Pengantar: setelah memperhatikan postings dari para sanak netters tentang 
Kerajaan  Malaysia, izinkan pula saya menyampaikan pandangan pribadi saya 
tentang sikap  yang seyogyanya kita ambil terhadap negeri itu. Pendapat saya 
ini sudah saya posting dalam website pribadi saya 
www.saafroedinbahar.grahacitra.com.

   ***
  Setelah demikian lama menahan diri – mungkin karena selama ini secara ekonomi 
merasa membutuhkan ‘belas kasihan’ Malaysia – akhirnya Pemerintah Republik 
Indonesia kehilangan kesabarannya dan melancarkan protes terbuka terhadap 
Pemerintah Kerajaan Malaysia terhadap pelecehan warga negara Republik Indonesia 
di negeri itu. Sebelum itu, Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda menyampaikan 
kepada publik, bahwa beliau tidak percaya pada konsep ‘negara serumpun Melayu’. 
Ringkasnya, hubungan antara Republik Indonesia dengan Kerajaan Malaysia yang 
memburuk dan mendingin sejak kasus pulau Sipadan dan Ligitan serta perairan 
Ambalat beberapa waktu yang lalu, pada saat ini sudah mendekati titik nadir. 
  Pemicu langsung dari protes terbuka ini adalah insiden antara anggota RELA – 
semacam ‘banpol’ Malaysia yang memang bertugas menguber imigran gelap--  dengan 
seorang isteri diplomat Indonesia yang dikira imigran gelap walau sudah 
menunjukkan dokumen-dokumennya. Walaupun secara resmi Pemerintah Kerajaan 
Malaysia meminta maaf, dan secara formal bisa dianggap masalahnya selesai, 
namun terlihat jelas, bahwa insiden tersebut tersebut hanyalah merupakan puncak 
kecil dari gunung es yang lebih besar, yaitu ketidakseimbangan kekuatan 
ekonomi, politik,  dan militer dalam dasawarsa terakhir ini antara Republik 
Indonesia dengan Kerajaan Malaysia. Seperti dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri 
Hasan Wirayuda, tidak ada soal rumpun-rumpunan dalam hal ini. 
  Pelecehan dan penghinaan oleh masyarakat dan Pemerintah Kerajaan Malaysia 
sesungguhnya merupakan fenomena baru dan berlangsung terus karena tidak adanya 
reaksi tegas dari fihak Indonesia. Patok-patok pagar perbatasan di Kalimantan 
digeser oleh pengusaha kayu Malaysia, kita diam. Pulau Sipadan dan Ligitan 
diduduki dan dieksploitir oleh pengusaha pariwisata Malaysia, kita diam. 
TKI-TKW Indonesia digiring, dipukuli, dan diusir sebagai hewan oleh polisi 
Malaysia, kita bungkem. Turis Indonesia dirazzia dan dihina, kita tak bereaksi. 
Adalah wajar jika dengan penampilan yang lembek demikian, tidak ada yang akan 
respek dengan Bangsa dan Negara ini. Adalah logis, bahwa Kerajaan Malaysia yang 
merupakan OKB (=Orang Kaya Baru) Asia, yang di dalam negeri secara politik 
merasa cukup kuat – mungkin karena masih berlakunya Internal Security Act – dan 
dalam segi militer merupakan bagian dari aliansi pertahanan dengan Singapura, 
Australia, New Zealand, dan Inggeris, merasa cukup aman untuk
 melecehkan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, without any  
risk whatsoever. 
  Rasa-rasanya penghinaan dan pelecehan terhadap orang Indonesia – yang di 
Malaysia disebut sebagai Indon – memang meningkat sejak berbondong-bondongnya 
TKI dan TKW ke negara itu, baik yang legal maupun yang illegal, dan karena 
Indonesia tidak pernah menunjukkan sikap keras dan tegas terhadap pelanggaran 
hak-hak warganegaranya oleh petugas-petugas kerajaan tersebut. Perhatikan 
betapa berbedanya perlakuan negara-negara lain – termasuk Malaysia -- terhadap 
tenaga kerja Filipina, yang dibela mati-matian oleh Presidennya, Gloria 
Macapagal-Arraujo. 
  Secara pribadi saya berpendapat bahwa kemarahan hampir segala lapisan dan 
kalangan di Indonesia terhadap Kerajaan Malaysia dewasa ini adalah sehat, dan 
perlu dikonsolidasikan lebih lanjut untuk mengubah keseimbangan kekuatan dengan 
negara-negara lain, termasuk dengan Kerajaan Malaysia ini. Sudah terlalu lama – 
sepuluh tahun – kehidupan kebangsaan dan kenegaraan di Indonesia berjalan 
mengambang tanpa arah, dimana yang kaya tambah kaya dan yang miskin tambah 
miskin.  Bagaimanapun harus diakui, bahwa krisis ekonomi, krisis politik, dan 
krisis kepemimpinan di Indonesia sejak tahun 1997, yang kelihatannya belum 
dapat diselesaikan secara jelas sampai saat ini, telah menjadikan Republik 
Indonesia sebagai the pariah and sick man of Asia, yang tidak lagi 
diperhitungkan siapa pun juga di kawasan ini.
  Bagaimana mungkin Republik Indonesia ini akan disegani oleh dunia luar, 
apalagi dihormati, jika demikian banyak pejabat dan mantan pejabatnya 
diberitakan terlibat dalam korupsi dalam jumlah yang naudzubillah besarnya, dan 
dengan kepiawaian para pengacaranya hampir seluruhnya mampu lolos dari jeratan 
hukum ?  Bagaimana mungkin rakyat akan respek terhadap para pemimpin, kalau 
yang mereka saksikan hanyalah berita tentang konflik pribadi berkepanjangan, 
serta berbagai akal-akalan untuk memperkaya diri, dengan mengabaikan 
penderitaan rakyat banyak ? Bagaimana mungkin harga diri bangsa ini akan 
dihormati, jika seluruh persenjataan angkatan perangnya sudah kuno dan secara 
militer pasti dapat dilumpuhkan dengan mudah ? Bagaimana mungkin angkatan 
perang ini akan berwibawa, jika kesejahteraan dan disiplin prajuritnya amat 
memperihatinkan dan demikian sering berkelahi sendiri satu sama lain?
  Dengan demikian, jika kita tidak ingin lagi dilecehkan secara berkepanjangan, 
baik oleh Kerajaan Malaysia atau oleh siapaun juga, cara sehat untuk memberikan 
respons adalah memperbaiki citra dan mengubah imbangan kekuatan, sehingga 
Bangsa dan Negara ini menjadi bangsa yang bukan saja secara ekonomi kuat, 
politik kukuh, dan secara militer juga ditakuti. Untuk itu kita tidak usah 
ikut-ikutan membuat bom nuklir, walaupun sekiranya kita mempunyai fasilitas dan 
tenaga ahli. Strategi dasarnya adalah lenyapkan segala kelemahan yang terlihat 
jelas sejak tahun 1997, dan bangunlah kembali kekuatan nasional dalam segala 
bidang: terutama dalam bidang ekonomi, politik, dan militer, dan secara 
bertahap tentunya juga dalam bidang sosial budaya.
  Kepada siapakah himbauan ini ditujukan ? Dalam sistem pemerintahan 
presidensial yang kita anut, sudah barang tentu terlaksana tidaknya strategi 
nasional akan terletak di atas pundak kepemimpinan satu orang saja, yaitu 
presiden Republik Indonesia, yang saat ini dipangku oleh Jenderal Pur Dr Susilo 
Bambang Yudhoyono. Pada saat dipilih secara langsung pada tahun 2004 beliau 
memperoleh tingkat legitimasi yang sangat tinggi, dan pada saat ini pun masih 
memperoleh dukungan besar dari rakyat Indonesia. Artinya mau tidak mau jenderal 
yang santun ini sekarang secara pribadi memegang peran sejarah yang penting 
untuk memulihkan citra dan martabat bangsa Indonesia yang telah sangat merosot 
ini. 
  Banyak kritik yang disampaikan publik terhadap gaya kepemimpinan jenderal 
ini, yang pada dasarnya berkisar pada satu tema saja, yaitu terlalu lama dalam 
mengambil suatu keputusan yang penting. Ada kalanya malah sama sekali tidak 
mengambil keputusan apapun seperti misalnya tentang calon anggota Komisi 
Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang sampai sekarang pun tak jelas ujung 
pangkalnya. Sudah barang tentu tidaklah diharapkan agar keputusan kepresidenan 
dibuat asal-asalan saja, namun faktor waktu dan ketegasan rasanya juga amat 
perlu dipertimbangkan, khususnya bagi suatu bangsa yang sedang mengalami proses 
transformasi besar dan sistemik seperti Bangsa Indonesia dewasa ini. 
  Susahnya, sampai tahun 2009 yang akan datang, perhatian beliau jelas akan 
terpecah pula sehubungan dengan Pemilihan Presiden tahun 2009, dimana Wakil 
Presiden Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar akan mencalonkan diri 
atau dicalonkan partainya  sebagai rival beliau, dan beberapa menteri mungkin 
sekali akan membantu para calon presiden dari partainya masing-masing. Itulah 
kerugiannya jika sistem pemerintahan presidensial yang dianut oleh 
Undang-Undang Dasar 1945 digabung dengan pertimbangan praksis sistem 
pemerintahan parlementer dalam proses penyusunan kabinet. Seyogyanya, calon 
presiden dan wakil presiden berasal dari satu partai yang sama, dan seorang 
presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat tidak perlu memasukkan 
unsur-unsur partai politik lain ke dalam kabinetnya. 
  Bagaimana pun, dalam momen yang sangat historis ini keputusan tentang langkah 
strategis yang harus diambil oleh Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia 
dalam meningkatkan ketahanan nasional pada umumnya dan dalam menghadapi 
rangkaian penghinaan dan pelecehan oleh Kerajaan Malaysia – atau oleh negara 
lain – pada khususnya terletak di tangan pribadi Presiden RI Jenderal Pur Dr 
Susilo Bambang Yudhoyono, seperti tercantum dalam plaket yang terletak di atas 
meja kerja Presiden Harry S Truman: the buck stops here. 
  Sebagai suatu reminder dalam hubungan kita dengan Kerajaan Malaysia, 
bagaimana kalau kita kumandangkan: Remember Sipadan, Ligitan, and Ambalat ? 
Secara pribadi saya amat yakin bahwa kita tidak akan selalu berada dalam 
keadaan amburadul seperti sekarang. Ada saatnya kita harus menyeimbangkan skor 
dengan Kerajaan Malaysia, yang pernah kita sebut sebagai ‘saudara serumpun’ itu.
   


       
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by.    Make it a reality with Yahoo! Autos. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke