Yang diuntungkan dengan adanya pariwisata siapa sih ? rakyatkah ?
petanikah ? atau malah sebagian besar keuntungan dinikmati oleh para
kapitalis global ? Artikel yang dimuat koran Balipost dibawah cukup
baik untuk disimak !

zul amry piliang .
 
ARENA PATA Travel Mart 2007 di Nusa Dua mengisyaratkan beberapa hal.
Antara lain munculnya sejumlah kecenderungan dan terjadinya pergeseran
minat (interest) para pelaku perpelancongan dunia. Wisatawan makin
mencari destinasi dan produk wisata yang ''lain''. Bukan berarti
destinasi atau produk wisata yang asal tampil beda, tetapi menjanjikan
suatu pengalaman yang tak terlupakan bagi wisatawan.

Presiden PATA Peter de Jong menyebut antara lain minat wisatawan
terdahap destinasi yang alamnya eksotik, asli dengan kebudayaan yang
unik. Juga makin tumbuh ceruk pasar (market share) wisatawan minat
khusus yang menyukai adventure, wisata meditasi dan lainnya. Wisatawan
juga makin concern dengan produk-produk wisata yang ramah lingkungan
(eco-friendly), termasuk produk pertanian organik.

Di sisi lain, berbagai transaksi di dunia pariwisata saat ini lebih
banyak yang memanfaatkan dunia maya dengan berbagai turunan
teknologinya. Apa yang disebut e-commerce dan transksi on-line. Baik
seller maupun buyer tak lagi harus selalu bertransaksi secara
konvensional, tatap muka. Berbagai komitmen bisnis ke seantero jagat
bisa dilakukan dari sebuah ruang kecil melalui laptop atau note book.

Untuk bisa masuk ke domain ini diperlukan pengetahuan, keterampilan,
network dan yang paling penting memiliki reputasi. Itulah ciri
perusahaan atau personal yang bisa memasuki pergaulan bisnis global.
Pariwisata dengan basis jasa pelayanan sangat dekat dengan
kecenderungan di atas. Pola-pola penjualan dan pemasaran (sale and
marketing) yang konvensional, kini mulai bergeser.

Berbagai kecenderungan ini mau tidak mau harus diikuti oleh industri
pariwisata, sekecil apa pun kapasitasnya. Bersaing di era global
berarti harus siap mempersenjatai diri dengan berbagai hal di atas;
pengetahuan, keterampilan, network dan yang paling penting memiliki
reputasi. Memang dirasakan tidak adil, karena teknologi umumnya lahir
di negara-negara maju.

Berbicara tentang pariwisata Bali ke depan, kalau kita tak mau menjadi
kacung di rumah kita sendiri, seluruh komponen pariwisata di sini
harus mawas diri. Artinya, mampu mengamati berbagai kecenderungan yang
ada, menyiapkan langkah antisipatif dan secara bersama mencari solusi.
Keinginan untuk untung sendiri, menang sendiri harus dilupakan, karena
hal itu hanyalah menunda kerugian dan kekalahan.

Kata kuncinya di sini, adalah kolektivitas dan kebersamaan. Tidak
dalam arti yang lemah dan kecil menjadi beban bagi yang kuat dan
besar, tetapi justru mencari kekuatan dan kebesaran dari yang kecil
dan lemah. Ungkapan ini mungkin terlampau abstrak, namun maknanya
sesungguhnya terang benderang. Bahwa sektor pariwisata harus mampu
menjadi lokomotif bagi sektor lain, terutama pertanian dan pelakunya.

Kita tak bisa pasrah pada hukum pasar yang kerap berlaku tak adil.
Kita di sini harus mampu "mengendalikan" hukum pasar itu agar
berkeadilan. Contoh klasik mengenai hal ini adalah nilai tambah (value
added) pariwisata. Satu kilogram tomat di tangan petani harganya
sekitar Rp 4.000. Namun ketika diolah kemudian disajikan menjadi
tomato juice di hotel atau restoran, harganya bisa 4 - 5 dolar AS per
gelas.

Sektor pariwisata telah memungkinkan sebuah produk yang begitu murah
menjadi mahal hanya dengan mengubah wujud sekaligus memberi sentuhan
artistik di dalamnya. Dari ilustrasi di atas, satu kilogram tomat
senilai Rp 4.000 dari tangan petani bisa menjadi Rp 200.000 - Rp
300.000 di hotel atau restoran. Suatu jarak yang begitu jauh. Begitu
ajaibnya dunia pariwisata !

Tampaknya distribusi keuntungan pariwisata belum cukup proporsional,
kalau tak boleh disebut tidak adil. Fenomena ini memang menjadi gejala
umum kapitalis, tetapi di balik kapital selalu ada orang yang
menggerakkannya. Dalam konteks inilah dibutuhkan leadership, di mana
pemerintah dan legistatif harus menyiapkan instrumen untuk
melembagakan distribusi keuntungan pariwisata secara berkeadilan.
Tanpa itu, kemajuan pariwisata hanya dinikmati segelintir manusia
global ! 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke