Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Disambuang baliak carito nan taanti dulu.
Wassalamu'alaikum,
10. JEMBATAN SELAT BOSPORUS
Kami dibawa melalui jembatan besar dan panjang melintasi selat Bosporus, selat
yang memisahkan bahagian Eropah dan Asia dari kota Istambul. Sebuah jembatan
moderen yang kukuh, ditopang oleh dua menara setinggi 165m, melengkapi keelokan
kota yang antik ini. Jarak kedua menara penopang itu 1075m. Panjang jembatan
ini 1560m dan terletak setinggi 64 di atas permukaan laut. Pembangunan
jembatan ini diselesaikan pada bulan Oktober tahun 1973. Begitu informasi yang
aku dapat.
Jembatan ini memang megah. Dan pemandangan ke kedua tepi jembatan juga memukau.
Ke bagian Eropah, ke daerah perbukitan dengan ‘seribu minaret’ dan ke bagian
Asia yang kehijauan. Bus kami melalui jembatan panjang ini dengan mantap tanpa
sedikitpun terasa goyangan. Tambahan cerita dari Lale, bahwa jembatan ini
dilalui sekitar 200,000 kendaraan seharinya.
Di ujung sebelah Asia kami segera keluar dari jalan besar dan berbelok ke jalan
yang lebih kecil. Tidak berapa jauh sesudah keluar dari jembatan selat
Bosporus kami sampai ke sebuah bangunan besar bertingkat dua. Bus di parkir
agak jauh di luar pekarangan bangunan ini dan kami memasukinya melalui gerbang
yang ada penjaganya. Kami harus melalui kamar pemeriksaan untuk keamanan.
Bangunan besar ini adalah istana musim panas yang dibangun antara tahun 1861 –
1865 dibawah pemerintahan Sultan Abdul Aziz. Namanya istana Beylerbeyi. Sultan
terakhir yang menggunakan istana ini adalah Sultan Abdul Hamid II yang
dimakzulkan sesudah kekalahan kekaisaran Ottoman di perang dunia II. Bahkan
sesudah dia tidak lagi berkuasa dia tinggal disini sampai akhir hayatnya.
Sekarang istana ini terbuka untuk dikunjungi umum.
Istana ini berbeda dengan istana Topkapi, yang sangat islami, yang dihiasi
dengan kaligrafi ayat-ayat al Quran dimana-mana, sedangkan suasana disini lebih
keeropah-eropahan. Kelihatannya pembangunan istana ini memang lebih banyak
dipengaruhi arsitektur Eropah. Tidak heran pula bahwa ada beberapa raja atau
permaisuri negara di Eropah yang diundang berkunjung kesini diantaranya Raja
Edward VIII dari Inggeris dan Ratu Eugenie, permaisuri Napoleon III dari
Perancis.
Menurut pemandu wisata, istana ini mempunyai enam buah ruangan besar (hall) dan
24 buah kamar. Kami mengitari bangunan ini mulai dari lantai bawah, naik ke
lantai atas, melihat ruangan demi ruangan yang terlihat anggun. Hanya saja,
mungkin karena sudah tidak digunakan sehari-sehari, ada bagian-bagian tertentu
yang terlihat redup, tidak berseri. Lantai bagian atas istana ini terbuat dari
papan yang disusun keping demi keping dengan sangat sempurna. Ada bagian lantai
yang ditutupi dengan tikar anyaman sebangsa pandan yang didatangkan dari Mesir.
Sebagian yang lain dari lantai itu ditutupi dengan permadani yang ukurannya
disesuaikan dengan ukuran ruangan. Jadi ada permadani yang luasnya lebih dari
50 meter persegi. Permadani yang dibuat khusus oleh ahli tenun permadani
langganan Sultan. Di lantai atas terdapat pilar-pilar bulat yang terlihat
seolah-olah terbuat dari batu pualam. Pemandu wisata kami menjelaskan bahwa
pilar-pilar itu terbuat dari kayu karena
lantai papan tidak kuat untuk menahan batu pualam seberat dan sebesar itu.
Kami lihat kamar tidur Sultan di antara kamar-kamar ‘harem’, yang tidak terlalu
besar di lantai atas. Kami lihat kamar mandi Sultan (tempat mandi Turki). Dan
ruang shalat Sultan dengan sajadah dibiarkan terbentang disitu.
Dalam waktu kurang dari satu jam kami sudah selesai melihat-lihat istana
Beylerbeyi. Sebelum meninggalkannya, Lale menjelaskan bahwa istana ini masih
sering digunakan untuk menerima tamu-tamu negara. Tamu penting yang paling
akhir berkunjung kesini adalah Tonny Blair ketika dia masih menjabat sebagai
perdana menteri Inggeris.
Sekitar jam setengah lima sore kami tinggalkan tempat itu. Kami kembali melalui
jembatan selat Bosporus. Kali ini tujuan kami adalah ke sebuah bukit tempat
melihat pemandangan ke arah laut. Tempat ini rupanya tempat yang biasa
didatangi masyarakat Istambul maupun wisatawan. Tidak disebutkan nama tempat
itu. Mungkin namanya hanya bukit wisata saja. Ada taman di bawah pohon-pohon
dengan bangku-bangku tempat duduk-duduk. Ada kafetaria juga disitu. Menurut
Lale tempat ini, termasuk kafetarianya dikelola oleh pemerintah. Orang-orang
yang bekerja disini adalah pegawai pemerintah. Jadi jangan kaget, katanya,
seandainya pelayanan mereka agak sedikit berbeda. Maksudnya mungkin keramahan
para pelayannya agak kurang. Namun kebalikannya, harga makanan kecil atau
minuman disini lebih murah. Aku segera membuktikan kebenarannya. Secangkir kopi
di kafetaria harganya hanya satu setengah YTL dibandingkan 5 YTL di restoran
Cina (ketika kami makan di restoran, kopi harus
dibayar sendiri). Dan layanan petugasnya tidaklah terlalu mengecewakan.
Rombongan kami lebih senang bersantai-santai di kafetaria daripada melihat
pemandangan ke arah laut. Sambil minum teh dan makan kue-kue.
Berbincang-bincang tentang tempat yang sudah kami kunjungi di Istambul. Ketika
aku menanyakan berapa jumlah wisatawan yang datang ke Turki pertahunnya, Lale
menyebut angka kurang dari sepuluh juta orang. Agak aneh menurutku mengingat
begitu banyaknya objek wisata di negeri ini (di luar Istambul), sementara Turki
sangat dekat ke Eropah. Lale mengakui bahwa jumlah turis yang datang memang
relatif sedikit. Hal ini dikarenakan pemerintah tidak terlalu
bersungguh-sungguh mempromosikan pariwisata. Aku percaya dengan keterangan
Lale, ketika menyadari tidak banyak hotel-hotel besar terlihat di Istambul.
Menjelang senja kami tinggalkan pula bukit wisata itu. Berjalan kaki ke tempat
parkir bus yang jaraknya sekitar dua ratus meter. Sebenarnya pemandangan ke
arah laut di bawah sana memang cukup indah. Aku beberapa kali berhenti sejenak
untuk mematut ke arah laut Marmara di ujung selat. Laut yang berbinar-binar
diterpa sinar matahari sore. Dengan kapal-kapal yang berseliweran.
Sekarang kami menuju ke daerah lapangan Taksim. Kami akan makan malam di sebuah
restoran Cina yang lain lagi disana. Hari sudah hampir jam delapan sore tapi
matahari masih kelihatan. Restoran itu terletak di jalan yang agak kecil. Bus
kami berhenti di satu sisi lapangan Taksim dan kami berjalan kaki menuju ke
restoran. Restoran yang hidangannya tidaklah istimewa. Tapi jadi istimewa
karena disini kami dapat makan nasi.
Ini adalah malam terakhir kami di Istambul. Besok sore kami akan kembali pulang
melalui Dubai. Tapi besok masih ada satu objek lagi yang akan kami lihat.
Istana Dolmabahce.
*****
St. Lembang Alam
http://lembangalam.multiply.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---