Innalillahiwainnailahiraajiun,
Ambo ikuik baduka cita ateh maningganyo dunsanak awak dari Lintau,
semoga kito sadonyo tabah, amiin.
Mail ko ambo kirimkan ka sanak ambo rang lintau.
Wassaalm,.
Elthaf

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Ephi Lintau
Sent: Tuesday, October 23, 2007 11:45 AM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED]:13144] Re: Tiga Korban Tabrakan Asal -Lintau Sumbar
(Kecelakaan di tol Merak)


saya atas nama orang lintau, turut berduka cita atas meninggalnya karib
kerabat kami ini. Semoga arwah almarhum/mah di terima di sisi Allah SWT
dan keluarga yang di tinggalkan diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan
ini. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati, kita hanya menunggu
antrian saja, semoga ini menjadi iktibar bagi yang masih diberi
kesempatan untuk memperbaiki segala kekurangan dan mendekatkan diri
kepada-NYA. 

Tarimo kasih da Is atas info ini.

Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau. 
(Lubuk Jantan, Lintau)


On 10/23/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 


        Berita duka, nan ambo kutip dari padang ekspress. 
        Kami ateh namo warga Sungai Pua, ikuik baduka cita, Semoga
Almarhum dapek tampaik nan layak disisi Nya. 
        Dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan
ini.tarutamo ka kakak almarhum nan  tatuo "Jondrizal"  guru SMA 1 Sungai
Pua. 
        
        Salam 
        Is St Marajo 38+ 
        www.cimbuak.net 
        Kampuang nan jauah dimato dakek dijari 
        
        Tiga Korban Tabrakan Asal Sumbar 
        Selasa, 23-Oktober-2007, 12:02:42 
        Telah dibaca sebanyak 34 kali 
        Padang, Padek-Tabrakan maut di jalur padat lalu-lintas, tol
Merak KM 47 Cikande, Serang Minggu malam lalu membawa banyak korban.
Peristiwa naas ini diduga karena as terod setir bus Sri Kerta Bumi (SKB)
bernopol A 9568 A, patah, sehingga sopir kehilangan kendali. Bus lalu
menabrak dua mobil, Suzuki Carry Futura B 7686 CS dan sedan Toyota
Corona B 1356 DC, yang datang dari arah berlawanan 
        
        Dalam musibah yang terjadi di tol Merak KM 47 Cikande, Serang,
Minggu malam sekitar pukul 22.30 WIB itu, 12 nyawa melayang seketika,
dan 70 orang luka-luka. Dari 12 korban tewas, tiga orang yang berada di
mobil Toyota Corona berasal dari Lintau, Tanahdatar, Sumbar. Ketiganya
adalah Dr Isran (38) asal Batu Bulek Lintau dan Santi Novita (35) asal
Balai Tangah Lintau beserta Yani (25) juga asal Batu Bulek, babysitter
keluarga yang tinggal dikawasan Tebet, Jakarta Selatan ini. Setelah
dilakukan visum, jenazah langsung diberangkatkan dari Bandara Soekarno
Hatta pukul 16.50 WIB dengan pesawat Garuda Boeing 737-400, nomor
penerbangan G 165, yang tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM)
pukul 18.12 WIB. Sedangkan anak pasangan suami istri itu yang selamat,
Rasya (7), saat ini dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dari
RSUD Serang, Banten karena mengalami luka parah. 
        
        urid kelas 2 di SD Percontohan, Tebet, Jakarta Selatan itu
mengalami patah tulang di beberapa bagian tangan dan kaki. Dr Isran
merupakan alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Andalas Padang,
seorang dokter yang membuka praktek klinik kesehatan di Pasar Baros
Serang, Banten. Sedangkan sang istri mantan Pramugari Garuda Indonesia
yang masih tercatat sebagai pegawai pada Unit Direktorat Operasi Garuda
di Jakarta. Setelah prosesi serah terima jenazah di BIM, jenazah Dr
Isran langsung dibawa ke rumah duka di kawasan Simpang GIA Padang.
"Setelah disemayamkan di rumah duka, sekitar pukul 20.00 WIB, jenazah Dr
Isran dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Aia Dingin Padang,"
ujar Jondrizal (45), kakak korban kepada Padang Ekspres, kemarin. 
        
        Sedangkan untuk jenazah Santi Novita dan Yani, menurut juru
bicara keluarga lainnya, Z Panji Alam yang juga Wakil Ketua DPRD Kota
Padang, akan langsung di bawa ke Lintau dan akan dikebumikan di
pemakaman kaum. "Diperkirakan sekitar pukul 21.00 WIB malam ini (tadi
malam-red), kedua jenazah akan segera dimakamkan," ujar Z Panji Alam,
mamak Santi Novita. Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Banten
(Grup Padang Ekspres) dari tempat kejadian, awalnya bus SKB yang
dikemudikan Hamsin (40) melaju dari arah Jakarta menuju Serang. Saat
melintas di tol itu, tiba-tiba lajunya tidak stabil. Diduga itu karena
as terod setirnya patah. "Tiba-tiba bus nyelonong ke jalur berlawanan,
lalu terjadilah tabrakan itu," cerita Herman, salah seorang penumpang
bus SKB yang mengalami luka. 
        
        Ketika bus nyelonong, dari arah berlawanan muncul dua mobil yang
berjalan beriiringan: Suzuki Carry dan Toyota Corona tadi. Tak pelak,
badan bus langsung menabrak dua kendaraan tersebut. Seluruh korban, baik
yang tewas di tempat kejadian maupun yang mengalami luka-luka, langsung
dibawa ke RSUD Serang dengan empat mobil ambulan. Sedangkan yang luka
parah dirujuk ke RSCM. Sementara itu, puluhan korban luka-luka adalah
penumpang bus SKB yang merupakan rombongan wisata Lebaran asal Kampung
Kemeranggen, Desa Taman Baru, Kecamatan Taktakan, Serang. Mereka adalah
anggota organisasi pemuda-pemudi Desa Taman Baru bernama Lamist Fans
Club yang baru pulang mengunjungi Masjid Kubah Mas di Depok dan Taman
Mini Indonesia Indah (TMII). 
        
        As Terod Diikat Plastik 
        
        Puslabfor Mabes Polri menyimpulkan penyebab kecelakaan itu
karena as terod setir bus lepas. Pengelola bus dianggap teledor, karena
as terod itu sudah lama rusak, bahkan lepas. Namun, bukannya diperbaiki,
tapi malah diikat dengan tali plastik. Demikian hasil penelusuran
Puslabfor Mabes Polri yang kemarin turun bersama Ditlantas Polda Banten
dan saksi ahli dari Mercedes-Benz mengecek kondisi bus Sri Kerta Bumi.
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Banten AKBP Istiono mengatakan,
temuan mengenai as terod itu diperkuat dengan kesaksian para penumpang
bus dan kenek. "Sebelum menerabas pembatas jalan tol, supir sempat
berteriak kalau ia tak bisa mengendalikan setir," ujarnya. 
        
        Hal ini menunjukkan bahwa bus SKB sebenarnya tak laik jalan.
Tapi, dipaksakan oleh perusahaan. "Ini harus jadi perhatian bagi semua
pihak. Jangan sampai demi keuntungan sepihak, ada masyarakat yang
dirugikan bahkan kehilangan anggota keluarganya," katanya. 
        Selain as terod yang sudah lama rusak, bus SKB yang merupakan
anak perusahaan dari PO Sri Maju ini diketahui sudah berusia tua. Hal
tersebut terlihat dari kondisi kendaraan yang berkarat di beberapa
bagian. Namun, anehnya di Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) tertulis
bus merupakan keluaran tahun 2003.(cr1/jpnn) 
        
        Di Balik Tewasnya dr Isran dan Santi Novita, Salam Terakhir yang
Tak Terlupakan 
        
        Mendung menyelimuti kawasan Bandara Internasional Minangkabau
sore kemarin, ketika ratusan orang berdesakan di bagian kargo bandara.
Mereka adalah keluarga dr Isran dan Santi Novita, pasangan suami istri
asal Lintau, Tanahdatar yang tewas dalam kecelakaan beruntun di Jalan
Tol Merak-Jakarta. 
        
        Nyaris tak ada percakapan yang terdengar dari mereka. Yang
terlihat hanya rawut muka sedih dan tegang, sebagaian mereka bahkan
terlihat meneteskan air mata. Kondisi ini berlangsung hingga pesawat
yang ditunggu-tunggu, Garuda Indonesia Airlines Boeing 737- 400 dengan
nomor penerbangan G 165 mendarat pukul 18.12 WIB. Suasana yang awalnya
tertib mulai tak terkendali ketika tiga peti jenazah turun dari pesawat.
Masing-masing peti jenazah dr Isran, Santi Novita, dan pembantunya Yani.
Keluarga korban mulai histeris, suara ratapan kepergian almarhum memecah
keheningan. Tak hanya itu, beberapa anggota keluarga dekat korban
pingsan hingga harus dibopong. Kondisi ini juga juga terlihat pada
ibunda Santi Novita, Har. 
        
        Histeris ini mulai reda saat serah terima jenazah antara pihak
Garuda dengan keluarga korban yang diwakili Z Panji Alam. Saat jenazah
dinaikan ke ambulance, keluarga korban kembali histeris ketika
diberitahukan bahwa jenazah dimakamkan terpisah. Dr Isran berasal dari
Batu Bulek, Lintau sedangkan Santi Novita berasal dari Balai Tangah
Lintau. Namun karena sebagian besar keluarga Dr Isran berdomisili di
kawasan Simpang Gia Padang, maka jenazahnya dimakamkan di Taman
Pemakaman Umum (TPU) Aie Dingin Padang. Sedangkan untuk jenazah Santi
Novita dan pembantunya, Yani dimakamkan di pemakaman kaum di Balai
Tangah Lintau. 
        
        Perbedaan tempat pemakaman membuat keberangkatan jenazah dari
Kargo Bandara Internasional Minangkabau (BIM) ke rumah duka sempat
tertunda. Pasalnya salah seorang anggota keluarga dengan wajah sedih,
mencak-mencak hingga harus ditenangkan empat anggota keluarga lainnya.
"Mengapa mereka harus dipisahkan. Biarkan mereka dimakamkan
berdampingan," ujar pria yang mengenakan baju batik bertubuh tinggi
tersebut sambil sesugukan. Namun ini tak bisa membatalkan niat keluarga
besar Dr Isran dan Santi Novita untuk memakamkan kedua jenazah di dekat
kediaman masing-masing keluarga. 
        
        Pasangan Bersahaja 
        
        Dr Isran adalah anak ketiga dari tujuh besaudara. Setelah
menamatkan sekolah di SMA 7 Padang, ia melanjutkan pendidikannya di
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Dan tahun 1995 Dr Isran
merantau ke Jakarta. Sebelum ajal menjemput almarhum membuka klinik
kesehatan di Pasar Baros Serang Banten. Bahkan dr Isran akan menamatkan
spesialis mata dan tengah praktek di RS Cipto Mangun Kusuma Jakarta.
Menurut kakak tertuanya, Jondrizal, Isran adalah adik yang sayang dan
santun pada keluarga. 
        
        "Keluarga besar kami sangat kehilangannya," ungkap pria yang
mengajar di SMA 1 Sungai Pua tersebut. Satu minggu terakhir, Jondrizal
mendapat firasat yang tidak enak dan diduga sebagai pertanda datangnya
kabar duka kematian Dr Isran. "Dada saya sering berdegup kencang dan
perasaan tidak tenang," ujarnya. Bahkan waktu pulang enam bulan lalu
saat ayahandanya terkena stroke, Dr Isran pernah berujar, "untuk apa
mencari harta terlalu banyak, karena harta tidak akan dibawa mati,"
seperti yang ditirukan Jondrizal. Tak hanya itu, menurut pengakuan
Jondrizal, saat bertemu dengan salah seorang saudaranya dari Padang, Dr
Isran menyalaminya dengan sangat erat dan berkata, salaman ini dari
lubuk hati dan untuk selamanya. 
        
        "Ternyata salaman itu memang untuk yang terakhir kali," ulasnya.
Istri dr Isran, Santi Novita adalah pramugari Maskapai penerbangan
Garuda sejak 1 September 1992. Setelah menikah dan dikaruniai Raisya,
Santi diangkat menjadi Kru Suport Government Garuda. Di kalangan rekan
kerja, anak ketiga dari dari enam bersaudara ini merupakan pekerja yang
disiplin, ulet dan bertanggung jawab. Namun akhirnya, perjalanan hidup
pasangan ini berakhir tragis setelah kecelakaan maut yang terjadi di
kawasan Tol Merak-Jakarta Km 47/750, sekitar pukul 22.45 WIB, Minggu
(21/10). (***) 
        
        

        




-- 
[ Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau }}
www.lintau.com | http://ephi.polinpdg.ac.id




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Jika anda, kirim email kosong ke >>:
berhenti >> [EMAIL PROTECTED]
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED]
digest: >> [EMAIL PROTECTED]
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke