Sdr Mudy Situmorang ysh, Saya memaklumi bila pengetahuan sejarah anda masih secara ensiklopedi. Perlu kiranya melakukan verifikasi terhadap data yang ada serta konstelasi untuk melihat berbagai kaitan, apalagi ini bersifat cross-countries study. Saya juga belum melihat argumen yang menguatkan hipotesis anda sebelumnya, selain dugaan demi dugaan. Saya tanggapi beberapa hal: Sistem pemerintahan Pagaruyung tidak seperti yang anda bayangkan dengan sistem kerajaan konvensional lainnya. Dapat anda verifikasi bila Agam, Limapuluh Koto, dan sebagian Tanah Datar tidak pernah mengakui kekuasaan Pagaruyung. Ini juga bisa dilihat dari sistem pemberian 'ameh manah', ada yang melakukan prosesi khusus seperti di Tanah Datar, ada yang hanya meletakkan di atas meja ketika raja berkunjung ke tempat itu, dan ada yang menyelipkan begitu saja ke tangan raja. Nilainya juga seikhlasnya. Dengan kata lain Raja Pagaruyung hanya merupakan simbol dalam sistem kemasyarakatan, dan tidak membekas sebagai sistem nilai adat dan budaya. Hal ini dapat terlihat dari berbagai pitatah-patiti dan barih-balabeh yang masih terwarisi hingga saat ini. Karena itu istilah Pagaruyung berasal dari kata 'pagar' dan 'pohon ruyung', yang menunjukkan dan membatasi suatu titik dari sedemikian luasnya wilayah Minangkabau. Dari peristiwa Kototangah 1808 anda bisa membayangkan berapa 'kekuatan bersenjata' Kerajaan Pagaruyung, apalagi bila harus 'menguasai dan mengamankan' seluruh wilayah Minangkabau. Benar bila konstelasi dekolonialisasi dikaitkan dengan kondisi Eropah pada awal abad 19, sehingga perlu anda pelajari beberapa treaty yang disepakati pada masa itu. Untuk memahami 'Bandar Padang', perlu anda pelajari sejarah Aceh dan Malaka, sehingga mengerti istilah 'bercokol' dan 'pendudukan' pada masa itu. Saya melihat kesamaan proses penerimaan agama samawi di Tanah Batak dengan masyarakat Maluku, yaitu kedua-duanya tidak melalui proses Hindu atau Budha. Dalam analisis Prof R.Z. Leirissa disebutkan bila peralihan itu menjadikan masing-masing masyarakat penganut menjadi lebih ekstrim dalam penghayatan. Ketika terjadi kerusuhan sosial di Maluku beberapa tahun yang lampau, perbedaan ini yang dapat didamaikan berabad-abad, menjadi 'cedera' ketika dibenturkan dan sulit disembuhkan. Mungkin saatnya bagi Sdr Mudy untuk menerima kenyataan bila proses peralihan ini telah terjadi pada kurun abad 19 dalam berbagai bentuk dan cara, dan telah membagi Batak menjadi Utara dan Selatan. Wassalam, -datuk endang
Mudy Situmorang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: ----- Original Message ---- From: Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, September 30, 2007 2:36:47 AM Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Petisi penolakan Imam Bonjol menjadi Pahlawan Sanak Aulia Hazza ysh, Sedikit yang saya pahami mengenai Gerakan Paderi pernah diulas di milis ini. Secara umum saya sampaikan Sdr Mudy Situmorang tidak mengetahui dan tidak memahami konteks sejarah sehingga mengambil kaitan dan kesimpulan yang keliru. Beberapa saya tanggapi sebagai berikut : Petisi ini mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan, dan meluruskan sejarah Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, sejarah tanah Sumatra, dan sejarah Republik Indonesia. ==> Saya baru mendengar istilah Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, dan pada masa itu belum ada aturan dan kaidah pemerintahan yang bersendikan agama Islam. Konstruksi 'basa ampek balai' menempatkan Raja Pagaruyung sebagai payung panji dalam suatu 'sistem kerajaan adat'. Dan sebagai catatan pula, konstruksi itu terletak di Luhak Tanah Datar. Perang Paderi memang harus dianggap sebagai 'perang ke Sumatera', karena pasca dekolonisasi 1805 sasaran tembak Belanda adalah ke ranah Minangkabau. Beberapa 'perang kecil' lain ke wilayah Indonesia pada masa itu 'hanya' untuk mengkonsolidasikan kekuatan perang Belanda untuk menghadapi Minangkabau (1820). Bila dipelajari langkah demi langkah penguasaan Belanda di Sumatera, penguasaan itu bermula dari Minangkabau dan berakhir di Aceh; padahal secara geostrategi seharusnya Belanda memulainya dari Aceh. Mudy Situmorang: Tak ada maksud saya merendahkan pengetahuan Datuk Endang, tetapi semua yang saya tuliskan berdasarkan pemikiran yang cukup mendalam dan memiliki dasar yang jelas. Kerajaan Pagarruyung tahun 1800-an adalah Kerajaan Islam, terlepas dari definisi Datuk Endang tentang kerajaan Islam. Konstruksi 'basa ampek balai' Datuk Endang sangat kurang tepat (saya tak berani mengatakan "salah"). Basa ampek balai adalah subordinat dari Rajo Tigo Selo: Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. Rajo Adat di Buo memutuskan masalah peradatan, dikelilingi oleh para haji. Rajo Ibadat di Sumpur Kudus memutuskan masalah keagamaan. Jadi Kerajaan Minangkabau Pagarruyung merupakan pemerintahan yang mengatur masalah agama, dengan demikian dapat dikategorikan sebagai Kerajaan Islam. Acuan Datuk Endang mengenai dekolonisasi 1805 tidak jelas. Perlu Datuk ketahui, Kerajaan Belanda dijajah Prancis 1806 - 1814. Langkah demi langkah yang dipelajari Datuk Endang pun kurang jelas. Karena Belanda (dan Inggris) sudah begitu lama bercokol di Padang (sejak 1663), Bengkulu (Inggris sejak 1685, diserahkan ke Belanda 1824), Palembang (1814 - 1821). Kalau ditanyakan mengapa aneksasi Mingkabau ke Hindia Belanda tahun 1821, dapat dengan mudah dijawab: karena Gerakan Wahabi Paderi. ---------------------------------------------- Tuanku Imam Bonjol berkhianat pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, membantai keluarga kerajaan, memimpin invasi ke Tanah Batak yang menewaskan lebih satu juta jiwa, menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan menewaskan Sisingamangaraja X, bertanggung-jawab atas masuknya Kerajaan Belanda di tanah Sumatera Utara dan Minangkabau. Latar Belakang: Tuanku Imam Bonjol, alias Muhammad Shahab, alias Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin, lahir 1722 di Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, meninggal di Pineleng, Minahasa, 6 November 1864. ==> Sepanjang pengetahuan saya, Peto Syarif dilahirkan di Pasaman, wilayah yang pada masa itu masih disebut sebagai 'rantau'. Sehingga tidak ada padanan istilah 'pengkhianatan' dalam hal ini. Mudy Situmorang: Ijinkan awak menyampaikan kutipan berikut: "Selain mempunyai daerah kedudukan tersendiri, Raja Alam menguasai daerah-daerah rantau. Pada setiap daerah Raja Alam mengangkat wakil-wakilnya yang diberi kewenangan mewakili kekuasaan raja disebut "urang gadang" atau "rajo kaciak". Mereka setiap tahun mengantarkan "ameh manah" kepada raja. Daerah-daerah rantau tersebut terbagi dalam dua kawasan yang lebih luas; rantau pantai timur dan rantau pantai barat. Yang termasuk ke dalam rantau pantai timur adalah; Rantau nan kurang aso duo puluah (di sepanjang Batang Kuantan) disebut juga Rantau Tuan Gadih; Rantau duo baleh koto (sepanjang batang Sangir) disebut juga Nagari Cati Nan Batigo; Rantau Juduhan (kawasan Lubuk Gadang dan sekitarnya) disebut juga Rantau Yang Dipertuan Rajo Bungsu; Rantau Bandaro nan 44 (sekitar Sei.Tapung dan Kampar); Negeri Sembilan Sedangkan rantau pantai barat mencangkup daerah-daerah; Bayang nan 7, Tiku Pariaman, Singkil Tapak Tuan disebut juga Rantau Rajo; Bandar X disebut juga Rantau Rajo Alam Surambi Sungai Pagu." Yang disebut daerah rantau dan membayar upeti pada Pagarruyung adalah wilayah Kerajaan Pagarruyung. --------------------------------------------------- Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 Nopember 1973. Pada kenyataannya ditemukan fakta-fakta berikut: 1.Tuanku Imam Bonjol adalah salah satu panglima utama Gerakan Wahabbi Paderi (1801 - 1838) dibawah Tuanku Nan Renceh, dan kemudian menjadi pimpinan Gerakan Wahabbi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaeda, yaitu Wahabbi ekstrim. ==> Peran Tuanku Imam Bonjol dalam Perang Paderi baru muncul pada tahun 1812, setelah berhasil mempertahankan 'benteng Bonjol' di Alahan Panjang. Setelah keberhasilan ini selanjutnya Imam Bonjol ditugaskan untuk memimpin Pasukan Paderi di Pasaman. Beliau memimpin pasukan mulai dari Lubuk Sikaping, Rao, Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku, dan seluruh pantai barat Minangkabau sebelah utara. Gerakan Wahabi pada masa itu sudah saatnya dipelajari sebagai upaya 'membentengi wilayah Islam' dari 'perluasan pengaruh Perang Salib' dalam versi berbeda. Bila ingin memahami Taliban dan Al Qaeda, hendaknya mempelajari kaitan sejarah, karena organisasi ini tidak muncul serta-merta. Mudy Situmorang: Mohon maaf sekali lagi Datuk. Tuanku Imam Bonjol memang baru terkenal 1812 setelah berhasil mempertahankan 'benteng bonjol' dari serangan Datuk Sati, yang setia pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung. Tetapi apakah si Peto Syarif tiba-tiba membangun benteng Bonjol yang berada pada area 90 hektar dengan tembok setinggi 4 meter dan tebal 3 meter? Yang perlu ditambahkan pada catatan Datuk Endang bahwa si Peto Syarif diberi wewenang membangun benteng di Bonjol langsung atas instruksi Tuanku Nan Renceh pada 1808, segera setelah pembantaian keluarga Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung oleh pasukan Paderi. Mengapa Peto Syarif mendapat mandat tersebut? karena dia adalah veteran perang Tanah Datar yang menaklukkan Kerajaan Pagarruyung. Gerakan Wahabi tidak ada hubungan historis dengan Perang Salib atau perluasannya. Berikut sedikit untuk menambahkan catatan Datuk yang saya yakin cukup lengkap: 1740: Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab membuat buku kontroversial, menandai dimulainya gerakan wahhabi. 1744: Mohammad bin Saud, penguasa Ad-Dariyah melakukan sumpah aliansi dengan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mengislamkan kembali jazirah Arab. Abdul Azis, anak Mohammad bin Saud, dinikahkan dengan putri Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. 1795: Pasukan Wahhabi menyerang Al-Ihsaa dan Qatar 1801: Gerakan Wahabi menyerang Taif dan menguasai Karbala. Uthman al-Madayiqqiyy diangkat sebagai penguasa Taif. 1802: Pasukan Wahhabi menguasai Mekah dan Medinah, Abdul Muin, saudara Syarif Ghalib diangkat sebagai penguasa Mekah. Syarif Ghalib mundur ke Jeddah. Pasukan Wahhabi kemudian meninggalkan Mekah untuk menundukkan suku-suku Arab. 1802: Pasukan Wahhabi mengepung Jeddah selama 8 hari, Syarif Ghalib dan Syarif Basha berhasil mempertahankan Jeddah 1802: Pasukan Ottoman dibawah Syarif Ghalib dan Syarif Basha (Penguasa Jeddah) mengalahkan pasukan Wahhabi yang menjaga Mekah. 1802: Haji Miskin, Haji Abdur Rahman dan Haji Muhammad Arief kembali ke Minangkabau dengan paham Wahabi ekstrim pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Sultan Muning Alamsyah di Kesultanan Islam Pagarruyung. Haji Miskin dan Haji Muh. Arief ditolak masyarakat. 1804: Pasukan Wahhabi merebut Mekkah. Syarif Ghalib tetap dengan status penguasa Mekkah, sedang Mubarak Ibn Madyan, seorang Wahhabi menjadi penguasa Madinah. 1810: Sultan Ottoman memerintahkan Muhammad Ali, Pasha Mesir memberantas Gerombolan Wahhabi. 1811: Muhammad Ali memimpin pasukan ke Jazirah Arab, dengan 18 meriam. Dengan bantuan Sharif Ghalib, suku-suku Beduin kembali setia pada Kekaisaran Ottoman. Pasukan Mesir tiba di Madinah tanpa perlawanan. 1812: Pasukan Mesir menguasai Jeddah, kemudian Mekkah dan At-Taif. Pasukan Wahhabi mundur ke Ad-Dariyah. Al-Madayiqqiyy dan Mubarak Ibn Madyan tertangkap dan dieksekusi di Istambul. Syarif Ghalib dibuang ke Salonika digantikan oleh Syarif Yahya sebagai penguasa Mekkah. 1818: Abdullah bin Saud diarak keliling Istambul sebelum dieksekusi di Gerbang Hamayun. ------------------------------------------------ 2.Gerakan Wahabbi Paderi melakukan pemberontakan bersenjata (1803 - 1838) pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung, dan melakukan pembantaian kejam atas Sultan Arifin Muning Alam Syah beserta keluarga dan pembesar Kerajaan dalam perundingan damai pada 1908 di Tanah Datar. ==> Cukup banyak ahli sejarah berpendapat bila Perang Paderi dilakukan dalam 3 fase: (1) 1803-1821, (2) 1821-1832, dan (3) 1832-1837. Setiap fase pelaku, tema, dan bentuk peperangan berbeda. Pembantaian keluarga kerajaan 1808 memang kekeliruan yang dilakukan oleh sekelompok Pasukan Paderi pada saat itu dibawah kepemimpinan Tuanku Lintau, dan menjadi 'insiden'. Kejadian itu juga tidak dapat disebut pemberontakan, karena tidak lahir suatu 'sistem pemerintahan baru' (daulah). Mudy Situmorang: Kalau mendirikan pasukan, menyerbu pusat pemerintahan, membantai keluarga kerajaan secara "keliru", mendirikan benteng, tidak dapat disebut sebagai pemberontakan, apalah mau dikata.... ---------------------------------------------- 3.Gerakan Wahabbi Paderi memaksa Pemerintah Kerajaan Minangkabau di pembuangan, dibawah Sultan Alam Bagagarsyah (lolos dari pembantaian Paderi 1908) untuk melibatkan Kerajaan Belanda, yang berujung pada aneksasi Minangkabau kedalam Hindia Belanda (10 Februari 1821). ==> Masuknya Belanda ke Padang (1819) tidak serta-merta dihadapi dengan senjata. Pengaruh 'Sultan' Pagaruyung di pengasingan yang tidak berdaulat serta 8 orang penghulu dari Tanah Datar-lah yang mengundang aneksasi Belanda ke Minangkabau. Mudy Situmorang: 1819 lebih tepat dikatakan penyerahan Padang dari Inggris ke Belanda. Gerakan Wahabi Paderi-lah yang memaksa Kerajaan Pagarruyung di pengasingan mengundang aneksasi Belanda. ------------------------------------------------------- 4.Tuanku Imam Bonjol memperoleh kewenangan dari Tuanku Nan Renceh untuk memimpin Benteng Bonjol (1808) atas jasanya dalam serangan ke pusat Kerajaan Islam Minangkabau Pagarruyung di Tanah Datar. Tuanku Imam Bonjol mendapat mandat untuk menyerang dan menguasai wilayah Utara Minangkabau. ==> Hingga tahun 1808 peran Imam Bonjol dalam Pasukan Paderi belum ada, karena masih berada pada tampuk Harimau nan Salapan. Terutama kejadian Kototangah 1808 sepenuhnya berada pada Tuanku Lintau. Tampuk kepemimpinan Pasukan Paderi diserahkan kepada Imam Bonjol baru pada tahun 1820, setelah berpulangnya Tuanku nan Renceh. Mudy Situmorang: Ini kembali ke teori "tiba-tiba jadi pucuk pimpinan". Keterlibatan Peto Syarif dalam serangan ke Tanah Datarlah yang membuat dia diangkat sebagai pendiri dan komandan Benteng Bonjol 1808. Kepemimpinannya dalam invasi ke Tanah Batak membuat dia diangkat menggantikan Tuanku Nan Rencah pada 1820. ------------------------------------------------------------------ 5.Tuanku Imam Bonjol adalah pimpinan Gerakan Wahabbi Paderi yang melakukan invasi ke Tanah Batak (1815 - 1820). ==> Invasi ke Tanah Batak dilakukan setelah adanya gangguan di perbatasan (Tambo Alam). Begitupun Imam Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk memimpin benteng di Rao dan Tuanku Tambusai untuk memimpin benteng di Dalu-dalu. Invasi ke dalam yang menusuk hingga ke pusat kekuasaan Kerajaan Batak dilakukan oleh panglima berdarah Batak sendiri, yaitu Pongki Nangolngolan. Sedikit mengenai tokoh Pongki ini yang terdapat perbedaan versi, malah disebutkan beliau inilah Tuanku Rao. Saya mengambil rujukan dari sejarah Batak sendiri (Panggabean 1966), yang menyebutkan bila beliau merupakan 'anak yang dibuang' dalam trah raja Batak, hingga tertawan oleh Pasukan Paderi, dan kemudian hari diambil menantu oleh Tuanku Rao. Selanjutnya diserahkan pasukan untuk melakukan 'pembalasan' ke tanah leluhurnya. Mudy Situmorang: "Tuanku Imam Bonjol adalah pimpinan Gerakan Wahabbi Paderi yang melakukan invasi ke Tanah Batak". Terkadang menggunakan proxy war. ---------------------------------------------------------- 6.Invasi ke Tanah Batak menewaskan jutaan orang akibat perang, penjarahan, kelaparan, dan wabah kolera yang timbul sebagai dampak invasi. Invasi diwarnai penjarahan, penculikan, pemerkosaan, perbudakan, dan pembantaian. Invasi menewaskan Sisingamangaraja X, Raja Bakkara (1819), melemahkan kerajaan tersebut dalam perang di kemudian hari melawan invasi Kerajaan Belanda. ==> Sebagai catatan, 'Perang Batak' baru dimulai tahun 1873. Mudy Situmorang: 1813: Rapat Raja-raja Mandailing mengundang Raja-raja Batak membahas ancaman Wahabi Paderi yang mulai melakukan penjarahan ke Tanah Batak. 1815: Atas perintah Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai memulai invasi ke Tanah Batak dari Rao dan Dalu-dalu. 1816: Tuanku Rao merebut Mandailing, Angkola, dan Sipirok. 1816: Tuanku Tambusai merebut Padang Lawas antara Sungai Rohan dan Sungai Asahan. 1816: Persiapan menyerbu Batak Utara dari Batak Selatan. 1818: Pasukan Wahabi Paderi dibawah Tuanku Rao menyerang dan menjarah Uluan, Toba, Silindung, dan Pahae. 1819: Sisingamangaraja X gugur. Bakkara dihancurkan oleh Tentara Wahabi Paderi. 1819: Tuanku Pamansiang mengusulkan untuk menarik pasukan dari Tanah Batak untuk menyerang Belanda di Padang. Usul ditolak Tuanku Nan Renceh. 1820: Wabah kolera melanda Tanah Batak, Pasukan Wahabi Paderi terpaksa mundur sambil menghadapi serangan dari Raja-raja Batak. 1820: Pasukan Wahabi Paderi yang lolos dari wabah kolera sebagian membubarkan diri, sebagian terbunuh oleh Raja-raja Batak, sebagian mendirikan Kerajaan Islam di Tanah Batak: Kesultanan Asahan, Kerajaan Kotapinang, Kerajaan Bila, Kerajaan Panai, Kerajaan Merbau. 1820: Batak Selatan memberontak mengusir Pasukan Wahabi Paderi dipimpin oleh panglima-panglima Paderi lokal yang kemudian menjadi penguasa setempat: Raja Gadumbang di Mandailing, Tahir Daulay aka Tuanku Junjungan di Angkola Jae, Jagorga Harahap aka Tuanku Daulat Berkuasa di Angkola Julu, Jatengger Siregar aka Tuanku Ali Sakti di Angkola Dolok. 1820: Tuanku Nan Renceh meninggal dunia, digantikan oleh Tuanku Imam Bonjol secara mufakat. Jadi Invasi Paderi ke Tanah Batak 1815 - 1820. Belanda di Tanah Batak: 1833: Pasukan Hindia Belanda mendarat di Natal, wilayah Mandailing atas undangan Raja Gadumbang. Raja Gadumbang meminta perlindungan atas penjarahan Pasukan Wahabi Paderi dari Padangsidempuan yang sering terjadi 1833: Perjanjian Pekantan antara Belanda diwakili Majoor Eiler dan Raja-raja Mandailing memberi status protektorat pada daerah Mandailing, dengan Raja Gadumbang sebagai Regent van Mandailing. Terlihat betapa lemahnya Kerajaan Batak Mandailing sehingga begitu mudah menyerahkan kedaulatan pada Belanda. Ini adalah akibat dari Gerakan Wahabi Paderi dan Tuanku Imam Bonjol selaku penanggung-jawab invasi ke Tanah Batak. Jangan lupa ajak teman-teman sign petition-nya ya.... kalau anda berubah pikiran. Regards, Mudy Situmorang ---------------------------------------------------------- ==> Pengaju petisi tidak mengetahui sejarah dengan baik, tidak bisa menjelaskan kaitan-kaitan dengan benar, dan terlalu gampang mengambil kesimpulan. Dalam beberapa hal petisi ini dapat mengarah pada 'penghasutan'. Wassalam, -datuk endang Menunjuk dan mengacu pada fakta sejarah saya rasa jauh dari 'penghasutan'. Kalau ada yang salah mohon diluruskan. Salam, Mudy Situmorang --------------------------------- Check out the hottest 2008 models today at Yahoo! Autos. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
