ke dalam rantau pantai timur adalah; Rantau nan kurang aso duo 
puluah (di sepanjang Batang Kuantan) disebut juga Rantau Tuan Gadih; Rantau duo 
baleh koto (sepanjang batang Sangir) disebut juga Nagari Cati Nan Batigo; 
Rantau Juduhan (kawasan Lubuk Gadang dan sekitarnya) disebut juga Rantau Yang 
Dipertuan Rajo Bungsu; Rantau Bandaro nan 44 (sekitar Sei.Tapung dan Kampar); 
Negeri Sembilan
Sedangkan rantau pantai barat mencangkup daerah-daerah; Bayang nan 7, Tiku 
Pariaman, Singkil Tapak Tuan disebut juga Rantau Rajo; Bandar X disebut juga 
Rantau Rajo Alam Surambi Sungai Pagu."
   
  Yang disebut daerah rantau dan membayar upeti pada Pagarruyung adalah wilayah 
Kerajaan Pagarruyung.
   
   
   
   
   
   
   
  ---------------------------------------------------
Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan
dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 087/TK/Tahun
1973, tanggal 6 Nopember 1973.

Pada kenyataannya ditemukan fakta-fakta berikut:
1.Tuanku Imam Bonjol adalah salah satu panglima utama Gerakan Wahabbi
Paderi (1801 - 1838) dibawah Tuanku Nan Renceh, dan kemudian menjadi
pimpinan Gerakan Wahabbi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama
dengan Taliban dan Al-Qaeda, yaitu Wahabbi ekstrim.
   
  ==>
  Peran Tuanku Imam Bonjol dalam Perang Paderi baru muncul pada tahun 1812, 
setelah berhasil mempertahankan 'benteng Bonjol' di Alahan Panjang. Setelah 
keberhasilan ini selanjutnya Imam Bonjol ditugaskan untuk memimpin Pasukan 
Paderi di Pasaman. Beliau memimpin pasukan mulai dari Lubuk Sikaping, Rao, 
Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku, dan seluruh pantai barat Minangkabau sebelah 
utara.
  Gerakan Wahabi pada masa itu sudah saatnya dipelajari sebagai upaya 
'membentengi wilayah Islam' dari 'perluasan pengaruh Perang Salib' dalam versi 
berbeda. Bila ingin memahami Taliban dan Al Qaeda, hendaknya mempelajari kaitan 
sejarah, karena organisasi ini tidak muncul serta-merta.
     
  Mudy Situmorang:
  Mohon maaf sekali lagi Datuk. Tuanku Imam Bonjol memang baru terkenal 1812 
setelah berhasil mempertahankan 'benteng bonjol' dari serangan Datuk Sati, yang 
setia pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung. Tetapi apakah si Peto Syarif 
tiba-tiba membangun benteng Bonjol yang berada pada area 90 hektar dengan 
tembok setinggi 4 meter dan tebal 3 meter? 
   
  Yang perlu ditambahkan pada catatan Datuk Endang bahwa si Peto Syarif diberi 
wewenang membangun benteng di Bonjol langsung atas instruksi Tuanku Nan Renceh 
pada 1808, segera setelah pembantaian keluarga Kerajaan Islam Minangkabau 
Pagarruyung oleh pasukan Paderi. Mengapa Peto Syarif mendapat mandat tersebut? 
karena dia adalah veteran perang Tanah Datar yang menaklukkan Kerajaan 
Pagarruyung.
   
   
  Gerakan Wahabi tidak ada hubungan historis dengan Perang Salib atau 
perluasannya. Berikut sedikit untuk menambahkan catatan Datuk yang saya yakin 
cukup lengkap:
  1740: Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab membuat buku kontroversial, menandai 
dimulainya gerakan wahhabi.
  1744: Mohammad bin Saud, penguasa Ad-Dariyah melakukan sumpah aliansi dengan 
Imam Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mengislamkan kembali jazirah Arab. Abdul 
Azis, anak Mohammad bin Saud, dinikahkan dengan putri Imam Muhammad bin Abdul 
Wahhab.
  1795: Pasukan Wahhabi menyerang Al-Ihsaa dan Qatar
  1801: Gerakan Wahabi menyerang Taif dan menguasai Karbala. Uthman 
al-Madayiqqiyy diangkat sebagai penguasa Taif.
  1802: Pasukan Wahhabi menguasai Mekah dan Medinah, Abdul Muin, saudara Syarif 
Ghalib diangkat sebagai penguasa Mekah. Syarif Ghalib mundur ke Jeddah. Pasukan 
Wahhabi kemudian meninggalkan Mekah untuk menundukkan suku-suku Arab.
  1802: Pasukan Wahhabi mengepung Jeddah selama 8 hari, Syarif Ghalib dan 
Syarif Basha berhasil mempertahankan Jeddah
  1802: Pasukan Ottoman dibawah Syarif Ghalib dan Syarif Basha (Penguasa 
Jeddah) mengalahkan pasukan Wahhabi yang menjaga Mekah.
  1802: Haji Miskin, Haji Abdur Rahman dan Haji Muhammad Arief kembali ke 
Minangkabau dengan paham Wahabi ekstrim pada masa pemerintahan Yang Dipertuan 
Sultan Muning Alamsyah di Kesultanan Islam Pagarruyung. Haji Miskin dan Haji 
Muh. Arief ditolak masyarakat.
  1804: Pasukan Wahhabi merebut Mekkah. Syarif Ghalib tetap dengan status 
penguasa Mekkah, sedang Mubarak Ibn Madyan, seorang Wahhabi menjadi penguasa 
Madinah.
  1810: Sultan Ottoman memerintahkan Muhammad Ali, Pasha  Mesir memberantas 
Gerombolan Wahhabi.
  1811: Muhammad Ali memimpin pasukan ke Jazirah Arab, dengan 18 meriam. Dengan 
bantuan Sharif Ghalib, suku-suku Beduin kembali setia pada Kekaisaran Ottoman. 
Pasukan Mesir tiba di Madinah tanpa perlawanan.
  1812: Pasukan Mesir menguasai Jeddah, kemudian Mekkah dan At-Taif. Pasukan 
Wahhabi mundur ke Ad-Dariyah. Al-Madayiqqiyy dan Mubarak Ibn Madyan tertangkap 
dan dieksekusi di Istambul. Syarif Ghalib dibuang ke Salonika digantikan oleh 
Syarif Yahya sebagai penguasa Mekkah.
  1818: Abdullah bin Saud diarak keliling Istambul sebelum dieksekusi di 
Gerbang Hamayun.
   
   
   
  ------------------------------------------------
2.Gerakan Wahabbi Paderi melakukan pemberontakan bersenjata (1803 -
1838) pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, dan melakukan
pembantaian kejam atas Sultan Arifin Muning Alam Syah beserta keluarga
dan pembesar Kerajaan dalam perundingan damai pada 1908 di Tanah
Datar.
   
  ==>

  Cukup banyak ahli sejarah berpendapat bila Perang Paderi dilakukan dalam 3 
fase: (1) 1803-1821, (2) 1821-1832, dan (3) 1832-1837. Setiap fase pelaku, 
tema, dan bentuk peperangan berbeda. Pembantaian keluarga kerajaan 1808 memang 
kekeliruan yang dilakukan oleh sekelompok Pasukan Paderi pada saat itu dibawah 
kepemimpinan Tuanku Lintau, dan menjadi 'insiden'. Kejadian itu juga tidak 
dapat disebut pemberontakan, karena tidak lahir suatu 'sistem pemerintahan 
baru' (daulah).
   
  Mudy Situmorang:
  Kalau mendirikan pasukan, menyerbu pusat pemerintahan, membantai keluarga 
kerajaan secara "keliru", mendirikan benteng, tidak dapat disebut sebagai 
pemberontakan, apalah mau dikata.... 
   
   
  ----------------------------------------------
3.Gerakan Wahabbi Paderi memaksa Pemerintah Kerajaan Minangkabau di
pembuangan, dibawah Sultan Alam Bagagarsyah (lolos dari pembantaian
Paderi 1908) untuk melibatkan Kerajaan Belanda, yang berujung pada
aneksasi Minangkabau kedalam Hindia Belanda (10 Februari 1821).
   
  ==>
  Masuknya Belanda ke Padang (1819) tidak serta-merta dihadapi dengan senjata. 
Pengaruh 'Sultan' Pagaruyung di pengasingan yang tidak berdaulat serta 8 orang 
penghulu dari Tanah Datar-lah yang mengundang aneksasi Belanda ke Minangkabau.
   
  Mudy Situmorang:
  1819 lebih tepat dikatakan penyerahan Padang dari Inggris ke Belanda.
   
  Gerakan Wahabi Paderi-lah yang memaksa Kerajaan Pagarruyung di pengasingan 
mengundang aneksasi Belanda. 
   
   
   
   
  -------------------------------------------------------
4.Tuanku Imam Bonjol memperoleh kewenangan dari Tuanku Nan Renceh
untuk memimpin Benteng Bonjol (1808) atas jasanya dalam serangan ke
pusat Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung di Tanah Datar. Tuanku
Imam Bonjol mendapat mandat untuk menyerang dan menguasai wilayah
Utara Minangkabau.
   
  ==>
  Hingga tahun 1808 peran Imam Bonjol dalam Pasukan Paderi belum ada, karena 
masih berada pada tampuk Harimau nan Salapan. Terutama kejadian Kototangah 1808 
sepenuhnya berada pada Tuanku Lintau. Tampuk kepemimpinan Pasukan Paderi 
diserahkan kepada Imam Bonjol baru pada tahun 1820, setelah berpulangnya Tuanku 
nan Renceh.
   
  Mudy Situmorang:
  Ini kembali ke teori "tiba-tiba jadi pucuk pimpinan". 
  Keterlibatan Peto Syarif dalam serangan ke Tanah Datarlah yang membuat dia 
diangkat sebagai pendiri dan komandan Benteng Bonjol 1808. Kepemimpinannya 
dalam invasi ke Tanah Batak membuat dia diangkat menggantikan Tuanku Nan Rencah 
pada 1820.
   
  ------------------------------------------------------------------
5.Tuanku Imam Bonjol adalah pimpinan Gerakan Wahabbi Paderi yang
melakukan invasi ke Tanah Batak (1815 - 1820).
   
  ==>
  Invasi ke Tanah Batak dilakukan setelah adanya gangguan di perbatasan (Tambo 
Alam). Begitupun Imam Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk memimpin benteng di Rao 
dan Tuanku Tambusai untuk memimpin benteng di Dalu-dalu.
  Invasi ke dalam yang menusuk hingga ke pusat kekuasaan Kerajaan Batak 
dilakukan oleh panglima berdarah Batak sendiri, yaitu Pongki Nangolngolan. 
Sedikit mengenai tokoh Pongki ini yang terdapat perbedaan versi, malah 
disebutkan beliau inilah Tuanku Rao. Saya mengambil rujukan dari sejarah Batak 
sendiri (Panggabean 1966), yang menyebutkan bila beliau merupakan 'anak yang 
dibuang' dalam trah raja Batak, hingga tertawan oleh Pasukan Paderi, dan 
kemudian hari diambil menantu oleh Tuanku Rao. Selanjutnya diserahkan pasukan 
untuk melakukan 'pembalasan' ke tanah leluhurnya.
   
  Mudy Situmorang:
  "Tuanku Imam Bonjol adalah pimpinan Gerakan Wahabbi Paderi yang melakukan 
invasi ke Tanah Batak". 
  Terkadang menggunakan proxy war.
   
  ----------------------------------------------------------
6.Invasi ke Tanah Batak menewaskan jutaan orang akibat perang,
penjarahan, kelaparan, dan wabah kolera yang timbul sebagai dampak
invasi. Invasi diwarnai penjarahan, penculikan, pemerkosaan,
perbudakan, dan pembantaian. Invasi menewaskan Sisingamangaraja X,
Raja Bakkara (1819), melemahkan kerajaan tersebut dalam perang di
kemudian hari melawan invasi Kerajaan Belanda.

  ==>
  Sebagai catatan, 'Perang Batak' baru dimulai tahun 1873.
   
   
  Mudy Situmorang:
  1813: Rapat Raja-raja Mandailing mengundang Raja-raja Batak membahas ancaman 
Wahabi Paderi yang mulai melakukan penjarahan ke Tanah Batak.
  1815: Atas perintah Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai 
memulai invasi ke Tanah Batak dari Rao dan Dalu-dalu.
  1816: Tuanku Rao merebut Mandailing, Angkola, dan Sipirok.
  1816: Tuanku Tambusai merebut Padang Lawas antara Sungai Rohan dan Sungai 
Asahan.
  1816: Persiapan menyerbu Batak Utara dari Batak Selatan.
  1818: Pasukan Wahabi Paderi dibawah Tuanku Rao menyerang dan menjarah Uluan, 
Toba, Silindung, dan Pahae.
  1819: Sisingamangaraja X gugur. Bakkara dihancurkan oleh Tentara Wahabi 
Paderi.
  1819: Tuanku Pamansiang mengusulkan untuk menarik pasukan dari Tanah Batak 
untuk menyerang Belanda di Padang. Usul ditolak Tuanku Nan Renceh.
  1820: Wabah kolera melanda Tanah Batak, Pasukan Wahabi Paderi terpaksa mundur 
sambil menghadapi serangan dari Raja-raja Batak.
  1820: Pasukan Wahabi Paderi yang lolos dari wabah kolera sebagian membubarkan 
diri, sebagian terbunuh oleh Raja-raja Batak, sebagian mendirikan Kerajaan 
Islam di Tanah Batak: Kesultanan Asahan, Kerajaan Kotapinang, Kerajaan Bila, 
Kerajaan Panai, Kerajaan Merbau.
  1820: Batak Selatan memberontak mengusir Pasukan Wahabi Paderi dipimpin oleh 
panglima-panglima Paderi lokal yang kemudian menjadi penguasa setempat: Raja 
Gadumbang di Mandailing, Tahir Daulay aka Tuanku Junjungan di Angkola Jae, 
Jagorga Harahap aka Tuanku Daulat Berkuasa di Angkola Julu, Jatengger Siregar 
aka Tuanku Ali Sakti di Angkola Dolok.
  1820: Tuanku Nan Renceh meninggal dunia, digantikan oleh Tuanku Imam Bonjol 
secara mufakat.
   
   
  Jadi Invasi Paderi ke Tanah Batak 1815 - 1820.
   
  Belanda di Tanah Batak:
  1833: Pasukan Hindia Belanda mendarat di Natal, wilayah Mandailing atas 
undangan Raja Gadumbang. Raja Gadumbang meminta perlindungan atas penjarahan 
Pasukan Wahabi Paderi dari Padangsidempuan yang sering terjadi
  1833: Perjanjian Pekantan antara Belanda diwakili Majoor Eiler dan Raja-raja 
Mandailing memberi status protektorat pada daerah Mandailing, dengan Raja 
Gadumbang sebagai Regent van Mandailing.
   
  Terlihat betapa lemahnya Kerajaan Batak Mandailing sehingga begitu mudah 
menyerahkan kedaulatan pada Belanda. Ini adalah akibat dari Gerakan Wahabi 
Paderi dan Tuanku Imam Bonjol selaku penanggung-jawab invasi ke Tanah Batak.
   
   
  
Jangan lupa ajak teman-teman sign petition-nya ya.... kalau anda
berubah pikiran.

Regards,
Mudy Situmorang


  ----------------------------------------------------------
  ==>
  Pengaju petisi tidak mengetahui sejarah dengan baik, tidak bisa menjelaskan 
kaitan-kaitan dengan benar, dan terlalu gampang mengambil kesimpulan. Dalam 
beberapa hal petisi ini dapat mengarah pada 'penghasutan'.
  Wassalam,
   
  -datuk endang
  Menunjuk dan mengacu pada fakta sejarah saya rasa jauh dari 'penghasutan'.    
  Kalau ada yang salah mohon diluruskan.      Salam,   Mudy Situmorang 



       
---------------------------------
 Check out  the hottest 2008 models today at Yahoo! Autos.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke