DR. MOHAMMAD AMIR: TRAGEDI SEORANG TOKOH PEJUANG GERAKAN KEBANGSAAN
INDONESIA DI SUMATERA TIMUR
Oleh : Harsja W. Bachtiar (Universitas Indonesia)
Riwayat yang disampaikan di bawah ini adalah riwayat seorang pemuda
Minangkabau yang bejiwa kebangsaan Indonesia dan dalam masa gerakan
kebangsaan menjadi seorang cendekiawan dan tokoh politik di daerah
Sumatera Timur bahkan ikut mewakili Sumatra dalam mempersiapkan
kemerdekaan Indonesia dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan
meletakkan dasar-dasar negara Republik Indonesia di Jakarta. Akan
tetapi akhirnya, antara lain, karena istrinya orang Belanda dan dia
sendiri kemudian tidak dapat mengendalikan semangat perjuangan
menggelora dari penduduk yang ikut dibangkitkannya dalam usaha
mengadakan perombakan tatanan masyarakat di daerah Sumatera Timur,
tokoh ini terpaksa meminta perlindungan, pada pihak lawan, penguasa
Inggris dan Belanda di Medan, yang dapat ditafsirkan sebagai
pengkhianatan terhadap bangsanya.
Mohamad Amir lahir tanggal 27 Januari 1900 sebagai anak tunggal
sepasang suami-istri yang berdiam di Nagari Talawi, suatu perkampungan
di pinggir sungai Ombilin dekat kota pertambangan batubara Sawahlunto
di Sumatera Barat. Ayahnya ialah M Joenoes Soetan Malako, yang
meninggal di Talawi tahun 1940, sedangkan, ibunya yang bagi orang
Minangkabau, sesuai dengan adat yang menentukan keanggotaan dalam
keluarga atas dasar garis keturunan ibu, adalah lebih penting daripada
ayahnya, ialah Siti Alamah yang meninggal di Jakarta, 1958. Siti
Alamah, ibunya, adalah anggota dari Suku Mandaliko di Nagari Talawi,
sehingga Moh. Amir pun adalah juga anggota Suku Mandaliko.
Pada waktu masih berusia anak sekolah, M. Amir dibawa oleh abang
ibunya, Mohammad Jaman gelar Radjo Endah, seorang guru yang
dipindahkan ke Palembang, ke kota di tepi sungai Musi. Selain membawa
istri, anak-anaknya, dan M. Amir, guru Jaman juga membawa dua kerabat
muda lain yang kurang lebih seusia dengan M. Amir, yaitu Mohamad Jamin
dan Djamaloedin yaitu adik sebapak dari guru Jaman tapi berlainan ibu.
Ayah guru Jaman bernama Osman gelar Baginda Chatib dan mempunyai
beberapa istri. Guru Jaman, yang lahir tahun 1878, adalah anak dari
istri yang bemama Hadaniah; Moh. Jamin, yang lahir tahun 1903, adalah
anak ketiga dari istri bernama Saadah; sedangkan Djamaloedin, yang
lahir tahun 1904, adalah anak tunggal dari istri yang bemama Sadariah.
Di Palembang M. Amir belajar sebagai siswa Hollandsch Inlandsche
School (HIS), sekolah dasar yang diselenggarakan terutama bagi
anak-anak pribumi, tetapi sebelum tamat HIS di Palembang, M. Amir
pindah ke Batavia (kini: Jakarta) di sana ia meneruskan pendidikan
dasarnya di Europeesche Lagere School (ELS), jenis sekolah dasar yang
diselenggarakan terutama bagi anak-anak Belanda, sampai tamat sekolah
dasar tahun 1914.
M. Amir meneruskan studinya di jenjang pendidikan menengah tingkat
pertama pada Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), di sana ia tamat
belajar tahun 1918 untuk kemudian melanjutkan pendidikannya pada
School tot Opleiding van Indische Artsen (Stovia), sekolah pendidikan
calon dokterr bagi pemuda-pemuda pribumi, juga di Batavia. Tanggal 8
Desember 1917 di Batavia seorang siswa di STOVIA yang berasal dari
Sumatra Timur, Tengkoe Mansoer, bersama M. Amir dan sejumlah siswa
lain yang berasal dari pulau Sumatra mendirikan suatu perhimpunan
pemuda yang berasal dan pulau Sumatra, perhimpunan yang dinamakan Jong
Sumatranen-Bond (JSB), mengikuti contoh Jong Java, perhimpunan pemuda
yang berasal dari Jawa yang telah didirikan dua tahun lebih dahulu.
Para pemuda Sumatra inipun bergabung untuk bersama-sama berusaha
mempersiapkan diri sebagai penggerak upaya memperbaiki taraf kehidupan
penduduk di daerah asal mereka.
Dalam waktu satu tahun, menurut majalah Pemoeda Soematra yang mulai
diterbikan oleh Pengurus JSB sejak 1918 dengan pemuda M. Amir sebagai
redaktur, jumlah anggota perhimpunan ini telah menjadi sekitar 500
orang yang tergabung dalam afdeeling (cabang) perhimpunan di Jakarta,
Bogor, Serang, Sukabumi, Bandung, Purworejo, Padang dan Bukittinggi
dengan cabang di Jakarta serta Padang yang paling banyak anggotanya.
M. Amir, tergerak oleh surat-surat kabar dan majalah-majalah dalam
bahasa Belanda maupun bahasa Melayu yang tersedia di STOVIA sebagai
bahan bacaan bagi para siswanya, juga menulis karangan-karangan yang
diterbitkan dalam Warta Hindia. Pemuda im memperoleh bimbingan dalam
mengembangkan bakat sebagai pengarang dari seorang penerbit yang juga
berasal dari Sumatra Barat bernama Landjanoen gelar Datoek Temenggung,
penerbit majalah bulanan Soeloeh Paladjar, majalah Tjahaja Hindia, dan
kemudian harian Neratja.
Pada rapat tahunan pertama dari JSB, yang diselenggarakan di Batavia
tanggal 26 Januari 1919, pemuda T. Mansoer terpilih sebagai Praeses
(Ketua) dan pemuda M. Amir sebagai Wakil Praeses. A. Moenier Nasution
teipilih sebagai Sekretaris 1; Bahder Djohan sebagai Sekretaris 2;
Marzoeki sebagai Bendaharawan; sedangkan Abdullah Zakir, Achmad
Djonap, Jasin dan Nazief terpilih sebagai Anggota Pengurus.
Kongres pertama JSB diadakan di Padang, untuk menarik perhatian umum
pada kehadiran perhimpunan pemuda itu di pulau asal para anggotanya,
pada tanggal 4, 5 dan 6 Juli 1919. Amir sebagai Wakil Praeses JSB,
bersaina Anas, Sekretaris 1; Marzoeki, Bendahara; dan Bahder Djohan
diutus ke Padang untuk memimpin kongres, sedangkan Praeses (Ketua) JSB
sendiri, Tengkoe Mansoer, tidak dapat pergi menghadiri kongres
tersebut karena sedang menghadapi ujian semi-arts di STOVIA,
sekolahnya. Dalain kongres M. Amir tainpil sebagal pemimpin utama.
Tidak semua golongan penduduk menerima baik kehadiran perhimpunan
pemuda yang baru ini. Dalam suatu editorial surat kabar Oetoesan
Malajoe tanggal 18 Agustus 1919, misalnya, penulis editorial tersebut
menyatakan harapannya agar Residen Belanda yang baru diangkat
menghentikan ulah ("gedoe") Kaoem Moeda dan anak-anak sekolah Jong
Sumatranenbond yang berani-beraninya menyelenggarakan suatu kongres;
membicarakan masalah-masalah politik yang mereka belum fahami; dan
menghasut orang agar benci pada orang-orang Belanda dan orang-orang
lain yang mempertahankan orang Belanda.
Dalam editorial suratkabar yang sama tanggal 25 Agustus 1919 pemuda-
pemuda STOVIA yang tergabung dalain JSB dikecam sebagai kaum muda yang
menginginkan perubahan dalam adat agar mereka dapat bebas bergaul dan
berjalan-jalan dengan para gadis. Supaya bagi pembaca lebih jelas lagi
apa yang dimaksud oleh penulis, ia menampilkan contoh yang dianggap
tidak dapat dibenarkan, yaitu adanya seorang gadis pribumi
("inlandsche nona") bernama Saadah yang melanggar adat dengan berjalan
malam bersama pemuda Moh. Tahir. Saadah adalah seorang guru dan
redaktur majalah wanita Soeara Perempoean.
Penulis editorial di atas juga mengeluh bahwa, meskipun pemuda-pemuda
JSB ini masih siswa sekolah, mereka ingin disebut engku ("angku") yang
menurut penulis adalah sama dengan tuan ("meneer"); bahwa mereka
menghendaki suatu revolusi agar mereka menjadi "meneer" presiden
republik. Sekarangpun, kata penulis dengan geram, sudah ada
siswa-siswa yang menjadi "angkoe" seperti angkoe Amir dan angkoe
Hasan.
Sebagai tanda peringatan diadakannya Kongres Pertama JSB di Padang,
Kaoem Moeda di kota ini, yang tergabung dalain Sarikat Oesaha,
mendirikan suatu tugu peringatan.
Dalam rapat umum para anggota (Algemeene Ledenvergadering) Jong
Sumatranen-Bond, atau perhimpunan Pemoeda Soematra, yang diadakan di
gedung Loge di Weltevreden, Jakarta, pada tanggal 8 Februari 1920, M.
Amir terpilih menjadi Ketua menggantikan dr. Tengkoe Mansoer, yang
telah lulus ujian STOVIA. Anggota lain dari pengurus JSB yang diketuai
oleh Amir terdri dari Abdoel Moenier Nasution, Wakil Ketua; Bahder
Djohan, Sekretaris 1; Ferdinand Lumban Tobing, Sekretaris 2; Mohammad
Hatta, Bendahara I; Boerhanoeddin, Bendahara II; serta Jassien,
Nazief, A. Zakir, Achmad Djonap dan M. Anas Sr., Anggota.
Pada waktu itu jumlah anggota JSB adalah sekitar 195-an, yaitu sekitar
150 pemuda di Jakarta, 13 di Sukabumi, 32 di Bogor, 22 di Serang dan
80 di Padang. Mereka adalah siswa di Koning Willem III School (KWS),
Rechtsschool (Sekolah Hukum), STOVIA, Hoogere Burgerschool (HBS),
Handelsschool (Sekolah Dagang) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs
(MULO).
Pemuda M. Amir sendiri menulis berbagai karangan dalam bahasa Belanda,
antara lain tentang karya sastra Belanda rangkaian Mathilde ciptaan
Jacques Perk dan tentang Multatuli, yang Akhir ditampilkan sebagai
penyiar pemikiran etika dan pejuang politik dengan pena, serta
berbagai landasan untuk menggugat penguasaan kolonial.
Sebagai mahasiswa yang berasal dari Sumatra Barat tapi tinggal di
suatu masyarakat perkotaan yang merupakan tempat pertemuan kebudayaan
Asia, atau kebudayaan Timur, dan kebudayaan Eropah, atau kebudayaan
Barat, M. Amir tertarik pada pemikiran-pemikiran kaum Theosofi.
Orang-orang yang tergabung Theosophical Society (Perkumpulan
Theosofi), yang dicipta oleh Madame H.P. Blavatsky, seorang wanita
bangsawan Rusia, dan Henry Steel Olcott, seorang ahli hukum dan
penganut kebatinan, di New York tahun 1875, dan yang kemudian dipimpin
oleh Annie Besant, berusaha mencari kearifan Tuhan melalui
ajaran-ajaran kebatinan, seperti karma dan reinkarnasi; menyatukan
sekalian agama; dan menyatukan agama dan ilmu pengetahuan. Bersama
pemuda Mohammad Hatta, Djamaloedin Adinegoro, Mohamad Jamin dan Bahder
Djohan, M. Amir menjadi anggota perkumpulan Dienaren van Indie
(hamba-hamba Hindia), suatu perkumpulan Theosophie yang
diselenggarakan oleh sejumlah penganut Belanda di Batavia. Untuk
menyatakan keanggotaan mereka, pada waktu itu mereka mencantumkan
huruf "ID" di belakang narna mereka masing- masing.
Dalam tahun berikutnya, 1921, Moh. Hatta berangkat ke Belanda untuk
meneruskan studinya di Nederlandsche Economische Hoogenschool (Sekolah
Tinggi Ekonomi Belanda) di Rotterdam, sehingga sejak 2 Juli ia
digantikan sebagai Bendahara I JSB oleh Bahder Djohan. Dalam pengurus
baru JSB, yang tetap diketuai oleh M. Amir, terdapat juga F. Tobing,
Wakil Ketua; Boerhanoedin, Sekretaris I; M. Hoesin, Sekretaris II;
Djalel, Bendahara 2; serta Emma Jahja, Azir, Anas, Nazief, Dahlan
Alamsjah, dan Adam Bachtiar sebagai angoota.
Tahun 1922 M. Amir diganti sebagai Ketua JSB oleh Bahder Djohan, yang
juga mengambil alih tanggung jawab sebagai ketua Komisi Redaksi
majalah Jong Sumatra.
Tahun 1923 diadakan Lustrum Pertama, peringatan hari lahir kelima, JSB
di Jakarta, di sana pemuda Mohammad Jamin menyampaikan prasaran
berjudul "De Maleische Taal in het verleden, heden en in de toekomst"
(Bahasa Melayu di masa lampau, kini dan di masa depan), yang
meletakkan dasar dijadikannya bahasa Melayu kemudian menjadi bahasa
persatuan bangsa Indonesia, bahasa Indonesia. Setelah tamat belajar di
STOVIA, Jakarta, tahun 1924, M. Amir mendapat kesempatan untuk
meneruskan belajar di negeri Belanda dengan beasiswa dari perkumpulan
Theosophie.
Antara tahun 1924 dan 1928 M. Amir belajar sebagai mahasiswa yang
memusatkan perhatian pada pengkajian dalam bidang psikiatri (ilmu
penyakit jiwa) di Fakultas Kedokteran, Universitas Utrecht, di
Utrecht, Belanda.
Tahun 1925 M. Amir terpilih menjadi Komisaris Pengurus Indonesische
Vereeniging di Belanda, yang sejak 11 Januari 1925 dinamakan
Perhimpunan Indonesia, di bawah Soekiman Wirjosandjojo sebagai Ketua.
Anggota Pengurus yang lain terdiri dari A.Z. Mononutu, Wakil Ketua;
Soerono, Sekretaris I; Soenarjo, Sekretaris II; Mohammad Hatta,
Bendahara I; Mohammad Nazief, Bendahara II; Boediarto, Komisaris; dan
Mohammad Joesoef, Komisaris.
Tahun 1928 M. Amir tamat belajar di Fakultas Kodokteran, Universitas
Utrecht, dan oleh sebab itu berhak menyandang gelar Arts dan huruf Dr.
di depan nama. Ia kembali ke Jakarta dan menikah dengan C.M. (Lien)
Fournier, kemenakan yang cantik dari Ir. F.L.P.G. Fournier, pensiunan
Insinyur Kepala (Hoofdingenieur) Pos, Telegraf dan Telepon dan Ketua
Gerakan Theosophie di Hindia Belanda.
Pada tahun yang sama, Moh. Jamin, kerabat M. Amir yang masih belajar
sebagai mahasiswa di Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di
Jakarta, terpilih menjadi Ketua Pengurus Pusat Jong Sumatranenbond.
Selain bekerja sebagai psikiater, Dr. M. Amir juga menjadi pengarang
dan budayawan yang terkemuka. Ia banyak menulis karangan yang, antara
lain, dimuat dalam majalah budaya Poedjangga Baroe, di sini ia
menentang gagasan Soetan Takdir Alisjahbana yang mempropagandakan
Westernisasi, meskipun gaya hidupnya sendiri sangat merupakan gaya
hidup orang Eropah.
Tahun 1934 Dr. M. Amir pindah ke Medan sebagai dokter pemerintah.
Djamaloedin Adinegoro, kerabat dari Talawi yang lebih muda empat tahun
dan atas saran penerbit Landjoemin gelar Datoek Toemengoeng juga
menggunakan nama Adinegoro supaya tulisan-tulisannya dibaca oleh lebih
banyak pembaca, sudah berada di Medan sebagai redaktur Pewarta Deli
sejak 1931.
Dr. M. Amir dan Ny. C.M. Amir-Fournier memperoleh seorang putra, Anton
(Tony) Amir, dan seorang putri, Anneke Amir. Keduanya kemudian, pada
akhir tahun 1950-an, menjadi dokter di Utrecht dan tetap berdiam di
Utrecht.
Tahun 1937 Dr. M. Amir diangkat menjadi dokter pribadi dari Toeankoe
Machmoed Abdoel Djalil Rachmat Sjah (1893-1948), Sultan Langkat,
ketika Sultan ini curiga bahwa ada yang hendak meracuninya. Tahun 1945
Dr. M. Amir sekeluarga pindah berdiam di Tanjung Pura, ibukota
Kesultanan Langkat.
Dalam bulan Agustus 1938 Djamaloedin Adinegoro terpilih menjadi
anggota Gemeenteraad (Dewan Kotapraja) Medan dan menjadi satu-satunya
orang pribumi yang menempati jabatan wethouder.
Tahun 1940 kumpulan karangan Dr. M. Amir diterbitkan di Medan dengan
judul Boenga Rampai.
Pada akhir tahun 1942 Dr. M. Amir diberitakan mengalami serangan
pendarahan otak (Apoplexie).
Ketika dalam Perang Durna II tentara Jepang mengalahkan Belanda di
kepulauan Indonesia dan juga menduduki Sumatera. Pulau ini, bersama
dengan semenanjung Malaya, ditempatkan di bawah kekuasaan Tentara
Ke-25. Kawasan ini dianggap oleh Jepang sebagai kawasan yang mempunyai
nilai strategis karena letaknya dan sebagai sumber bahan mentah,
terutama minyak, karet dan timah. Bulan April 1943 daerah Sumatra
dipisahkan dari semenanjung Malaya dan sejak itu Tentara Ke-25 hanya
menguasai Sumatra.
Salah satu badan yang didirikan tanggal 28 November 1943 oleh
pemerintah militer Jepang untuk mendukung usaha-usahanya di daerah
Sumatra Timur adalah Badan Oentoek Membantoe Pertahanan Asia (BOMBA).
Dr. M. Amir menjadi anggota dan kemudian pembicara utama dari BOMBA di
Langkat, yang beranggotakan baik tokoh-tokoh kerajaan maupun
tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan Indonesia.
Dalam masa pendudukan Jepang itu Dr. M. Amir, yang beristri orang
Belanda, juga mengadakan hubungan erat dengan tokko-ka (polisi politik
Jepang).
Tanggal 14 Agustus 1945 Mr. Teuku Moh. Hassan dan Dr. M. Amir, yang
diundang untuk menghadiri sidang-sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia sebagai wakil dari penduduk di Sumatra atas usul Drs. Moh.
Hatta, pergi ke Jakarta melalui Singapura, di sana mereka bertemu
dengan rombongan Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Dr. Radjiman
Wediodiningrat yang baru kembali dari kunjungan menghadap Marsekal H.
Terauchi, Panglima Angkatan Bersenjata Jepang di Wilayah Selatan, di
Dalat, Indo China. Mereka terbang bersama dengan menggunakan pesawat
pembom Jepang ke Jakarta. di sana Mr. Abdoel Abbas, Ketua Shu Sangi
Kai Lampung, bergabung dengan Mr. Teukoe M. Hassan dan Dr. M. Amir
mewakili Sumatra dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI).
Bersama Mr. T.M. Hasan, Dr. M. Amir atas nama Sumatra menghadiri
sidang persiapan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dan kemudian
pukul 10:00 tanggal 17 Agustus 1945 ikut menyaksikan pembacaan
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dilakukan oleh Ir. Soekarno dan
Drs. Moh. Hatta atas nama rakyat Indonesia.
Keesokan harinya, tanggal 18 Agustus Dr. M. Amir menghadiri sidang
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang meletakkan dasar-dasar
dari negara baru yang sehari sebelumnya dinyatakan merdeka, antara
lain, dengan mensyahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia yang kini dikenal sebagai Undang-Undang Dasar 1945;
memilih Ir. Soekamo sebagai Presiden dan Drs. Mohammad Hatta sebagai
Wakil Presiden Negara Republik Indonesia; serta memutuskan bahwa
pekerjaan Presiden untuk sementara waktu dibantu oleh sebuah Komite
Nasional Indonesia (KNI).
Tanggal 19 Agustus Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan
pembagian wilayah negara Republik Indonesia dalam 8 propinsi. Sumatra
dijadikan suatu propinsi. Mr. Teuku Mohammad Hassan, yang sebelum
Jepang menduduki Sumatra bekerja di Kantor Gubemur Sumatra diangkat
menjadi Gubernur Propinsi Sumatra dengan Medan sebagai ibukota
propinsi.
Dalam sidang PPKI yang ketiga dan terakhir, yang diadakan tanggal 22
Agustus, Panitia tersebut mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI)
sebagai partai negara; Komite Nasional Indonesia (KNI) sebagai dewan
perwakilan rakyat di pusat dan pada jenjang-jenjang kewilayahan yang
lebih rendah; dan Badan Keamanan Rakjat sebagai angkatan bersenjata
negara.
Tanggal 23 Agustus Mr. T. Moh. Hassan dan Dr. M. Amir terbang kembali
ke Medan dengan salah satu pesawat Jepang terakhir yang diizinkan
terbang oleh Sekutu yang telah berhasil mengalahkan Jepang. Di Medan
kedua tokoh ini tidak menyebarluaskan informasi tentang
peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jakarta berkenaan dengan
proklamasi kemerdekaan Indonesia dan pembentukan negara Republik
Indonesia.
Tanggal 5 September ditetapkan pembentukan suatu Kabinet Presidentiil
di bawah pimpinan Ir. Soekarno yang antara lain beranggotakan Dr. Moh.
Amir sebagai Menteri Negara bersama dengan Wachid Hasjim, Mr.R.M.
Sartono dan R. Oto Iskandar Dinata yang masing-rnasing juga menjadi
Menteri Negara.
Tanggal 17 September sekelompok aktivis politik mengunjungi Dr. M.
Amir di rumahnya di Tanjung Pura untuk mendesak Dr. Amir, mengingat
bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu dan untuk menghindari upaya
Belanda untuk kembali berkuasa di Sumatra, agar mengumumkan
kemerdekaan Indonesia juga di Sumatra.
Hampir dua minggu sesudah Proklarnasi Kemerdekaan Indonesia diumumkan
di Jakarta dan seminggu setelah Mr. T. Moh. Hassan dan Dr. M. Amir
kembali di Medan dari kunjungan ke Jakarta, dalam suatu pertemuan
dengan sejumlah pemuda di Jl. Ampelas, di sana terjadi pembicaraan
yang berapi-api. Mr. T. Moh. Hassan mengungkapkan bahwa sebenarnya
Indonesia sudah dinyatakan merupakan bangsa dan negara yang merdeka.
Pada tanggal 3 Oktober Pemerintah Negara Republik Indonesia di
Sumatra, di bawah pimpinan Gubemur Mr. Teukoe Moh. Hassan, dengan
resmi mulai menyelenggarakan pekerjaan pemerintahan. Dan tanggal 6
Oktober Gubemur Hassan mengumumkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat
(TKR).
Tanggal 17 Oktober Gubemur Sumatra, Mr. T. Moh. Hassan menyatakan
kesediaan bekerjasama dengan tentara Sekutu dalam pelaksanaan tugas
Sekutu, yaitu melucuti senjata tentara Jepang dan membebaskan tahanan
mereka, tapi tidak membenarkan Belanda kembali ke Sumatra dan
mengganggu keamanan dan ketentraman umum.
Dalam pada itu Belanda berusaha kembali berkuasa di Medan dan
mengikuti tentara Inggris mendarat di Sumatra Timur. Tanggal 19
Oktober tentara Inggris di bawah piinpinan Brig.Jen T.E.D. Kelly
mendarat di Belawan dan dengan diikuti oleh pejabat-pejabat
Netherlands Indies Civil Administration (NICA), pejabat-pejabat
Belanda yang hendak kembali berkuasa di bekas tanah jajahannya
bergerak ke Medan. Komandan tentara Inggris, Kelly, segera
memerintahkan sekalian penduduk yang bersenjata menyerahkan senjata
mereka masing-masing kepada tentara Sekutu, tindakan sangat tidak
bijaksana yang mengakibatkan kemarahan para pemuda pejuang kemerdekaan
yang tentu saja tidak menyerahkan senjata mereka.
Tanggal 26 November Dr. Amir Mendampingi Gubemur Mr. T. Moh. Hassan
bersama Mr. Mohammad Joesoef dan Mr. Luat Siregar, sebagai wakil
Pemerintah R.I. di Sumatra, mengadakan pertemuan di Grand Hotel,
Medan, dengan pihak Sekutu yang terdiri atas Let. Jen. Sir Philips
Christison, Panglima Tentara Sekutu di Indonesia; May. Jen. Chambers,
Panglima Tentara Sekutu di Sumatra dan Brig. Jen. Kelly, Panglima
Tentara Sekutu di daerah Medan. Gubemur Teuku Hassan menjelaskan bahwa
rakyat di Sumatrapun menghendaki kemerdekaan 100% dan bahwa Sumatra,
Jawa dan daerah-daerah lain di Indonesia tidak dapat dipisahkan satu
sama lain.
Dalam bulan Desember Dr. Amir diangkat menjadi Wakil Gubemur Sumatra
yang mewakili Gubemur bilamana Mr. T. Moh. Hassan tidak berada di
Medan.
Tanggal 13 Desember Dr. Amir, yang menerima tawaran Inggris untuk
berkunjung ke Jawa dengan pesawat terbang militer Inggiis,
bersama-sama dengan Mr. Luat Siregar, Ketua Komite Nasional Indonesia
(KNI) Medan; Djamaludin Adinegoro, wakil Pemerintah di Bukittinggi;
dan Dr. Djamil, Ketua KNI Padang, tiba di Jakarta untuk mengadakan
pembicaraan dengan tokoh- tokoh Republik seperti Ir. Soekarno, Sutan
Sjahrir dan Mr. Amir Sjarifoedin. Mereka menyatakan bahwa Sumatra
sepenuhnya berada di belakang Republik Indonesia yang dipimpin oleh
Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta.
Rombongan Dr. Amir juga mengadakan perjalanan keliling di Jawa untuk
melihat keadaan umum di bawah Pemerintah Republik Indonesia di pulau
ini.
Sehari sesudah rombongan Dr. M. Amir berangkat ke Jakarta, tanggal 14
Desember, di Medan sendiri terjadi berbagai pertempuran lokal antara
unsur-unsur Tentara Inggris dan Belanda di satu pihak dan para pembela
kemerdekaan Indonesia di lain pihak sebagai akibat provokasi tentara
Inggris dan Belanda.
Sebelum rombongan kembali ke Medan, pada tanggal 29 Desember, Presiden
Ir. Soekarno mengadakan jamuan perpisahan dengan para utusan
Pemerintah di Sumatra, yaitu: Dr. Amir, Mr. Luat Siregar, Dr. Djamil
dan Adinegoro. Jamuan makan dihadiri juga oleh wakil Presiden Drs.
Moh. Hatta; Menteri Kesehatan Dr. Dr. Daarmasetiawan; Jaksa Agung Mr.
Kasman Singodimedjo; Sekretaris Negara Mr. A.G. Pringgodigdo; Mr.
Sartono.
Dalam pidatonya, Dr. Amir menyatakan terimakasih atas kesempatan yang
diberikan untuk meninjau Jawa Tengah dan Jawa Tiinur. Kunjungan
rombongan menyakinkan para anggota rombongan bahwa revolusi didukung
oleh seluruh rakyat di Jawa, hal mana merupakan kekuatan yang amat
besar. Kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia, sebagaimana dilihat
oleh para anggoota rombongan nyata sekali terwujud di Jawa, terutama
di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga menghilangkan kebimbangan
rakyat di Sumatra bahwa Pemerintah Republik Indonesia tidak dapat
mengendalikan rakyat di seluruh wilayah Indonesia.
Tanggal 3 Januari 1946 Dr. Amir kembali ke Medan dari Jakarta dan
mengumumkan bahwa Pemerintah Republik Indonesia menganggap Sumatra
secara politik dan ekonomi terlepas dari Jawa dan bebas dan mengadakan
tindakan apa saja asal tidak bertentangan dengan kepentingan Republik,
pernyataan yang kemudian harus diralat oleh Gubemur Sumatra, Mr. T.
Hasan, yang menyatakan dengan tegas bahwa Pemerintah Sumatra tidak
melakukan kebijaksanaan yang berbeda daripada yang dilakukan oleh
Pemerintah Pusat di Jawa.
Setelah kembali dari perjalanan ke Jawa, atas usul Dr. Amir, Sultan
Langkat mengundang para Sultan di daerah Sumatra Timur pada suatu
konferensi di Tanjung Pura untuk membicarakan masalah kerajaan. Pada
konferensi ini Dr. Amir menjelaskan bagaimana baiknya hubungan
kerjasama antara Sultan Yogyakarta dan Pemerintah Republik Indonesia
dengan himbauan agar hubungan ini dijadikan contoh oleh para Sultan di
daerah Sumatra Tirnur. Konferensi sepakat untuk mengadakan Komite
Nasional Indonesia (KNI) setempat, sebagai wujud kedaulatan rakvat,
dan bahwa para Sultan akan menyelengarakan pemerintahan dengan
sebanyak mungkin bekerja sama dengan KNI setempat.
Tanggal 3 Februari Dr. Moh. Amir, sebagai Wakil Gubemur Sumatra,
menghadiri pertemuan Gubernur Sumatra Mr. Teuku Moh. Hassan; Residen
Sumatra Timur Tengku Hafaz, Walikota Medan Mr. Muhammad Jusuf dan
pejabat-pejabat lain dari Pemerintah Republik Indonesia di Sumatra
dengan para Sultan, Raja dan Sibayak di Gedung KNI Sumatra Timur di
Sukamulia. Di antara para Sultan hadir Sultan Langkat, Sultan Siak,
Sultan Deli. Sultan Asahan, Putera Mahkota Serdang, Raja Indrapura.
Raja Bilah, Raja Siantar, Raja Suka, Raja Panei, Raja Purba, Yang
Dipertuan Kualuh dan Leidong, dan sebagainya. Sesudah Gubernur
menyampaikan pidatonya, berbicara Sultan Langkat atas nama Sultan dan
para Raja. Kemudian berbicara Dr. Amir yang menjelaskan bahwa masalah
Indonesia sekarang bukan lagi hanya masalah kita dan Belanda saja,
melainkan telah menjadi masalah internasional, Dunia bersimpati pada
perjuangan Indonesia dan Indonesia tidak segan-segan mengajukan
masalah kemerdekaannya kepersidangan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dr. Amir juga menjelaskan bahwa di Jawa Susuhunan Surakarta, Sultan
Yogyakarta, Pangeran Pakualam dan Pangeran Mangkunegoro telah
menyesuaikan susunan pemerintahan di daerah masing-masing dengan
tuntutan kedaulatan rakyat. Pada akhir pidatonya, ia mengatakan bahwa
"baik ditilik dari sudut politik, diplomasi maupun militer, kedudukan
Republik Indonesia adalah sungguh kuat dan tangguh". Untuk memberi
penjelasan tentang perubahan besar yang sedang terjadi berkenaan
dengan hubungan antara pemerintah dan rakyat di Indonesia di
daerah-daerah lain di pulau Sumatra, pada tanggal 6 Februari Gubemur
Mr. T. Moh. Hassan, beserta rombongan yang diangkut dengan 7 mobil,
berangkat dari Medan lewat Brastagi dan Sumatra Tengah menuju Sumatra
Selatan. Dr. Moh. Amir tetap tinggal di Medan sebagai pejabat Gubemur.
Tanggal 27 Februari sampai 2 Maret Dr. Amir, yang didampingi oleh
Joenoes Nasution, Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) Sumatra Tiinur,
mengadakan perjalanan keliling naik kereta api istimewa untuk memberi
penjelasan mengenai keadaan umum kepada khalayak ramai dan
membangkitkan semangat perjuangan di Pematang Siantar, pusat Persatuan
Perjuangan, dan Tebing Tinggi, Kisaran dan Tanjung Balai, ibu kota
Kesultanan Asahan.
Maka, tanggal 3 Maret "Revolusi Sosial", yang, dipimpin oleh
unsur-unsur radikal dari Persatuan Perjuangan, yang terdiri dari
aktivis-aktivis Pesindo, PNI, dan PKI. pecah di Sumatra Timur,
terutama di Sunggal (Deli), Kabanjahe (Karo), Tanjung Balai (Asahan)
dan Pematang Siantar.
Banyak anggota kaum bangsawan, termasuk Raja Pane sekeluarga, Raja
Raya, Tengku Musa, Sultan Kualah dan Tengku Amir Hamzah, sastrawan
terkemuka, dibunuh oleh kaum pemberontak.
Tanggal 5 Maret Wakil Gubemur Sumatra, Dr. Moh. Amir, mengangkat M.
Joenoes Nasution menjadi Residen Sumatra Timur.
Dalam rangka "Revolusi Sosial" tanggal 6 Maret Distrik Serbanyaman
(Kesultanan Deli) dan Kesultanan Serdang dihapuskan sebagai daerah
istimewa oleh rakyat.
Tanggal 7 Maret Sultan Asahan melarikan diri ke laut tapi akhimya
menyerah di pulau Buaya.
Dalam suatu rapat raksasa di dekat Mesjid Raya di Medan, yang dihadiri
juga oleh Residen Sumatra Timur M. Joenoes Nasution, rakyat mendesak
Komite Nasional Wilayah Deli untuk menghapuskan daerah istimewa.
"Hapuskan daerah isdmewa! Hapuskan pemerintah kerajaan Deli! Dirikan
pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat! " Akhimya
diproklamasikan penghapusan daerah istimewa Deli.
Tanggal 8 Maret daerah istimewa Tanah Karo atas kehendak rakyat
dinyatakan hapus sebagai daerah istimewa. Juga daerah istimewa Bilah
dan Panai dihapus sebagai daerah istimewa.
Mengenai peristiwa-peristiwa tersebut di atas. Moh. Amir memberikan
penjelasan sebagai berikut: "Untuk mengerti kejadian yang hebat
sekarang (revolusi sosial) di Sumatra Timur, haruslah diketahui, bahwa
di seluruh pulau Sumatra semenjak beribu tahun ada susunan demokrasi
di kampung dan hutan dan negari, kecuali di Sumatra Timur, yang sampai
sekarang masih menjadi sarang dan benteng feodalisme (pemerintahan
keningratan). Di luar Sumatra Timur, rakyat jelata selama NRI ini
adalah rakyat yang merdeka, yang dibela oleh grondwet, pemerintah,
laskar Republik. Rakyat Sumatra Timur hidup dalam "daerah-daerah
istimewa" (kerajaan, landscape di bawah pemerintahan raja-raja,
datuk-datuk, dan lain-lain kaum feodal yang umumnva tidak suka pada
pergerakan rakyat (nasional) dan tidak suka pada Republik. Antara
mereka banyak pula yang dengan berterang-terang atau bersembunyi
mengatur perlawanan untuk menentang NRI dan berhubungan dengan NICA.
Setelah rakyat dengan barisan-barisannya melihat hal-hal pengkhianatan
itu, maka mereka dengan segera bertindak dengan tak sabar lagi,
membantu pemerintah, menyapu bersih musuh-musuh negara itu, dan rakyat
menuntut supaya daerah-daerah istimewa, benteng feodal yang telah
menyawa dengan musuh-musuh negara dan kapitalisme asing itu, dengan
segera supaya NRI di seluruh Sumatra ini ditegakkan atas sendi-sendi
yang betul, menurut grondwet NRI: kedaulatan rakyat dan kesejahteraan
sosial." Yang disebut grondwet, istilah bahasa Belanda, adalah
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.
Tanggal 22 Maret Gubernur Mr. Teuku Moh. Hassan kembali berada di
Medan sesudah menyelesaikan perjalanan yang berhasil baik ke Sumatera
Tengah dan Sumatra Selatan.
Keesokan harinya, tanggal 23 Maret, Komandan Divisi ke-4 TRI Kol.
Achmad Tahir, mengumumkan melalui surat-sumt kabar bahwa Pemerintah
sipil di seluruh keresidenan Sumatra Timur, jadi termasuk Medan, untuk
sementara diganti dengan pemerintah militer di bawah Mahroezar.
Tanggi 20 April 20 intelijen Belanda memperoleh surat putera Dr. Amir,
Tony, yang ditujukan kepada seorang teman, orang Belanda, di Medan
yang antara lain, dinyatakan bahwa "bilamana keadaan tetap memburuk,
dalam 2 hari kami akan berada di kapal yang menuju ke Eropah."
Atas permintaan Dr. Amir yang semakin khawatir mengenai keselamatan
keluarganya, pada tanggal 23 April rumah tempat kediamannya dijaga
tentara India Inggris yang ditugaskan oleh Pimpinan Tentara Sekutu
untuk melindungi Wakil Gubemur.
Akhimya, tanggal 25 April Dr. Amir sekeluarga melarikan diri ke kamp
Rapwi di Medan dan meminta perlindungan pada A.J. Spits, Gubernur NICA
untuk Sumatra, di Medan, kecewa dengan keadaan yang tidak dapat
diatasinya, dan kekhawatiran akan ancaman terhadap hidupnya. Gubemur
Spits oleh Pemerintah Hindia Belanda di Batavia diperintahkan
mengusahakan penyingkiran Dr. Amir sekeluarga dari Medan dan
mengangkut mereka ke Sabang.
Pembelotan Dr. M. Amir, Wakil Gubemur Sumatra dan satu dari tiga
pemimpin yang mewakili Sumatra pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
di Jakarta, ke pihak musuh tentu sangat memprihatinkan para pemirnpin
Negara Republik Indonesia yang justru sedang berusaha memperlihatkan
kepada dunia internasional bahwa Pemerintah Republik Indonesia di
dukung oleh seluruh rakyat Indonesia dan bahwa Pemerintah ini
berkemampuan memelihara ketertiban dan keamanan di wilayah negara yang
baru dinyatakan merdeka ini.
Tanggal 30 April Dr. Amir menulis surat piibadi dalam bahasa Belanda
kepada dr. E.O. Baron van Boetzelaer, wd. le Gouvernements secretaris
(pejabat Sekretaris Pertama Pemerintah Hindia NICA), di Batavia yang
dalam terjemahan bahasa Indonesia berbunyi sebagai berikut: "Dari
siaran radio anda pasti telah mengetahui tentang pelarian kami ke kamp
Rapwi di Medan. Kami menumpang untuk sementara waktu pada orang dekat
pasar pusat di Medan sini. Di daerah tersebut sering terjadi
perampokan, penembakan, penculikan, dan sebagainya. Ketika seminggu
yang lalu kami diserang untuk ketiga kalinya, serangan dapat ditangkis
oleh prajurit India-Inggris, yang saya peroleh dari pihak Inggris
sebagai perlindungan. Saya memutuskan bahwa telah tiba waktunya untuk
segera bertindak mengakhiri keadaan kami yang semakin tidak dapat
dipertahankan. Sejak beberapa bulan saya menjadi Gubemur Propinsi
Sumatra dan saya berusaha menggerakkan para pemuda untuk melakukan
pekerjaan yang bersifat membangun, tetapi percuma saja. Mereka di sini
hendak berkelahi juga bila perundingan di Batavia sampai pada suatu
kesepakatan. Berjuang di sini sekarang ini tidak ada manfaatnya.
Kelompok-kelompok ekstrim di sini lebih kuat dari pada polisi, T.R.I.
Wewenang kami didasarkan atas kertas, keadaan ekonomi, keuangan, semua
kacau balau, karena kadaan yang ditimbulkan oleh tidak adanya tenaga
ahli. Ditambah lagi kedudukan miring dari kami sendiri. Sebagai orang
Indonesia saya harus ikut berjuang di pihak Republik, saya tahu bahwa
hanyalah dengan bekerja sama dapat terwujud sesuatu yang baik,
terorisme menutup mulut kami. Lien, karena semua pengalaman yang buruk
ini menjadi sakit jiwa (nerveus), harus selekas mungkin ke Holland.
Kami berfikir bahwa segera sesudah masalah Indonesia pada dasarnya
dapat terselesaikan, kami akan pergi ke Eropah, tapi perkembangan
peristiwa-peristiwa (keadaan syaraf Lien, pelarian kami ke kamp,
pemutusan hubungan saya dari NRI dan penggabungan saya pada pihak
Pemerintah Hindia Belanda) mengakibatkan pelarian keluar negeri ini
menjadi keharusan. Disini kami tidak aman lagi .."
Tanggal 10 Mei Dr. Moh. Amir, istri Belanda dan kedua anaknya diangkat
dengan pesawat terbang ke Sabang.
Tanggal 17 Mei Dr. Moh. Amir menulis surat pribadi lagi ke dr. E.O.
Baron van Boetzelaer, yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berbunyi
sebagai berikut: "Jumat Minggu lalu kami telah tiba di sini dengan
pesawat terbang dari Medan, dan haruslah saya katakan bahwa di sini
sangat, sangat tenang, sesudah perampokan dan penembakan di Medan....
Bagaimanakah jalannya penindingan? Front Rakyat di Sumatra ingin,
adalah suatu lelucon bila tercapai kesepakatan, meneruskan perlawanan,
hal ini, mengingat adanya perpecahan dan kurangnya senjata. Justru di
Sumatra, yang terdapat kekurangan pemimpin dan tenaga ahli, kerjasama
dengan Belanda akan menguntungkan - asal saja kaum teroris yang
sedikit jumlahnya itu dapat ditundukkan. Pemerintah Indonesia tidak
mampu melakukannya, karena T.R.1. boleh dikatakan belum terorganisasi
secara baik dan bersenjata lengkap. "
Kemudian Dr. M. Amir sekeluarga diangkut ke Belanda, di sana mereka
berdiam di kota Utrecht, tempat pemuda Amir belajar sebagai mahasiswa
dalam tahun-tahun 1920-an.
Rupanya ia tetap ingin membuktikan dirinya untuk kepentingan
bangsanya, bangsa Indonesia, tapi malu kembali ke Surnatra Timur yang
ia telah melakukan tindakan yang dapat ditafsirkan sebagai
pengkhianatan pada bangsanya. Oleh sebab itu, tahun 1947 Dr. M. Amir
kembali ke Indonesia dan, dengan bantuan dr. D.J. Warouw, seorang
sahabat lama selagi mereka masih siswa di Stovia yang tahun 1947 itu
menjabat jabatan Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT). Ia
bekerja di rumah sakit di Gorontalo, lalu pindah ke Palu dan akhirnya
ke Makassar, ibukota NIT, bekerja sebagai dokter, atas permintaannya
sendiri, di tempat-tempat yang ia tidak dikenal. Pengalaman pahit di
Sumatra Timur mengakibatkan Dr.M.Amir kehilangan semangat untuk
bergerak dalam lapangan politik, ilmu pengetahuam ataupun kebudayaan.
Tahun 1949 Dr. Amir jatuh sakit parah dan harus menjalani pembedahan
di otaknya sehingga ia diterbangkan ke Belanda tempat ia menjadi
pasien di suatu rumah sakit di Amsterdam. Dalam keadaan sakit itu,
pada akhir hayatnya, ia masih menyampaikan nasehat kepada kemenakan
dan kawan-kawan sesama orang pribumi di Indonesia yang masih bujangan
agar tidak mengawini orang asing sebagaimana telah dia lakukan sendiri
sehingga terpaksa menderita akibatnya. Ia kemudian meninggal di rumah
sakit tersebut tanpa diketahui orang banyak, jauh dari bangsa yang
dicintainya. Sesuai dengan permintaannya, jenazahnya dibakar di tempat
pembakaran mayat (crematorium).
Daftar Pustaka
Amir, Moh., Boenga Rampai ______________, Melawat ke Djawa
Anonim. (1980). Bahder Djohan: Pengabdi kemanusiaan. Jakarta: P.T.
Gunung Agung,
Bachtiar, Harsja W., "Me development of common national consciousness
among students from the Indonesian archipelago in the
Netherlands."Majalah ilmu-ilmu Sastra Indonesia, Jld. VI, No. 2, Mei
1976, hlm. 3 1 - 44. ______________, (1981). "Muhammad Yamin: dari
desa ke Indonesia Raya." Dalam: Imej dan Cita-cita: Kertas kerja Hari
Sastera 1980 Kuala Lumpur: Balai Bahasa dan Pustaka, hlm. 191-211.
______________, (1984).
"Kaum cendekiawan di Indonesia: suatu sketsa sosiologi." Dalam; Aswab
Mahasis dan Ismed Natsir, cd., Cendekiawan dan Politik. Cetakan ke-2.
Jakarta: LP3ES, 1984. hlm. 73-91.
Brugmans, I.J.; H.J. de Graaf., A.H. Joustra; dan A.G. Vromans, ed.
(1980). Nederlandsch-Indie onder Japanse Bezetting: Gegevens en
documenten over de jaren 1942-1945. Francker: Wever.
Hamka, Merantau Ke Deli ______________, Kenang-kenangan Hidup
Hatta, Mohammad, (1982). Memoir, Jakarta, Tintamas.
"Mededeelingen van het Hoofdbestuur," Jong Sumatra, Thn. III, No. 2-3,
Februari-Maret 1920. "Notulen van de Algemeene Ledenvergadering op 8
Februari 1920, in het Logegebouw te Weltevreden te 9 u.v.m.," Jong
Sumatra, Tahun III, No. 1, Januari 1920, hlm. 3.
Oetoesan Melajoe, No. 152, 18 Agustus 1919; No. 157, 25 Agustus 1919.
PRIMA, (1976). Biro Sejarah, Medan Area Mengisi Proklamasi, Perjuangan
Kemerdekaan dalam Wilayah Sumatera Utara. Jilid I. Medan: Badan
Musyawarah PRIMA.
Reid, A (1971). "The Birth of the Republic in Sumatra." Indonesia, No. 12, hlm.
21-46.
______________, (1975).
"The Japanese occupation and rival Indonesian elites: Northern Sumatra
in 1942. " Journal of Asian Studies, Jld. XXXV, No. 1, November 1975,
hlm. 49-61. ______________, (1979).
The Blood of the People: Revolution and the end of traditional rule.
Kuala Lumpur, Oxford, New York dan Melbourne: Oxford University Press.
Raliby, O. (1953). Documeta Historica: Sedjarah dokumenter dari
pertumbuhan dan perdjuangan negara Republik Indonesia. Jakarta: Bulan
Bintang.
Said, Mohammad, (1946). Empat Belas Boelan Pendoedoekan Inggris di Indonesia.
Medan: Antara. ______________, (1973).
"What was the social Revolution of 1946 in East Sumatra?" Indonesia. No. 15,
hlm. 45-86.
Soebagijo I.N. (1987). Adinegoro: Pelopor jurnalistik Indonesia. Jakarta: CV
Haji Masagung.
"Verslag Eerste Jaarvergadering," Jong Sumatra, Thn. II. No.2, Februari 1919,
hlm. 40-41.
Wal, S.L. van der. ed., Officiele Bescheiden Bertreffende de
Nederiands-Indonesische Betrekkingen 1945-1950. Empat jidil pertama.
s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1971-74.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Jika anda, kirim email kosong ke >>:
berhenti >> [EMAIL PROTECTED]
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED]
digest: >> [EMAIL PROTECTED]
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---