Ini tulisan yg menyentuh dan mengetuk
terima kasih Z.Rjy Mulie semoga jadi amal
salam
K Suheimi
"Z. Rky Mulie" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dr. Rizal Ramli : Cangkir Emas Dipakai Mengemis
Petikan wawancara Dr. Rizal Ramli dengan Kabar Indonesia.com
---------- dipangkas --------
Sebagai seorang ahli ekonomi kelas dunia, sudah barang tentu akan sangat
menarik untuk mendengar komentar dan pandangan-pandangannya tentang keadaan
ekonomi serta prospek perekonomian Indonesia di tengah arus ekonomi global
selama ini. Menurut Rizal, yang sejak 2006 lalu tercatat menjadi wakil
pemerintah pada PT Semen Gresik (pesero) Tbk sebagai Presiden Komisaris, negara
kita sebenarnya adalah negara kaya raya yang digadaikan kepada pihak asing
dengan harga sangat murah; ibarat cangkir emas yang digunakan mengemis uang
recehan kepada negara-negara kreditor. Berikut ini adalah hasil wawancara
KabarIndonesia dengan Bapak Dr. Rizal Ramli di Jakarta beberapa waktu lalu,
yang dituturkan dengan gaya monolog.
KabarIndonesia :
Pak Rizal Ramli, politik dan ekonomi ibarat dua sisi mata uang, saling
terkait satu sama lain. Mohon diuraikan pandangan-pandangan, hasil analisa, dan
prediksi Pak Rizal tentang kondisi politik dan hubungannya dengan pembangunan
ekonomi Indonesia ke masa depan, dan mungkin ada pesan-pesan yang dapat
disampaikan kepada masyarakat kita agar bisa segera keluar dari krisis ekonomi
yang belum juga pulih hingga kini?
Dr. Rizal Ramli :
Politik di Indonesia agak berbeda dengan politik di luar negeri. Mungkin kita
masih dalam tahap awal dalam berdemokrasi. Politik kita masih pada tahap love
and hate relationship (hubungan berdasarkan cinta dan benci red). Jadi,
pemimpin itu mula-mula sangat dicintai, ekspektasi rakyat itu sangat
berlebihan. Kemudian ada periode di mana mulai ada tanda tanya, betul tidak
pemimpin ini bekerja untuk kita semua? Betul tidak ini pemimpin untuk semua
pihak? Nah, setelah itu, seandainya pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa
dijawab, masuk ke fase hate. Kalau sudah hate, orang Indonesia rata-rata selalu
berkata asal bukan. Misalnya waktu itu asal bukan Soeharto, asal bukan
Habibie, asal bukan Gusdur, asal bukan Megawati. Memang SBY (Presiden Soesilo
Bambang Yudhoyono red) saat ini sudah masuk fase kritis. Sudah mulai orang
berpikir asal bukan. Sebetulnya sangat ironis, presiden pertama yang dipilih
secara demokratis, presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.
Ada dua masalah utama yang dihadapi Indonesia. Pertama: kualitas kepemimpinan
dan yang kedua school of thought (cara berpikir red) dalam bidang itu, yang
lebih banyak mengandalkan cara berfikir apa yang dikenal di kalangan economist
Washington Consensus. Yaitu garis kebijakan ekonomi dari Washington untuk
negara-negara berkembang, yang mereka sendiri tidak laksanakan dalam
prakteknya. Di Asia Timur ini hanya ada dua negara yang secara konsisten
melaksanakan Washington Consensus, yaitu Indonesia dan Philipina. Kedua negara
ini tingkat ketimpangannya sangat luar biasa. Kedua negara ini, sejak beberapa
dekade terus merosot. Prestasi terbesar dari kedua negara ini adalah menjadi
eksportir tenaga kerja wanita terbesar di dunia.
Negara-negara di Asia Timur lainnya seperti Malaysia, Singapura, Thailand,
China, Jepang dan sebagainya tidak menjalankan Washington Consensus. Mereka
lebih percaya bahwa di dalam bidang ekonomi, dalam perumusan kebijakan di
bidang ekonomi, mereka lebih mandiri; menggunakan apa yang disebut model Asia
Timur. Dalam model Washington Consensus, peranan pemerintah seminimum mungkin,
sementara dalam model Asia Timur pemerintah memainkan peranan yang proaktif
dalam bidang ekonomi. Dengan cara inilah negara-negara di Asia Timur mengejar
ketinggalannya dari Barat. Walaupun di dalam bidang politik dan militer mereka
bekerjasama dengan Washington, tetapi dalam bidang ekonomi mereka mau mandiri
dalam perumusan kebijakan, karena hanya dengan cara itu mereka bisa mengejar
ketertinggalan dari Barat dan pelan-pelan nanti mereka bisa lebih kuat secara
militer.
Pada pertengahan tahun 1960-an GNP perkapita Indonesia, Malaysia, Thailand,
Taiwan, China nyaris sama, yaitu kurang dari US$100 per kapita. Setelah lebih
dari 40 tahun, GNP perkapita negara-negara tersebut pada tahun 2004, mencapai:
Indonesia sekitar US$ 1.000, Malaysia US$ 4.520, Korea Selatan US$ 14.000,
Thailand US$ 2.490, Taiwan US$ 14.590, China US$ 1.500. Jadi harus ada
pertanyaan. kok negara-negara lain bisa maju lebih cepat, tingkat kesejahteraan
rakyatnya lebih baik, jurang antara kaya-miskin ada tapi tidak sebesar yang ada
di Indonesia. Nah, tidak bisa hanya menyalahkan presiden demi presiden, tapi
karena ada satu school of thought yang dominan di dalam pembangunan ekonomi
Indonesia yang hanya merupakan sub-ordinasi dari kepentingan Internasional.
Dari segi yang lain, kalau dilihat dari segi sejarah, kita itu mendapatkan
political independence (kemerdekaan politik - red) pada 17 Agustus 1945,
kemerdekaan politik sebagai bangsa. Tahun 1998, rakyat kita mendapatkan
freedom, demokrasi, kebebasan untuk menyatakan apa saja dan menulis apa saja
yang selama rezim otoriter Soeharto tidak mungkin. Tetapi sejak tahun 1945,
belum pernah terjadi kebangkitan ekonomi. Tidak ada kebangkitan ekonomi.
Setelah tahun 1998, kita juga tidak punya kebangkitan ekonomi itu. Jadi harus
ada pertanyaan mendasar, ketika kita sudah memiliki political independence,
sudah memiliki freedom in terms of democratic mechanism (kebebasan dalam arti
mekanisme demokrasi red), tetapi mengapa belum pernah terjadi kebangkitan
ekonomi sampai sekarang.
Nah, jawabannya adalah apa yang disebut the creeping back of neo-colonialism
(kembalinya kolonialisme gaya baru red). Bukan lagi model kolonialisme jaman
dulu, pakai kekuatan militer dan dominasi politik, tetapi penguasaan ekonomi
melalui mekanisme pasar. Proses kembalinya neo-kolonialisme itu sebetulnya
dimulai pada tahun 1967 saat renegosiasi utang dengan kreditor-kreditor. Set
back sedikit, waktu KMB (Konferensi Meja Bundar red) di Belanda, Indonesia
memang ditekan pada waktu itu untuk mengambil alih utang-utang pemerintahan
Hindia Belanda. Publik tidak banyak tahu bahwa Pemerintah Indonesia ditekan
untuk membayar seluruh utang-utang dari pemerintah Hindia Belanda. Padahal
banyak dari utang-utang itu adalah utang untuk melawan dan menghancurkan
kelompok pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk para pejuang kemerdekaan kita,
seperti perang di Aceh, perang Pattimura di Maluku, dan sebagainya. Itu adalah
ongkos buat Belanda. Nah itu dinyatakan sebagai utang pemerintah
Indonesia. Pada waktu itu, Soekarno dengan Hatta menyatakan sudahlah, kita
ambil utang-utang itu, yang penting kita merdeka dulu, soal utang urusan
belakangan. Begitu KMB ditandatangani, bung Karno memerintahkan, jangan bayar
itu utang. Jadi walaupun utang itu disepakati, pemerintah Indonesia tidak
pernah mau bayar. Taktiklah istilahnya itu.
Tapi waktu pemerintahan Soeharto, awal Orde Baru pada tahun 1967, Widjojo
Nitisastro dan kawan-kawan yang disebut sebagai Mafia Berkeley membuat
kesepakatan baru untuk mulai membayar utang Hindia Belanda tersebut yang
sebetulnya secara moral itu tidak justified (dibenarkan red), secara
histories politis itu tidak justified. Tetapi Widjojo dan kawan-kawan waktu itu
sepakat untuk mulai mencicilnya. Widjojo dan kawan-kawan itu memang dididik di
Berkeley, dipersiapkan untuk mengambil alih pengelolaan ekonomi setelah
Soekarno jatuh, supaya membelokkan garis ekonominya, satu garis dengan garis
Washington. Sejak itulah dimulai the creeping back of neo-colonialism. Seperti
diketahui bahwa sekarang, untuk menguasai suatu negara tidak perlu secara
militer, tidak perlu secara fisik, asal ekonominya bisa dikendalikan, negara
tersebut bisa dikuasai.
Sejak itu, walaupun Mafia Berkeley berkuasa nyaris tidak pernah berhenti selama
40 tahun, berlanjut ke muridnya, ke cucu muridnya dan seterusnya. Presiden bisa
berganti, partai yang berkuasa bisa ganti, jenderal bisa ganti, TNI bisa
melakukan reformasi, tapi di dalam bidang ekonomi tetap pada garisnya Mafia
Berkeley. Nah, inilah yang menjadi sumber mengapa Indonesia tidak bisa menjadi
besar, karena mereka dalam prakteknya sering menjadi conduit (saluran red)
bagi lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia, IMF, untuk
merumuskan undang-undang di Indonesia, merumuskan berbagai kebijakan. Contoh:
awal orde baru tahun 1967, UU investasinya dibikin oleh satu lembaga kreditor
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan jadilah UU Investasi.
Banyak sekali UU yang masuk ke kategori itu. Misalnya, Bank Dunia bilang, saya
kasih 400 juta dollar tapi Indonesia harus bikin UU Privatisasi Air, sehingga
petani juga harus bayar air. Kemudian ADB (Asia Development
Bank - red) juga kasih pinjaman 300 juta dollar tapi Indonesia harus ada UU
Privatisasi, agar perusahaan-perusahaan negara bisa dijual dengan harga murah.
Jadi banyak sekali UU dan peraturan pemerintah yang sebetulnya dipesan oleh
lembaga-lembaga keuangan internasional.
Hal itu sesungguhnya melanggar konstitusi. Kita ini adalah sovereign state
(negara yang berdaulat red), tidak boleh ada pihak manapun yang memberi
iming-iming memberi pinjaman dengan syarat ada UU yang mereka susun. Jelas saat
orang menyusun UU, kepentingan dia adalah nomor satu. Kalau ada satu negara
yang UU-nya dipesan dikaitkan dengan pinjaman, pembuatan UU yang diikat dengan
pinjaman, jelas yang memberi pinjaman itu memiliki kepentingan-kepentingan di
dalam pembuatan UU itu. Jika ada satu negara yang mengikuti pola seperti ini,
bisa dibayangkan bahwa negara ini tidak akan pernah bisa maju. Di Asia, yang
ikut model ini hanya ada dua negara yakni Indonesia dan Philipina. Negara lain
tidak mau mengikuti itu, kalau kebijakan ekonomi, mereka rumuskan sendiri.
Mereka buat UU yang mencerminkan kepentingan negara mereka, kepentingan rakyat
mereka.
Seperti banyak diketahui, di Asia Timur sering terjadi konflik dagang, misalnya
antara Taiwan dengan Amerika, Malaysia dengan Eropa, dan Singapura juga,
walaupun secara politik dan militer, mereka ikut hegemoninya Washington. Nah
kita di dalam politik luar negeri mengaku independen, dalam prakteknya tidak
selalu independen. Di dalam bidang militer kita punya kerjasama dengan
negara-negara besar, tapi dalam bidang ekonomi kita, pola neo kolonialisme
benar-benar masih berlangsung hingga saat ini. Selama itu tidak dihancurkan
jangan mimpi Indonesia bisa jadi negara besar.
Sesungguhnya Indonesia ini adalah negara yang kaya sekali. Istilah saya,
Indonesia ini memiliki banyak golden bowls, cangkir emas, seperti Freeport,
Cepu, dan sebagainya. Tapi karena mental pemimpin dan elitnya itu inlander,
maka kekayaan itu seakan tidak bermakna. Cepu misalnya, nilainya antara 120
billion dollar sampai 150 billion dollar. Lebih besar daripada cadangan
minyaknya bekas Caltex di Sumatra Selatan. Tetapi pengelolaan ladang minyak ini
diberikan kepada perusahaan Exxon tanpa kompensasi yang memadai. Nah, cangkir
emas atau golden bowls ini dipakai untuk mengemis uang recehan. Dari Bank Dunia
300 juta dollar, dari Amerika 400 juta dollar, dari Eropa sekian juta dollar.
Pemimpin kita tidak tahu golden bowl yang dia pegang, baru satu Cepu saja,
nilainya ratusan milyar dollar. Belum lagi Freeport nilainya berapa, dan yang
lain-lain yang bertebaran di nusantara itu berapa nilainya.
Kenapa itu bisa terjadi, karena para pemimpin dan elit kita masih bermental
inlander dan tidak percaya diri. Tidak memiliki kemampuan intelektual untuk
menghadapi kepentingan-kepentingan negara besar itu. Selama mental inlander ini
masih dominan di kalangan elit kita, saya tidak yakin Indonesia akan menjadi
negara besar. Tapi kalau prasyarat tadi itu kita penuhi, yaitu pertama kita
hancurkan hubungan neo kolonialisme di dalam bentuk utang yang dikaitkan dengan
UU dan peraturan pemerintah, kita rumuskan kebijakan ekonomi kita sendiri. Yang
kedua, kita tidak boleh punya sikap inlander yang bermental rendah diri.
Asset-asset yang ratusan milyar dollar ini adalah milik bangsa kita.
Nah, kalau hal itu terjadi, Indonesia pasti akan menjadi negara besar. Tapi
sayangnya, mohon maaf, dari nama-nama yang pernah memimpin Indonesia sejak awal
orde baru sampai nama-nama dari para elit yang bercita-cita menjadi pemimpin di
tahun 2009, tidak jauh dan tidak lebih, hanya mengulang lagu lama. Motifnya
hanya sekedar power (kekuasaan red), memanfaatkan power itu untuk
popularitas, untuk kepentingan kelompok, dan lain-lain. Belum ada yang bicara
beyond (lebih daripada - red) itu. Kalau hanya mengulang, okey pemimpinnya
baru, lagunya lagu lama, istilah saya itu old wine in a new bottle (anggur
masam di botol baru - red), Indonesia tidak akan ke mana-mana.
Menurut saya, Indonesia perlu pemimpin baru dan jalan baru. Karena sudah 40
tahun sejak orde baru sampai sekarang, pemimpin sudah berganti beberapa kali,
tapi lagunya tetap lagu lama, yakni lagu sub-ordinasi kepada kepentingan
internasional, lagu the creeping back of neo-colonialism. Hanya jika diputus
mata rantainya, baru akan terjadi perubahan dan memungkinkan kebangkitan
ekonomi Indonesia. Saya mau berkampanye. Bukan dalam arti mau jadi pemimpin,
tetapi berkampanye bahwa Indonesia perlu jalan baru. Pointnya adalah keinginan
mengubah school of thought. Hal ini bisa dilakukan melalui media dan lain-lain
bahwa Indonesia perlu jalan baru. Kalau hanya pemimpin baru, rakyat Indonesia
hanya akan dibohongi kembali. Ada dulu pemimpin yang idealismenya bela wong
cilik tetapi setelahnya, bela wong licik. Kenapa bisa begitu, ini lebih
disebabkan oleh school of thought-nya itu tidak mungkin bela rakyat kecil.
Selama masih menggunakan cara Mafia Berkeley, tidak mungkin ada jalan
baru yang lebih pro kepentingan rakyat dan nasional.
KabarIndonesia : Terima kasih Pak Rizal atas waktu dan uraian sangat gamblang
yang sudah diberikan ini.
Dr. Rizal Ramli : Terima kasih kembali.
Itulah hasil bincang-bincang redaksi KabarIndonesia dengan penggemar olahraga
renang dan tennis meja itu. Sebagai Presiden Komisaris PT. Semen Gresik
(persero) Tbk, saat ini Rizal Ramli amat serius melakukan sejumlah
langkah-langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, mendorong program
pengurangan biaya dan meningkatkan keuntungan PT. Semen Gresik Tbk. Tujuan
tersebut dicapai dengan melakukan konsolidasi dan integrasi ketiga perusahaan
yaitu PT. Semen Gresik, PT. Semen Padang, dan PT. Semen Tonasa. Bersama-sama
Komisaris dan manajemen mempersiapkan kerangka retrukturisasi organisasi dan
finansial untuk jangka menengah. Hasil dari langkah-langkah tersebut, laba
bersih Semen Gresik naik 29,3 % menjadi Rp 1,295 triliun, dan EBITDA margin
mencapai 26,1 % pada tahun 2006. Bahkan untuk pertama kalinya PT. Semen Gresik
Tbk masuk kelompok 7 BUMN yang paling menguntungkan. Tercatat kemudian PT Semen
Gresik Tbk menerima penghargaan dalam kategori Most Committed to a Strong
Dividend Policy 2007 (peringkat ke-7) dan Best Corporate Governance 2007
(peringkat ke-8) dari majalah FinanceAsia. Obsesi dan impian pria berkacamata
itu terhadap tanah airnya cukup sederhana: Saya hanya menginginkan negara ini
sejahtera dan maju," ujarnya suatu saat kepada wartawan. Selamat berkarya Bung
Rizal!
--------- dipotong ------------
Baca selengkapnya di : Sumber :
http://kabarindonesia.com/berita.php?pil=21&dn=20071011065211
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---