FYI : Informasi dari sanak awak nan sadang kuliah di Malaysia ----- Original Message ----- From: Zakaria aziz To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, October 11, 2007 2:33 PM Subject: [pakguruonline] Re: Malaysia Arogan Lagi
Assalamu'alaikum Mohon maaf pak moderator ini saya kirimkan untuk informasi bagi masyarakat SUMBAR agar tidak melanjutkan pendidikan ke MALAYSIA. berdasarkan pengalaman yang saya dan kawan-kawan anggota PPI- UKM (persatuan Pelajar Indonesia UNiversiti Kebangsaan Malaysia) alami. SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1428 H MOHON MAAF LAHIR BATIN wassalam Zakaria Aziz ------------ Malaysia Arogan Lagi Dalam beberapa waktu ini banyak kasus-kasus yang menimpa warga Indoensia dimulai dari kasus pengledahan rumah, razia identitas, pemerkosaan TKW, kekerasan terhadap pembantu rumah tangga dan sebagainya. Malaysia sangat arogan dengan kasus-kasus tersebut yang selalu membela aparaturnya dalam melaksanakan tugas. Mereka tidak akan pernah mau untuk menghukum aparatur, hal ini terbukti dengan selalu untuk mengklarifikasi setiap berita yang beredar di Indonesia. Dampak dari beberapa peristiwa belakangan ini kami selalu merasa cemas untuk melakukan perjalanan ke mana sehingga selalu membawa passport dan kartu imigrasi serta kartu mahasiswa. Untuk isteri diplomat saja mereka biasa berbuat semena-mena apalagi terhadap kami pelajar. Mereka memandang orang Indonesia adalah orang miskin, sehingga selalu curiga terhadap kita walaupun para wisatawan dan pelajar yang ada disini. Scenario dibalik semua ini adalah bagaimana menghabiskan warga negara Indonesia di Malaysia dan mempersempit komunitas Melayu di semenanjung Malaysia, sehingga Malaysia akan menjadi negara seperti Singapura mayoritas dikuasai oleh etnis china dan India. Masyarkat melayu Malaysia tidak sadar bahwa mereka akan dikucilkan di kampung sendiri, masyarakat melayu merasa lebih baik dari masyarakat Indonesia. Pada satu sisi tidak dapat kita pungkiri juga ada bahwa tenaga kerja yang dikirim ke Malaysia bertampang preman (rambut gondrong, bertato, pakaian tidak rapi) sehingga menyebabkan sebahagian orang merasa mengeri dan takut. Akibat dari ini aparatur pemerintah Malaysia selalu curiga terhadap orang Indonesia. Kita berharap TKI yang di kirim ke Malaysia orang yang berpenampilan dan berpendidikan. Mereka sebenarnya senang dengan tenaga kerja illegal sebab mereka bias memberikan gaji yang sangat rendah. Serta mereka bisa menakut-nakuti tenga kerja jika macam-macam akan dilaporkan ke polis. Serta mereka bisa diperas oleh polisi dan diminta uang jika tidak akan dibawa ke polis. Siapa yang mendatangkan tenaga kerja illegal dan berdasarkan permintaan siapa? Tanpa ada permintaan tentu tidak ada yang memberikan. Dalam berita Harian Rabu tanggal 10 Oktober 2007 pemerintah Malaysia mengklasrifikasi berita tentang kasus menimpa isteri diplomat dan mahasiswa S1 Indonesia dan ketua PPI UKM Muhammad Yunus Lubis. Berita dikemas dalam versi mereka seolah-olah tidak bersalah. Akan tetapi kenyataanya di lapangan tidak demikian, mereka selalu penuh rasa curiga setia kegiatan mahasiswa Indonesia. Pemerintah Indonesia sudah saatnya bertindak tegas terhadap Malaysia, memaafkan bukan berati selesai dan tidak menindak lanjuti kasus tersebut. Kita adalah bangsa yang besar dari Malaysia yang hanya 27 Juta, sedangkan kita 2010 juta lebih. Sumber daya manusia dan sumber daya alam kita lebih unggul. Kenapa kita harus mengirim TKI ke Malaysia. Jika Indonesia tidak mengirim TKI ke Malaysia akan berdampak negative terhadap pembangungan Malaysia yang berakibat mereka akan mengadopsi tenaga kerja dari India, Nepal, Bangladesh dan berbeda budaya dan agama akan menjadi halangan bagi mereka. Sebagai contoh dalam berita Utama tanggal 13 Agustus 2007 halaman 9 permintaan pembantu setiap bulan 6000 sedangkan hanya dapat dipenuhi 3000 pekerja Indonesia yang hanya digaji RM 400 sampai 500 (sekitar 1 sampai 1,5 juta) sementara untuk kebuthan harian sangat tinggi. Uang sebanyak RM 500 tidak dapat memenuhi kebutuhan yang layak dalam sebulan. Banyak TKI yang tidak mau jadi pembantu di Malaysia. Ini hanya baru pada sector pembantu rumah tangga. Kalau pemerintah tidak mengirim pembantu saja mereka akan kewalahan, apalagi pada sector lain yang totalnya 1.914.053 orang. Jumlah terbesar dari Indonesia yang terbesar 1.176.463. inilah pelajaran untuk mereka. Disamping itu pemerintah harus tegas dan berani mengambil tindakan memberikan perlindungan terhadap warganya sampai titik darah terakhir. Bangsa kita masih punya harga diri, harga diri lebih mahal dari segalanya. Berita Harian Rabu 10 Oktober 2007 IMIGRESEN, RELA NAÏF TAHAN ISTERI DIPLOMAT Kuala Lumpur: Jabatan Imigresen dan rela semalam menafikan tuduhan bahwa anggota rela menahan isteri seorang diplomat Indonesia dalam operasi bersama penguat kuasa di I\ibu negaram, sabtu lalau dengan menyifatkan sebagai sengaja di perbesar-besarkan. Pengarah penguat kuasa jabatan imigesen, datuk Ishak Mohammad, berkata bahwa agensi berita asing kelmarin berhubungan dengan penahanan isteri seorang diplomat Indonesia dalam operasi yang membabitkan rela dan polis kawasan chow kit disini adalah tidak benar. Wanita terbabit tidak ditahan. Anggota penguat kuasa hanya menjalankan pemeriksaan biasa selepas mengesyaki beberapa mpendatang tanpa izin berada di kawasan berkenaan. Bagaimanapun salah paham berlaku setelah anggota bertugas meminta muslimah nurdin menunjukan passport, tetapi wanita itu sebaliknya menunjukan kad wisma duta yang dimilikinya. Anggota rela tidak mengecam kad yang ditunjukan dan meminta ahli keluarga muslimah menunjukan passport wanita itu sebelum dilepas tidak lama kemudian "katanya ketika dihubungi berita harian". Kelmarin Reuters melaporkan Jakarta menghantar batahan keras kepada kuala Lumpur yang berhubungan dengan penahanan isteri seorang diplomat di jalan chow kit, di sini oleh rela, selain menganggap wanita itu sebagai pendatang asing tanpa izin. Laporan itu menyebutkan wanita berkenaan itu dikasari dan diperlakukan seperti penjenayah, malah anggota rela juga tidak menghiraukan passport serta kad diplomatic yang dikemukannya ketika di tahan. Sementara itu pengetua pengarah rela datuk Zaidon asmuni, berkata anggotanya hanya menahan seorang lagi wanita bersama isteri diplomat yang juga dikenai sebagai muslimah. Isteri atase pendidikan dan kebudayaan kedutaan besar Indonesia itu berjaya menunjukkan kad pengenalan yang dikeluarkan wisma putra sebelum dibebaskan selepas anaknya dating membawa document lengkap miliknya. Bagaimanapin seorang lagi wanita yang bersamanya gagal menunjukan sebarang dokumen pengenalan dan ditahan dipenjara pudu" katanya. Mengenai ceroboh dakwaan rela menceroboh dan bertindak kasar terhadap seorang lagi warga Indonesia Muhammad Yunus Lubis ketika operasi di rumahnya di Kajang 7 Oktober lalu, Zaidon berkata Yunus memberi kerjasama sepenuhnya ketika anggota rela yang membuat pemeriksaan. Katanya operasi dijalankan berikutan aduan orang ramai yang mendakwa rumah berkenaan di jadikan tempat tinggal sekumpulan lelaki dan wanita asing. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
