Kisah Petani Teladan

Juni 22, 2007
Posted by abuabdilbarr
PETANI-PETANI TELADAN

Ada beberapa kisah petani yang akan disebutkan pada pembahasan ini, di
mana  kisah  ini diambil dari hadits Rosululloh shollallohu  alaihi wa
sallam  yang  shahih,  yang akan banyak memberikan pelajaran bagi kaum
muslimin,  terlebih  bagi  para  petani  muslim.  Dalam kisah tersebut
nantinya  kita  akan  mendapat  teladan  yang  baik  dalam  mengarungi
kehidupan  di  dunia,  akan  kita lihat kearifan dan sikap bijak dalam
berbuat,  juga  ketaatan  dan  ketakwaannya  kepada Alloh subhanahu wa
ta ala. Kisah ini juga menunjukkan bahwa islam memberikan petunjuk dan
arahan  dalam  bersikap dalam bertani secara khusus dan bekerja secara
umum karena memang banyak terdapat orang-orang yang manakala dia sudah
bekerja  maka  dia  lalai  dengan  akhirat, dan tenggelam dalam lumpur
dunia,  terkadang  dia  sombong,  congkak,  bakhil bahkan kufur kepada
Alloh subhanahu wa ta ala, kita berlindung dari hal tersebut.

Kisah   tersebut  adalah  tentang  seorang  petani  yang  shalih  yang
didapatkan kisahnya dari sebuah hadits Abu Hurairah rodhiyallohu  anhu
dari nabi shollallohu  alaihi wa sallam bersabda:


 Ketika  ada  seorang  sedang  berjalan di sebuah padang yang luas tak
berair,  tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung),  Siramilah
kebun  si  fulan!   maka  awan  iu  menepi (menjauh) lalu mengguyurkan
airnya  di  tanah  bebatuan  hitam.  Ternyata  ada  saluran  air  dari
saluran-saluran  itu  yang  telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri
(mengikuti)  air  itu.  Ternyata  ada seorang laki-laki yang berada di
kebunnya  sedang  mengarahkan  air  dengan  cangkulnya.  Kemudian  dia
bertanya,   Wahai  hamba  Alloh,  siapakah  nama  anda?  dia menjawab,
 Fulan.   Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu
balik  bertanya,  Mengapa anda menenyakan namaku?  dia menjawab,  Saya
mendengar   suara   dari  awan  yang  ini  adalah  airnya,  mengatakan
 Siramilah  kebun  si  fulan!  yaitu nama anda. Maka apakah yang telah
anda  kerjakan  dalam  kebun  ini?.   Dia menjawab,  Karena anda telah
mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan
(membagi)  apa  yang  dihasilkan  oleh  kebun  ini;  sepertiganya saya
sedekahkan;   sepertiganya   lagi  saya  makan  bersama  keluarga  dan
sepertiganya   lagi   saya   kembalikan   lagi   ke   kebun   (ditanam
kembali).[1]

Dalam riwayat lain disebutkan:

 Dan   aku   jadikan   sepertiganya   untuk   orang-orang  miskin  dan
peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan. 

Dalam  hadits  di  atas,  Rosululloh  shollallohu   alaihi  wa  sallam
mengabarkan dan mengisahkan tentang kisah orang-orang terdahulu, yaitu
pada  zaman  sebelum  datangnya  risalah beliau shollallohu  alaihi wa
sallam.  Adapun  dalam  hal  ini,  sikap kita adalah membenarkan kisah
dalam  hadits di atas karena hadits tersebut adalah shahih datang dari
Rosululloh       shollallohu        alaihi       wa      sallam  [2]

Kisah dalam hadits tersebut memang menakjubkan, dimana diceritakan ada
seorang  yang  sedang  menempuh  perjalanan  di  sebuah  padang  pasir
mendengar suara dari awan (mendung) yang merupakan suara dari malaikat
yang mengurus awan (hujan) [3]

 Siramilah  kebun  si  fulan. , lalu orang itu penasaran dan mengikuti
awan itu yang kemudian awan itu mengguyurkan air di atas bebatuan, dan
ternyata  airnya  mengalir  ke sebuah kebun. Dia pun mengikuti air itu
mengalir, sampai akhirnya dia melihat seseorang di sebuah kebun sedang
mengalirkan  air  tersebut  ke kebunnya. Kemudian dia bertanya tentang
nama seseorang tersebut, ternyata nama orang tersebut adalah nama yang
ia  dengar  dari  awan  yang  disebut oleh malaikat. Dia merasa takjub
dengan  kejadian  ini dan penasaran dengan orang tersebut sehingga dia
menanyakan tentang apa saja yang telah dilakukan oleh petani tersebut.

Pastilah  ada  perbuatan  yang  istimewa sehingga dia mendapat karomah
dari  Alloh  subhanahu wa ta ala [4] yaitu turunnya air dari awan yang
khusus mengairi kebun petani tersebut. Kalau yang biasa terjadi adalah
hujan  turun  membasahi  semua kebun atau daerah yang ada tetapi dalam
hadits  ini  hujan atau air khusus mengairi kebun petani tersebut, ini
adalah   suatu   hal   yang   menakjubkan.  Untuk  menghilangkan  rasa
penasarannya maka dia bertanya kepada petani tersebut tentang apa yang
dilakukannya  dalam  bertani  sehingga  diberi  kemudahan  oleh  Alloh
subhanahu  wa  ta ala.  Sampai-sampai diberi air secara khusus. Dengan
keikhlasan  dan  kerendahan  hati (tawadhu ) dalam bekerja dan beramal
shalih  (sebenarnya  dia  enggan menceritakan amal perbuatannya tetapi
setelah diminta dan melihat adanya manfaat menceritakan amalnya) [5]

Kemudian  petani  itu  menceritakan  bahwasanya  hasil panennya dibagi
menjadi   tiga  bagian,  sepertiga  yang  pertama  dialokasikan  untuk
disedekahkan   kepada  orang-orang  yang  membutuhkan  (fakir  miskin,
musafir,  dan  para  peminta-minta) dan sedekah adalah suatu amal yang
utama   [6],  lalu  sepertiga  yang  kedua  dari  hasil  panennya  dia
alokasikan  untuk  memenuhi  kebutuhan dirinya dan keluarganya [7] dan
sepertiga yang terakhir dari hasil panennya dialokasikan untuk ditanam
lagi  (maka  dapat  diketahui  bahwa  petani  tersebut  tidak  membuat
kerusakan  terhadap alam dan lingkungannya dengan tidak menguras semua
hasil   panen   untuk   dimanfaatkan   semua,   namun  dia  alokasikan
sepertiganya  dikembalikan  ke kebunnya baik ditanam lagi atau menjadi
modal pertanian selanjutnya).

Dalam  kisah  di  atas  juga  dapat  diambil  pelajaran  tentang  cara
pertanian  yang  barokah yaitu dengan melakukan seperti yang dilakukan
petani  tersebut.  Jadi  hasil  panen  itu  dialokasikan  untuk ketiga
perkara  yaitu  pertama  untuk  memenuhi  kebutuhan kita dan keluarga,
kedua  untuk  medekatkan  diri  kepada  Alloh subhanahu wa ta ala baik
dengan  sedekah,  maupun  ibadah lainnya, dan ketiga untuk modal usaha
selanjutnya.  Tidaklah  petani  shalih  itu menggunakan hasil panennya
untuk menumpuk dan mengumpulkan harta serta menghambur-hamburkan harta
untuk hal yang tidak bermanfaat.

Sebenarnya  pada  kisah  di  atas  yang sangat ditonjolkan adalah sisi
kedermawanan  petani  tersebut.  Dalam  sejarah  islam juga ada contoh
orang  yang dermawan sebagaimana kisah petani di atas. Untuk contohnya
saya   akan   berikan   dari   kalangan  sahabat  adalah  Abu  Thalhah
rodhiyallohu   anhu  dan  dari kalangan thabi in yaitu seorang tabi in
agung  Urwah  bin  Zubair  rohimahulloh  salah satu putra sahabat yang
dijamin masuk surga Zubair rodhiyallohu  anhu.

Untuk  kisah  kedermawanan  Abu Thalhah rodhiyallohu  anhu sebagaimana
hadits  yang  bersumber dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallohu  anhu
dia menceritakan:

 Abu  Thalhah  rodhiyallohu  anhu adalah orang anshar yang paling kaya
dengan  pohon  kurma  di Madinah. Harta yang paling dicintainya adalah
kebun  Bairaha   yang menghadap (dekat) masjid. Rosululloh shollallohu
 alaihi  wa  sallam  sering  masuk kebun itu dan minum air bersih yang
berada di dalamnya. Anas berkata,  Ketika turun ayat ini,  Sekali-kali
kamu  tidak  sampai  kepada  kebajikan  (yang  sempurna), sebelum kamu
menafkahkan  sebagian  harta  yang kamu cintai.  Abu Thalhah menghadap
Rosululloh  shollallohu  alaihi wa sallam dan berkata,  Ya Rosululloh,
sesungguhnya  Alloh  subhanahu wa ta ala menurunkan ayat ini kepadamu:
 Sekali-kali  kamu  tidak  sampai  kepada  kebajikan  (yang sempurna),
sebelum  kamu  menafkahkan  sebagian  harta  yang  kamu  cintai.   Dan
bahwasanya  kekayaanku  yang  paling aku cintai adalah kebun Bairaha ,
dan  kebun itu aku sedekahkan karena Alloh subhanahu wa ta ala dan aku
mengharap  kebajikan dan simpanan yang baik di sisi Alloh subhanahu wa
ta ala.  Oleh  karena  itu  pergunakanlah ya Rosululloh, sesuai dengan
petunjuk  Alloh  yang  diberikan kepadamu. Maka Rosululloh shollallohu
 alaihi   wa   sallam   bersabda:    Bagus,   itu  adalah  harta  yang
menguntungkan,  itulah  harta  yang menguntungkan. Aku telah mendengar
apa  yang  kamu  katakan  tadi,  dan aku berpendapat, hendaklah engkau
membagikan  kepada  kepada  sanak  kerabat.  Maka Abu Thalhah berkata,
 Aku   akan   kerjakan,   ya   Rosululloh.    Kemudian   Abu   Thalhah
membagi-bagikan     kebun     itu    kepada    sanak    kerabat    dan
keponakan-keponakannya.<!--[if !supportFootnotes]-->[8]<!--[endif]-->

Banyak  pelajaran  yang bisa kita ambil dari kisah keteladanan beliau,
di  antaranya  yang disebutkan oleh Syaikh Salim: Kandungan hadits ini
adalah:

1.  Keutamaan  infak  dengan menggunakan kekayaan yang paling baik dan
paling dicintai oleh seorang hamba.

2.  Kesegeraan  para  sahabat  untuk  memenuhi  perintah  Alloh  untuk
mencapai tingkatan yang dicintai Alloh dan rasul-Nya.

3.  Orang-orang  yang  lebih  berhak mendapatkan perbuatan baik adalah
keluarga dan karib kerabat.

4.  Dalam  hadits  ini  terdapat  keutamaan  Abu  Thalhah, karena ayat
al-Qur an  di  atas  mencakup  perintah  untuk menginfakkan harta yang
dicintai,  sehingga  menggerakkan  hati Abu Thalhah untuk menginfakkan
harta  yang paling dia cintai. Kemudian Rosululloh shollallohu  alaihi
wa  sallam  membenarkan pendapatnya itu dengan mengatakan:  Bagus, itu
adalah harta yang menguntungkan. 

5.  Harta  kekayaan  yang dipersembahkan kehadapan Rabbnya dan di sana
untuk  suatu  hari  yang  tidak  bermanfaat  lagi  harta dan anak-anak
merupakan  harta  yang  menguntungkan  dan perdagangan yang tidak akan
pernah merugi, Karena Firman Alloh subhanahu wa ta ala:

 Apa  yang  ada  sisimu  akan lenyap, dan apa yang ada pada sisi Alloh
adalah      kekal.       (QS.      An      Nahl      :     96).<!--[if
!supportFootnotes]-->[9]<!--[endif]-->

Sementara  kisah  kedermawanan  Urwah  bin  Zubair rohimahulloh adalah
sebagai berikut.

 Urwah  bin  Zubair  adalah  seorang  yang  ringan tangan, longgar dan
dermawan.  Di  antara  bukti  kedermawanannya itu adalah ketika beliau
memiliki  sebidang kebun yang luas di Madinah dengan air sumurnya yang
tawar,  pepohonan  yang  rindang  serta  buahnya  yang  lebat.  Beliau
memasang  pagar  yang  mengelilinginya untuk menjaga kerusakannya dari
binatang-binatang  dan  anak-anak  yang  usil.  Hingga tatkala buahnya
telah masak dan membangkitkan selera bagi yang memandangnya, dibukalah
beberapa pintu sebagai jalan masuk bagi siapa pun yang menghendakinya.

Begitulah  orang-orang  keluar  masuk  kebun  Urwah  sambil  merasakan
lezatnya  buah-buahan  yang  masak  sepuas-puasnya  dan membawa sesuai
dengan    keinginannya.    Setiap    kali   memasuki   kebun,   beliau
mengulang-ulang firman Alloh subhanahu wa ta ala:

 Dan  mengapa  kamu tidak mengucapkannya tatkala kamu memasuki kebunmu
 Maa  syaa Alloh, laa quwwata illa billah.(sungguh atas kehendak Alloh
semua  ini  terwujud,  tidak  ada  kekuatan kecuali dengan pertolongan
Alloh).    (QS.        Al        Kahfi        :        39)  [10]

Demikianlah  tiga  kisah  yang  menakjubkan, dan memang sulit didapati
kisah-kisah seperti ini pada zaman sekarang, seakan-akan hanya sekedar
dongeng dan cerita fiktif. Namun sebenarnya tiga kisah tersebut adalah
nyata  dan  bisa kita coba untuk meneladaninya dan tidak mustahil kita
pun bisa melakukannya.


[1] HR. Imam Muslim no.2984.

[2]  Berkata  Syaikh  Saliem   Ied Al-hilalli dalam menjelaskan hadits
tersebut,   Bahwa  umat-umat  terdahulu,  pada mereka terdapat hal-hal
yang  menakjubkan,  kita  tidak  membenarkan  hal itu kecuali apa yang
telah  shahih  dari  Rosululloh  shollallohu   alaihi wa sallam dengan
penukilan yang kuat.  (Bahjatun Nazhirin, jilid 1 hal.613)

[3]  Berkata  Syaikh  Saliem  Ied Al-hilalli,  Bahwa diantara malaikat
ada  yang bertugas memberi rizki dan mengatur awan (hujan).  (Bahjatun
Nazhirin,  jilid  1  hal.613). Berkata Muhammad bi Hamid Abdul wahhab:
 Awan  tunduk  untuk  berjalan  sesuai  dengan kehendak Alloh, dan ada
malaikat yang bertugas mengawasi jalannya awan dan Orang mukmin adalah
manusia  biasa  yang  bisa  saja  mendengar  suara malaikat. (61 Kisah
Pengantar Tidur, hal.59-60).

[4]  Berkata  Syaikh  Saliem  Ied  Al-hilalli,     (Dalam  hadits  ini
terdapat)  Penetapan  adanya  karomah  bagi para wali Alloh dan mereka
adalah  orang-orang  yang  beriman  dan bertakwa.  (Bahjatun Nazhirin,
jilid 1 hal.613). Dan Berkata Muhammad bi Hamid Abdul wahhab,   (Dalam
hadits ini terdapat) penetapan adanya karomah para wali, sehingga alam
tunduk padanya. (61 Kisah Pengantar Tidur, hal.59-60).

[5]   Cobalah   perhatikan  perkataanya  yang  menunjukkan  keikhlasan
kerendahan  hatinya,  ketika  ditanya   Maka  apakah  yang  telah anda
kerjakan  dalam kebun ini.?  Kemudian dia menjawab,  Karena anda telah
mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan. 

[6]  Berkata  Imam  Nawawi :  Hadits itu menjelaskan tentang keutamaan
bersedekah  dan  berbuat  baik  kepada  orang-orang  yang  miskin  dan
orang-orang  dalam  perjalanan. Juga keutamaan seorang yang makan dari
hasil  usahanya  sendiri,  termasuk  keutamaan  memberi  nafkah kepada
keluarga.  (Kunci-kunci  Rizki  Menurut Al Qur an & As Sunnah hal.75).
Berkata  Muhammad  bi  Hamid  Abdul  wahhab,   Pelajaran yang dapat di
petik  dari  hadits ini adalah Keutamaan bersedekah kepada orang-orang
yang  membutuhkan , anjuran untuk berbuat baik kepada fakir miskin dan
anak-anak   terlantar  ,  dan  Alloh  mencintai  orang  yang  hidupnya
seimbang,  dia  mau  menginfakkan sebagian hartanya kepada yang berhak
menerimanya  (61  Kisah  Pengantar  Tidur,  hal.59-60). Berkata Syaikh
Abdul  Muhsin  Al  Abbad  mengomentari  hadits  di atas:  (Hadits ini)
termasuk  dari  (contoh)  pengaruh-pengaruh  yang baik, yang diperoleh
dari  sedekah  dan  berbuat  baik kepada orang-orang miskin . (Atsarul
Ibadat Fi Hayatil muslim, hal.23).

[7]  Berkata Muhammad bi Hamid Abdul wahhab,   Pelajaran yang dapat di
petik dari hadits ini adalah Keutamaan seseorang yang makan dari hasil
usahanya   sendiri,   Keutamaan   memberi   nafkah  kepada  istri  dan
keluarganya .  (61  Kisah  Pengantar Tidur, hal.59-60). Berkata Syaikh
Saliem   Ied  Al-hilalli,     (Dalam  hadits  ini terdapat pelajaran).
Keutamaan  mendekatkan  diri  kepada  Alloh subhanahu wa ta ala dengan
memberi  nafkah  kepada  keluarga  yang wajib diberi nafkah dan kepada
orang  yang mengalami kekurangan (fakir miskin).  ((Bahjatun Nazhirin,
jilid 1 hal.613).

[8] HR. Imam Bukhari (III/325-Fath), Imam Muslim (998)

[9] Syarah Riydhus Shalihin, hal 668.

[10] Jejak Para Tabi ien, hal.45.




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Jika anda, kirim email kosong ke >>: 
berhenti >> [EMAIL PROTECTED] 
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] 
digest: >> [EMAIL PROTECTED] 
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke